
"Kaila....!" teriak Bu Dian guru mapel B.Indonesia histeris saat melihat Kaila tiba tiba saja pingsan di depan karena dirinya meminta Kaila untuk menjawab soal di papan tulis.
Rara yang tadi fokus pada layar ponselnya beralih ke arah suara Bu Dian yang berteriak sangat keras memanggil nama Kaila, Rara yang melihat sahabatnya sudah tidak sadarkan diri di depan kelas langsung berlari kedepan terlebih dahulu.
"Kaila bangun"
"Kai...hei buka mata lo" Rara menepuk pelan pipi Kaila agar sahabatnya itu bangun.
"Bu ini gimana?" tanya Rara saat melihat bu Dian yang diam saja tanpa berbuat sesuatu.
"Ck..." kaila berdecak kesal, guru B.Indonesianya itu memang sedikit telmit.
"Raka!!" Teriak Rara sangat kencang saat melihat Raka dan grombolan nya lewat depan kelas.
Merasa namanya di panggil Raka menoleh ke dalam kelas Rara dan melihat gadis itu tengah melambaikan tangannya dengan duduk di bawah lantai memerintahkan dirinya agar masuk ke dalam kelas, tanpa salam Raka langsung masuk begitu saja karena merasa bingung juga.
"Tolong bawa Kaila ke UKS" pinta Rara saat Raka sudah masuk ke dalam kelas.
Raka yang mendengar hall itu menatap ke arah bawah dan mendapati Kaila yang pingsan, memang tadi saat di depan kelas dirinya Yuda melihat Kaila yang pingsan karena tubuhnya yang terhalangi meja guru.
"Kaila kenapa?" tanya Raka dengan nada khawatir dan langsung duduk di lantai membawa kepala Kaila ke atas pahanya.
"Gu-gue gak tau! gue minta sama lo bawa kaila ke UKS sekarang juga!"
Raka menganggukan kepalanya dan langsung membopong tubuh Kaila keluar dari dalam kelas di ikuti Rara dari arah belakang, keduanya berjalan dengan cepat ke arah UKS beruntung lorong sekolah yang sepi karena jam pelajaran yang masih berlangsung.
Sampai di depan UKS Rara langsung membukakan pintu UKS supaya Raka bisa membawa kaila masuk, Raka menurunkan pelan tubuh kaila di atas brankar.
"Minyak angin ada gak?" tanya Raka dan Rara langsung mencari di kotak P3K yang letaknya tidak jauh dari sana.
Rara menemukan barang yang di minta Raka menyodorkan minyak kayu putih itu pada Raka yang berdiri di samping brankar Kaila. "Nih"
Raka mengarahkan minyak kayu putih itu ke hidung Kaila berharap dengan itu Kaila membuka matanya.
"Kok gak bangun sih Rak! lo sebenarnya bisa gak sih?" Tanya Rara kesal karena Kaila tidak kunjung membuka matanya.
"Dari pada lo cerewet di sini, lebih baik lo beli in teh anget buat Kaila suapaya kalo dia bangun bisa langsung di kasih" ujar Raka yang masih mengarahkan minyak kayu putih di depan hidung Kaila dan kali ini Raka juga memberikan pada pelipis dahi Kaila.
Rara diam sejenak saat mendapatkan perintah itu, ia tidak mungkin meninggalkan Kaila dengan laki laki brengsek seperti Raka di dalam UKS berdua dan apa yang di katakan oleh Raka juga ada benarnya kalo Kaila pasti butuh yang anget anget setelah sadar nanti.
"Ngapain lo masih ada di sini?" tanya Raka menatap wajah Rara.
"Lo gak bakal ngapa ngapain Kaila kan?" tanya Rara penuh selidik.
"Ck...emang gue mau ngapain?, gue memang nakal tapi setidaknya gue tahu batasannya!" tegas Raka membuat Rara memincingkan matanya.
"Yakin lo?"
"Apa gue sebrengsek itu di mata lo?" tanya Raka balik dan itu membuat Rara langsung menutup mulutnya rapat.
"Atau lo aja yang di sini biar gue yang beli teh nya" lanjut Raka yang ingin melangkah keluar tapi dengan cepat dicegah oleh Rara.
"Kenapa?" ucap Raka sinis menatap tangannya yang di pegang oleh Rara tapi dengan cepat Raka langsung melepas nya.
"Bi-biar gue yang beli, lo di sini aja" kata Rara, karena memang dirinya tidak tau bagaimana caranya merawat orang sakit yang ia tahu adalah membagikan kesakitan kepada orang lain dengan jurus silat yang ia miliki.
"Gue titip Kaila, jaga dia baik baik, jangan macem macem atau habis lo sama gue!" ancam Rara yang langsung berlari ke luar UKS.
Raka menghela nafas pelan saat Rara sudah keluar dari dalam UKS, Raka membalikan badannya berjalan mendekat ke arah Kaila yang masih pingsan di tatapnya wajah pucat milik kaila tangan Raka perlahan terulur menyingkir anak rambut yang menutupi wajah cantik Kaila.
"Lo sebenarnya kenapa?" tanya Raka lirih yang masih menatap wajah pucat milik Kaila.
__ADS_1
Tidak berselang lama mata kaila perlahan mengerjapkan matanya melihat sekeliling dimana dia sekarang berada dan Kaila baru ingat kalo sekarang dirinya berada di UKS sekolah, Kaila memegangi kepalanya masih terasa sedikit pusing dan berniat untuk bangun.
Raka yang melihat Kaila sudah sadar dan ingin bangun mencegahnya. "Lebih baik lo tiduran aja dulu" saran Raka dan merebahkan kembali tubuh Kaila yang masih lemas.
"Raka? ngapain lo ada di sini?" tanya Kaila lirih karena kepalanya yang masih terasa pusing.
"Gue tadi yang bawa lo kesini" jawab Raka.
Kaila mengerutkan keningnya berusahalah mengingat kejadian bebarapa saat lalu dan kaila baru ingat kalo tadi saat dirinya akan menjawab soal dari bu Dian di papan tulis tiba tiba saja pendanaannya kabur dan kepalanya terasa berputar sekuat tenaga Kaila menahan itu tapi tiba tiba saja tubuhnya yang ikutan lemas dan kakinya yang tidak kuat untuk menopang tubuhnya sampai pandannya berubah menjadi hitam.
"Lo kok bisa pingsan?" tanya Raka dengan suara yang terdengar lembut di pendengaran Kaila lembut.
"Penting?" tanya Kaila dengan suara sinisnya.
"Gue cuma nanya" jawab Raka.
Dan setelah itu keheningan menyapa keduanya tidak ada yang berani mengeluarkan suara, keduanya sibuk dengan pikirannya masing masing sampai pintu UKS terbuka terlihat Rara yang baru saja masuk dengan membawa satu gelas teh anget di tangannya.
"Lo udah bangun kai? gimana ke adaan lo?" tanya Rara khawatir.
"Badan gue lemes" jawab Kaila.
"Ya udah minum dulu" Rara dengan sigap membantu Kaila untuk membangunkan tubuhnya di bantu Raka juga tentunya.
"Makasih" ucap Kaila dengan senyuman tulus setelah meminum tehnya.
"Sama-sama, ngomong-ngomong lo kok bisa pingsan sih? apa soal dari bu Dian sesulit itu untuk lo kerjain?"
"Bukan, tadi tiba tiba pandangan gue kabur dan kaki gue gak kuat buat nopang tubuh gue" jawab Kaila jujur.
Rara mengangguk paham dengan mengusap punggung Kaila lembut, pandangannya beralih pada laki laki yang masih berdiri di sebrang sana yang tengah menatap Kaila tapi Kaila tidak menyadari hall itu.
"Ngapain lo masih ada di sini!" ucap Kaila.
"Raka" panggil Kaila sebelum Raka melangkah keluar dari UKS.
Raka membalikan badannya menatap Kaila yang duduk di atas brankar.
"Makasih" ucap Kaila dengan tersenyum, walau dirinya tidak suka dengan Raka tapi dirinya juga di ajarkan sopan santun sama Rina untuk selalu bersikap baik walau sama orang yang tidak kita suka sekalipun, lagi pula Raka juga sudah berbaik hati membawanya ke UKS.
"Iyah" jawab Raka singkat membalas senyuman Kaila, sebelum dirinya melanjutkan langkahnya keluar dari UKS.
***
Suci duduk sendirian di kursi besi yang terletak di taman belakang sekolah. Gadis itu mengedarkan pandangannya kesana kemari mencari sosok yang mengajaknya bertemu beberapa saat lalu dimana pelajaran yang masih berlangsung dan dengan alasan ingin buang air kecil Suci di perbolehkan keluar oleh guru mapel.
Untuk kesekian kalinya Suci menatap layar ponselnya, mengirimkan pesan kepada seseorang yang mengajaknya bertemu tapi pesan yang ia kirimkan tidak dibaca oleh sang penerima membuat suci menyandarkan punggungnya ke badan kursi menunggu sebentar lagi sebelum ia kembali ke kelas.
Lima menit berlalu tapi dan orang itu belum juga datang, dan teman suci juga sudah mengirimkan pesan kepadanya kalo dirinya sudah di cari oleh guru. Suci bangun dari kursi berniat untuk kembali ke kelas tapi baru beberapa langkah namanya sudah di panggil dari arah samping membuat Suci memutar badannya. Suci tersenyum senang saat Yuda akhirnya datang, melihat Yuda yang berjalan mendekat ke arahnya suci semakin melebarkan senyumannya saat laki kaki yang di cintai nya itu untuk pertama kali mengajaknya bertemu di sekolah.
"Maaf lama" ucap Yuda meminta maaf karena memang tadi dirinya masih ada ulangan dari baru bisa keluar setelah menyelesaikan soalnya dengan alasan perutnya sakit dan ingin istirahat di UKS.
"Gak papa kak, kak Yuda tumben ngajak ketemuan di sekolah" masih dengan nada bahagianya Suci bertanya kepada laki-laki yang berdiri di hadapannya
"Ada yang mau gue omongin" kata Yuda membuat jantung Suci berdetak tidak karuan.
"Apa kak Yuda mau nembak aku?" bunyi hati suci kegirangan membuat sang pemilik merasa salting.
"Ngo-ngomong apa kak?" tanya Suci terbata bata.
Yuda mengehala nafasnya pelan. "Kaila udah curiga sama gue, kalo gue deket sama orang lain." ucap Yuda yang masih ingat kalo Kaila sudah sangat Curiga dengannya.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Suci kaget, kalo sampai Kaila menaruh curiga kepadanya Yuda otomatis laki laki yang ada di hadapannya ini akan meninggalkannya dan lebih memilih Kaila dan itu tidak boleh terjadi, tidak boleh! Yuda adalah laki laki incarannya selama sekolah di sana dan laki laki yang menjadi para incaran wanita lain dan ia tidak boleh kehilangan Yuda begitu aja.
"Kamu tau Rara?"
"Kak Rara yang pinta silat itu?"
"Iyah, dia sudah lihat kita dua kali dan aku gak mau sampai dia melihat kita untuk ketiga kalinya dan itu akan membuat hubungan aku sama Kaila renggang!" kata Yuda karena bagaimanapun Kaila adalah wanita yang berhasil mengambil hatinya untuk pertama kali.
Suci tercengang mendengar itu, bagaimana bisa orang lain melihatnya? kalo dia dan Yuda saja sudah menjalin hubungan secara sangat diam diam selama ini dan kenapa masih bisa kecolongan seperti ini?.
"Te-terus gimana?" tanya suci, perasannya mulai tidak enak saat menanyakan hall itu tangannya mulai terasa sangat dingin berharap laki kaki yang ia cintai itu tidak mengatakan hall yang aneh aneh.
Yuda mengusap wajahnya kasar membuang pandannya ke arah lain dan kembali menatap wajah Suci yang tengah menatapnya. "Maaf" ucap Yuda lirih dan itu sukses membuat jantung hati suci semakin tidak menentu.
"Tapi gue mau kita jaga jarak mulai saat ini!" lanjut Yuda.
Deg...
Jangung suci berdetak semakin kencang saat mendengar keputusan Yuda, Suci merasa peluk matanya mengeluarkan cairan berwarna putih tidak bisa ia bohongi kalo saat ini hatinya sangat tidak rela untuk kehilangan Yuda laki laki yang baru saja dekat dengan dirinya itu.
Suci mengelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Ga-gak kak, Suci gak mau!" isak Suci.
"Suci gak mau pisah sama kakak!" lanjutnya lagi dengan air mata yang semakin deras.
"Tapi aku juga gak mau Kaila tau hall ini!" kata Yuda yang sebenarnya tidak tega melihat suci menangis seperti itu.
"Ta-tapi kita masih bisa jalin hubungan diam diam kak"
"Su-suci Ja-janji akan lebih hati hati lagi, suci janji bakal jaga rahasia ini serapat mungkin" janji Suci.
"Gak bisa Suci!, gue gak mau kalo banyak orang lain nanti tau akan hall ini!"
"Kalo gitu gue balik dulu ke kelas" kata Yuda yang langsung membalikan badannya, Yuda tau dirinya sudah menyakiti hati suci saat ini tapi Kaila gadis itu juga penting untuk dirinya.
Suci yang melihat yang melihat Yuda beranjak pergi langsung berlari ke arahnya memeluk tubuh tegap laki laki itu dari belakang dengan sangat erat membuat Yuda menghentikan langkahnya karena tangan suci yang melingkar di pinggangnya.
"Suci mohon kak, suci gak mau pisah sama kakak!"
"Suci sayang sama kakak!, Suci cinta sama kakak!, suci bakakal lakuin hall apapun untuk kakak asalkan kak Yuda jangan tinggalin suci"
"Suci gak masalah kalo kita selamanya ngejalanin hubungan ini secara diam diam Suci gak masalah kak!"
"Suci juga gak mempermasalahkan kalo kak Yuda gak bisa balas cinta Suci sampai kapan pun, tapi jangan pergi kak suci mohon"
Suci terisak di punggung Yuda memohon pada laki laki yang ia cintai itu agar tidak meninggalkannya, karena suci juga yang tidak mau melepaskan Yuda secepat ini apa lagi rencananya untuk bikin Yuda jatuh cinta baru saja di mulai.
Yuda bisa merasakan air mata gadis itu mengenai tubuhnya karena terlalu lama menangis, tangannya perlahan melepaskan tangan Suci dari pinggang membalikan badan untuk melihat wajah Suci, wajah yang mula berantakan dan mata sebentar lagi sebab karena terlalu banyak menangis, di tangkup nya wajah Suci dengan kedua tangannya, mengusap sisa air mata yang masih mengalir dari dua bola mata itu.
Yuda juga tidak bisa bohong pada dirinya sendiri karena perlahan dirinya mulai merasakan rasa nyaman saat bersama Suci, sifatnya yang tidak jauh beda dari Kaila membuat Yuda cepat merasa nyaman.
"Suci mohon kak" masih dengan isakan tangisnya suci memohon pada Yuda dengan menatap lekat wajah tampan itu.
Yuda tersenyum dan ibu jarinya masih sibuk mengusap air mata Suci. "Iyah, aku gak bakal ninggalin kamu"
"Ka-kakak serius?" tanya suci memastikan.
Yuda menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Suci tersenyum senang, tanpa aba aba gadis itu kembali memeluk tubuh Yuda dari depan membenamkan wajahnya di dada bidang Yuda menghirup aroma maskulin dari tubuh Yuda.
"Makasih kak" ucap Suci di dalam pelukan Yuda.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari sepasang bola mata melihat kejadian itu tidak jauh dari sana. Membuat orang tersebut mengepalkan tangan yang berada di sisi tubuhnya dengan sangat kuat.