Drama

Drama
Take 14


__ADS_3

"Maafkan aku tuan, aku sungguh tidak memberitahukan soal kepindahanmu pada nona besar, itu...,"


"Lupakan saja, lagipula Do Hyun berhasil mengatasinya," Seok Jin menyela perkataan Hyun Woo, asistennya. "Aku memanggilmu ke sini untuk memintamu melakukan sesuatu," lanjutnya.


"Apa itu, tuan?"


♡♡♡


Seok Jin telah memberitahukan segalanya padaku tentang Seo Hyun yang tak ada hubungannya dengan teror yang kuterima. Ada sedikit rasa lega dalam diriku, dan banyak rasa penyesalan karena telah mencurigainya. Namun, rasanya niatku belum cukup mempuni untuk bertemu dengan Seo Hyun meski demi meluruskan keadaan ini.


"Kenapa hanya diam saja, ayo masuk," seru Hae Na. Sebelumnya, aku memang meminta Hae Na untuk mempertemukanku dengan Seo Hyun. Namun, seperti kataku tadi, niatku belum cukup mempuni untuk menemuinya, meski sebelumnya aku sangat ingin menemuinya. Aku aneh, 'kan?! Yaa aku akui itu. Meski kucoba berkali-kali untuk tidak merasa terintimidasi, tidak merasa minder, dan tidak merasa tidak lebih baik darinya. Nyatanya aku tetap merasa tak nyaman berada di dekat Seo Hyun.


"Hae Na-ah, aku ada urusan lain, mungkin lain kali saja," kataku, kemudian aku pergi meninggalkan Hae Na yang memanggilku dari ambang pintu cafe.


Aku terus berlari, hingga sampai di halte terdekat, dan duduk di deratan bangku yang ada di sana.


"Huhh, plin-plan sekali," rutukku pada diriku sendiri. Ini menyebalkan ketika aku harus merasa seperti ini terhadap temanku sendiri. Tapi..., hah entahlah, aku akui kepayahan diriku menghadapi wanita sempurna seperti Seo Hyun.


"Hari ini tidak ada kelas."


Suara itu?


Aku menoleh, dan mendapati Changkyun sedang menatapku disertai senyum manis bibirnya. Aku suka kebetulan yang tuhan berikan kali ini, biasanya secara kebetulan yang kutemui adalah Sejong. Aku benar-benar tidak menyukainya, jika dilihat secara seksama, Sejong sebelas duabelas dengan Seok Jin. Meskipun aku tidak tahu apakah Sejong juga seorang playboy?


"Changkyun-ah," panggilku, yang kurasa seperti seruan di telinganya, aku senang. Saat sedang mumat seperti ini, melihat wajah Changkyun bagaikan vitamin penambah stamina.


"Kau sedang apa di sini?" Tanyaku.


Changkyun duduk di sampingku. Kemudian, dia menjawab, "rumahku tidak jauh dari sini, sekarang aku mau ke perpustakaan nasional, kau sendiri, sedang apa dan mau ke mana?"


"Aku baru tahu kau tinggal di dekat sini, padahal aku dan teman-temanku sering pergi ke cafe di persimpangan itu," sahutku. Cafe di persimpangan Sindorim memang menjadi tempat kumpulku dengan Hae Na, terkadang juga dengan Seo Hyun. Kami memilih Cafe itu karena tempatnya berada di titik sempurna untuk kami berkumpul. Aku tinggal di Gwanghwamun, Hae Na tinggal di Yaksu, dan Seo Hyun berada di Gangnam. Jaraknya lumayan jauh jika kami saling mengunjungi, karena itu, jika tidak terlalu penting, dan hanya kumpul biasa, kami menggunakan cafe itu sebagai titik kumpul.


"Benarkah? Aku tidak tahu kau sering ke sana. Padahal aku bekerja paruh waktu di sana."


"Apa?" Aku agak terkejut. Aku cukup lama pergi ke cafe itu, tapi tak pernah menyadari keberadaan Changkyun di sana.


Changkyun tersenyum, manis sekali, "a-ahh aku baru dua bulan bekerja di sana," dia menjelaskan.


"Ah begitukah, pantas saja."


"Pantas saja apa?"


Pantas saja aku tidak melihatmu di sana, jika kau sudah bekerja di sana sejak lama, pastinya aku akan lebih cepat menyukaimu, tidak perlu menunggu sampai pertemuan kita di kampus! Keluhku.


"Bukan apa-apa," jawabku.

__ADS_1


"Oh iya, kau belum jawab pertanyaanku, kau sedang apa dan mau ke mana?" Tanyanya, mengingatkanku.


"Ohh itu, tadinya aku mau menemui temanku, tapi tidak jadi. Dan sekarang aku juga mau ke perpustakaan Nasional," jawabku, berbohong. Jika ada ibuku, pasti kebohonganku ini akan terdeteksi, entah kenapa, tapi ibuku sangat hebat dalam mendeteksi kebohonganku, berbeda jika dengan Do Hyun, tanpa curiga ibuku langsung memercayainya.


"Benarkah? Baguslah," katanya, wajahnya terlihat begitu senang, dan itu membuatku merona, aku yakin dia juga menyukaiku. Sudah sejak lama aku tahu bahwa dia memerhatikanku.


"Iya, sangat bagus."


Kami menunggu bus bersama. Jika sebelumnya aku berharap bus cepat datang agar aku cepat pergi dari sini. Sekarang aku berharap agar bus datang lebih lama, jarang-jarang aku bisa berduaan seperti ini dengan Changkyun, biasanya tanpa diundang Sejong akan muncul, entah dari mana.


"Ngomong-ngomong, Sian-ah, bolehkah aku bertanya?" Tanyanya, terlihat ragu.


"Tentu saja, memangnya mau bertanya apa?"


Changkyun menggaruk kepalanya. Rambut itu terlalu halus dan bersih untuk bisa menyebabkan rasa gatal, entah kenapa dia harus menggaruknya.


"Pria yang waktu itu datang menjemputmu..., dia siapa?" Tanyanya, perlahan.


Seketika aku kembali teringat saat Seok Jin datang disaat Changkyun dan Sejong berseteru. Rasanya aku ingin merutuk Seok Jin saat ini juga!


"Dia teman smaku dulu," jawabku sekenanya. Aku tidak mau jika anganku tentang menjalani masa depan bersama Changkyun hancur karena perjanjian bodoh antara aku dan Seok Jin.


"Sungguh hanya teman?" Tanyanya lagi, seolah ingin menegaskan.


"Eoh, aku tidak akan berbohong padamu, Changkyun-ah," jawabku. Sebenarnya, sebagian besar yang kukatakan memang bukan kebohongan. Jika tanpa perjanjian itu, aku dan Seok Jin memang hanya teman yang pernah sekolah di sekolah yang sama!


Aku kembali melihat senyuman Changkyun, saat sebelumnya dia terlihat tegang karena pertanyaan itu.


"Syukurlah," katanya.


Dan tak lama kemudian, bus yang kami tunggu tiba.


"Ayo," ajaknya, sembari mengulurkan tangannya padaku.


Aku terperangah, darahku berdesir dan jantungku berdegub lebih keras dari biasanya.


"Hanya ingin memastikan kau tidak jatuh, karena tangganya sepertinya licin," dia menjelaskan. Namun, aku sudah terlalu terbawa perasaan terhadap laku manisnya ini.


Aku menyambut uluran tangannya, dan dia menggenggamku cukup erat.


Aku yakin, saat ini, wajahku pasti merona, dan aku tampak seperti orang bodoh karena tersenyum terlalu lebar.


Masa bodoh! Aku suka perasaan ini.


♡♡♡

__ADS_1


Dalam ruang kerjanya, Seok Jin disibukkan dengan berbagai dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Karena banyaknya tugas kuliah, Seok Jin baru bisa menyentuh dokumen-dokumen itu.


"Tuan," panggil Hyun Woo setelah dia mengetuk pintu ruang kerja Seok Jin.


"Masuk," sahut Seok Jin, tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumennya.


Hyun Woo membuka pintu, dan menutupnya secara perlahan sebelum dia berjalan menghampiri Seok Jin.


"Tuan...,"


"Kenapa kau di sini? Bukankah aku mekintamu untuk mengikuti Sian?" Tegur Seok Jin, masih dengan pandangan yang tertuju pada dokumen-dokumennya.


"Itu..., aku mendapat telepon dari sekretasir Mr. Stuart, dia menanyakan kontrak kerja sama yang beberapa hari lalu dia kirimkan, apakah sudah tuan tanda tangani atau...,"


"Sedang kupelajari," sela Seok Jin. "Kau ke sini hanya untuk menyampaikan itu?" Tanyanya, kali ini dia menatap wajah Hyun Woo.


"I-iya, sekretaris Mr. Stuart bilang dia tidak bisa menghubungi anda, karena itu...,"


"Lalu bagaimana dengan Sian? Bagaimana jika wanita gila itu menguntitnya dan melukainya lagi, hah?!" Seok Jin marah, membuat Hyun Woo tertunduk.


"Itu...,"


"Kau bisa saja menghubungiku di nomor lainku, jadi kau tidak harus meninggalkannya, aishhh," seok Jin memijat kecil keningnya, kini dia menjadi tak fokus karena Sian.


Sebelumnya, dia memang meminta Hyun Woo untuk mengawasi Sian. Sejak peristiwa penimpukan itu, Seok Jin menjadi khawatir pada Sian.


"Tapi, sebelum pergi, aku memastikan dirinya aman," sahut Hyun Woo.


"Aman? Maksudnya?"


"Nona Sian saat ini sedang bersama pria yang kelihatannya mampu untuk melindunginya, karena itu aku...,"


"Pria?" Terus saja Seok Jin menyela perkataan Hyun Woo.


"E-eoh," jawab Hyun Woo, kaku.


"Di mana kau melihatnya terakhir kali?" Tanya Seok Jin.


"Di perpustakaan Nasional."


Seok Jin segera menandatangani dokumen-dokumen itu, kemudian menutupnya, dan segera dia beranjak dari tempatnya.


"Kirimkan kembali dokumen-dokumen itu, aku sudah menandatanganinya," katanya, sebelum pergi meninggalkan ruangannya.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2