
"Rasanya sepi tidak ada hyung," keluh Do Hyun.
"Makan saja! Jangan mengeluh!" Tukas Sian, sembari menyantap sarapannya dengan lahap.
Do Hyun menghela napas panjang, kemudian memakan sarapannya dengan tidak ada nasfu. Sejak Seok Jin menjadi pendengar baginya, Do Hyun memang menjadi sangat dekat dengan Seok Jin, dia merasa seperti Seok Jin seperti kakaknya.
"Memangnya, ada masalah apa di kantor?" Tanya Sian di sela-sela makannya.
"Yang aku dengar ada data perusahaan yang bocor," kata Do Hyun.
"Siapa yang membocorkannya?" Tanya Sian. Terkejut.
"Karena itulah hyung ke sana untuk mencari tahu siapa yang membocorkan data tersebut."
Sian meletakkan sendok dan garpunya, dia kehilangan nafsu makan setelah mendengar alasan Seok Jin pergi.
"Noona, aku sudah selesai," kata Do Hyun, sembari membawa piring dan gelas bekas makannya ke dapur.
Sian pun ikut menyelesaikan makannya. Dia sudah tidak bernafsu lagi.
Usai membersihkan meja makan dan bekas makannya, Sian masuk ke kamarnya. Di sana dia memiliki rasa cemas pada Seok Jin. Dia berpikir untuk menghubungi Seok Jin, untuk sekedar menayakan keadaannya. Namun, dia juga merasa malu lantaran mereka sempat bertengkar sebelum Seok Jin pergi.
"Haruskah aku menghubunginya?" Gumam Sian, yang kemudian di jawab dengan gelengan kepala olehnya sendiri, "tidak, tidak! Dia pasti akan merasa menang dariku jika aku melakukannya."
Sian terus berpikir. Kemudian, muncul sebuah ide di kepalanya.
Dia bergegas keluar dari kamarnya, kemudian pergi ke kamar Do Hyun.
"Do Hyun-ah," panggilnya.
Do Hyun membuka sedikit pintunya, dan melongokkan kepalanya di bagian yang terbuka itu.
"Ada apa?" Tanya remaja 17 tahun itu.
"Ehm, itu..., ehm." Sian terdiam barang sejenak, untuk merantai kata yang indah. "Apa kau akan menghubungi Seok Jin?"
"Eoh. Aku memang berniat menghubunginya. Kenapa? Apa noona juga khawatir?"
"Y-yaa! M-mana mungkin, kau kan tahu kami seelumnya bertengkar!" Sian membela diri.
"Lalu, kenapa noona bertanya?"
"Aku hanya ingin melarangmu melakukannya!" Jawabnya, penuh kebohongan. Padahal nyatanya dia ingin sekali Do Hyun menghubungi Seok Jin dan menanyakan keadaan di sana, untuk menghilangkan sedikit rasa cemas di hatinya.
"Kenapa tidak boleh? Ayolah, noona, Seok Jin hyung itu sangat baik padaku, dia...,"
"Terserah saja!" Tukas Sian. Kemudian, dia kembali ke kamarnya. Dalam kamar, Sian menempelkan telinganya di dinding pemisah antara kamarnya dan Do Hyun —kamar mereka bersampingan— untuk mendengarkan kalau-kalau Do Hyun menghubungi Seok Jin. Namun...,
"Aishhh! Aku tidak dengar apapun!" Umpatnya.
Sian keluar dari kamarnya, dan kini dia menempelkan telinganya di pintu kamar Do Hyun. Meskipun tidak jelas, tapi dia masih bisa mendengar sedikit suara Do Hyun yang sedang menelepon.
Lihatlah! Bahkan meski kularang, dia tetap menghubunginya, dasar! Umpatnya dalam hati.
"Bagaimana, hyung? Semuanya berjalan lancar?" Tanya Do Hyun pada Seok Jin.
"Tidak begitu lancar, tapi masalahnya hampir terselesaikan. Kau kenapa menelepon? Apa ada masalah?"
"Tidak ada masalah di sini, aku menghubungimu karena khawatir. Tapi syukurlah jika masalahnya akan segera selesai," kata Do Hyun.
Dari semua obrolan Do Hyun dan Seok Jin. Sian hanya mendengar bagian 'syukurlah' dan membuatnya berpikir bahwa masalah di sana sudah teratasi dengan baik.
__ADS_1
#brakkk
Sian terjatuh ketika Do Hyun membuka pintu kamarnya.
"Akhhh~"
"Noona, kau tidak apa-apa?" Tanya Do Hyun sembari membantu Sian berdiri.
"Sakit," keluh wanita itu.
"Maaf, aku tidak tahu kalau ada noona di sini," sesalnya. "Tapi apa yang noona sedang lakukan?"
Sian salah tingkah, "itu..., aku hanya ingin tahu saja, apa...,"
"Apa Seok Jin hyung baik-baik saja?" Sela Do Hyun, menerka perkataan kakaknya.
"Yaa! Tidak mungkin! Aku hanya ingin tanya, apa yang ingin kau makan untuk makan malam nanti?!" Sian berdalih.
Do Hyun mendengus kesal, "di saat seperti ini, itukah yang ingin noona tanyakan? Saat ini Seok Jin hyung sedang ada masalah, tidak bisakah noona berempati?" Tanya Do Hyun agak kesal. "Malam ini aku akan makan di luar, Kang Jae mengajakku pergi," katanya, kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras. Membuat Sian menatapnya tak percaya.
"Wahhh anak itu benar-benar! Dia pikir siapa kakak kandungnya?!"
♡♡♡
"Belakangan kau jarang memberiku kabar baik," kata Lee Sung Kyun, ayah Sian dan Do Hyun.
"Aku tidak menemukan celah untuk mengeksekusi mereka. Ada orang yang melindungi mereka dari kejauhan," jawab Kang Hyuna. Wanita 30 tahun yang merupakan sekretaris di kantor ayah Sian.
"Kau pikir aku akan percaya, HAH?!" Bentak Sung Kyun. "Mereka bahkan tidak punya uang untuk makan, bagaimana bisa mereka menyewa orang untuk melindungi diri, huh?!"
"Tapi itu sungguhan, Direktur. Benar-benar ada orang yang mengawasi mereka," tukas Hyuna.
"B-baik, Direktur." Hyuna hendak pergi ketika Sung Kyun berkata,
"Masalah ini hanya kita berdua yang tahu, jika orang lain tahu, maka itu pasti darimu, dan kau tahu konsekuensinya!"
Sejak diangkat jadi direktur di perusahaan terbesar se asia, ayah Sian mulai mengidap Social Climber, di mana dia akan melakukan segala cara untuk diakui status sosialnya. Bahkan dia rela mengorbankan anak-anaknya demi uang asuransi bernilai ratusan juta won.
♡♡♡
Do Hyun menghampiri Yonggi yang sedang menyantap ramennya.
"Eoi!" Tegur Do Hyun.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Yonggi agak kesal. Sudah hampir satu jam dia menunggu Do Hyun.
"Salahkan dirimu yang mencari tempat sejauh ini untuk bertemu!" Tukas Do Hyun. Yonggi memang memberikan lokasi pertemuan yang cukup jauh dari tempat Do Hyun, sehingga butuh waktu agak lama untuk sampai.
"Kau bilang takut jika kakakmu tahu," Yonggi menimpali.
Do Hyun menghela napas, "kau sudah dapatkan yang kuminta?"
Yonggi mengeluarkan amplop cokelat, dia hendak memberikannya pada Do Hyun. Namun..., "aku memiliki syarat!"
"Apa?!"
"Berhentilah mengancamku! Aku juga ingin hidup tenang!" Tukasnya.
Sejak pertemuan waktu itu, Do Hyun memang sering mengancam Yonggi, dengan mengatakan bahwa dia akan menyeret Yonggi ke polisi bila tidak menuruti permintaannya.
Mungkin! Jika saja saat itu Do Hyun tidak mengajak Seok Jin, Yonggi pasti tidak akan terpengaruh oleh ancamannya, menganggap bahwa itu hanyalah ancaman bocah. Namun, berbeda ketika dia melihat Seok Jin, dia tahu bahwa pria itu adalah pria penting yang memiliki kemampuan untuk menyeret Yonggi ke penjara dengan segala cara, karena itulah Yonggi termakan ancaman Do Hyun. Meskipun sebenarnya, Seok Jin tidak tahu kalau Do Hyun masih berhubungan dengan Seok Jin.
__ADS_1
"Tentu saja! Lagipula aku juga malas berurusan denganmu!" Tukas Do Hyun.
Yonggi menyerahkan amplop cokelat itu pada Do Hyun. Do Hyun menerimanya, dan hendak membukanya ketika Yonggi menahannya, "ini mungkin akan menyakitimu, kau yakin mau mengetahuinya?"
Do Hyun menghempaskan tangan Yonggi yang menahannya, "aku bisa urus sendiri urusanku!"
Yonggi mendesah, "terserah saja, tapi sejak tahu orang yang menerormu adalah ayahmu sendiri, aku merasa iba padamu, dan dokumen yang ada ditanganmu saat ini, mungkin akan lebih menyakitimu," kata Yonggi, memperingati.
Do Hyun tidak memerdulikannya, dia tetap membuka amplop cokelat itu, dan membaca lembaran demi lembaran di dalamnya dengan teliti.
"Ini...,"
Yonggi mengalihkan pandangannya dari Do Hyun. Meskipun penipu, tapi Yonggi tidak tega melihat wajah Do Hyun yang terlihat polos baginya.
Do Hyun menggelengkan kepalanya, "tidak mungkin, 'kan, ayahku...," dia menatap Yonggi dengan penuh harap. Berharap bahwa Yonggi mengatakan hal sebaliknya dari yang dia lihat dalam dokumen.
"Kurasa itulah alasan ayahmu menerormu dan kakakmu," kata Yonggi, pelan.
Beberapa minggu lalu, Do Hyun memerintahkan Yonggi untuk mencaritahu alasan ayahnya menerornya dan kakaknya. Meskipun sebelumnya dia berpikir bahwa ayahnya melakukan itu untuk membuat mereka kembali pada ayahnya. Namun, Do Hyun masih memiliki perasaan yang mengganjal di hatinya. Tapi..., dia sungguh tidak tahu kalau inilah alasan sesungguhnya. Kenyataan, bahwa sang ayah adalah orang yang dapat mengklaim uang asuransi mereka, yang bahkan Do Hyun tidak tahu bahwa dirinya dan kakaknya di asuransikan.
"Dia sudah mengasuransikan kalian selama sepuluh tahun, pasti itu jumlah yang sangat besar!" Kata Yonggi.
"Maksudmu, ayahku ingin kami mati?" Tanya Do Hyun lemah.
"Sebenarnya, tanpa kalian matipun ayah kalian tetap akan menerima uang asuransi, asalkan ada bagian tubuh kalian yang terluka, hingga mengharuskan operasi. Bacalah surat-surat itu lebih baik," saran Yonggi.
Do Hyun kembali membacanya. Sang ayah mengasuransikan seluruh anggota tubuh mereka, mulai dari jemari, tangan, kaki, kepala, hidung, ginjal, jantung, dan telinga. Di sana juga tertulis, apabila bagian-bagian itu terluka cukup serius, maka pihak asuransi akan mencairkan uangnya.
Do Hyun menyentuh keningnya, dia merasa kepalanya berputar setelah mengetahui segalanya tentang sang ayah.
#brakk
Tubuh Do Hyun terjatuh ke lantai, dan kepalanya membentur meja. Yonggi segera beranjak dari tempatnya, dan menghampiri Do Hyun.
"Ya! Lee Do Hyun!" Teriak Yonggi, sembari merangkul tubuh Do Hyun.
"Lee Do Hyun!"
Do Hyun mengalami syok berat dengan apa yang diketahuinya.
Itulah mengapa banyak orang mengatakan, bahwa tidak mengetahui apapun adalah sebuah kebahagiaan.
♡♡♡
Sian terus melirik jam di dinding. Sudah pukul 9, tapi Do Hyun belum juga pulang. Dia khawatir kalau-kalau Do Hyun bertemu dengan perisaknya di sekolah.
Sian sudah mencoba menghubungi Do Hyun, tapi dia tidak mengangkatnya. Sedangkan Kang Jae, dia bilang dia tidak sedang bersama Do Hyun, dan tidak pernah mengajaknya keluar.
"Sebenarnya ke mana dia? Selalu membuatku cemas!" Gumam Sian, sembari mondar-mandir di ruang tamu. Menunggu kepulangan adiknya dengan perasaan gelisah.
Sian melirik ke arah pintu ketika mendengar bel burbunyi. Do Hyun? Pikirnya. Dia segera berlari ke pintu, dan membukakan pintu tersebut.
"Do Hyun, kau...,"
#prakkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sian, membuat wanita itu tertegun.
"I-ibu."
TO BE CONTINUE
__ADS_1