
"Ssttt noona," Do Hyun berbisik dari ambang pintu kamarku. Aku menghampirinya. Memerhatikan setiap sudut ruangan kalau-kalau ibuku muncul.
"Kau sudah baca pesanku?" Tanyaku berbisik. Sebelumnya, aku menceritakan pada Do Hyun tentang lamaran gila Seok Jin saat di pernikahan Jay sore tadi. Aku orang yang sedikit labil dalam menentukan pilihan, karena itu aku membutuhkan pendapat Do Hyun. Meskipun lebih muda dariku, Do Hyun adalah orang yang sangat cekatan dalam membuat pilihan. Satu-satunya kegagalannya dalam membuat pilihan adalah saat dia memutuskan untuk menyerah pada pelajaran dan lebih memilih memusatkan fokusnya pada channel youtubenya yang hanya memiliki 202 subcribes, dan itu kuyakin hanya teman-temannya di sekolah.
"Sudah. Jadi bagaimana? Noona akan menerimanya?"
"Kita bicarakan saja di dalam, ayo."
Aku mengajak Do Hyun masuk ke kamarku.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, menurutmu bagaimana?" Tanyaku.
"Terima saja. Lagipula itu hanya status palsu saja," kata Do Hyun.
"Meskipun begitu..., apa tidak apa-apa?"
Do Hyun menghela napas panjang, dia merengkuh kedua bahuku, dan menatapku dengan serius.
"Noona," katanya. "Yang kau lakukan hanyalah mengaku sebagai isterinya, bukannya memalsukan dokumen atau tindakkan ilegal apapun, 'kan? Jadi apa salahnya? Lagipula bukankah bisa masuk ke perguruan tinggi adalah impianmu? Kau pikir berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa masuk ke sana jika menunggu sampai uangmu terkumpul, eoh?"
Perkataan Do Hyun membuatku terdiam dan berpikir. Sampai saat ini, aku belum menemukan pekerjaan baru setelah diberhentikan dari toserba milik Kang Jong Woon si hidung belang itu, so! pasti tidak ada masukkan ke tabunganku. Jika begitu..., hah, aku tidak bisa memprediksi kapan uangku untuk mendaftar perguruan tinggi terkumpul.
"Kau harus menerimanya, noona. Lagipula, syaratnya mudah sekali untuk dilakukan. Apa susahnya mengaku diri sebagai isteri seseorang?"
Benar! Kesepakatan yang Seok Jin berikan tidaklah sulit. Aku hanya harus mengaku diri sebagai isterinya, dan dia akan membayar uang kuliahku hingga selesai. Aku harus menerimanya.
♡♡♡
"Tanda tangani itu jika kau menerima kesepakatannya!" Tukas Seok Sin, sembari melemparkan secarik kertas ke wajahku. Wahhh!! Bagaimana bisa tuhan menciptakan manusia seperti dia?! Manusia yang tidak memiliki sopan santun! Jika bukan karena aku butuh, aku pasti sudah memukulnya!
"Yang harus kulakukan hanyalah mengaku sebagai isterimu, 'kan? Kau tidak akan melibatkanku pada hal-hal ilegal seperti pemalsuan dokumen pernikahan, atau apapun, 'kan?" Tanyaku mendesaknya. Jika melihat kondisiku saat ini, aku teringat pada drama pagi hari yang sering kutonton di toserba —saat aku masih bekerja di sana— dalam drama, pemeran utama pria dan wanita melakukan pernikahan kontrak. Sang pemeran pria memalsukan dokumen pernikahan yang kemudian menjeratnya pada kasus pelanggaran hukum, tapi hal tersebutlah yang membuat pemeran utama pria dan wanita terhubung, hingga akhirnya saling menyukai. Drama yang aneh. Namun, lebih anehnya lagi, aku menyukai drama itu.
"Eoh," dia menjawab sekenanya.
"Tapi kenapa kau melakukan ini? Maksudku, membayar kuliahku sampai selesai adalah harga yang sangat mahal untuk sekedar mengaku sebagai isterimu. Kau tidak merasa rugi?" Yaa meskipun perjanjian ini lebih banyak menguntungkanku, tapi aku tetap merasa tak enak pada Seok Jin. Biaya kuliah itu tidak main-main mahalnya. Kalau dalam drama yang kutonton, pemeran utama pria dan wanita melakukan itu untuk menghindari perjodohan. Apakah ini juga berlaku pada Seok Jin? Dia juga dijodohkan?
"Well, aku hanya bosan dengan semua wanita yang mengejarku. Maksudku, aku tahu bahwa aku pantas digilai, tapi belakangan mereka menjadi gila sungguhan karenaku. Kau tahu apa yang mereka katakan ketika aku menolak mereka? Mereka bilang tidak apa-apa untuk hanya menjadi pengabdiku, asalkan mereka bisa dekat denganku."
Mendengar perkataannya, membuatku ingin memukulinya dengan tongkat baseball yang ada di sudut ruangan itu. Aku tidak tahu bahwa inilah alasannya. Oughhhhh!
"Kemudian, kau tahu apa yang mereka katakan ketika kubilang aku sudah punya kekasih? Mereka akan memintaku untuk menjadikan mereka sebagai yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Gila bukan?" Lanjutnya.
Ouggghh orang ini! Aku sungguh ingin memukulnya!
__ADS_1
"Aku bosan dengan mereka, karena itu aku memutuskan untuk melakukan ini. Tidak mungkinkan mereka memintaku untuk menjadikan mereka sebagai isteri ke 2 apalagi ketiga? Jika aku bilang aku sudah memiliki isteri?" Dia terus melanjutkan dengan nada keeksissannya itu.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, "terserah saja kau mau bilang apa," gumamku. Kububuhkan tanda tanganku di atas kertas perjanjian itu. Seperti yang Do Hyun katakan. Apa susahnya mengaku diri sebagai isteri seseorang? Meskipun tak pandai berbohong, tapi aku cukup pandai dalam menyembunyikan rahasia.
"Kau sudah menandatanganinya?"
"Eoh," jawabku sekenanya.
"Kau tidak mau bertanya kenapa aku menawarkan ini padamu alih-alih orang lain yang lebih mempuni?" Seok Jin kembali bertanya.
"Bukankah sudah jelas? Kau menawarkan ini padaku karena aku adalah orang yang paling berpeluang besar menerima tawaranmu, tanpa menyebabkan masalah!" Tukasku.
Sekilas aku melihat Seok Jin terkekeh. Dan itu membuatku berpikir. Adakah yang salah? Apakah dia memiliki maksud lain saat menawari kesepakatan ini padaku?
Seok Jin segera merebut kertas perjanjian itu dari tanganku, dan itu membuatku tambah curiga terhadapnya.
"Kewajibanku hanyalah membayar kuliahmu, jadi pastikan kau lulus dalam ujian masuknya, paham?"
Ada apa ini? Kenapa kini aku merasa ada sesuatu yang tidak mengenakkan? Adakah yang aku lewatkan dari kesepakatan ini?
♡♡♡
"Apakah semua orang kaya sepelit itu?! Euhhh menyebalkan!" Sepanjang perjalanan pulang dari apartment Seok Jin, aku terus menggerutu. Kupikir saat dia menyuruhku datang ke tempatnya, dia akan memberikan uang jalan padaku, rupanya tidak! Sial! Padahal ongkosku menuju apartmentnya menghabiskan sampai 10 ribu won.
"Lee Sian?"
Suara itu! Seo Hyun?
Kutolehkan pandanganku pada sang empunya suara, ternyata sungguh Seo Hyun. Apa yang dia lakukan di sini? Dia tinggal di sini juga?
Dia tersenyum manis, seperti biasanya, "sedang apa di sini?" Dia menanyakan apa yang ingin kutanyakan padanya.
"Oh, bukan apa-apa. Seo Hyun-ah, aku pergi dulu," kataku. Kemudian, aku bergegas pergi meninggalkannya. Sungguh! Sejak saat itu, sampai detik ini, aku merasa selalu tak nyaman berada di dekat Seo Hyun.
Hanya sekitar dua menit aku berjalan, hingga akhirnya aku berhenti di halte bus Sindaebang. Di sana, aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, kemudian menghubungi adikku.
"Do Hyun-ie, jemput aku di halte Sindaebang," titahku.
"Mau kujemput pakai apa? Bicara seenaknya, seolah kita memiliki kendaraan!"
Ahh iya! Aku lupa kalau sepeda motor yang kami bawa dari rumah ayah lima tahun lalu, sudah di jual oleh ibuku untuk membayar sewa toko, minggu lalu.
"Terus, aku harus bagaimana? Uangku tidak cukup untuk pulang, kartu busku juga sudah tidak ada isinya," keluhku.
__ADS_1
"Kenapa tidak minta pada Seok Jin hyung? Dia yang menyuruhmu datang, jadi sudah seharusnya dia menghitung untuk ongkos jalanmu."
"Aku juga memikirkannya, tapi dia orang yang sangat kikir," cetusku. "Jadi aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku harus jalan dari Sindaebang ke Gwanghwamun, 'kan?"
"Jika kau bisa melakukannya, kenapa tidak? Noona, sudah dulu, aku harus mengerjakan sesuatu."
"Yaaa Lee Do...," belum selesai aku bicara, adikku yang menyebalkan itu menutup teleponnya. "Sebenarnya apa yang harus dia kerjakan? Sekolah sedang libur! Dan dia tidak sedang bekerja di mana pun untuk mengisi waktu liburannya. Menyebalkan sekali!"
Jika sudah terdesak seperti ini, otakku seolah berhenti menyalurkan ide. Tidak ada yang muncul di kepalaku selain kembali ke apartement Seok Jin dan meminta uang jalan padanya. Harga diriku akan jatuh jika melakukannya, tapi sekali lagi, aku tidak bisa memikirkan apapun selain itu!
"Ahhh masa bodoh! Aku akan minta pada si playboy kacang itu!"
Aku berjalan kembali ke apartement Seok Jin. Sesampainya di gedung 20 lantai itu, aku hendak menghubungi Seok Jin, untuk memintanya turun ke lobby —aku tidak bisa masuk tanpa kartu akses— ketika aku melihat Seok Jin keluar dari lift.
"Eoh, Han Seok Jin...," aku terdiam, saat melihat Seo Hyun juga keluar dari dalam lift yang sama. Bagaimana cara Seo Hyun masuk? Bahkan untuk menggunakan lift diperlukan kartu akses. Apakah Seo Hyun juga tinggal di apartment ini? Banyak pertanyaan dalam kepalaku. Namun, yang membuatku penasaran adalah, kenapa Seo Hyun terlihat seperti sedang mengekori Seok Jin?
"Seok Jin-ah, ayo kita bicarakan." Seo Hyun berkata dengan nada memelas. Dia sungguh sedang mengekori Seok Jin? Ada apa sebenarnya?
"Yaa! Jika kau terus seperti ini, aku akan melaporkanmu bukan hanya pada humas apartment ini, tapi kantor polisi, paham?!" Aku dan Seok Jin sering bertengkar, dan saling menghardik, tapi ini kali pertamaku melihat wajah marah Seok Jin.
Aku merasa kasihan pada Seo Hyun, biar bagaimanapun dia adalah temanku. Syukur nya tidak ada satupun orang di lobby —mungkin karena jam makan siang— sehingga Seo Hyun tidak harus menanggung rasa malu diperlakukan seperti itu oleh Seok Jin.
Aku hendak menghampiri mereka ketika kudengar perkataan Seok Jin, "berhentilah terobsesi padaku, Eun Seo Hyun! Hubungan yang terjalin antara kita saat di sma dulu hanyalah bagian dari kesenanganku, aku tidak memiliki perasaan apapun pada semua wanita yang kukencani, termasuk kau!"
"Aku tidak terobsesi padamu, Seok Jin! Aku hanya sedang menunjukkan perasaan sukaku padamu!"
Seok Jin terkekeh, "suka? Jadi rasa sukamu terhadapku yang membuatmu sampai nekat mencuri kartu akses penghuni tempat ini? Rasa sukamu juga yang membuatmu berhenti bermain piano, untuk masuk ke kampus dan jurusan yang sama denganku, eoh? Rasa sukamu pasti sangat luar biasa!"
Tubuhku seakan membeku. Apakah itu sungguh Seo Hyun yang aku kenal? Maksudku, selama ini dia selalu terlihat anggun, dan sempurna, aku tidak melihat sedikitpun jejak bahwa dia adalah orang yang bisa terobsesi pada sesuatu, apalagi pria. Dan pria itu adalah Seok Jin.
Mereka memang sempat memiliki hubungan, tapi Seo Hyun lah yang mengakhiri hubungan mereka kala itu, dia mengambil keputusan itu setelah tahu Seok Jin menyelingkuhinya. Tapi..., apakah sungguh ini yang terjadi pada Seo Hyun setelah mengakhiri hubungan itu? Dia menjadi terobsesi pada Seok Jin?
Segera kupalingkan wajahku saat Seok Jin menolehkan pandangannya padaku. Aishhh kurasa aku harus mencari cara lain untuk pulang, aku tidak mungkin menemuinya sekarang dan meminta uang padanya. Aku hendak melangkah pergi ketika Seok Jin memanggil namaku.
"Sian, tunggu."
Inginnya aku terus melanjutkan langkahku. Namun, kenapa kakiku terasa begitu berat?
Seok Jin meraih tanganku, menuntunku ke hadapan Seo Hyun, "bukankah kalian berteman? Kalau begitu, kau benar-benar harus menghentikan perasaan gilamu itu padaku, karena aku dan Sian, kami telah menikah!"
"Mwoya?!" Seo Hyun tercengang. Begitupun denganku.
Kini pikiranku terbuka luas, aku telah mengerti apa maksud Seok Jin saat dia bertanya kenapa dia menawariku perjanjian ini alih-alih orang lain. Karena dia ingin mengenyahkan Seo Hyun. Dia tahu bahwa Seo Hyun adalah orang yang penuh kasih terhadap temannya. Dia..., memanfaatkanku untuk menghancurkan hati Seo Hyun. Dia sungguh brengsek! Tapi..., aku merasa diriku lebih brengsek karena aku hanya diam dan tidak menjelaskan kebenarannya pada Seo Hyun.
__ADS_1
To Be Continue