Drama

Drama
Take 18


__ADS_3

Aku mendengus kesal, dan memutar tubuhku menghadapnya, "Yaa! Han Seok Jin! Sampai kapan kau akan mengikutiku?" Tanyaku. Sejak keluar dari apartment, Seok Jin terus berjalan di belakangku. Dia bilang dia mau pergi ke suatu tempat yang kebetulan arahnya sama denganku, tapi ini semakin menyebalkan. Apalagi mengingat kalau belakangan ini aku sering diikuti orang asing, ini membuatku stress.


"Cih! Siapa juga yang mengikutimu, hah?! Sudah kukatakan aku mau pergi ke suatu tempat, dan kebetulan saja arahnya sama denganmu," jelasnya.


Aku menganggukkan kepala, "ya ya ya, kalau begitu silahkan jalan duluan," kataku.


"O-oke!"


Dia melewatiku, dan mulai berjalan di depanku, dan sesekali menoleh ke belakang. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Makin lama kelakuannya makin aneh, aku jadi semakin khawatir kalau-kalau tebakkanku tentang perubahannya benar!


#brukk


"Oh maaf aku tidak sengaja," sesalku setelah secara tak sengaja menubruk seorang wanita yang sekiranya sebaya denganku.


"Tidak apa-apa," sahutnya. Dia memerhatikan wajahku barang sejenak, membuatku salah tingkah. Apa ada yang aneh dari wajahku?


"Kau tidak apa-apa?" Seok Jin menghampiriku.


"Ohhh, Seok Jin-ah?!" Wanita itu berseru. "Kau ingat aku? Aku Kim Runa!"


Kim Runa? Teman satu organisasiku dulu? Tidak mungkin! Jika memang dia Runa yang itu, maka seharusnya dia segera mengenaliku dari pada Seok Jin. Pikirku mustahil.


Wanita yang mengaku Runa itu menatapku kembali, "dan kau..., kau, Lee Sian, 'kan? Maaf tidak segera mengenalimu, karena kau...," dia diam, dan menatapku dari ujung kaki hingga kepala. "Kau terlihat berbeda," lanjutnya.


Sial! Apa maksudnya?! Aku merasa teringgung! Umpatku. Lagipula apa dia tidak sadar diri?! Alumni almamater kami pasti juga tidak akan percaya jika dia Kim Runa! Dia pasti merombak habis seluruh apa yang ada pada wajahnya!


"Melihat kalian bersama, sepertinya berita itu benar," katanya.


"Berita?" Seok Jin membeo.


"Kalau kalian sudah menikah," sahutnya, dengan memasang wajah yang entah kenapa membuatku tersinggung! Dia terlihat sinis, tapi mencoba untuk berlagak imut! Untuk apa?! Mencari perhatian Seok Jin?! Sial!


"Ahh begitukah?" Seok Jin menyahuti sekenanya.


"Semua yang seangkatan dengan kita tahu tentang berita itu," Runa melanjuti.


Astaga Hae Na! Aku tidak tahu bahwa pengaruhnya sebagai penyebar gosip masih besar seperti masa sma dulu. Rutukku. Tidak mungkin Seo Hyun yang menyebarkannya, karena secanggung apapun aku dengan Seo Hyun, aku tetap mengenalnya dengan baik, dia tidak akan melakukannya!


"Sian, kau pasti merasa sangat beruntung," kini dia menatapku. Mungkin pendengaranku, dan pengelihatanku yang salah, tapi sepertinya aku mendengar Runa mendecih! Dan menyunggingkan salah satu ujung bibirnya.


"Oh iya, apa kalian sudah tahu? Minggu depan akan ada reuni untuk angkatan kita. Kalian datang, ya?" Kata Runa. "Boleh aku minta nomormu, Seok Jin-ah? Untuk memberi kabar tempat dan waktunya."


Apa aku pernah berbuat salah pada Runa? Kenapa aku merasa dia memusuhiku? Ini agak menyebalkan! Bukankah seharusnya dia berbicara denganku? Maksudku, dia adalah teman satu organisasiku —meskipun tidak terlalu dekat— tapi setidaknya kami saling mengenal, tidak seperti Seok Jin. Seok Jin dan Runa tidak pernah sekelas, ataupun satu organisasi. Aku yakin Runa mengenal Seok Jin hanya karena Seok Jin populer di sekolah! Tapi, alih-alih nomorku, dia justru meminta nomor Seok Jin! Apa maksudnya?!


♡♡♡


Aku terdiam di depan mesin vending. Ternyata bukan hanya manusia yang bisa melakukan tindak korupsi, tapi mesin vending juga bisa. Aku memasukkan beberapa koin untuk membeli minuman. Namun, tidak ada apapun yang keluar dari slotnya. Keterlaluan!


"Mesin itu rusak!" Suara Sejong menggema di telingaku. Aku segera memutar kepalaku, menatap pria yang sudah beberapa hari ini tidak kulihat.


"O-oh, Hwang Sejong."


"Ambillah ini sebagai gantinya," katanya, sembari menyodorkan minuman kaleng padaku.


"Tidak perlu, aku...,"


"Tidak perlu sungkan. Aku tidak sedang mencoba merayumu. Ini kuberikan sebagai bentuk penyesalan," selanya. Membuatku bingung.


"Penyesalan atas hal apa?" Tanyaku tidak mengerti.


"Karena aku yang telah merusak mesin vending itu," jawabnya.


"Kau merusaknya? Kenapa?"


"Karena itu lebih baik daripada merusak hubungan orang lain!"


Aku terperangah, entah apa yang merasukinya hingga berkata seperti itu. Mungkinkah dia sedang sakit?


Dia memalingkan wajahnya padaku, menatapku dengan tatapan sendu, "saat kau bilang menyukai pria seksi, aku mati-matian berusaha membentuk ototku, dan meminta kenalanku di jurusan seni untuk menjadikanku objek lukisan untuk memamerkannya padamu," katanya, membuatku kembali terperangah.


Kurasa dia memang sakit.


"Hwang Sejong, kau baik-baik saja?" Tanyaku perlahan.


Aku terkejut ketika dia tiba-tiba memukul dadanya, "di sini! Di sini tidak baik-baik saja!" Katanya, agak membentak. "Aku bisa menjadi pria seksi untukmu, bahkan jika kau mau, aku bisa menjadi pria manis, pria keren, pria humoris, ataupun pria romantis. Tapi..., aku tidak bisa jika harus menjadi orang lain."


"Ya, sebenarnya kau kenapa...,"


"Semoga kau bahagia, Lee Sian. Bahkan sebelum cinta ini mekar, kau sudah memotongnya dengan sangat kejam! Selamat tinggal."


Dia pergi begitu saja? Setelah mengatakan itu?


Aku hanya bisa terperangah melihat kepergiannya.


"Dia gila," gumamku. "Bahkan dia membawa kembali minuman kalengnya, tidak jadi memberikannya padaku? Aneh."

__ADS_1


"Hey."


Aku menolehkan pandanganku pada seseorang yang baru saja menepuk punggungku dari belakang.


"Oh, Changkyun-ah," seruku.


"Kenapa melamun?" Tanyanya.


"Ah itu..., aku hanya merasa aneh dengan sikap Sejong, yaa walaupun sejak awal dia memang aneh," kataku.


"Oh, benar! Dia aneh, pagi tadi dia mengatakan padaku untuk bahagia, dan kudengar dia ikut kelas terbang," kata Changkyun.


"Kira-kira dia kenapa?"


"Entahlah," jawab Changkyun. "Sian-ah, apa kau mau datang ke rumahku?"


"Ke rumahmu?"


"Iya. Ibuku mengundangmu untuk makan malam," katanya, membuatku tersanjung. Aku merasa seperti orang yang sangat penting bagi Changkyun sampai ibunya mengundangku makan malam.


"Ibumu? Kenapa dia mengundangku?"


"Sebenarnya..., aku sering bercerita tentangmu pada ibuku. Dia bilang dia penasaran, dan ingin bertemu denganmu. Tidak apa-apa, 'kan?" Changkyun terlihat tak enak hati mengatakannya.


"Eoh, tidak apa-apa. Tapi, aku tidak bisa...," belum selesai aku bicara, ponsel di saku celanaku bergetar. Kukeluarkan ponselku dari sana, dan mendapati nama Do Hyun sebagai panggilan masuk. Kebetulan sekali, aku baru saja memikirkannya.


"Do Hyun-ah, ada apa? Apa ada masalah?" Tanyaku cemas.


"Tidak ada, noona. Aku hanya ingin memberitahumu kalau hari ini aku pulang malam." Katanya.


"Pulang malam? Kenapa? Apa anak-anak itu merudungmu lagi?!"


"*B-bukan begitu..., aku...,"


"Dia akan pergi bersamaku."


Suara itu? Seok Jin? Kenapa mereka bisa bersama*? Pikirku.


"Seok Jin-ah?"


"Iya. Ini aku. Aku dan Do Hyun akan pergi ke suatu tempat. Jadi jangan khawatir," kata Seok Jin.


"Pergi ke mana?" Tanyaku. Sejujurnya aku merasa Do Hyun menjadi lebih dekat dengan Seok Jin sejak kejadian itu, dan aku cemburu. Meskipun sering bertengkar dengan mereka berdua, tapi aku tidak bisa menepis kenyataan bahwa bertengkar dengan mereka adalah rutinitas yang aku sukai. Tapi belakangan, mereka mengabaikanku dan sering menghabiskan waktu berdua.


"Rahasia! Kau lakukan saja apa yang mau kau lakukan, jangan khawatir pada kami," katanya.


"Siapa?" Tanya Changkyun.


"Adikku," jawabku.


"Eoh," sahutnya. "Jadi bagaimana? Kau mau datang ke rumahku?"


Sebenarnya, aku ingin menolak tawaran Changkyun karena aku masih merasa cemas pada apa yang menimpa adikku. Namun, dia yang kukhawatirkan malah pergi bersama orang lain. Aku yakin, Seok Jin akan mengajak adikku untuk bersenang-senang! Tega sekali! Mereka bahkan tidak mengajakku, padahal belakangan ini pikiranku terkuras karena mengkhawatirkan mereka.


"Hei, Lee Sian?" Changkyun menegurku, membuatku tersadar dari lamunanku.


"Eoh?"


"Kau datang atau tidak?" Tanyanya.


"Iya, aku mau." Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menolaknya.


"Baiklah, kalau begitu ayo masuk kelas."


♡♡♡


"Hyung tidak kuliah?" Tanya Do Hyun.


"Aku mengambil kelas ekstensi," jawab Seok Jin. "Hyun Woo bilang dia sudah menemukan keberadaan Min Yonggi. Jadi aku akan ajak kau ke sana untuk memastikannya."


"Eoh, baiklah," sahut Do Hyun. Dia mengepal kuat tangannya, "Yonggi brengsek itu! Beraninya dia membohongiku!"


Seok Jin mulai melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan sekolah Do Hyun. Dia dan Do Hyun memang sudah merencanakan untuk pergi menemui Min Yonggi, detektif swasta yang di sewa Do Hyun, yang ternyata hanya penipu ulung.


Butuh waktu satu setengah jam untuk Seok Jin dan Do Hyun sampai di lokasi yang Hyun Woo kirimkan. Di sana Do Hyun segera menghampiri Yonggi yang sedang menyantap ramen.


"Yaa! Detektif palsu!" Tegur Do Hyun.


Yonggi yang terkejut hendak melarikan diri ketika Seok Jin menahannya.


"Jangan kabur! Atau aku akan menyeretmu ke kantor polisi," tukas Seok Jin.


Yonggi yang tertegun, kembali duduk, didampingi Do Hyun juga Seok Jin.


"Aku tidak akan memintamu mengembalikan barang-barangnya. Tapi, kudengar dari Do Hyun kau sempat mencari tahu tentang orang-orang yang mengikutinya. Jadi, berikan informasi yang kau tahu," kata Seok Jin dengan lugas. Sebenarnya, Seok Jin telah memerintahkan bawahannya untuk mencari tahu tentang orang-orang yang mengikuti Sian dan Do Hyun. Namun, karena harus mengirimkan chip komputer ke koleganya di Helsinki, pencarian orang-orang yang mengikuti Sian dan Do Hyun dinomor duakan.

__ADS_1


"I-itu...,"


"Sebaiknya kau terbuka, karena jika tidak kau akan terluka sebelum kuseret ke penjara," sela Seok Jin.


"I-iya..., aku memang sempat melakukan penyelidikan, untuk membuat dia percaya, dan memberikan bayaran lebih padaku. Tapi...," Yonggi menggantungkan perkataannya, dan menatap Do Hyun dengan ragu.


"Tapi apa?!" Desak Do Hyun.


"Aku tidak yakin apakah kau akan percaya atau tidak. Tapi..., orang yang mengikutimu dia adalah..., suruhan seseorang bernama Lee Sung Kyun..., dia...,"


"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong!" Bentak Do Hyun.


Seok Jin tertegun melihat reaksi Do Hyun yang tiba-tiba seperti itu, "ada apa? Kau mengenalnya?"


Do Hyun hanya terdiam, dia kini kesulitan menelan salivanya, seperti ada pil pahit besar yang menyumbatnya.


"Lee Sung Kyun itu, dia adalah ayahnya!" Tukas Yonggi.


Seok Jin terkejut, dia memandang Do Hyun dengan mata membulat.


"Do Hyun-ah, benarkah itu?" Tanya Seok Jin, menegaskan.


"Tidak! Dia pasti bohong! Bagaimana mungkin ayahku...," Do Hyun menanggalkan perkataannya, sesekali mengambil napas untuk menenangkan diri.


Seok Jin meremas kerah baju Yonggi, "yaa! Jangan bergurau! Atau aku...,"


"Aku tidak berbohong!" Sela Yonggi.


Do Hyun beranjak dari tempatnya.


"Do Hyun-ah, kau mau ke mana?" Tanya Seok Jin, sembari mengejar langkah Do Hyun.


♡♡♡


Ketika baru menginjakkan kaki di perkarangan rumah Changkyun. Aku mulai bertanya-tanya. Kenapa dia harus bekerja sambilan di cafe jika memiliki rumah sebagus ini? Seperti rumah Kevin Mccalester di film Home Alone.


"Ibuku bilang dia sedang pergi ke toserba, kita tunggu saja di ruang tamu," kata Changkyun, ketika memersilahkanku masuk ke rumahnya.


Ini gila! Aku tidak tahu bahwa Changkyun tinggal di rumah semewah ini. Maksudku, aku sadar bahwa rata-rata peserta didik di POSTECH berasal dari keluarga mapan. Hanya saja, rumah semewah ini tidak pernah kubayangkan.


"Rumahmu bagus sekali," pujiku.


Changkyun tersenyum tipis, "lebih tepatnya ini rumah suami kakakku."


"Owhh, dia pasti sangat kaya," gumamku.


"Bisa dibilang begitu, dia seorang direktur di perusahaan swasta," sahut Changkyun, membuatku tertegun.


Dia mendengar gumamanku? Apa aku bergumam terlalu keras?


"Aku tidak bermaksud...,"


"Tidak apa-apa. Duduklah. Aku akan membawakan minuman untukmu," katanya. Kemudian dia pergi ke suatu ruangan.


Alih-alih duduk, aku justru berkeliling di sekitar ruang tamunya yang luas. Ini kali kedua aku memasuki rumah sebesar ini setelah datang ke rumah Seok Jin waktu smp dulu, saat dia merayakan ulang tahun.


"Siapapun suami kakaknya, pasti dia sangat kaya," gumamku.


♡♡♡


"Kau yakin ini rumahnya?" Tanya Seok Jin, sembari menatap tak percaya pada rumah megah di hadapannya.


Banyak pikiran yang menempel di kepala Seok Jin ketika melihat rumah itu. Pertama, aku tidak tahu kalau ayah Sian dan Do Hyun sekaya ini. Kedua, kenapa Sian dan Do Hyun tidak tinggal bersama ayahnya saja? Dia akan lebih bahagia di sini. Ketiga, apa alasannya meneror anak-anaknya jika sudah hidup mewah di sini?


Do Hyun hendak keluar dari mobil Seok Jin, diikuti oleh Seok Jin ketika mereka melihat sosok yang sangat tidak asing keluar dari rumah megah itu.


"N-noona?"


"Lee Sian? Apa yang dia lakukan di sini?"


Seok Jin dan Do Hyun saling menatap, "apa mungkin..., noona sudah tahu?" Tanya Do Hyun.


Kemudian, Seok Jin melihat sosok lain yang juga di kenalnya berjalan di belakang Sian.


"Kurasa tidak. Pria itu, dia...," Seok Jin menanggalkan perkataannya.


"Dia adik dari isteri baru ayahku," Do Hyun menanggapi, membuat Seok Jin tertegun. Sesekali Do Hyun memang sering pergi ke rumah ayahnya. Bukan untuk berkunjung, melainkan untuk melihat bagaimana hidup ayahnya setelah meninggalkan mereka, dan ternyata ayahnya bahagia bersama keluarga barunya. Padahal, Do Hyun mengharapkan penderitaan bagi ayahnya.


Kalau begitu Sian...,


"Ada apa hyung?" Tanya Do Hyun cemas.


"Kau pernah bilang kakakmu sedang jatuh cinta, 'kan? Pria itu...,"


"Tidak!" Sela Do Hyun. "Bagaimana mungkin kakakku..., tidak! Tidak mungkin!" Do Hyun menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan semua kenyataan yang mengejutkannya hari ini.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2