
Seok Jin tak berhenti berkeliling Seoul untuk mencari Sian. Bahkan sudah hampir tengah malam. Namun, seakan dia memiliki banyak energi, dia tidak berhenti mencari.
Ponsel diatas dasbor mobilnya bergetar, memerlihatkan nama Hyun Woo sebagai panggilan masuk.
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?"
"Tuan, aku sudah memeriksa rekaman cctv. Nona Sian..., dia dibawa pergi oleh isteri tuan Lee."
Seok Jin terbelalak, "apa?! Maksudmu ibu tiri Sian?!"
"Iya, tuan."
Seok Jin kian resah. Dia mengakhiri panggilan masuk dari Hyun Woo. Kemudian, dia mulai menaikkan kecepatan mobilnya.
♡♡♡
Sian bersandar pada unit columbarium Do Hyun yang berada di low level —berada di bawah, sekiranya setinggi lutut orang dewasa— matanya sembab dan memerah. Mungkin karena tangisan yang hampir seharian ini menemani dirinya.
"Sian-ah?"
Suara itu mengalihkan pandangan Sian. Dia mendapati Seok Jin sedang menatapnya dengan cemas, peluh membasahi keningnya, dengan napas yang memburu.
"Seok Jin-ah," gumam Sian.
Seok Jin menghampiri Sian, dia berjongkok, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukkannya. "Syukurlah, aku menemukanmu," katanya.
Sian membalas pelukkan Seok Jin. Dia mulai menangis lagi, "Seok Jin-ah," isaknya.
"Maafkan aku, Sian-ah. Maafkan aku," sesal Seok Jin. Dia mempererat pelukkannya pada Sian. Seharian mencari, dia melewatkan satu tempat di Seoul yang sangat mungkin Sian datangi, yaitu, rumah abu Do Hyun. Karena itu, setelah terpikirkan olehnya tentang rumah abu Do Hyun, Seok Jin segera melajukan mobilnya ke sana, dan ternyata, dia sungguh menemukan Sian di Sana.
Perlahan Seok Jin melepaskan pelukkannya. Dia menatap Sian dengan sedih, dan dengan lembut menghapus airmata di pipi wanita itu dengan kedua ibu jarinya.
"Kau sudah menyapa Do Hyun?" Tanya Seok Jin dengan suara parau.
Sian kembali meneteskan airmata. Dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Seok Jin.
"Kerja bagus, Sian-ah. Sekarang ayo kita berpamitan pada Do Hyun, kita harus kembali ke rumah sakit," kata Seok Jin, masih dengan suara parau.
"Tidak! Aku ingin di sini bersama Do Hyun! Dia pasti ingin ditemani, dia pasti kesepian," isak Sian.
Seok Jin berusaha menahan tangisnya, untuk menunjukkan pada Sian bagaimana cara untuk menjadi kuat. Dia kembali menghapus airmata Sian dengan ibu jarinya, "Do Hyun akan mengerti kenapa kau harus berpamitan dengannya. Kita bisa kembali nanti ketika kau telah sepenuhnya sembuh, kau hanya akan membuat Do Hyun khawatir jika mengunjunginya dalam keadaan tidak sehat," jelas Seok Jin. Dan itu sukses membuat Sian terdiam, dia teringat akan perkataan Do Hyun dalam mimpinya, di mana Do Hyun memintanya untuk tidak membuatnya khawatir.
Itukah makudnya? Pikir Sian.
"Ayo, Sian-ah," ajak Seok Jin. Perlahan dia membantu wanita itu berdiri, saat sebelumnya dia mengucapkan sepatah dua kata pada Do Hyun, "kau adalah orang baik, Do Hyun-ah. Aku percaya bahwa kau berada di tempat di mana hanya ada orang-orang baik di sana."
Seok Jin menggendong Sian di punggungnya, dia sadar bahwa wanita itu tak sanggup melangkah.
"Apakah ada yang sakit?" Tanya Seok Jin dalam perjalannya menuju mobilnya.
"Hatiku, rasanya sakit sekali," lirih Sian, dia mengeratkan lingkaran tangannya dibahu Seok Jin, dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher pria itu. Dia kembali terisak. Seok Jin menahan tangisnya, biar bagaimanapun saat ini sikap tegarnya akan membantu Sian untuk juga bersikap tegar.
"Jangan menangis, Sian-ah. Kita tahu betapa polosnya Do Hyun, dia pasti berada ditempat yang jauh lebih baik, mengerti?"
__ADS_1
Sian mengangkat wajahnya, "tapi aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Do Hyun, bahkan sekarang, aku sudah sangat merindukannya."
Seok Jin hanya diam, dia terus berjalan, hingga akhirnya sampai ke tempat mobilnya terparkir. Seok Jin membukakan pintu mobil untuk Sian. Dia menurunkan Sian di kursi mobil dengan perlahan.
Sembari memasangkan sabuk pengaman pada Sian, Seok Jin berkata, "kau tahu? Saat seseorang merindukan orang lain, maka bertemu dengan orang itu adalah obat terbaik dari kerinduan itu. Namun, bagi kita yang merindukan seseorang yang tidak lagi ada, maka doa adalah obat terbaik. Itulah yang sering kulakukan saat merindukan ayahku."
Sian terdiam, dia menatap Seok Jin dengan tatapan sedih. Seok Jin membalas tatapan itu, dia membelai lembut puncak kepala Sian, "aku tahu apa yang menimpamu ini berat, karena itu, aku akan membantumu menanggungnya, Sian-ah, jadikanlah aku seseorang yang ikut bertanggungjawab atas hidupmu. Kumohon, menikahlah denganku."
♡♡♡
Satu tahun kemudian. . .
Peluhku yang bercucuran, dan napasku yang memburu seakan sia-sia ketika melihat orang yang kukhawatirkan sepanjang jalan, saat ini sedang menikmati segelas es coklat. Dia terlihat baik-baik saja, tidak seperti bayanganku saat mendapat telepon darinya satu jam lalu.
"Sian!" Dia, Hae Na. Melambaikan tangannya padaku. Wajahnya terlalu cerah untuk orang yang baru saja dicampakkan. Aku merasa sedikit kesal dan banyak bersyukur melihat dia baik-baik saja. Kesal karena saat di telepon, dia seolah tak memiliki semangat hidup lagi, dan membuatku khawatir hingga harus berlarian dari rumahku ke caffe ini. Bersyukur karena setidaknya dia tidak semenderita seperti dalam bayanganku.
Dengan napas yang masih memburu, aku menghampirinya. Namun, belum jauh aku melangkah, tiba-tiba aku terhenti ketika melihat seorang wanita cantik nan anggun menghampirinya dan duduk di sampingnya.
Wanita itu menoleh padaku, tersenyum dan melambaikan tangannya padaku, "Sian-ah," serunya, Eun Seo Hyun. Sebelumnya, aku akan berusaha keras menghindari wanita yang menurutku sempurna itu. Namun, setelah semua yang kulalui, aku sadar, bahwa selama ini Seo Hyun tulus kepadaku, dia juga tidak mencoba untuk merebut apapun dariku, melainkan akulah yang terlalu termakan oleh asumsi bodohku tentangnya, serta rasa tidak percaya diriku untuk berada di dekatnya.
Aku tersenyum, kulanjutkan langkahku menghampiri mereka.
"Kau terlihat baik-baik saja untuk seseorang yang baru saja dicampakkan," tukasku, sembari duduk di kursiku.
"Eoh, aku juga memikirkan hal yang sama saat melihatnya," Seo Hyun menimpali.
"Eihhh berhenti menggodaku! Lagipula kenapa aku harus bersedih, huh?! Jinan bukan pria yang cukup keren sehingga aku harus menangisinya!" Sahut Hae Na. Sebelumnya Hae Na mengatakan, bahwa sikap Jinan berubah ketika dia mulai bekerja. Hae Na juga bilang bahwa ada kemungkinan Jinan selingkuh, mengingat rekan-rekan kerja Jinan sangat cantik dan memiliki tubuh glamor, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Hae Na. Analoginya, Hae Na hanyalah padi, sedangkan para wanita di kantor Jinan adakah beras yang siap diolah.
"Iya, Sian bilang kau sangat bahagia saat itu, seolah-olah Jay tidak pernah ada dalam hidupmu," sambung Seo Hyun. Aku dan Seo Hyun terkekeh, sangat menyenangkan tiap kali kami berkumpul dan mulai menggoda Hae Na.
"Yaa! Hentikan! Kenapa kalian berdua senang sekali menggodaku, huh?!" Hae Na terdengar seperti merengek, dan itu sangat imut.
"Maaf, kami hanya bergurau," kata Seo Hyun.
"Iya, aku tahu. Tapi kalian terkadang menyebalkan, kalau tahu begini, aku lebih suka saat-saat di mana kalian merasa canggung satu sama lain!" Tukas Hae Na, membuatku dan Seo Hyun terdiam barang sejenak.
"Eihhh kenapa mengungkit itu, huh?" Tegurku.
"Iya, lagipula tidak masalah jika hanya canggung satu sama lain, daripada harus dicampakkan," sahut Seo Hyun, menyindir Hae Na, membuatku terkekeh. Sedangkan Hae Na kembali merengek.
"Ya~a!"
"Maaf, hanya bergurau," kataku, sembari menghentikan tawaku. "Kudengar kalian akan mulai praktek kerja lapangan, sudah dapat tempatnya?"
"Hah," Hae Na mendesah, "sangat sulit mencari tempat untuk praktek kerja lapangan, rata-rata perusahaan memilih mahasiswa dari Universitas kenamaan, itu menjengkelkan!" Keluh Hae Na. "Seo Hyun tidak perlu khawatir karena dia mahasiswi Universitas Negeri Seoul (UNS), kudengar UNS bekerja sama diberbagai perusahaan."
"Jangan pesimis, kau pasti akan mendapatkannya, aku juga sudah bilang pada ayahku untuk mencarikan perusahaan untuk kau PKL, jadi bersabarlah," kata Seo Hyun.
Hae Na menatapku dengan penuh harap, dan ini membuatku was-was. Mungkinkah dia...,
"Tidak bisakah kau menghubungi Seok Jin? Jika aku bisa PKL di perusahaannya, maka indeks nilaiku akan meningkat, mengingat perusahaan Seok Jin adalah perusahaan besar."
Sesuai dugaanku, Hae Na akan mengungkit Seok Jin dihadapanku. Aku ingin saja membantunya. Namun...,
__ADS_1
"Yaa, Bae Hae Na, kau ini!" Tegur Seo Hyun.
Kudengar Hae Na menghela napas berat, "iya, maafkan aku. Aku tahu kalau kalian sudah bercerai, tapi tidak bisakah kau membantuku? Atau paling tidak berikan kontak baru Seok Jin padaku, agar aku bisa menghubunginya sendiri."
"Bae Hae Na!" Seo Hyun menekankan, seolah-olah memerintahkan Hae Na berhenti.
Ya, itulah yang semua orang ketahui tentangku dan Seok Jin, selain Seo Hyun. Mereka tahu kami menikah dan kemudian bercerai. Nyatanya, kami tidak pernah melakukan keduanya. Pernikahan kami hanya sebuah drama, begitupun perceraian kami. Aku tidak tahu alasannya, tapi Seok Jin tiba-tiba mengakhiri perjanjian kami, dan sejak saat itu aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Aku pernah mencoba menghubunginya. Namun, nomornya selalu tak aktif. Padahal saat itu dia..., huh, mungkin aku terlalu percaya diri, tidak mungkin saat itu dia serius dengan perkataannya.
"Iya, iya, aku kan hanya bicara saja," sahut Hae Na. "Maaf ya, Sian. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu padanya, hanya saja aku sedang sangat terdesak, maaf ya."
"Tidak apa-apa, bukan masalah untukku," kataku. "Oh iya, aku ke toilet dulu ya." Aku beranjak dari tempatku, kemudian pergi ke toilet. Di sana aku membasuk wajahku, entah kenapa aku merasa selalu panas ketika mendengar nama Seok Jin.
"Terkadang Hae Na keterlaluan, 'kan?"
Suara Seo Hyun mengagetkanku.
"Yaa kau mengagetkanku!" Tegurku.
"Maaf," sahutnya.
Aku menghela napas panjang, kemudian kembali membasuh wajahku, "biarkan saja, lagipula perkataannya tidak menyinggungku sama sekali."
"Kau yakin?" Seo Hyun menatapku punuh tanya.
Sejujurnya, perkataan Hae Na sedikit menyinggungku. Namun..., ahhh entahlah.
"Eoh!" Jawabku sekenanya.
"Serius?" Seo Hyun kembali bertanya, dan itu membuatku enah kenapa menjadi saoah tingkah.
"I-iya, tentu saja."
"Meskipun hanya sandiwara, tapi setidaknya kalian pernah hidup bersama, aku tidak yakin tidak ada apa-apa diantara kalian."
"Yaa Eun Seo Hyun, kau...,"
"Aku hanya bergurau. Jangan marah kalau tidak benar," sela Seo Hyun, sembari tersenyum padaku.
"Menyebalkan!" Gumamku.
Aku hendak keluar dari kamar mandi, ketika Seo Hyun berkata, "kudengar dia membuka cabang perusahaan di Jepang, mungkin itu alasan dia sulit ditemui dan dihubungi."
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Hanya ingin memberitahumu tentang Seok Jin," jawabnya. "Oh iya, kudengar kau mau mengunjungi ayahmu besok, apa itu benar?" Tanyanya, begitu saja mengubah alur pembicaraan.
"Eoh," kataku sekenanya.
"Kenapa? Bukankah kau bilang...,"
"Hanya ingin mengatakan sesuatu padanya," selaku. "Aku sudah selesai, kau sudah? Jika sudah ayo kembali. Hae Na pasti sedang mendumal karena kita terlalu lama."
TO BE CONTINUE
__ADS_1