Drama

Drama
Take 11


__ADS_3

"Noona, ada apa dengan kepalamu?" Tanya Do Hyun khawatir ketika melihat kakaknya pulang dengan kepala diperban. Do Hyun mengalihkan pandangannya pada Seok Jin, "yaa! Kau apakan noonaku?!" Dia hendak menarik kerah baju Seok Jin ketika kakaknya berkata,


"Do Hyun-ah, bukan salahnya, tadi aku jatuh. Tapi lukanya tidak serius, kau tidak perlu khawatir."


"Kau serius?" Do Hyun tetap khawatir.


"Emm, kalau begitu aku ke kamar dulu," kata Sian. Kemudian, dia masuk ke kamarnya, meninggalkan Do Hyun dan Seok Jin yang kini merasa resah.


Sian menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Jika terus diteror seperti ini, inginnya Sian mengeluarkan diri dari drama ciptaan Seok Jin. Namun, dia sadar bahwa realita selalu menghancurkan espektasinya, hanya ini kesempatan yang dia punya untuk bisa menggapai impiannya —kuliah-lulus-mendapatkan pekerjaan yang layak. Dia merasa hanya harus bertahan dari drama gila ini.


Suara pintu terketuk mengejutkan Sian, dia beranjak dari tempatnya, dan tak lama kemudian Seok Jin muncul dari balik pintu kamarnya.


"Aku ingin bicara," katanya.


"Silahkan."


Seok Jin menutup pintu, dan menghampiri Sian. Seraya berkata, "kurasa kita harus melaporkan hal ini, ini sudah terlalu serius!"


"Sudah kubilang tidak perlu! Aku bisa menangani ini," sahut Sian.


"Bagaimana caramu menanganinya, huh? Bahkan kau hanya bisa memekik saat dia melemparkan batu itu!" Seok Jin kesal, sejak di rumah sakit, dia memang sudah menyarankan hal itu pada Sian. Namun, wanita itu terus menolak.


"Aku akan tetap melaporkannya!" Lanjutnya. Seok Jin hendak pergi ketika Sian menahan tangannya.


"Jangan!"


Seok Jin memandang curiga pada Sian, "sebenarnya apa alasanmu menolak? Ini semua demi kebaikkanmu, jadi...," sejenak Seok Jin terdiam dan berpikir, "atau mungkin..., kau tahu siapa pelakunya?"


"Bisakah kau keluar? Aku ingin istirahat," pinta Sian, seolah tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan itu.


"Kau pasti mengetahui siapa orangnya, 'kan?" Terka Seok Jin. Dia menatap dalam mata Sian, mencari jawaban dari sorot yang dipancarkan mata leci itu.


"Mungkinkah..., Seo Hyun?"


"Keluarlah, aku mau istirahat!" Tukas Sian, dengan sekuat tenaga dia mendorong Seok Jin keluar dari kamarnya.


"Apa yang kau lakukan di kamar kakakku?" Tanya Do Hyun yang memergoki Seok Jin keluar dari kamar kakaknya.


"Hanya menanyakan keadaannya," jawabnya, "aku harus pergi, tolong jaga dia, paham?!" Lanjutnya, membuat Do Hyun merasa bingung.


"Dia terdengar seperti suami sungguhan, atau jangan-jangan..., eihhh lupakan saja." Do Hyun menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran aneh dari kepalanya itu.

__ADS_1


Sian kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dan memandangi langit-langit kamar. Sebenarnya, dia juga mencurigai Seo Hyun sebagai dalang dari teror yang diterimanya. Namun, tidak mungkin! Seo Hyun tidak akan melakukan ini. Pikirnya. Kecurigaan itu muncul ketika wanita yang mengikuti Sian itu tanpa sengaja menjatuhkan kartu akses untuk masuk ke Levian Blossom, gedung milik Seo Hyun yang biasa digunakan untuk perkumpulan komunitasnya.


♡♡♡


Kecurigaan Seok Jin terbukti ketika melihat Seo Hyun bersama dengan wanita berhoodie hitam yang sebelumnya menyerang Sian. Dia menghampiri mereka dengan perasaan kesal.


"Yaa! Eun Seo Hyun!" Tegur Seok Jin, membuat Seo Hyun terperanjat, sedangkan wanita berhoodie hitam itu kabur.


"Yaa!" Seok Jin hendak mengejar wanita itu, ketika Seo Hyun menahan tangannya.


"Bagaimana keadaan Sian?" Tanya Seo Hyun. Seok Jin mengalihkan pandangannya pada Seo Hyun, ada sorot kemarahan di mata pria itu.


Segera dia hempaskan tangan Seo Hyun, "tidak tahu malu! Beraninya kau bertanya begitu setelah melakukan hal gila padanya, huh?!"


Mata Seo Hyun membulat, "apa maksudmu?"


"Jangan belagak polos, kau wanita gila!" Seok Jin mengumpat, "jika kau berani menyentuhnya lagi, maka akan kuseret kau ke penjara!"


Seok Jin hendak pergi ketika mendengar Seo Hyun tertawa kecil.


"Kau tertawa?!" Tanya Seok Jin kesal.


"Tidakkah kau merasa ini lucu?"


Seo Hyun menghela napas panjang, "Kau terlalu mendalami peranmu, Seok Jin-ah. Kau pikir aku tidak tahu bahwa pernikahanmu dan Sian hanyalah kebohongan verbal?"


Seok Jin tertegun. Melihat airmuka Seok Jin yang nampak terkejut, membuat Seo Hyun kembali tertawa, "kau pasti penasaran dari mana aku mengetahuinya, 'kan?"


Seok Jin meminimalisir keterkejutannya untuk tidak terlihat terintimidasi, "jangan sok tahu!"


"Ayolah Seok Jin, tidak perlu mengelak, aku tahu semuanya."


Dilihat dari sorot mata Seo Hyun, Seok Jin mendapati bahwa wanita itu serius dengan perkataannya, bukan sekedar tuduhan atau prasangka. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi yang Seok Jin bisa selain, "jika begitu, kenapa kau tidak menemuiku, dan membuntutiku seperti hal gila yang biasa kau lakukan?!" Bertingkah seolah dia tidak terintimidasi oleh kebenaran yang telah Seo Hyun ketahui.


"Karena aku menyayangi Sian, aku tahu kau membayar kuliahnya sebagai imbalan dari perannya dalam drama bodohmu ini!" Jelas Seo Hyun.


Seok Jin mendecih, "cih! Jangan buat aku tertawa! Kau menyayanginya?! Lucu sekali! Nyatanya kau membuatnya terluka! Kenapa? Kau takut harga dirimu jatuh jika kau menemuiku, mengingat yang semua orang ketahui kini adalah aku pria beristeri? Karena itu kau mulai meneror Sian alih-alih menggangguku! Munafik!"


Seo Hyun menautkan alisnya, "aku melukainya?! Tidak! Kaulah yang membuat dia terluka, dan itu akan terus berlanjut sampai dramamu selesai!"


"Jangan berdalih, wanita yang tadi menemuimu, dia adalah komplotanmu, 'kan?! Kau memintanya meneror Sian, itulah juga sebabnya kau mengetahui tentang kebenaran soal hubungan kami. Wanita gila!" Umpat Seok Jin.

__ADS_1


Seo Hyun mendengus, "wahhh tidakkah kau merasa bahwa kau salah mengambil jurusan?! Teknik sipil tidak cocok untukmu yang suka membuat cerita fiksi!" Tegur Seo Hyun, dia melangkah lebih dekat pada Seok Jin, "kuakui bahwa aku meminta wanita itu untuk mengikuti Sian, untuk mengetahui kebenaran status kalian. Tapi..., wanita itu sering bertingkah semaunya, aku memergokinya melukai tangan Sian, karena itu aku membatalkan perjanjian kami, demi melindungi Sian, sahabatku."


Seok Jin tetap memandang curiga pada Seo Hyun, "kau pasti sudah terbiasa berbohong, 'kan?! Lidahmu lihat sekali!"


"Terserah kau mau percaya atau tidak! Tapi wanita itu juga mengancamku, dia bilang akan terus melukai Sian jika aku tidak memberinya uang!" Jelas Seo Hyun, tegas. Seok Jin menatap tepat di pupil Seo Hyun, memeriksa apakah ada kebohongan di sana. Namun, nihil, Seo Hyun terlihat jujur dari semua perkataannya.


"Kau mengenal orang itu?"


"Tidak terlalu, beberapa bulan lalu dia menjadi anggota di Levian blossom, tapi semenjak aku membatalkan perjanjianku dengannya, dia tidak lagi muncul," jelas Seo Hyun, "kurasa dia sengaja mendekatiku ketika tahu obsesiku padamu."


Seok Jin terdiam dan berpikir, tidak ada lagi yang bisa dia curigai. Sebenarnya siapa?


"Seok Jin-ah, setidaknya sampai dramamu selesai, jagalah Sian. Dia..., aku memiliki banyak penyesalan padanya," kata Seo Hyun, tulus.


"Tidak perlu kau beritahupun, aku akan menjaganya!" Tukas Seok Jin, dia hendak pergi ketika Seo Hyun berkata.


"Kurasa kau berlebihan dalam peranmu, atau itu bukan sekedar menghayati peran? Kau...,"


"Bukan urusanmu!"


♡♡♡


Perlahan wanita itu membuka tudung hoodienya. Dia menghampiri seorang pria yang tengah duduk diantara keramaian PUB.


"Bagaimana?" Tanya pria itu ketika wanita itu duduk di sampingnya.


Wanita itu menenggak wine seolah itu air mineral, "aku hampir tertangkap oleh Seok Jin."


Pria itu meletakkan gelas winenya, kemudian memutar kepalanya menghadap wanita itu, ada sorot menakutkan dari mata pria itu, "aku tidak peduli tentang itu, yang kutanyakan adalah Lee Sian, bagaimana keadaannya?"


"Aku melihat kepalanya berdarah, mungkin lukanya cukup serius," jelas wanita itu.


"Cukup?! Hanya cukup?!" Pria itu melemparkan gelas winenya, membuatnya hancur berkeping-keping di lantai. Beberapa orang yang berada di dekat mereka menatap kaget. Sedangkan yang lain masih terhanyut dalam alunan musik.


"Yaa! Aku membayarmu bukan untuk mendengar kata cukup! Aku ingin mendengar kata sangat! Sangat serius! bahkan jika bisa buat dia koma! Paham?!" Tukas pria itu.


Sang wanita tercengang, dia membulatnya matanya setelah mendengar perkataan sadis seperti itu.


"Tapi perjanjian kita tidak seperti itu! Kau hanya memintaku..., akhhhh."


Pria itu memukul keras wajah wanita di hadapannya tersebut, "pikirkan bagaimana kau akan menghidupi anakmu. Kau masih terlalu muda, tapi sudah memiliki seorang anak berusia empat tahun, bukankah itu sulit? Jadi, turuti perkataanku jika kau dan anakmu mau hidup berkecukupan, paham?!"

__ADS_1


"B-baiklah."


TO BE CONTINUE


__ADS_2