
Seok Jin masuk ke kelas dengan rasa lelah yang menjalar diseluruh tubuhnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa beristirahat karena tugas kuliah serta pekerjaannya.
"Seok Jin-ah," Sapa Kang Hyun.
"Eoh," Seok Jin menyahuti dengan lemah. Dia menjatuhkan bokongnya di atas kursi, dan bersandar pada sandaran kursi tersebut.
"Kenapa? Apa pekerjaanmu banyak?" Tanya Kang Hyun.
"Sangat! Belum lagi tugas kuliah. Aaahhh aku tidak sanggup lagi Kang Hyun-ah," keluh Seok Jin.
Kang Hyun menepuk-nepuk punggung Seok Jin, "bertahanlah, tinggal 3 semester lagi, tidak sampai 2 tahun."
Seok Jin mendesah, dia melipat kedua tangannya di meja, menjadikannya bantal untuk kepalanya.
"Yah itu terasa sangat lama bagiku," gumamnya. Dia hendak memejamkan matanya ketika Jere menghampirinya.
"Ya Han Seok Jin, kau sudah menyelesaikan data yang kuminta?!" Tegur Jere. Membuat Kang Hyun mendengus kesal.
"Yaa! Tidak sopan sekali, dia itu kan seniormu!" Tegur Kang Hyun.
"Abaikan saja," Seok Jin menimpali. Dia merogoh tasnya, dan mengeluarkan flash disk dari sana. "Ini, semua datanya ada di file J," kata Seok Jin, sembari menyodorkan flash disk itu pada Jere.
Sejak tahu Seok Jin menikah, Jere patah hati parah, dan untuk mengobati patah hatinya, dia sering menyulitkan Seok Jin bila mereka satu kelompok, karena itulah Seok Jin lebih suka tugas individu. Namun, Profesor Uhm memberikan tugas berkelompok.
Jere mengambil flash disk itu dengan kasar, kemudian pergi begitu saja.
"Wahhh dia lancang sekali! Padahal dulu mengejarmu seperti orang gila!" Hardik Kang Hyun.
"Sudah kubilang abaikan saja."
"Sekarang aku mengerti kenapa kau menikah secepat ini. Pasti menyulitkan menangani para wanita itu. Ckckck."
"Sangat."
"Tapi kau menikmatinya, 'kan? Dasar playboy!" Kata Kang Hyun, bergurau.
Seok Jin tersenyum kecut. Dia kembali melipat tangannya, dan menjadikannya bantal.
"Tapi aku memiliki alasan," gumamnya, sebelum dia akhirnya memejamkan mata. Rasa lelahnya tidak lagi tertahankan.
FLASHBACK ON
January, 2012.
Hari pertama Sekolah Menengah Pertama.
*Seok Jin hanya bisa memandang cemburu pada sekelilingnya. Mereka yang datang ke sekolah diantar oleh orangtuanya. Namun, Seok Jin?
"Tuan, kelas anda di sana." Kepala pelayan di rumahnya, Seo In Soo, menunjukkan arah kelas Seok Jin.
"Paman, kenapa aku tidak diantar ibu saja? Semua yang ada di sini di antar orangtuanya," Seok Jin mengeluh. Ini adalah hari pertamanya masuk smp, tapi alih-alih sang ibu, kepala pelayannyalah yang menemaninya.
"Aku juga tidak diantar ibuku," seorang gadis menyahuti perkataan Seok Jin. Membuat Seok Jin dan In Soo memandang ke arahnya.
"Ibuku bilang dia sedang sakit, jadi aku datang sendiri," kata gadis itu. "Aku Lee Sian. Kelasmu di mana?"
Seok Jin menunjuk ruangan yang sebelumnya di tunjukkan oleh Seo In Soo.
"Di sana," katanya.
Sian memandang kearah Seok Jin menunjuk, "eoh, itu kelasku juga!" Dia berseru. "Mau masuk bersamaku?" Tanya Sian.
Seok Jin memandang Seo In Soo, seolah bertanya apakah dia boleh pergi bersama gadis itu. Di masa ini, Seok Jin masihlah anak polos yang bahkan tidak tahu apa itu direct message. Dia tidak seperti dirinya di masa priode 2013 hingga 2019, yang di mana dia sering mempermainkan wanita.
"Pergilah, tuan," kata In Soo dengan lembut.
Seok Jin mengalihkan pandangannya pada Sian, "baiklah," katanya.
Sian di masa ini juga masih seorang gadis yang periang. Keluarganya masihlah utuh dan bahagia.
"Jadi namamu siapa?" Tanya Sian.
"Aku Han Seok Jin."
"Seok Jin? Teman sekolah dasarku juga namanya Seok Jin, kebetukan sekali ya."
"Iya," sahut Seok Jin.
Mereka memasuki kelas. Di sana mereka duduk di baris kedua dari belakang, karena mereka sedikit kalah cepat dari teman-temannya yang lain. Padahal, baik Sian maupun Seok Jin, mereka menginginkan duduk di bangku depan.
__ADS_1
"Sayang sekali, padahal aku mau duduk depan," keluh Sian.
"Aku juga."
♡♡♡
Masa orientasi sedang berlangsung, dan akan berakhir lusa. Seok Jin dan Sian semakin dekat di masa itu. Hingga tiba saatnya...,
"Lusa adalah hari terakhir orientasi, jadi jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang kami berikan," titah sang ketua osis. Sebelum dia keluar dari aula.
"Yaa, Seok Jin-ah, kau akan menulis surat cinta untuk siapa?" Tanya Sian. Mereka memang ditugaskan untuk menulis surat cinta kepada salah satu senior mereka sebagai tugas akhir masa orientasi.
"Aku tidak akan membuatnya. Memangnya kau mau membuatnya?" Seok Jin balik bertanya.
"Memangnya apa alasanmu tidak membuatnya?"
"Karena tidak ada yang aku suka. Aku tidak mau berbohong masalah perasaan, ayahku bilang itu jahat."
Sian menghela napas dan berpikir, "benar juga. Tapi memangnya tidak ada satupun yang kau suka?"
Seok Jin terdiam dan menatap Sian, "ada, aku sebenarnya suka...,"
"Kalau aku, aku akan mengirimkan surat cinta pada Cho Kihyun sunbaenim," Sian menyela, seolah tidak mau mendengar perkataan Seok Jin.
"Cho Kihyun? Kenapa kau menyukainya? Kudengar dia playboy."
"Justru itulah pesonanya."
"Kau aneh sekali, Sian. Kenapa menyukai playboy kalau kau bisa mendapatkan pria yang akan setia hanya padamu," tegur Seok Jin.
"Kata ibuku, zaman sekarang sulit mencari pria setia kecuali ayahku!" Tukas Sian.
Seok Jin nampak kesal, dia beranjak dari tempat duduknya, "aku juga! Aku ini pria setia! Kalau kau mau, aku..., aku...,"
"Aku apa?"
Seok Jin mendesah, "lupakan saja." Seok Jin pergi, meninggalkan Sian yang kini memanggil-manggil namanya.
"Dia bodoh sekali, tidak peka! Menyebalkan!"
♡♡♡
"Lalu?" Tanya Seok Jin agak sinis.
"Tolong ambilkan, emm?" Pinta Sian, manja.
"Tidak mau!"
"Ayolah, eoh?"
Seok Jin menghela napas, sejak bertemu Sian, dia tidak pernah bisa sekalipun menolak permintaannya.
Seok Jin beranjak dari tempatnya. Dia meminta izin pada pengurus osis untuk keluar dari aula.
Seok Jin pergi ke kelasnya, membuka tas Sian dan mengambil surat beramplop merah muda dari sana.
"Sebenarnya apa yang dia tulis untuk si playboy itu?" Gumam Seok Jin. Dia membuka surat Sian, dan membacanya.
Seok Jin terpikat dengan setiap kata yang Sian tuliskan, dia mulai merasa cemas bila Seniornya itu, Cho Kihyun, juga terpikat, dan memacari Sian sebagaimana dia memacari para gadis di sekolahnya.
"Aku akan menyelamatkanmu dari playboy itu, Sian."
Seok Jin merobek kertas dalam bukunya, kemudian mengganti surat Sian dengan surat yang dibuatnya.
"Kenapa lama sekali!" Tegur Sian ketika Seok Jin kembali.
"Tadi aku ke toilet dulu," kata Seok Jin, sembari memberikan surat Sian padanya.
♡♡♡
Sian melemparkan buku tulisnya pada Seok Jin. Membuat pria itu terperanjat.
"Yaa Lee Sian!"
"Kau kan yang melakukannya?!" Tuding Sian.
"Melakukan apa?!"
"Kau jahat sekali, Seok Jin-ah. Aku benci padamu." Sian menangis, dia meraih tasnya dan pindah ke bangku lain. Tidak lagi mau satu bangku dengan Seok Jin.
__ADS_1
Seok Jin menghela napas, dia masih tidak mengerti alasan Sian bersikap seperti itu sampai...,
"Kau tahu? Kudengar Sian mengirimkan surat tengkorak pada Cho Kihyun sunbaenim," bisik teman-temannya.
Barulah Seok Jin sadar bahwa Sian begitu karena ulahnya.
"Aishh bagaimana ini?"
Dia menghampiri Sian yang kini enggan melihatnya.
"Aku tidak akan minta maaf! Karena aku melakukan itu untuk melindungimu dari Cho Kihyun!" Tukas Seok Jin.
Sian memandang Seok Jin dengan tatapan kesal.
"Aku tidak memintamu melindungiku!" Tukas Sian.
"Meskipun tidak kau minta sekalipun, aku akan tetap melindungimu karena kau temanku!" Kata Seok Jin lugas. "Kau tahu?! Kemarin aku melihan Kihyun sunbaenim berkencan dengan Sora, lalu Min Hee, kemudian Ji Hya. Aku...,"
"Sudah kubilang itu pesonanya! Kau terlalu ikut campur! Kau tidak tahukan betapa marahnya Kihyun Sunbaenim padaku karena suratmu, huh?!" Sela Sian, membuat Seok Jin tak habis pikir padanya.
"Jadi kau menyukai playboy? Baiklah!" Seok Jin pergi begitu saja, meninggalkan Sian yang kini menatap kepergiannya dengan rasa kesal.
"Dia menyebalkan! Aku tidak mau berteman dengannya lagi!"
**FLASHBACK OFF***
♡♡♡
"Sian-ah!" Changkyun berlari kecil menghampiri Sian yang meskipun dipanggil berkali-kali tidak menghentikan langkahnya.
"Sian-ah~" Changkyun menahan tangan Sian.
"Eoh, Changkyun-ah," sapa Sian, seolah dia baru tahu bahwa Changkyun memanggilnya.
"Aku memanggilmu sedari tadi."
"Benarkah? Aku tidak dengar," kata Sian. "Changkyun-ah, aku buru-buru...,"
"Sebenarnya ada apa? Kau marah?" Sela Changkyun.
"T-tidak, aku hanya...,"
"Aku hanya bergurau," sela Changkyun. Membuat Sian menatap penuh tanya.
"Bergurau apa?"
"Tentang Bora. Aku hanya bergurau."
"Bora memang cantik, itu bukan gurauan!"
Changkyun menghela napas panjang, "seperti rasa sukaku padamu, itu juga bukan gurauan!" Tukas Changkyun. Membuat Sian terperangah.
"K-kau...,"
"Kau mau berkencan denganku?"
"C-Changkyun-ah."
♡♡♡
Seok Jin dan Do Hyun saling menatap, saat melihat wajah Sian yang berseri-seri, sembari menyiapkan makan malam.
"Noona, kau terlihat bahagia," kata Do Hyun.
"Apa ada hal baik yang terjadi padamu?" Tanya Seok Jin.
Sian tersenyum cerah, "eoh, benar-benar hal baik. Kalian mau dengar?"
Seok Jin dan Do Hyun kembali saling menatap.
"Kau mau bertanya?" Bisik Seok Jin pada Do Hyun. Yang segera di jawab dengan gelengan kepala.
"Hari ini Changkyun menyatakan cintanya padaku!" Seru Sian.
"Apa?!" Seru Seok Jin dan Do Hyun bersamaan.
Sian tersipu malu, "dia bilang rasa sukanya padaku bukan gurauan." Sian tak bisa mengenyahkan senyuman dari wajahnya. Sedangkan Seok Jin dan Do Hyun menatapnya dengan perasaan cemas.
TO BE CONTINUE
__ADS_1