Drama

Drama
Take 37


__ADS_3

Samar-samar Sian mendengar namanya tersebut. Terdengar begitu parau dan lirih.


"Bertahanlah, kumohon."


Perlahan Sian membuka matanya, dia menitihkan airmata ketika Do Hyun menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika matanya terbuka sempurna.


"D-Do Hyun?" Lirihnya.


"Tidurmu lama sekali, noona. Banyak hal yang ingin kutanyakan," kata Do Hyun. Sian menghapus airmatanya, dia tersenyum, kemudian memeluk Do Hyun dengan erat.


"Do Hyun-ah," isaknya.


"Y-ya, kenapa menangis?" Tanya Do Hyun bingung.


"Kupikit kau sudah mati, jantungmu tidak..., ohh!" Sian terperangah, saat mendengar detak jantung Do Hyun.


"Ada apa dengan jantungku?" Tanya Do Hyun penasaran.


"I-itu..., aku senang kau masih hidup," seru Sian. Dia mempererat peluknya pada sang adik, membuat adiknya risih.


"Yaa! Lepaskan!" Do Hyun mendorong pelan kakaknya, melepaskan pelukkan erat itu darinya. "Kenapa memelukku? Itu memalukan!"


"Biarkan saja! Lagipula tidak ada orang di sini!" Tukas Sian, membuat Do Hyun terdiam dan mulai mengedarkan pandangannya.


"Ngomong-ngomong, noona, kita ini sebenarnya di mana?"


Sian ikut mengedarkan pandangannya, "entahlah, tapi aku tahu jalan keluarnya. Sebelumnya aku pergi ke sana dan menemukan jalan raya."


"Di mana?"


"Di sana," kata Sian, sembari menunjukk arah selatan. "Ada seorang ahjussi yang juga hampir membantu kita."


"Ahjussi? Lalu, di mana ahjussi itu sekarang?!" Tanya Do Hyun antusias.


Sian tersenyum ketir, "aku memarahinya, dan menyuruhnya pergi," kata Sian, sangat pelan, supaya sang adik tidak mendengarnya dan menjadi marah padanya. Namun, sayangnya, pendengaran Do Hyun sangat tajam hingga dia bisa mendengar itu.


"Yaa! Kenapa kau memarahi orang yang mau membantu kita, huh?! Dasar bodoh!"


"Apa?! Bodoh?! Yaa kau...,"


"Sudahlah, aku tidak mau berdebat! Tunjukkan saja arahnya," sela Do Hyun. Sian beranjak dari tempatnya, dia mendengus kesal kemudian menuntun adiknya ke arah di mana jalan raya itu berada.


"Tapi, Do Hyun-ah. Aku sungguh tidak menyangka ayah tega melakukan ini pada kita," kata Sian, terdengar lirih.


"Ayah? Memangnya ayah melakukan apa?" Tanya Do Hyun tak mengerti.


Sian menghela napas berat, "hahh, kau mungkin tidak tahu karena yang kau lakukan hanyalah tidur panjang, seperti hewan yang sedang berhibernasi!" Keluh Sian.


Do Hyun terkekeh, "ya, noona, jangan berlagak intelektual dengan menggunakan analogi dihadapanku! Aku bahkan tak yakin kau tahu hewan apa saja yang berhibernasi!" Ejek Do Hyun. Dan itu membuat Sian kesal.


"Yaa! Kau lupa kalau aku ini mahasiswi POSTECH, huh?!"


"Eihhh kau bisa masuk sana karena Seok Jin hyung!" Ejeknya lagi.


"Karenanya?! Enak saja! Aku yang belajar mati-matian untuk lulus ujian masuknya!" Tukas Sian. Namun, Do Hyun tetap mengejeknya, bahkan sekarang dia menjulurkan lidahnya untuk membuat kakaknya kesal.


"Wahhh bocah tengik ini! Kemari kau!"

__ADS_1


♡♡♡


Seok Jin berlari menghampiri Sian dan Do Hyun.


"Lee Sian!" Panggilnya. Dia mengguncang-guncangkan tubuh Sian. Namun, wanita itu hanya bergeming. Perasaan resah, takut, cemas, dan sedih beradu dalam hatinya.


"Lee Sian," suaranya mulai parau. "Do Hyun-ah." Kini dia mulai menangis dihadapan Do Hyun. "Kumohon jangan begini."


"Sian-ah, kumohon. Bertahanlah, kumohon," lirih Seok Jin.


♡♡♡


Sian terperanjat bangun dari tidurnya, napasnya memburu, seolah-olah dia berlarian jauh.


"Astaga, noona. Bagaimana bisa kau tidur di hutan seperti ini, eoh? Ayo! Kita lanjutkan perjalanan ini. Memangnya kau mau terus berada di sini, huh?" Tegur Do Hyun.


"E-eoh?"


Do Hyun meraih tangan kakaknya, membantunya bangun dari posisi duduknya, "ayo!"


"Iya, sabar!"


Sian berdiri dengan bantuan adiknya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, hingga akhirnya sampai pada satu titik. Di mana Sian merasa bahwa itu seharusnya tanda dari jalan keluar mereka. Sian menghentikan langkahnya, diikuti oleh Do Hyun. Dia mengedarkan pandangannya. Dia ingat betul kalau pohon besar tanpa dedaunan itu adalah tanda bahwa di bawah sana ada jalan raya. Namun...,


"Mana? Kau bilang ada jalan raya di sini, di mana jalannya?" Tanya Do Hyun.


"Tapi, aku ingat betul kalau...,"


"Astaga, noona. Kurasa kau mulai berdelusi karena kita sudah terperangkap terlalu lama di hutan ini. Kau juga jadi sering menceritakan hal aneh. Kita tinggal di rumah ayah, ayah mencoba membunuh kita, dan hal aneh serta menakutkan lainnya," kata Do Hyun, dia menghampiri kakaknya, dan merengkuh kedua bahu kakaknya. "Jangan takut ataupun cemas, noona. Aku janji akan membuat kita keluar dari hutan ini, mengerti?" Do Hyun tersenyum manis, membuat Sian menjadi agak tenang.


"Ayo," ajak Do Hyun, sembari menuntun tangan kakaknya.


♡♡♡


"Bagaimana bisa ayah mereka sejahat itu?! Bagaimana bisa!"


Sambil menitihkan airmata, Seok Jin terus mencoba menenangkan wanita paruh baya itu, "ahjumma, tetaplah kuat."


Sian-ah, kumohon. Kumohon bangunlah.


♡♡♡


"Kenapa berhenti?" Tanya Do Hyun.


"E-eoh? Itu...," Sian mengedarkan pandangannya, "kurasa aku mendengar seseorang memanggilku," lanjutnya.


Do Hyun diam, dan ikut mendengarkan, "aku tidak dengar apapun. Ayo, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan ini."


Dengan masih adanya rasa penasaran tentang siapa yang memanggilnya, Sian memilih untuk mengikuti langkah adiknya.


"Kau yakin tahu jalannya?" Tanya Sian.


"Aku pernah mendengar, kalau kita mengikuti lumut, kita akan menemukan jalan keluar, maka dari itu, kita harus mencari lumut," kata Do Hyun, sembari menelisir jalan mencari jejak lumut.


"Kau dengar hal itu di mana?" Tanya Sian, dia ikut mencari jejak lumut.


"Spongebob squarepants," jawab Do Hyun sekenanya.

__ADS_1


Sian tertohok, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Yaa! Bagaimana bisa kau...," Sian mendengus kesal, dia menghampiri adiknya. Kemudian, melayangkan pukulan kekepala adiknya.


"Akhhhhh!" Sang adik memekik, sembari mengusap bekas pukulan kakaknya dikapalanya. "Sakit!!"


"Rasakan! Bagaimana bisa kau..., oughhhhh! Menyebalkan!" Umpat Sian.


"Lalu mau bagaimana lagi, huh? Kau bilang kau tahu jalan keluar, tapi apa?! Kita sudah di sini berhari-hari!" Sahut Do Hyun.


Sian menghela napas panjang, "kau yakin perkataan Spongebob bisa dipercaya?" Kata Sian, menegaskan.


"Bisa, ayo jalan," kata Do Hyun, mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka berdasarkan persepsi dari sebuah kartun yang sempat dilarang untuk tayang di televisi.


♡♡♡


Airmata seolah tak akan berhenti mengalir dikedua pipi sang ibu. Wanita paruh baya itu menggenggam erat tangan Do Hyun yang sudah membiru, dan dingin.


"Do Hyun-ah," lirihnya.


Seok Jin hanya terdiam, menahan segala kesedihan di dalam dirinya. Teringat olehnya saat-saat menyenangkan yang pernah dialaminya bersama Do Hyun. Meskipun tidak berhubungan darah, tapi Seok Jin telah menganggap Do Hyun sebagai adiknya.


"Otopsi akan dilakukan jika keluarganya menyetujui," kata Song Jae Hyun. Seorang dokter yang bertugas di rumah sakit kepolisian.


Sejak ditemukan oleh Seok Jin di dalam hutan. Seok Jin memutuskan untuk membawa Sian dan Do Hyun ke rumah sakit kepolisian, guna memperkuat bukti yang telah dikumpulkannya dan juga ibunya atas perbuatan Lee Sung Kyun. Namun, untuk mendapatkannya, diperlukan tindakkan otopsi pada jasad Do Hyun untuk membuktikan benarkah ada cairan Ricin yang terkandung dalam tubuhnya, dan entah apakah sang ibu akan mengizinkannya.


"Dia sudah sangat tersiksa ketika masih hidup, dan sekarang...," wanita paruh baya itu terisak, "aku hanya ingin dia damai di sana."


Seok Jin merangkul wanita paruh baya itu, dia dapat mengerti perasaan wanita paruh baya itu. Pasti menyakitkan mengetahui tubuh anaknya akan di sayat setelah menjalani kehidupan yang menyakitkan.


"Kami akan menyerahkan keputusannya kepada keluarga korban, kami tidak akan memaksa. Tapi..., mungkin memang menyakitkan, korban mengalami kehidupan yang sulit, dan kemudian setelah kepergiannya pun tubuhnya harus dilukai. Namun, jika itu terjadi padaku, aku pasti akan meminta seseorang untuk mengungkapkan kebenaran atas kepergianku! Karena akan lebih menyakitkan bagiku jika melihat orang yang melakukan ini hidup dengan bebas dan bahagia di luar sana!" Tukas sang dokter.


Sang ibu menatap dokter itu dengan tatapan sedih dan hancur.


"Aku sudah bekerja dibidang ini selama bertahun-tahun, dan ini pertama kalinya aku menemukan kasus seperti ini," kata dokter itu. Dia menghampiri ibu Do Hyun, meraih tangannya, dan menggenggamnya erat. "Ini lebih kejam karena dilakukan oleh orang yang pernah ada dihidupnya sebagai ayahnya. Mari ciptakan keadilan untuknya. Ini tidak akan memakan waktu lama, kita bisa segera mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya setelah ini."


Sang ibu kembali menatap wajah putranya yang hampir membengkak dan membiru itu. Dia merasa gagal sebagai seorang ibu hingga harus menyaksikan hal seperti ini menimpa anak-anaknya. "Jika memang hal ini akan membuat putra kecilku tenang, maka aku akan membiarkanmu melakukannya. Aku hanya ingin segera mengantarkan putraku ke tempat peristirahatan yang baik."


♡♡♡


"Akhhh," Do Hyun memekik, membuat Sian menghampirinya dengan perasaan cemas.


"Ada apa?" Tanya Sian.


Do Hyun mereryit, "entahlah, aku merasa tubuhku seperti tersayat, sakit sekali."


"Kalau begitu istirahatlah dulu," kata Sian. Sembari membantu adiknya untuk duduk. "Aku akan pergi mencari minum untukmu, tunggulah di sini."


Sian beranjak dari tempatnya, pergi meninggalkan Do Hyun untuk mencari sumber air. Cukup jauh dia berjalan, sampai akhirnya dia menemukan sungai.


"Oh," serunya. Dia hendak menghampiri sungai itu ketika dia mendengar namanya terpanggil.


"Lee Sian."


Sian terkejut, dia mengedarkan pandangannya, mencari di mana sumber suara itu.


"Lee Sian, kumohon kembalilah. Kumohon."


"Siapa?!" Tanya Sian dengan suara lantang.

__ADS_1


"Jangan pergi terlalu jauh, kembalilah."


TO BE CONTINUE


__ADS_2