
Turun dari atas motor Kaila menyodorkan helem yang ia gunakan pada Raka yang sudah terlebih dahulu melepas helem miliknya.
"Buruan masuk, mandi habis itu turun buat makan malam" ujar Raka.
Mengangguk patuh Kaila langsung masuk ke dalam dengan memeluk erat boneka di tangannya. Menaruh boneka itu di atas kasur Kaila meraih handuk yang ada di gagang lemari, mengikat tinggi rambutnya Kaila berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama Kaila sudah mengenakan piama berwarna pink miliknya, berjalan keluar untuk makan malam dirinya berpapasan dengan Raka yang juga baru keluar dari kamarnya.
Aroma strawberry dari tubuh Kaila membuat Raka menghirup aroma itu dalam-dalam, rasanya begitu tenang bisa mencium aroma tubuh Kaila walau tidak secara dekat. Melihat laki-laki di hadapannya terdiam membuat Kaila menyenggol baru Raka pelan.
"Ka, lo gak sambet kan?"
Raka yang sadar akan lamunannya mengalihkan pandangannya pada tangan rumah. "Turun yuk" mengalihkan topik laki-laki itu berjalan lebih dahulu.
"Aneh" mengikuti langkah kaki Raka Kaila turun ke lantai satu berjalan ke arah dapur.
"Lo bisa masak ka?" tanya Kaila yang sudah berada di dalam dapur.
"Bisa, kan gue tinggal sendiri" ujar Raka.
"Terus orang tua lo kemana? apa mereka ada di luar kota?" Kaila yang belum pernah melihat kedua orang tua Raka sebelumnya memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan mertuanya, bagaimana pun Kaila selalu was-was kalo sampai tiba-tiba orang tua Raka datang dan tidak suka dengannya apa lagi dirinya menikah dengan Raka bukan karena kesalahan laki-laki itu.
Raka mengelengkan kepalanya menatap wajah Kaila. "Orang tua gue udah di surga" tersenyum kecut Raka menjawab pertanyaan Kaila.
Mendengar itu Kaila sedikit kaget dan juga merasa bersalah tapi ia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena memang Kaila tidak tau asal usul laki-laki itu sebelumnya, berjalan mendekat ke arah Raka yang tengah membuka kulkas Kaila berdiri di belakang tubuh tegap itu.
"Ka, gue gak tau kalo orang tua lo udah gak ada"
"Gue minta maaf" Kaila meremas tangannya karena tak enak hati telah menanyakan hall yang seharusnya tidak ia ucapkan.
Raka membalikan badannya tersenyum ke arah Kaila yang merasa tidak enak kepadanya. "Lo gak salah Kai, wajar kalo lo tanya hall itu"
"Lo mau ikut gue?" tanya Raka.
"Kemana?"
"Bahan makanan di kulkas udah habis dan gue lupa tadi buat beli, lo mau ikut?" mendengar itu Kaila menganggukan kepalanya antusias.
__ADS_1
"Ambil jaket lo, gue tunggu di luar" mengacak-acak rambutnya Kaila pelan Raka berjalan keluar rumah.
Kaila yang menaikan pandangannya mendapati rambutnya yang sudah berantakan karena ulah Raka. Tidak ingin membuat laki-laki itu menunggu terlalu lama Kaila langsung naik ke lantai atas mengambil switer miliknya.
***
Berhenti di salah satu mall Raka dan Kaila melangkah masuk ke dalam supermarket yang ada di dalam mall untuk membeli kebutuhan dapur, Kaila yang tidak terlalu paham akan masalah dapur hanya melihat Raka yang sepertinya sudah sangat terbiasa akan memilih bahan makanan.
Troli yang di dorong Raka hampir penuh dengan semua bahan dapur, melirik sekilas Kaila yang ada di sampingnya gadis itu nampak terlihat jutek.
"Kai?" Panggil Raka membuat gadis itu menoleh kearahnya.
"Hmm?"
"Lo gak ada yang mau di beli?" tanya Raka mencoba memahami apa yang di inginkan Kaila.
"Boleh?" seperti dugaan Raka gadis itu pasti menahan sesuatu yang ia inginkan tapi tidak berani ia ucapkan kepadanya.
"Boleh, ambil aja yang lo mau" jawab Raka serius.
"Mau ciki" bukannya langsung pergi mengambil apa yang ia inginkan, Kaila malah meminta persetujuan oleh laki-laki itu membuat Raka yang melihat tingkah lucu itu merasa gemas.
Mengambil berbagai jenis ciki Kaila menyuruh Raka memegang semua pilihan ciki yang ia pilih, sekarang Raka baru tahu kenapa gadis itu menariknya untuk di jadikan tempat penampungan cikinya. Raka yang tidak ingin merusak mood Kaila yang sedang baik membiarkan apa yang gadis itu inginkan.
"Udah cukup" meraih ciki terakhir di tangannya membuat Kaila membalikan badannya menatap Raka yang sudah banyak sekali menampung makanan miliknya. "Kebanyakan ya Ka?" tanya Kaila merasa tak enak.
"En-enggak Kai, udah semua?" tanya Raka yang harus menyeimbangkan tubuhnya aga ciki milik Kaila tidak jatuh.
"Udah" jawab Kaila dengan nada tak enak.
"Jangan gitu mukanya jelek tauk" goda Raka.
"Raka!" ucap Kaila tak suka laki-laki mengatainya jelek.
"Beranda Kai, ya udah yuk" ajak Raka berjalan kembali ke tempat troli belanjaannya.
"Oh iyah, gue lupa" ujar Raka setelah menaruh ciki Kaila ke dalam troli.
__ADS_1
Gadis itu mengerutkan keningnya menatap bingung laki-laki yang tengah menepuk jidatnya sendiri. "Lula apa Ka?, masih ada yang kurang?"
"Iyah, bentar lo tunggu sini gue cari barangnya sebentar" Raka langsung berjalan sedikit berlari untuk mencari barang yang di butuhkan.
Kaila melihat punggung Raka yang sudah menghilang dari pandangan memilih menunggu laki-laki itu di samping toli belanjaannya. Beberapa saat kemudian Raka kembali dengan barang yang ia cari di tangannya, melihat laki-laki itu datang mata Kaila tertuju pada barang di tangannya.
"Ka!, lo beli susu hamil?" tanya Kaila lirih.
"Iyah"
"Buat apa hah?!" kesal gadis itu.
Menundukan tubuhnya Raka menyamaratakan tingginya dengan Kaila. "Bukan cuma lo yang harus sehat, tapi dedek bayinya juga harus sehat sampai lahir" bisik laki-laki itu tepat pada telinga Kaila.
"Ya udah yuk bayar" Raka mendorong troli belanjaannya ke arah kasir.
Barang yang pertama di pegang karyawan tersebut adalah kotak susu karena barang itu yang berada di atas sendiri membuat pelayanan kasir menatap sinis Kaila yang berdiri di samping Raka. Mendapatkan tatapan itu Kaila menundukan pandangannya, ia yakin pelayanan itu akan menganggapnya yang tidak-tidak.
"Ini buat kakak saya!" suara tegas milik laki-laki itu membuat pelayanan kasir menatap wajah Raka yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
Merasa sudah salah menatap orang dengan tatapan sinisnya wanita itu tersenyum kaku tanpa meminta maaf. Setalah semua barang belanjaannya masuk ke dalam kantung plastik Raka berjalan keluar dari dalam mall di ikuti Kaila yang mengekor di belakangnya.
Sampainya di parkiran sepeda motor Kaila merasa barang belanjaannya tidak akan muat jika di taruh di atas motor milik Raka.
"Ka, gak mungkin kan kita pulang dengan barang belanjaan segini banyaknya?"tanya Kaila menatap ke empat pelastik yang ada di atas tanah.
Merasa yang di ucapkan Kaila ada benarnya Raka berfikir sejenak bagaimana barang belanjaan ini bisa sampai rumah. "Lo tunggu di sini sebentar" melangkah menjauh Raka merogoh saku celananya menghubungi seseorang di sebrang sana, setelah memastikan sambungan telfonnya Raka kembali berjalan ke arah Kaila yang sudah menunggunya.
"Kamu nelfon siapa?" tanya Kaila saat Raka sudah kembali.
"Bukan siapa-siapa, yuk pulang" Raka menarik tangan Kaila tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Terus belanjaannya gimana?"
"Udah gak usah di pikirin, sekarang kita cari makan dulu yuk gue laper emang lo gak laper?"
"Laper sih"
__ADS_1
"Ya udah yuk"
Keduanya naik ke atas motor meninggalkan area parkiran dengan barang belanjaan yang masih di tempat.