Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Kamu Harus Tanggung Jawab!


__ADS_3

Suasana sekolah yang mulai sepi membuat Kaila duduk sendirian di taman belakang sekolah dengan kaki memukul kecil rumput yang ada di bawah kakinya.


"Ngapain lo ngajak gue ketemuan di sini?"


Suara itu membuat Kaila menaikan pandangannya menatap wajah sombong laki-laki yang sudah ia tunggu sejak lima belas menit lalu. Dengan berdecak kesal Kaila juga ikut bangun dari duduknya mensejajarkan tubuhnya dengan pria itu.


"Ada yang mau gue omongin" kata Kaila menatap lekat kedua bola mata itu.


"Segitu pentingnya sampai lo nyuruh gue ketemuan?"


"Oh...gue tau atau jangan-jangan lo kangen kan sama gue?" ucapan itu membuat Kaila tidak jadi mengeluarkan suaranya.


"Udah gue duga lo gak bakal bisa move on dari gue" tawa Yuda terdengar setelah laki-laki itu menyelesaikan ucapannya.


"Gue hamil Yud!"


Yuda menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Kaila yang membuat dirinya menatap lekat wajah Kaila.


"Gue hamil! dan itu anak lo!" lanjut Kaila saat Yuda hanya diam saja menampilkan wajah kagetnya.


"Haha...lo bercanda kan?" tanya Yuda yang tidak percaya dengan ucapan Kaila.


"Gue gak bercanda Yuda, gue beneran hamil kalo lo gak percaya lo bisa lihat sendiri!" Kaila menunjukan tespek yang ada di tangannya ke tangan Yuda.


"Gue mau lo tanggung jawab atas perbuatan lo!"


Yuda mengelengkan kepalanya dengan cepat saat melihat benda kecil yang baru saja di sodorkan Kaila padanya menunjukan dua garis merah.


"Gak!, itu gak mungkin anak gue, bisa saja itu anak dari laki-laki lain" tuduh Yuda mengembalikan tespek tersebut ke tangan Kaila.


PLAK....


Satu tamparan keras mendarat sempurna di wajah tampan itu saat laki-laki itu dengan mudahnya mengatakan hall membuat hatinya sakit, bagaimana laki-laki itu bisa berkata seperti itu kalo jelas-jelas ia lah ayah dari janin yang tengah ia kandung sekarang.


"Lo tega bilang kaya gitu, lo pikir gue wanita murahan yang bisa lakuin itu sama siapa saja?!" nada bicara Kaila naik satu oktaf dengan air mata yang mulai berjatuhan dari kedua bola matanya.


"Siapa tahu lo juga selingkuh di belakang gue selama ini! dan lo udah di tidurin pria lain!" ucap Yuda menatap sinis Kaila yang mulai menangis.


Kaila mendorong kuat tubuh tegap itu kebelakang. "Tapi lo yang udah ambil mahkota gue anjing!" tangisan Kaila semakin pecah hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan itu.


"Kalo lo gak bisa nerima tu anak, lo tinggal gugurin aja gampang kan?, dengan itu semua masalah selesai!"


"Brengsek lo!, ini anak lo bangsat!, lo yang udah perkosa gue!, lo yang udah hamil in gue!, lo juga yang minta anak ini lenyap dari dunia?, lo punya otak gak sih anjing!"


"Apa lo pikir gue percaya kalo itu anak gue hah?, GAK!"

__ADS_1


"Intinya gue gak mau tanggung jawab untuk anak haram yang ada di dalam kandungan lo itu!" lanjut Yuda menekan kata anak haram yang ia ucapkan dengan tangan menunjuk wajah kaila.


"Lo harus tangung jawab kaya janji lo malam itu Yud!"


Sudut bibir Yuda membentuk sebuah senyuman. "Apa lo bilangan?, tangung jawab?" Yuda mendekatkan wajahnya ke wajah Kaila.


"Gue harus tangung jawab sama anak yang belum jelas siapa bapaknya?, jangan mimpi!" Setalah mengatakan hall itu Yuda langsung pergi meninggalkan Kaila di taman sekolah yang sudah sepi karena jam pulang sekolah sudah berlalu satu jam lalu.


"Yuda jangan pergi!"


"Lo harus tangung jawab atas perbuatan lo!"


"Itu anak lo bangsat!"


"YUDA!!!" teriak Kaila sangat kencang saat Yuda berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya sendirian di taman itu.


Kaila menjatuhkan tubuhnya di atas rumput saat ia harus menerima kenyataan bahwa laki-laki yang telah menghamilinya tidak mau bertanggung jawab sama sekali dengan anak yang ada di dalam kandungannya.


Dada Kaila terasa sangat sesak saat ini, bodoh, Kaila merutuki kebodohannya saat dengan mudah ia menyerahkan hall yang sangat berharga di tubuhnya untuk laki-laki bajingan seperti Yuda. Dan sekarang ia harus apa? apa ia akan mengugurkan janin ini seperti ucapan Yuda? dengan begitu kehidupannya akan normal seperti biasanya.


"Aaa....."


"Dasar anak pembawa sial!, kenapa kamu harus hadir di perutku! kenapa?!"


"Aku tidak pernah meminta anak pembawa sial seperti kamu ada di dalam perut ku!"


"Anak pembawa sial!"


"Anak pembawa sial!!"


"Anak pembawa sial!!!" teriak Kaila berulang-ulang dengan tangan yang tak henti-hentinya memukul perutnya.


Seseorang yang sudah lama berdiri dari lorong taman berlari dengan sangat cepat ke arah Kaila yang masih terus memukul-mukul perutnya.


"Stop!" perintah pria itu menahan kedua tangan Kaila yang tidak berhenti untuk melukai dirinya sendiri.


"Apa lo udah gila? apa lo ingin membuat anak itu benar-benar mati?!" ucap Raka yang ternyata sudah mendengar semua pembicaraan Kaila dengan Yuda dan jahatnya pria itu malah pergi begitu saja.


Raka memang terbiasa pulang paling akhir dari sekolah karena dirinya suka menikmati angin sore di rooftop, dan saat dirinya ingin duduk mata Raka menatap kedua orang itu yang tengah berdebat hebat membuat Raka langsung melangkah turun dan bersembunyi di tempat yang aman untuk mendengar semua pembicaraan itu.


Tubuh Raka mematung di tempat persembunyiannya saat ia mendengar bahwa Kaila hamil, tangan Raka terkepal sangat kuat saat mendengar dengan jelas Yuda mengatakan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya apa lagi pria pengecut itu dengan terang-terangan menyuruh Kaila mengugurkan anak yang tidak bersalah sama sekali.


"Ngapain lo di sini hah?!" tanya Kaila yang masih histeris menatap tajam wajah Raka yang ada di hadapannya.


"Gue tau lo udah tau semuanya apa yang udah terjadi, terus lo sok kasian sama gue dan setelah itu lo bakal sebar in hall ini sama semua orang kan kalo gue hamil?!"

__ADS_1


"Ayo sebarin!, jika perlu bunuh gue sekarang!, karena gue lebih baik mati dari pada hidup kaya gini!"


"Ayo bunuh gue Raka!!" teriak Kaila tepat di depan wajah Raka saat laki-laki itu hanya diam saja dan tidak merespon ucapannya.


"Kenapa lo diam aja hah?!, ayo bunuh gue sama anak pembawa sial ini!" Kaila melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raka yang mulai longgar dan kembali memukul-mukul perutnya berulang kali.


"Kaila stop! udah berhenti!" Raka kembali memegang tangan itu dengan kuat tidak membiarkan Kaila melepaskan genggaman tangannya lagi.


"Kenapa gue harus berhenti Raka? kenapa?!"


Hati Raka terasa sangat sakit saat melihat Kaila begitu rapuh tidak ada lagi suara cerewet yang keluar dari mulutnya, tidak ada lagi tawa yang sering ia dengar setiap hari kini semuanya sudah lenyap dengan mudahnya dari diri gadis itu.


Kaila masih terus berontak untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raka. Bukannya melepaskan cengkraman tangan itu Raka langsung membawa tubuh Kaila ke dalam pelukannya memberikan gadis itu kekuatan tidak peduli kalo gadis itu harus berontak di dalamnya dan memaki dirinya.


"Bajingan!"


"Lepas!, lepas in gue bego!, gue gak suka sama cara lo yang kaya gini!, kenapa semua kaki-laki itu sama saja hah?!, kenapa semua laki-laki itu sukanya maksa?!"


"Gue benci sama lo Raka gue BENCI!"


"Hiks...hiks..." tangisan Kaila semakin pecah di dalam pelukan Raka.


Raka hanya diam tidak menjawab satupun ucapan yang gadis itu lontarkan kepadanya, membiarkan gadis itu menumpahkan semua apa yang ia rasakan di dalam pelukannya karena ia tau seperti apa rasanya di posisi saat semua orang tidak memperdulikan perasannya. Dengan mengusap lembut rambut lurus Kaila laki-laki itu berharap gadis itu bisa merasakan sedikit kelegaan.


Tangan Kaila yang tadinya terus memukul-mukul dada Raka dengan kuat perlahan mulai melemah mungkin gadis itu sudah lelah saat terus berontak kalo saja Raka tidak melonggarkan pelukannya sedikitpun. Sesaat keheningan menyapa keduanya yang terdengar hanyalah isakan kecil dari mulut Kaila yang masih menangis.


"Gue takut kalo sampai Ayah,Bunda dan kak Riko tau kalo gue hamil, dan pria yang udah hamil in gue gak mau tanggung jawab sama sekali" Kata Kaila memecah keheningan di antara keduanya.


"Gue bakal gugurin anak ini!" lanjut Kaila bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar dan udara yang semakin terasa dingin menembus sela-sela seragam sekolah yang masih mereka kenakan.


Mendengar itu hati Raka merasa tak tega saat janin yang tak memiliki salah sama sekali harus kehilangan nyawanya hanya karena kedua pasangan itu yang tak bisa menerima keberadaannya.


Raka menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, masih dengan memeluk Kaila Raka mengusap punggung gadis itu lembut. "Gue mau jadi Ayah dari anak yang ada di kandungan lo Kai" ucap Raka dengan hujan yang mulai turun dari atas langit membasahi kedua tubuh itu.


Kaila melepaskan pelukannya menatap datar wajah laki-laki itu yang mulai basah karena air hujan. "Gue mau jadi Ayah dari anak lo Kai, asal jangan gugurin dia. Dia gak salah dia juga gak pernah minta sama tuhan untuk ada di dalam perut lo"


Kaila mengelengkan kepalanya cepat dan langsung bangun dari duduknya. "Gue gak mau! dan gue bakal tetap gugurin nih anak!" ucap Kaila dan langsung mengayunkan kakinya.


Raka menahan tangan Kaila yang melangkah pergi membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Gue mohon jangan Kai. Kalo lo gak mau anak itu gue mau, gue bakal ambil dia setelah dia lahir nanti dan biar gue yang ngerawat dia sampai dia besar"


Hati Kaila tersentuh dengan ucapan Raka, saat ayah biologisnya tidak mengakui keberadaannya tapi laki-laki di hadapannya ini malah mau menganggap itu anaknya.


"Gue mohon jangan gugurin dia" Ucap Raka kembali memeluk tubuh Kaila di bawah hujan yang sangat deras.


Kaila hanya menganggukkan kepalanya lemah. Ia memang ingin mengugurkan anak yang ada di kandungannya saat tidak ada yang mau bertanggung jawab tapi saat melihat sorot penuh permohonan dari mata Raka akhirnya Kaila luluh dan tetap mempertahankan anaknya seperti apa yang di inginkan Raka.

__ADS_1


"Gue antar lo pulang ya" lanjut Raka memangukup kedua pipi Kaila. Kaila hanya menjawabnya dengan anggukan kecil dari kepalanya.


__ADS_2