
Aku tercengang. Mataku membulat, dan mulutku ternganga ketika membuka pintu rumahku yang terketuk, menampilkan Hae Na yang berpakaian bagai princess Disney dari balik pintu. Astaga.
"Yaa, Bae Hae Na, kau...,"
"Sian-ah, aku pinjam kamar mandimu ya," dia menyela, kemudian menyerobot masuk ke rumahku. Dia hendak ke kamar mandi. Namun, lucunya, pakaian "super hebohnya" itu menghambatnya. Pertama, dia melepaskan segala asesoris yang ada di tangannya. Kedua, dia harus menggulung gaunnya yang menjuntai itu. Ketiga, melepaskan celana stokingnya. Melihat itu, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku.
Tak ingin memusingkan Hae Na, aku kembali melanjutkan aktivitasku, memasak. Hari ini aku memasak sup labu kesukaan Do Hyun untuk makan malamnya nanti. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, hari ini adalah hari terakhir ujian. Oleh karena itu, sebagai ucapan selamat padanya, aku memasak apa yang dia sukai. Meskipun aku tidak tahu seperti apa hasil ujiannya nanti.
"Yaa, kau belum siap-siap?"
Entah sejak kapan Hae Na keluar dari kamar mandi, yang jelas pertanyaan tiba-tibanya membuatku terperanjat kaget, hampir saja aku menumpahkan semua garam yang ada di wadah ke dalam sup.
"Aish mengagetkan saja!"
"Serius! Kau belum siap-siap?!"
Aku melirik jam di dinding, masih pukul 14.50. Sedangkan acara pernikahan Jay dimulai pukul 16.00. Hei! Kita tidak sedang sekolah, kenapa harus datang sangat awal?! Lagipula acara pernikahannya diadakan di gedung yang tak jauh dari rumahku, hanya butuh 35 menit untuk sampai ke sana.
"Masih lama, tunggu sampai aku selesai memasak."
"Yaa!"
Dari suaranya, aku tahu bahwa Hae Na akan merajuk. Karena itu, segera kulepas apronku, kemudian pergi ke kamarku untuk bersiap-siap. Tak butuh waktu lama bagiku untuk berhias diri, karena nyatanya aku memang tidak memiliki banyak make up yang bisa kugunakan, hanya ada satu foundation, bedak, dan lipstik, lipstikpun sudah hanya sisa-sisa di pinggiran tabungnya. Dan juga aku tidak memiliki banyak pakaian sehingga membuatku tak perlu lama-lama dalam memilih. Menyedihkan sekali.
"Tunggu sebentar, sup labuku hampir masak," aku meminta pengertiannya. Aku tahu, bahwa alasan dia terlalu bersemangat untuk datang ke pernikahan Jay adalah karena dia ingin menunjukkan dirinya baik-baik saja, dan membuat Jay menyesal sudah mencampakkannya. Tapi...,
"Hae Na-ah, tidakkah kau berlebihan memakai pakaian seperti itu? Maksudku...," kugantung perkataanku, sebaiknya tidak perlu kukatakan. "Lupakan saja," lanjutku.
Gaun yang Hae Na kenakan saat ini terlihat sangat mirip dengan gaun yang Emma Watson kenakan di hari pernikahannya dengan pangeran dalam film Beauty and The Beast. Sepertinya Hae Na berencana untuk melebihi mempelai wanita Jay hari ini.
"Tapi, Sian-ah. Kau yakin akan berpakaian seperti itu? Maksudku, Seok Jin akan datang ke sana."
Han Seok Jin?!
Seketika aku bergedik, kenapa dia datang? Siapa yang mengundangnya? Maksudku, masuk akal jika aku datang ke pernikahan Jay, mengingat aku dekat dengannya saat dia berkencan dengan Hae Na. Tapi, Seok Jin? Apa hubunganya dengan Jay?
"Kenapa? Kenapa dia datang?" Tanyaku agak mendesak.
"Dia datang sebagai tamu undangan dari mempelai wanita."
"Arghhhh. Kalau begitu aku tidak jadi datang!" Tukasku.
"Yaa! Jangan begitu. Kita sudah merencanakan untuk datang ke pernikahan Jay, dan membuktikan bahwa kita baik-baik saja!"
__ADS_1
"Kita? Bukankah lebih tepatnya hanya kau? Lagipula kau akan berdampingan dengan Jinan di sana, jadi kenapa aku harus ikut?" Tukasku.
Hae Na merangkul tanganku, "Sian-ah, jangan begitu. Kau juga harus datang untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja!"
Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hae Na. Tapi yang jelas, aku sungguh telah mengurungkan niatku datang ke sana setelah mendengar nama Seok Jin.
Han Seok Jin. Dia adalah teman sekelasku sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA. Namun, meskipun kami sering berada di sekolah dan kelas yang sama, kami tidak pernah menjadi teman. Hubungan kami ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah bisa menyatu, selalu ada saja hal yang membuat hubungan itu semakin buruk. Entah apa yang mendasarinya. Namun, setiap kali aku melihat Seok Jin, hanya kata-kata sinis dan berbagai umpatan yang keluar dari mulutku, sebaliknya juga dengan Seok Jin.
♡♡♡
Semua perasaan buruk bercampur aduk dalam diriku. Jika bukan karena rasa solidaritasku terhadap sahabatku, Hae Na. Aku pasti tidak akan mau datang ke pernikahan Jay. Kalian mungkin berpikir bahwa di sini aku lebih nampak seperti mantan Jay daripada Hae Na. Tapi sungguh, Seok Jin, dia..., Arghhh pokoknya aku benci dia. Dia adalah orang pertama sebelum Seo Hyun yang aku hindari. Aku tidak mau bertemu dengannya.
Seorang pria yang tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan Jay, tapi cukup tinggi jika dibandingkan denganku dan Hae Na, datang menghampiri kami, "Bae Hae Na?" Tanyanya.
"Kim Jinan?" Hae Na balas bertanya. Lelaki itu tersenyum sembari menjawab iya. Sebelumnya, Seo Hyun memang telah mengirimkan foto Jinan pada Hae Na, akupun juga sudah melihat foto itu. Namun, aselinya, Jinan sangat manis, duakali lipat daripada foto yang Seo Hyun kirimkan. Mungkin itulah alasan senyum sumringah Hae Na. Wahhh dia mudah sekali terpesona.
"Seo Hyun sudah menceritakan semuanya padaku. Aku akan membantumu melewati acara ini," kata Jinan. Jujur saja, dia memang manis, bahkan perkataannya tadi terdengar sangat manis di telingaku, meskipun dia mengatakan itu untuk Hae Na.
"Begitukah? Terimakasih banyak, sunbae." Hae Na tersipu. Aku sungguh tidak tahu bahwa Hae Na adalah wanita yang mudah move on.
Mereka berdua berjalan berdampingan. Sedangkan aku? Aku mengekori mereka seolah aku adalah ajudan yang sedang menjaga majikkannya.
"Kau cantik sekali."
"Hei! Anak kembang!"
Suara itu! Seok Jin?
Langkahku terhenti, barang sejenak aku memutar kepalaku, melihat sang empunya suara lantang itu, dan..., aishhhh kenapa harus bertemu secepat ini?! Tidak bisakah kami bertemu saat acaranya selesai?
"Wahh tidak ku sangka akan bertemu dengan anak kembang di sini," sindirnya. Dia memang sering memanggilku seperti itu sejak ayah dan ibuku bercerai, dan ibuku membuka toko bunga.
Aku mencoba untuk mengabaikannya, dan melanjutkan langkahku menyusul Hae Na dan Jinan yang sudah jauh di sana. Wahhh Hae Na benar-benar tidak setia kawan! Dia bilang akan terus mendampingiku meskipun dia bersama Jinan.
"Kudengar kau tidak kuliah, kenapa?" Tanyanya.
"Bukan urusa...,"
"Oh iya, aku lupa kalau kau sudah bangkrut sejak lama," dia menyela. "Well, biaya kuliah itu memang sangat mahal."
Aku mendengus kesal, alih-alih meladeninya, aku hanya ingin menghindarinya. Namun, dia terus mengikutiku.
"Kenapa tidak mencoba beasiswa? Kau kan pintar," katanya lagi.
__ADS_1
Baru saja aku akan membuka mulutku untuk menjawabnya, dia sudah menyela lagi.
"Ahh benar, kau itu bukannya pintar, tapi SOK PINTAR." Dia menekankan bagian sok pintar untuk mengintimidasiku.
Aku menghentikan langkahku, kemudian memutar tubuhku menghadapnya, "yaa! Tidakkah kau punya etika? Kau ingin berkelahi denganku di acara pernikahan orang, huh?!"
"Aku tidak sedang mengajakmu berkelahi, aku hanya bertanya, bodoh!" Katanya, kemudian dia berlalu begitu saja, bagaikan angin semilir yang menerpaku di musim semi.
"Oughh orang gila!" Umpatku. Jika ini bukan sebuah acara sakral, aku pasti sudah meneriakinya playboy kacang! Ya! Seok Jin memang seorang Playboy. Dia sering sekali berganti-ganti pacar, bahkan seringnya memacari wanita dalam satu waktu. Salah satu korbannya adalah Seo Hyun. Oke! Aku mengerti kenapa dia sangat digandrungi para wanita, tidak bisa dipungkiri bahwa wajah tampannya itu adalah aset luar biasa yang dititipkan tuhan padanya. Oughh kenapa tuhan memberikan aset itu pada orang seperti Seok Jin?! Selalu aku merasa jengkel jika mengingat hal itu. Terlebih lagi, Seok Jin adalah pemilik perusahaan elektronik terbesar di Asia. Sebenarnya, perusahaan itu adalah milik ayahnya. Namun, sejak ayahnya meninggal setahun yang lalu, kudengar Seok Jin mulai memelajari tentang usaha yang dirintis ayahnya tersebut. Tapi, tidak bisakah para wanita merasakan bahwa dibalik wajah tampan dan kekayaannya yang melimpah, pria itu hanyalah Seok Jin si playboy kacang yang tak punya hati nurani!
Belum sepuluh menit aku berada di sini, tapi aku sudah sangat kesal dan bosan. Sedangkan Hae Na, dia terlihat baik-baik saja bersama Jinan, aku yakin bahwa dia tidak sedang berakting bahagia untuk memerlihatnya dirinya baik-baik saja pada Jay, tapi dia memang sungguh bahagia bisa berada di dekat Jinan. Dasar!
Aku mengambil wine yang dihantarkan pelayan, dan berdiri tegap di dekat pintu masuk. Sebenarnya aku ingin menghampiri Jay untuk memberinya selamat. Namun, Hae Na bilang aku tidak boleh melakukannya sebelum Hae Na memberi kode, dan kurasa dia lupa karena terlalu bahagia.
"Kau tidak memberi selamat pada mempelai?"
Aku menghembuskan napas berat. Kenapa si playboy kacang ini datang lagi? Aku hanya mendiami pertanyaannya, orang seperti dia lebih baik diabaikan saja.
"Kau ke sini di undang siapa?" Dia kembali bertanya, dan aku hanya tetap mendiaminya.
"Kau bisu?"
"Aishh! Diamlah, atau pergilah menjauh dariku!" Tukasku, pada akhirnya aku emosi padanya.
"Shireo! Aku mau berada di dekatmu hari ini."
"Heh?!"
"Tenang saja, aku tidak memiliki niatan menggodamu," katanya. Aku juga tidak pernah berpikir dia akan menggodaku, yang ada dalam pikiranku adalah dia memiliki niatan untuk terus menghardikku. Dia pasti sangat rindu saat-saat dia menjatuhkanku dengan setiap perkataannya. Menyebalkan!
Aku hendak melangkah pergi ketika Seok Jin menggenggam erat pergelangan tanganku.
"Apa-apaan ini! Lepas!" Tukasku.
Seok Jin hanya diam, dan menatapku dengan wajah serius. Ini adalah kali pertamaku melihat airmuka seriusnya.
"Heh! Ada apa? Kau mau mengatakan sesuatu?" Tanyaku, merasa heran dengan airmukanya.
"Heh, Anak Kembang. K-kau..., kau mau menikah denganku?"
"Hah?!"
Rasanya seperti ada petir yang menyambarku. Jika diilustrasikan, saat ini aku merasa seperti Profesor Luppin yang diserang dengan mantra avada kadavra oleh Belatrix di film Harry Potter. Dia pasti gila! Atau terlalu banyak meminum wine.
__ADS_1
TO BE CONTINUE