
Seok Jin merasa gelisah, sudah berkali-kali dia menghubungi Sian. Namun, wanita itu tak kunjung mengangkatnya.
"Waahhh, dia menjadi sombong setelah kuliah!" Umpat Seok Jin. Dilemparnya ponsel mahalnya itu ke atas ranjang, sebelum akhirnya dia ikut menjatuhkan diri di ranjang King Sizenya tersebut.
"Awas saja jika dia tidak menghubungiku balik, akan kubatalkan semua perjanjiannya!" Dengusnya.
Ada banyak penyesalan dalam diri Seok Jin setelah dia menantang Dong Hyi pagi tadi. Wanita itu dengan cepat meresponnya, dan berkata bahwa lusa dia akan berkunjung ke rumah Seok Jin bersama para wanita yang menjadi korban Seok Jin.
"Aishhhhh!" Seok Jin mengacak rambutnya, frustasi. Jika saja dia menjalani hidupnya dengan baik, pastinya dia tidak akan terlibat dengan hal seperti ini. Namun, sayangnya, Seok Jin telah menjalani hidupnya sejak muda dengan tidak benar. Dia yang kekurangan perhatian dari sang ibu, mencari perhatian dari wanita lain, dengan cara memacari mereka.
Sejak ayah Seok Jin, Han Su Ho. Berhasil dalam bisnis elektroniknya, ibu Seok Jin, Kang Ji Hyo. Mulai mengikuti genk-genk sosialita, dia lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah daripada memerhatikan Seok Jin. Bahkan, ketika ayah Seok Jin meninggal, saat itu ibu Seok Jin sedang berada di Helsinki, Finlandia. Untuk mendatangi acara galeri dari salah satu teman sosialitanya. Mungkin! Karena dulunya Kang Ji Hyo hidup dengan penuh kekurangan, membuat dirinya yang telah diangkat derajatnya menjadi lupa diri, hingga tenggelam terlalu dalam ke hingar bingar kemewahan dunia. Akibat dari sebab itulah yang membuat Seok Jin salah dalam pergaulannya, hingga cap playboy charming melekat pada dirinya.
♡♡♡
"Sian-ie, kau tidak mau mengangkat telepon itu? Sepertinya penting," tegur sang ibu. Sedari tadi ponsel Sian memang terus berdering, Seok Jin tak henti-hentinya menghubungi dirinya. Entah ada urusan apa sampai dia ngotot meneleponnya, tapi yang jelas Sian tidak bisa mengangkat telepon itu karena ada sang ibu, dan dia juga tidak bisa izin keluar rumah karena sang ibu sebelumnya mengatakan agar Sian menyempatkan waktu untuk bicara.
"Tidak penting, eomma," kata Sian. Kemudian, dia menonaktifkan ponselnya. "Jadi, apa yang eomma ingin bicarakan?"
"Sebenarnya...," sang ibu mengeluarkan secarik kertas yang dia lipat menjadi kecil dari saku rok spannya. "Belum lama ini, eomma menerima surat ini dari pengadilan."
Sian menerima kertas itu, matanya menjadi sendu seusai membaca apa yang tertulis dalam kertas tersebut. Surat yang berisikan tuntutan dari sang ayah kepada ibunya terkait hak asuh anak. Memang! Dalam persidangan, Sang ayahlah yang mendapatkan hak asuh Sian dan Do Hyun. Namun, kedua anak itu kabur dari rumah, dan memilih untuk tinggal bersama sang ibu. Lucunya, sang ayah hanya mengancam mereka dengan tidak membiayai hidup mereka, beliau tidak melakukan tindakan apapun selain itu untuk merebut Sian dan Do Hyun kembali. Tapi kini..., mengapa ayah melakukannya sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu? Pikir Sian.
"Eomma...,"
"Aku akan membicarakannya dengan Do Hyun. Sekarang sebaiknya kita makan malam saja," sela Sian, mengalihkan pembicaraan.
Dia menuntun ibunya ke meja makan, di mana Do Hyun sudah berada di sana, menyiapkan makan malam.
"Ayo cepat, sebelum makanannya dingin," seru Do Hyun, dia begitu ceria, tanpa tahu bahwa dirinya dan Sian mungkin tidak akan tinggal bersama sang ibu lagi.
♡♡♡
Seok Jin terus memandangi jam tangannya. Sudah tiga puluh menit dia menunggu. Namun, Sian tak kunjung memerlihatkan batang hidungnya.
"Wahhhh dia berani membuatku menunggu? Keterlaluan!" Seok Jin hendak menghubungi Sian, ketika wanita itu datang dengan berlari kecil.
"Yaa! Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu, hah?!" Bentak Seok Jin.
Sian yang masih terengah-engah mencoba untuk mengambil napas, "a-aku ada urusan," sahutnya. Sebelum menemui Seok Jin, Sian sedang membicarakan prihal surat tuntutan sang ayah atas hak asuh anak pada Do Hyun. Mereka menjadi dilema, dan gelisah setelah membaca surat tersebut.
"Ayo masuk!" Titah Seok Jin, mengisyaratkan Sian untuk masuk ke mobilnya.
"Mau ke mana?"
"Ck, masuk saja. Jangan banyak tanya!"
"Tapi ini sudah malam, dan besok aku ada kuliah," sahut Sian, dan itu sukses membuat Seok Jin kesal.
"Yaa! Aku dengan mudah bisa membuatmu kuliah, dan berhenti besok, jadi diam dan masuklah, paham?!" Ancam Seok Jin.
Sian terlihat tak suka. Wanita itu memang sangat benci jika sudah berada di kondisi di mana dia tidak bisa membantah Seok Jin.
Dengan sangat terpaksa Sian masuk ke mobil Seok Jin. Mobil audi hitam itu mulai melaju, entah kemana tujuannya.
"Aku menghubungimu berkali-kali!" Tegur Seok Jin.
"Aku...,"
"Lain kali aku tidak mau itu terulang lagi, ketika aku menghubungimu kau harus segera mengangkatnya, paham?!" Seok Jin menyela. Sian ingin sekali membantah. Namun, dirinya tidak berada diposisi di mana dia bisa melakukannya, dia sedang tidak bersemangat sejak membaca surat tuntutan itu.
__ADS_1
"Terserah saja!" Sahut Sian. Kemudian, dia hanya diam sembari menatap pemandangan di luar jendela sepanjang perjalanan.
Seok Jin memarkirkan mobilnya di depan toko busana yang sangat besar, dan mewah.
"Kita mau apa di sini?" Tanya Sian.
"Membelikanmu pakaian."
"Mwo?!"
"Kenapa terkejut? Sudah kukatakan aku yang akan membelikannya, jadi kau tenang saja."
"Bukan begitu. Maksudku, kenapa kau membelikanku pakaian?"
Seok Jin mengalihkan pandangannya pada pelayan butik, "yaa, akan kubeli semua baju yang cocok untuknya," kata Seok Jin pada pelayan itu.
Sang pelayan menunjukkan berbagai koleksi busana di tempat mereka pada Sian. Sedangkan Seok Jin pergi ke ruang tunggu untuk mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"Apa semuanya sudah beres?" Tanya Seok Jin pada sang penelepon.
"Sudah, tuan. Semua sudah diatur seperti yang tuan perintahkan."
"Baguslah. Oh iya, nanti aku akan meminta butik mengirimkan pakaian untuk Sian ke sana, jangan lupa untuk merapihkannya," titah Seok Jin.
"Iya, tuan."
"Satu lagi, Hyun Woo-ah. Jangan sampai ibuku tahu tentang ini, paham?"
"Baiklah, tuan. Rahasia anda aman bersamaku."
"Baguslah kalau begitu."
"Tuan, kami sudah memilihkan pakaian-pakaian yang cocok untuk nona ini," kata pelayan tersebut, mengalihkan pandangan Seok Jin.
"Baguslah. Kalau begitu, tolong kirimkan semuanya ke alamat ini." Seok Jin memberikan kartu namanya, kemudian, setelah membayar dia segera pergi dari butik tersebut.
"Pasti ada alasan kau melakukan ini, 'kan? Kenapa? Apa para wanita itu ingin menemuiku untuk membuktikan status kita?" Tanya Sian, ketika mereka telah berada dalam mobil.
Seok Jin hanya dapat terpana, dia mengagumi intuisi Sian yang selalu tepat pada sasaran.
"Bagaimana kau tahu?"
Sian menghela napas, "karena gelagatmu mudah ditebak!" Tukas Sian.
"Sok pintar!" Hardik Seok Jin. "Sebenarnya, tanpa sengaja aku mengundang semua wanita yang pernah menjalin hubungan denganku ke tempat tinggalku."
"Mwo?!"
Seok Jin menghela napas dalam, "karena itu, terpaksa aku harus merombak apartmentku agar terkesan seperti dihuni pengantin baru," katanya.
"Lalu? Kau akan melibatkanku dalam kecerobohanmu itu?!" Tanya Sian sarkastik.
"Kecerobohan? Aku melakukan itu karena mereka mulai mengganggumu!"
Sian terkejut, begitupun dengan Seok Jin, "m-maksudku..., maksudnya..., jika mereka mengganggumu, mungkin kau secara tidak sengaja mengungkapkan kebohongan kita, jadi..., ahhh lupakan saja, pokoknya jangan berpikir aku melakukan itu karena merasakan sesuatu padamu!" Seok Jin mencoba untuk menjelaskan maksud perkataannya, dia takut kalau-kalau Sian salah paham dengan menyangkanya perhatian. Padahal, hal yang ditakutkannya tidak pernah terjadi, Sian tidak memikirkan perkataan Seok Jin sebagai bentuk salah paham, sebaliknya, dari perkataan Seok Jin, Sian mencoba mengingat kejadian tidak mengenakkan yang beberapa hari belakangan menimpanya. Mulai dari kejadian dalam bus, kemudian kejadian saat kaleng minuman mengenai kepala Sian yang sedang dalam perjalanan pulang, dan masih banyak lagi. Tapi, yang paling tak mengenakkan adalah saat Sian hampir terjatuh dari tangga perpustakaan umum karena seseorang yang menubruknya dari belakang, dan pergi begitu saja tanpa kata maaf. Sian berpikir bahwa itu hanyalah kebetulan, tapi mendengar perkataan Seok Jin, membuat dia memandang semua kejadian itu dengan cara berbeda.
Apa itu ulah para mantan Seok Jin?
"Hanya ingin memberitahumu, jika kita tidak melakukan ini, maka mereka mungkin akan terus mengganggu kita. Jadi..., hanya untuk lusa, tinggallah bersamaku," saran Seok Jin.
__ADS_1
Sian berpikir barang sejenak. Dia tidak sedang memikirkan dirinya yang kemungkinan akan terus diganggu. Tapi, dia memikirkan sang ibu, dan adiknya. Bagaimana jika mereka juga mengganggu eomma dan Do Hyun? Kemudian eomma akan tahu bagaimana caraku bisa kuliah. Aishhhh merepotkan sekali!
♡♡♡
Benar atau tidak, tapi Sian merasa dirinya diikuti. Mungkinkah mantan kekasih Seok Jin? Pikir Sian. Dia mencoba untuk mengabaikannya dengan terus berjalan menuju halte bus. Namun,...
"Akhhh," Sian memekik, ketika orang yang sejak tadi mengikutinya itu menubruknya dari belakang, membuat Sian hampir tersungkur.
"Mian," kata orang bertudung itu. Sian merasa tak asing dengan suara itu, dia pernah mendengarnya di suatu tempat.
"Kau..., yaa! Kau wanita yang mendorongku terus menerus di dalam bus, 'kan?!" Tukasnya.
Tanpa bicara, wanita bertudung itu melanjutkan langkahnya. Sementara itu, Sian mengekorinya.
"Sepertinya, kau juga kan yang melempar kaleng minuman padaku! Kau juga yang membuatku hampir jatuh dari tangga di perpustakaan, 'kan! Itu namanya kriminal, haruskah aku melaporkanmu pada polisi, hah?!" Sian mengancam. Namun, wanita itu terus berjalan, malahan jalan wanita itu semakin cepat, kemudian dia menghentikan sebuah taksi, dan pergi dengan menumpangi taksi tersebut.
"Yaa!" Sian meneriakinya. Namun, sia-sia, taksi yang ditumpangi wanita itu sudah melaju jauh.
"Sial!" Umpat Sian.
Dia hendak melanjutkan langkahnya menuju halte bus, ketika dia menyadari bahwa tangan kirinya terluka. Luka yang terlihat seperti sebuah goresan pisau, wanita itu..., dia sampai berani melakukan ini? Apa dia begitu terobsesi pada Seok Jin? Menakutkan!
"Eoh, tanganmu berdarah," kata Sejong, yang entah dari mana dia datang. Sejong mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku celana jeansnya, kemudian menutup luka Sian dengan sapu tangan berwarna navi itu.
"Bagaimana bisa kau terluka?" Tanya Sejong.
Sian masih terdiam, dia masih memikirkan betapa menakutkannya para wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Seok Jin.
"Sebaiknya kita obati dulu sebelum ke kampus," saran Sejong. Dia menuntun Sian ke sebuah klinik, di sana luka Sian diobati dengan telaten, dan kemudian di perban.
"Lukanya cukup panjang, tapi syukurlah tidak dalam," kata Sejong, ketika mereka telah berada di luar klinik.
Luka yang di dapat Sian memang cukup panjang, sekitar lima belas centimeter.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Sejong cemas. Dia memerhatikan Sian sedari tadi, biasanya wanita itu akan merespon perkataannya dengan perubahan airmuka. Namun, kali ini, wanita itu sungguh hanya diam, dan terlihat cemas.
"Hei." Sejong merengkuh kedua bahu Sian, membuat wanita itu tersadar dari berbagai pikirannya.
"Apa yang kau cemaskan?" Tanya Sejong.
"Bukan apa-apa," kata Sian, sembari menyingkirkan tangan Sejong dari bahunya. "Sebaiknya kita berangkat ke kampus sebelum terlambat."
"Kita?" Sejong terkejut.
"Eoh, memangnya kenapa?"
Sejong tersenyum kecil, "seingatku kau menolakku saat aku bertanya apakah kau mau pergi ke kampus bersamaku," sindir Sejong.
"Aku tidak pernah menolaknya, saat kau bertanya aku hanya diam," Sian membela diri. Kejadian tadi membuatnya merasa sedikit takut untuk pergi sendiri, karena itu tanpa sadar dia mengajak Sejong.
"Tidak apa-apa kalau tidak mau," kata Sian.
"Eihh aku hanya bercanda, ayo!" Seru Sejong.
"Oh iya, kau bilang suka pria seksi, 'kan? Kalau begitu setelah kelas selesai datanglah ke kelas kesenian, oke?" Kata Sejong dalam perjalanan mereka menuju halte bus.
"Untuk apa?"
"Datang saja, aku akan menunggumu di sana."
__ADS_1
TO BE CONTINUE