
"Sebenarnya...," untuk beberapa saat sang ibu berpikir, apakah dia harus memberitahu putranya, atau dia harus diam saja guna membiarkan pikiran anaknya tenang sampai benar-benar pulih.
"Bagaimana dengan mereka, bu?" Tanya Changkyun agak mendesak.
"M-mereka baik-baik saja," jawab sang ibu.
"Benarkah?!" Changkyun terlihat begitu antusias, seolah-olah dia sudah pulih dan bisa berlari hingga 5 km.
"E-eoh, mereka baik-baik saja, jadi jangan khawatir dan istirahatlah," kata ibunya.
FLASHBACK ON
**Samar-samar Changkyun melihat seseorang menuruni anak tangga. Bukan hanya karena pengelihatannya yang kabur setelah dipukul tiga kali dengan tongkat golf oleh Sung Kyun tapi juga karena keadaan gudang yang terlalu gelap untuk dia bisa memastikan siapa orang itu.
"S-siapa?" Tanya Changkyun lemah.
Orang itu tak menjawab, dia terus menghampiri Changkyun, dan kemudian...,
"Ini ibu," kata orang itu, ibu Changkyun. Dia segera melepaskan tali yang melilit di tangan dan kaki anaknya.
"I-ibu, b-bagaimana bisa ibu...,"
"Maafkan ibu karena terlambat menyadari sikap aneh kakakmu dan kakak iparmu, maafkan ibu," isak sang ibu, airmata menetes dipipinya. "Maafkan ibu karena terlambat menyelamatkanmu, Changkyun-ie."
Ibu Changkyun baru mencurigai anak dan menantunya ketika tanpa sengaja dia mendengar perdebatan Changmi dan Sung Kyun mengenai uang asuransi Sian dan Do Hyun. Wanita paruh baya itu sangat tertohok mendengarnya, dan mulai mengawasi setiap gerak-gerik Anak dan menantunya untuk memastikan apakah yang didengarnya seperti apa yang dipikirkannnya, ataukah ada variabel lain yang memungkinkan. Dalam masa pengawasannya itu, ibu Changkyun menyadari bahwa begitu banyak cctv yang terpasang dalam rumahnya, dan mendapati bahwa Changmi dan Sung Kyun menyekap Changkyun di dalam gudang. Ibu Changkyun mulai yakin bahwa apa yang didengarnya tentang perdebatan itu sama dengan apa yang dipikirkannya, bahwa anak dan menantunya adalah monster! Karena itu, untuk hari ini, hari di mana ini adalah kesemoatan besar untuk membebaskan Changkyun serta Sian dan Do Hyun, ibu Changkyun memutus semua sambungan cctv.
"I-ibu, aku..., akhh," Changkyun memekik, tubuhnya menjadi kaku karena selama hampir satu minggu dia diikat dan disekap dalam gudang, beruntung bahwa pada kunjungan Changmi yang terakhir, dia lupa untuk menutup mulut Changkyun seusai memberi minuman, sehingga Changkyun bisa bernapas dengan lega.
"Ayo kita pergi dari sini, selagi kakak dan kakak iparmu tidak ada." Sang ibu memapah Changkyun dengan sekuat tenaga, menaiki setiap anak tangga dengan usaha yang besar.
"I-ibu, bagaimana dengan Sian dan Do Hyun?" Tanya Changkyun.
#brakkk
"S-Sian?" Changkyun menatap pintu kamar Sian dan Do Hyun dengan cemas, suara keras yang baru saja terdengar olehnya itu berasal dari sana.
"I-ibu, t-tolong selamatkan mereka," pinta Changkyun.
"Baiklah," kata Sang ibu. Melalui pintu belakang. Dia membawa Changkyun ke dalam mobil, kemudian dia kembali untuk menyelamatkan Sian dan Do Hyun.
♡♡♡
Sian tidak tahan lagi. Meskipun kepalanya sangat sakit, dan tubuhnya tak dapat digerakkan. Namun, dia perlahan sadar bahwa ada yang aneh dengan semua perlakuan ayahnya. Dia merasa bahwa dia harus menyelamatkan dirinya dan juga adiknya. Dengan penuh tekad, Sian sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai.
#brakk
"Akhhh," pekiknya. Namun, dia tidak berhenti, dia masih tetap pada pendiriannya untuk melakukan sesuatu demi kebebasannya dan sang adik. Dengan susah payah dia mencoba menggerakkan tangannya, untuk dipakainya merangkak ke pintu ketika..., pintu itu lebih dulu terbuka.
Siang terbelalak, seseorang berlari ke arahnya, dan kemudian...,
__ADS_1
"Astaga, kau tidak apa-apa? Ayo pergi dari sini!" Tukas ibu Changkyun, dia menggendong Sian dipunggungnya, membawanya ke mobil, dan mendudukannya di bangku belakang. Dia menoleh pada Changkyun yang sudah tak sadarkan diri.
"Changkyun-ah? Changkyun-ah? Panggil sang ubu dengan risau.
"A-ahjumma, t-tolong a-adikku," pinta Sian sebelum akhirnya dia juga kehilangan kesadarannya.
"Aishhh!"
Ibu Changkyun kembali ke rumah untuk membawa Do Hyun, dengan sisa-sisa tenaganya dia hendak membawa Do Hyun ketika menyadari satu hal...,
"Dia?"
Ibu Changkyun menitihkan airmata. Dia membawa Do Hyun dipunggungnya, dengan langkah tertatih dan airmata yang mengalir dikedua pipinya, dia berhasil membawa Do Hyun ke dalam mobil.
"Maafkan aku, maafkan aku," isaknya. Kemudian dia melajukan mobilnya.
FLASHBACK OFF
"Tepat setelah mendapat uang dari nona besar, Lee Sung Kyun dan Min Changmi pergi meninggalkan negara ini," kata Hyun Woo.
"Bagaimana dengan Sian dan Do Hyun? Mereka pergi bersamanya?" Tanya Seok Jin dengan pilu.
Hyun Woo terdiam barang sejenak, "sebenarnya, aku mendapatkan informasi bahwa ada sistem pemerintahan di Swiss yang menyebutkan tentang tunjangan kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan pengobatan khusus, jadi mungkin..., Lee Sung Kyun membawa mereka untuk mendapatkan tunjangan tersebut," jelasnya dengan perlahan, takut kalau-kalau perkataannya melukai hati sang atasan. Dan itu memang sungguh melukainya, bahkan pada titik di mana hatinya akan hancur hanya dengan ditimpa sehelai rambut.
Seok Jin tertunduk, dan menangis dalam diam. "Seharusnya aku tidak pergi saat itu, seharusnya aku..., aishhhh Lee Sung Kyun sialan! Bagaimana bisa orang sebaik Sian dan Do Hyun memiliki ayah seperti dirinya?!"
"Tuan." Hyun Woo ingin menghiburnya ketika ponsel Seok Jin yang barada di dalam genggamannya bergetar.
"Tuan!" Serunya.
♡♡♡
Seok Jin berlari menghampiri Changkyun yang duduk di sudut restoran, dia hendak memukul Changkyun karena merasa bahwa dirinya sudah dibohongi ketika menyadari bahwa kepala Changkyun dililit perban.
Apa benar ada sesuatu yang terjadi padanya? Pikir Seok Jin.
"Kau sudah datang? Syukurlah," katanya, dia mengeluarkan amplop cokelat yang berisikan hasil tes dari cairan Ricin yang dia minta dari Hoo Seok waktu itu. "Ini adalah salah satu bukti dari tindakkan gila Lee Sung Kyun, aku bersedia bersaksi, atas hal ini, dan...,"
"Sudah terlambat!" Tukas Seok Jin.
"Apa?!" Changkyun terkejut.
"Kenapa kau lama sekali, eoh? Jika saja saat itu kau memberikan bukti ini, pasti kita tidak akan kehilangan mereka!"
"Apa maksudnya?"
"Lee Sung Kyun, dan kakakmu. Mereka pergi ke Swiss dengan membawa Sian dan Do Hyun!" Tukas Seok Jin, membuat Changkyun tercengang.
"Swiss?"
__ADS_1
"Iya, mereka akan menjadikan Sian dan Do Hyun sebagai alat untuk mendapatkan tunjangan di sana!" Jawab Seok Jin. "Kau sungguh terlambat! Sangat!" Seok Jin hendak beranjak dari tempatnya, ketika Changkyun berkata,
"Tidak! Tidak mungkin! Saat itu, sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku melihat ibuku membawa Sian masuk ke mobil, jadi tidak mungkin dia pergi dengan Lee Sung Kyun!"
Seok Jin tercengang, "ibumu?"
"Ya, ibukulah yang menyelamatkanku serta Sian dan Do Hyun!"
"Di mana ibumu?"
♡♡♡
Ibu Changkyun, Yu Jung. Berusaha keras menghubungi putrinya. Namun, nihil. Panggilannya ke ponsel putrinya selalu dialihkan ke pesan suara. Hingga akhirnya Yu Jung memutuskan untuk meninggalkan banyak pesan suara untuk putrinya.
"Changmi-ah, putriku. Kau harus tahu betapa ibu sangat menyayangimu, ibu...,"
♡♡♡
"Ibu," panggil Changkyun ketika memasuki rumah lamanya, sebelum pindah ke rumah megah milik Sung Kyun.
"Ibu," Changkyun terus memanggil, dan mencari ibunya ke setiap sudut ruangan. Namun, nihil. Tidak ada sahutan apapun.
Seok Jin yang ikut membantu mencari, tak sengaja menemukan secarik surat di bawah meja. Sepertinya surat itu tertiup angin yang masuk melalui ventilasi.
"Changkyun-ssi," panggil Seok Jin.
Changkyun menghampirinya, dan memberikan surat itu pada Changkyun. "Sepertinya dari ibumu," katanya.
Changkyun menerima surat itu dan membacanya.
[Changkyun-ah, ibu saat ini sedang mencoba menghibur diri, kau tahu, 'kan? Masalah yang saat ini kita hadapi terlalu rumit, kepala ibu rasanya pening sekali, karena itu ibu memutuskan untuk pergi menghibur diri. Jadi jangan khawatir dan belajarlah dengan giat]
Di sisi lain. . .
Ibu Changkyun, Yu Jung. Berdiri di tepi jurang lautan. Dia mengikatkan kencang batu besar dikedua kakinya. Kemudian, tanpa ragu dia melompat ke lautan.
Meskipun tuhan membenci ini, tapi aku tetap akan memilih mati, daripada harus melihat putriku yang telah menjadi seorang pembunuh! Maafkan aku, Changkyun-ah. Kau menderita karena anakku yang bodoh, maafkan aku. Betapa jahatnya kenyataan ini padamu, maafkan aku Changkyun-ah.
♡♡♡
Changkyun merogoh ponsel di saku celananya, kemudian menghubungi ibunya. Namun, sang ibu tidak menjawab teleponnya.
"Bagaimana?" Tanya Seok Jin.
Changkyun menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Seok Jin.
Seok Jin mendesah, "apa ibumu tidak memberitahu di mana keberadaan Sian dan Do Hyun?"
"Tidak, sama sekali tidak, dia hanya mengatakan bahwa mereka baik-baik saja," kata Changkyun resah. Dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dihatinya tentang ibunya. Kuharap ibu baik-baik saja.
__ADS_1
TO BE CONTINUE