
Sian sedang melamun ketika Changkyun menghampirinya.
"Kenapa melamun?" Tanya Changkyun, menyadarkan Sian dari lamunan siangnya.
"E-eoh, Changkyun-ah."
"Apa kau masih memikirkan soal adikmu?" Changkyun kembali bertanya.
Sian menghela napasnya dengan berat, "bukan hanya itu, aku juga memikirkan hal lain."
Changkyun tersenyum, dibelainya puncak kepala Sian, "kenapa ada banyak sekali yang kau pikirkan dalam kepalamu yang kecil ini, emm?"
Sian tersipu, pipinya merona dan darahnya berdesir disentuh dangan cara selembut itu oleh Changkyun.
"A-aku...,"
"Kau hanya akan menyakiti dirimu jika memikirkan begitu banyak hal, Sian-ah. Jadi berhentilah, cukup dijalani dan hadapi, paham?" Sela Changkyun dengan perlahan.
Sian mengangguk, sebagai jawaban dari nasehat Changkyun.
"Bagaimana drama musikalnya? Kalian bersenang-senang?" Tanya Changkyun.
Sian mendesah, dia jadi mengingat bagaimana Seok Jin dan Do Hyun mengeritiknya karena drama musikal tersebut.
"Iya, kami bersenang-senang," bohongnya. Merasa tidak enak jika mengatakan yang sesungguhnya pada Changkyun.
"Syukurlah, aku ikut senang kalau begitu," katanya.
"Terimakasih banyak, Changkyun-ah."
"Iya, sama-sama," sahut Changkyun. "Sebaiknya kita ke kelas."
"Emm."
Mereka beranjak dari tempatnya, meninggalkan perpustakaan dan pergi ke kelas mereka.
"Sian-ah," seru Sera, sembari melambaikan tangannya pada Sian.
Sian melirik Changkyun barang sejenak, seolah meminta izin pria itu untuk menghampiri temannya. Setelah melihat senyum Changkyun, Sian segera menghampiri Sera, dan duduk di samping Sera dan Yana. Dan sekali lagi, dia melirik Changkyun yang kini berjalan menghampiri Minhyuk, yang duduk di baris ke empat dari meja dosen.
"Sian-ah, pulang kuliah nanti aku dan Yana mau nonton film, kau mau ikut?" Tanya Sera.
"Film apa?"
"Bad Guy! Aku sudah lama tidak melihat wajah tampan Jang Ki Yong oppa," seru Yana.
Sian berpikir barang sejenak, "adikku bilang filmnya tidak begitu menarik."
"Siapa yang peduli, yang penting aku bisa melihat wajah Ki Yong oppa. Jadi, kau mau ikut tidak?" Tanya Sera agak mendesak. Dia dan Yana memang sangat menyukai Jang Ki Yong, aktor yang mulai dilirik para wanita ketika membintangi drama come and hug me.
"Tidak ah, lebih baik aku mengerjakan tugas Aljabar."
Yana dan Sera nampak kecewa, "yaa, Lee Sian orang yang sangat membosankan. Kau tidak tahu cara bersenang-senang!" Tukas Yana.
"Biarkan saja," sahut Sian sembari menjulurkan lidahnya.
"Dia tidak tahu cara bersenang-senang, tapi tahu cara menarik perhatian Changkyun," Sera menimpali.
"Yaa, kau...," Sian melirik Changkyun, memastikan pria itu tidak mendengarnya. Kemudian dia berbisik, "jangan asal bicara."
Respon Sian membuat Sera dan Yana kompak menggodanya.
"Kenapa? Apa itu salah? Ya, Lee Sian, kami sudah tahu bahwa kau dan Changkyun saling melirik. Iya, 'kan, Sera?" Kata Yana.
"Benar sekali. Ya, resmikan saja hubungan kalian, memangnya kalian tidak lelah hanya saling melirik?" Sera menimpali.
"Jangan bergurau, atau aku akan...,"
"Akan menyatakan cintamu pada Changkyun?" Sela Yana, mengundang tawa Sera.
"Ya~ diamlah," pinta Sian agak memelas.
"Jangan malu, Sian-ah. Zaman sekarang, wanita menyatakan perasaan pada pria itu wajar. Jadi berhentilah berpikiran kuno." Sera dan Yana terus menggodanya, membuat Sian malu hingga wajahnya memerah.
Sera merangkul Sian, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sian. Seraya berbisik, "kau kenal Kang Bora? Mahasiswi jurusan Design komunikasi? Kudengar dia menyukai Changkyun. Jika kau keduluan olehnya, maka tamatlah sudah. Bora itu bukan lawan yang mudah."
Sian terdiam, dia kembali melirik Changkyun, dan menyadari bahwa pria itu memang sangat memesona hingga bisa menarik perhatian primadona design komunikasi visual itu.
Haruskah aku mengungkapkan perasaanku lebih dulu? Pikirnya.
♡♡♡
"Kau tidak ikut dengan Yana dan Sera? Kudengar dari Minhyuk mereka pergi nonton film."
"Tidak, aku ingin mengerjakan tugas aljabar," kata Sian.
"Kebetulan sekali, aku juga mau mengerjakannya. Bagaimana jika kita kerjakan bersama?" Saran Changkyun yang segera disetujui oleh Sian. Mereka berjalan menuju perpustakaan, dan sesampainya di sana mereka dipertemukan oleh Sejong.
__ADS_1
"Oh~ Sejong-ah, lama tidak ber...,"
"Kalian pasti sangat bahagia," sela Sejong, kemudian pergi begitu saja melewati Changkyun dan Sian.
"Makin lama dia makin aneh," gumam Sian, dan disetujui oleh Changkyun.
"Lupakan saja, ayo." Mereka duduk berdampingan, dan mulai mengeluarkan buku aljabar mereka.
Cukup lama mereka disibukkan dengan soal-soal itu, hingga membuat kesunyian menggerogoti mereka.
"Changkyun-ah," panggil Sian, memecah keheningan di antara mereka.
"Apa?" Sahut Changkyun, tanpa menoleh pada Sian. Dia masih terfokus pada tugasnya.
"Begini, aku...," Sian terdiam barang sejenak. Dia ragu pada niatnya yang ingin mengutarakan perasaannya pada Changkyun. Dia memiliki harga diri yang ingin dia lindungi, tapi di sisi lain, dia tidak ingin kehilangan Changkyun.
"Aku menyukaimu," kata Sian, secepat kilat. Membuat Changkyun mengalihkan pandangannya dari bukunya.
"Apa?"
Perkataan Sian yang cepat itu rupanya tidak tertangkap di telinga Changkyun.
"K-kau tidak dengar?" Tanya Sian sembari menahan rasa malunya.
"Tidak. Memangnya tadi kau bilang apa?"
Sian menghela napas, sulit baginya untuk mengulangi perkataannya itu. "Itu..., aku..., tidak jadi," katanya. Dia kembali mengerjakan tugasnya seolah tidak ada yang terjadi. Namun, hatinya berdetak begitu keras.
Changkyun tersenyum kecil, sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian, dia kembali menolehkan pandangannya pada bukunya.
Sepertinya ini mudah dilakukan dalam drama-drama, tapi kenapa kenyataannya sulit sekali? Dalam hati, Sian mengeluh.
"Changkyun-ssi."
Suara itu mengalihkan pandangan Changkyun dan juga Sian. Sian tertegun ketika melihat Kang Bora menghampiri mereka, dan duduk di hadapan mereka.
"Iya, ada apa?" Tanya Changkyun.
Changkyun dan Bora memang pernah bertemu saat menjadi relawan di acara pelayanan masyarakat, sekitar stu bulan lalu. Dari situlah, sng primadona di jurusan Design Komunikasi Visual itu menyukai Changkyun.
"Ada yang ingin aku katakan," katanya.
"Apa?" Tanya Changkyun.
Bora melirik Sian, seolah memberikan isyarat untuk wanita itu agar pergi. Sian yang dapat mengerti isyarat itu, segera beranjak dari tempatnya. Dengan berkata, "Changkyun-ah, aku mau cari buku untuk referensi dulu."
"Sial! Kenapa isyaratnya begitu jelas?! Mau tidak mau aku jadi harus pergi!" Sian mendumal, sembari berjalan ke deretan rak buku yang dikhususkan untuk mahasiswa jurusan ilmu matematika. Jurusan yang diambilnya.
"Sebenarnya apa yang mau dia katakan?" Sian bertanya-tanya sendiri. Sesekali dia mengintip mereka dari sela-sela buku.
"Sepertinya serius sekali," gumamnya. Dia merengut. Merasa kesal dengan adegan itu. Akhirnya Sian memutuskan berkeliling perpustakaan, mencari kesibukan supaya dia tidak perlu melihat kebersamaan Changkyun dan Bora.
"Bosan sekali. Apa mereka belum selesai bicara?" Gumam Sian, sembari menyentuh setiap buku yang dia lewati.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Changkyun, membuat Sian terperanjat kaget.
"Aihhh kau mengejutkanku," protes Sian, mengundang tawa Changkyun.
"Maaf, aku tidak bermasud."
"Kenapa di sini? Apa kalian sudah selesai bicara?" Sian bertanya, dengan nada yang terdengar seperti merajuk.
"Eoh," sahut Changkyun. Sembari memilih sebuah buka dari rak. "Ini adalah buku-buku khusus anak teknik, memangnya bisa kita jadikan referensi?"
"Bukankah semua buku bisa dijadikan referensi?" Sian berdalih. Nyatanya, dia berada di bagian khusus anak teknik karena dia malas melihat Changkyun dan Bora.
"Ah, begitu rupanya," sahut Changkyun. Dia meletakkan kembali buku itu, kemudian menatap Sian dengan senyum manis.
"Bora mengajakku berkencan," katanya. Membuat Sian tercengang, dan menatap Changkyun dengan pandangan kecewa.
"D-dia melakukannya?" Tanya Sian lemah.
"Eoh."
Sian mengalihkan pandangannya dari Changkyun, menatap pada buku-buku yang kini menjadi saksi bisu kekecewaannya.
"Kau pasti senang. Kudengar dia primadona di jurusan design komunikasi visual." Suara Sian mulai serak. Dia menahan sedih di hatinya.
"Eoh, dia sangat cantik. Apalagi dilihat dari dekat. Wajar saja dibilang Primadona," sahut Changkyun.
"Eoh, begitu," Kata Sian. Kemudian melangkah kembali ke mejanya dan mulai memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
"Mau kemana?" Tanya Changkyun.
"Pulang," jawab Sian sekenanya.
"Pulang? Tapi tugasnya belum selesai."
__ADS_1
"Akan kulanjutkan di rumah," katanya. Dia telah selesai memasukkan barang-barangnya ke tas. "Aku duluan."
Sian meninggalkan perpustakaan dan juga Changkyun dengan perasaan bercampur aduk.
"Bagaimana dia bisa memuji wanita itu di depanku? Menyebalkan! Tega sekali! Kupikir dia menyukaiku karena sikapnya selalu manis, tapi apa?! Dia sama saja seperti Seok Jin!" Sepanjang jalan menuju halte, Sian terus saja menggerutu, seolah mulutnya tidak akan pernah lelah melakukannya.
Sian sedang menunggu bus, ketika Seok Jin menghentikan mobilnya.
"Eoi." Dari dalam mobil Seok Jin memanggil Sian.
Sian menoleh, dan segera masuk ke mobil Seok Jin ketika tahu bahwa yang di dalam mobil adalah dirinya.
"Y-ya kau sedang apa?" Tanya Seok Jin.
"Memakai sabuk pengaman," jawabnya, sembari memasang sabuk pengaman.
Seok Jin mendesah, "maksudku, kenapa kau masuk ke sini?"
Sian menoleh padanya, "bukankah kau mengajakku pulang bersama?"
Seok Jin terkekeh, "siapa yang bilang? Aku hanya memanggilmu, tapi tidak mengatakan mau mengantarmu pulang," Seok Jin mengejek.
Sian melepas kembali sabuk pengamannya, dan hendak keluar ketika Seok Jin menahannya.
"Apa?" Tanyanya agak kesal.
"Mau ke mana?"
"Keluar! Kau kan mengusirku!" Jawab Sian, penuh penekanan.
Seok Jin menghela napas berat, "kau mudah sekali tersinggung," sindirnya.
"Memang!"
"Aihhh wanita ini benar-benar!" Gumam Seok Jin. "Pakai lagi sabuk pengamannya."
"Tidak mau! Aku mau naik bus saja!" Sian hendak keluar ketika Seok Jin menahannya lagi.
"Aku hanya bercanda, maaf," katanya. Kemudian, dengan penuh perhatian dia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Sian.
"Eihh, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu, dasar pemarah," kata Seok Jin, sembari membelai puncak kepala Sian.
Seok Jin menjalankan mobilnya. Sebenarnya, dia memang tidak berniat mengajak Sian pulang bersama, karena tujuannya bukanlah apartment melainkan kantor kliennya. Namun, dia tidak bisa mengabaikan wanita itu.
"Hanya ingin memberitahumu, hari ini jangan ganggu aku, aku sedang kesal!" Tukas Sian, tiba-tiba.
"Kesal kenapa?"
"Itu..., ehm. Aku tidak harus memberitahumu alasannya!"
"Ya ya ya, terserah saja," sahut Seok Jin. Kemudian dia diam, dan hanya fokus pada jalan di depannya.
"Kenapa diam?" Tanya Sian.
"Kau bilang tidak boleh mengganggumu hari ini," jawab Seok Jin.
"Tapi aku tidak menyuruhmu diam. Katakanlah sesuatu, aku bosan," keluhnya.
Seok Jin menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tak habis pikir pada dirinya yang begitu bersabar menghadapi wanita seperti Sian.
"Kau mau aku mengatakan apa?" Tanya Seok Jin.
"Apa saja, yang penting suasananya tidak sunyi!"
Seok Jin menghela napas berat, "maaf," katanya.
"Maaf? Untuk apa?"
"Tentang bibirmu."
Sian tertegun. Dia kesulitan menelan salivanya ketika mendengar kejadian yang dia coba untuk lupakan.
"Aku...,"
"Diamlah!" Tukas Sian.
"Tapi kau bilang...,"
"Sekarang lebih baik kita diam saja!"
"Baiklah."
Kini, suasana di dalam mobil Seok Jin menjadi canggung dan panas.
Pria bodoh ini! Bagaimana bisa dia membahas itu?! Bodoh sekali! Umpat Sian dalam hatinya.
TO BE CONTINUE
__ADS_1