Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Rencana Keluar Kota


__ADS_3

Taman samping sekolah adalah pilihan Kaila dengan Raka menghabiskan waktu istirahat. Di tempat ini Kaila bisa bercerita apapun dengan Raka.


"Makan dulu" ucap Raka menyerahkan kotak bekal ditangannya.


Sampai sekarang Raka masih memasak bekal dan makanan mereka setiap hari. Bukannya Kaila tidak ingin belajar masak hanya saja Raka selalu berkata kalo dirinya baru boleh belajar masak setelah dedek bayi keluar.


"Enak?" tanya Raka. Kaila mengangguk mengunyah bekal ditangannya. "Mau?"


"Boleh" mengarahkan satu sendok nasi, Raka dengan senang hati memakannya.


"Kai ada yang mau aku bicarakan" ucap Raka.


Meneguk air minumnya, Kaila menatap wajah Raka yang nampak serius. "Apa?"


Raka diam beberapa saat baru mengeluarkan suara. "Rencananya aku mau kuliah diluar kota, dan aku akan bawa kamu sekalian"


Kaila sedikit kaget mendengar Raka yang ingin kuliah diluar kota secara mendadak. "Bukannya tadi pagi kamu bilang belum ada pandangan buat kuliah dimana?"


"Itu kan tadi pagi, beda sama sekarang" elak Raka.


"Tapi kenapa harus keluar kota?, kenapa tidak disini saja?" tanya Kaila merasa berat meninggalkan kota kelahirannya. Apa lagi disini ada Bunda,Ayah,kak Riko dan Rara yang selalu menemaninya.


Raka mengulas senyum. Ia tau rasanya meninggalkan kota ini pasti sangat berat, tapi itu cuma satu-satunya cara Raka membawa Kaila jauh dari Riko untuk sementara waktu karena kalo keduanya masih berada disini sampai janin Kaila lahir pasti Riko akan memintanya segera menceraikan Kaila setelah anak itu lahir. Sedangkan sampai sekarang Raka Belum mendengar Kaila menyatakan cinta dengannya. Dan yang bisa Raka lakukan sekarang hanyalah mengulur waktu sebanyak-banyaknya sampai Kaila sendiri berkata cinta, dengan begitu ada alasan Raka untuk tetap mempertahankan Kaila yaitu saling mencintai.


"Gue cuma mau kuliah di universitas kota itu aja, kalo masalah kuliah lo setahu gue disitu juga ada"


”Tapi Ka-"


"Kita disana cuma tinggal sementara bukan menetap, nanti kalo kita sudah jadi sajana pasti akan kembali ke kota ini. Memulai kehidupan yang lebih baik lagi" potong Raka.


Kaila menatap sekeliling tempat mereka, mamastikan tak ada satupun orang yang akan mendengar ucapannya. "Tapi aku mau lahiran disini Ka" kata Kaila pelan setelah mamastikan keadaan sekitar.


Tak ingin putus asa Raka masih memiliki banyak cara meyakinkan Kaila agar ikut bersamanya. "Kamu juga masih bisa lahiran disana Kai, Disana peralatannya lebih canggih dari disini"

__ADS_1


Kaila menghela nafas panjang mendengar permintaan Raka yang nampak sedikit memaksa.


"Mau ya Kai" lanjut Raka menatap penuh harap.


"Apa Bunda sama Ayah akan mengizinkan?" tanya Kaila yang juga tak ingin dengan mudah meninggalkan kota ini.


"Nanti kita kerumah Bunda sama Ayah buat bahas soal ini"


Menyandarkan punggung pada badan kursi taman. Manik mata hitam Kaila menatap jauh kedepan entah apa lagi perjalanan hidupnya ini, meski dihatinya yakin Raka akan memilih hall terbaik untuk dirinya dan dedek bayi.


***


"Apa kamu sudah memikirkan hal ini dengan matang?" tanya Deon pada Raka yang duduk i sebrang sana.


Memutuskan datang pada malam hari sekalian menginap, Raka mengutarakan niatnya yang akan membawa Kaila keluar kota.


Tentu hal itu membuat Deon dan Rina sedikit kaget. Melepas putrinya menikah dini saja sesulit itu dulu apa lagi harus berpisah oleh jarak semakin jauh seperti ini.


"Iyah yah, dan rencananya setelah wisuda Raka ingin bawa Kaila langsung keluar kota"


"Raka juga ingin memberikan Kaila pendidikan yang terbaik baik Bunda dan Raka juga harus menepati amanah almarhum kedua orang tua Raka untuk meneruskan perusahaan"


Keduanya menghela nafas panjang mendengar alasan Raka. "Ayah terserah bagaimana baiknya saja karena Kaila sekarang adalah tanggung jawab kamu"


"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Riko yang baru saja datang. Ikut duduk disamping Rina.


"Adek kamu mau keluar kota" jawab Rina.


Baru saja akan menyandarkan punggungnya tubuh Riko kembali tegap menatap sepasang suami istri dihadapannya dengan lekat, lebih tepat Riko menatap Raka dengan tajam.


"Raka yang ingin memenuhi amanah kedua orangtuanya membuatnya harus membawa Kaila sekali" imbuh Deon.


"Terus Ayah izinin Kaila pergi begitu saja?" Deon mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat.

__ADS_1


Beralih menatap Kaila yang tengah mengusap perutnya Riko melayangkan pertanyaan. "Kenapa lo gak tinggal disini saja?, ini rumah Lo juga, dan kenapa harus ikut dia segala!"


"Kak!" tegur Rina mengusap lengan putranya.


"Karena Raka suami Kaila, dan Kaila harus ikut kemanapun Raka pergi" jawab Kaila.


"Lo udah pisah rumah sama gue Kai!, dan lo mau ninggalin gue sekarang?!" tanya Riko yang masih tak rela Kaila pergi jauh dari dirinya.


Sudah lama tak melihat sifat Riko posesif terasa sedikit geli dihatinya meski dulu ia sering mendapatkan perhatian seperti itu. "Bukannya kakak pernah bilang...." Kaila menjeda ucapannya mengingat momen dulu.


"Lo harus belajar dewasa mulai sekarang Kai, dari tidur sendiri, belajar masak dan bersih-bersih rumah" ucap Riko menatap langit-langit kamarnya.


Kaila yang masih berumur tiga belas tahun memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Riko dari samping.


"Memang kenapa?, Kaila suka tidur sama kakak tiap malam diusap rambutnya" jawab gadis itu polos. Terbiasa tidur sejak kecil dengan Riko Kaila merasa enggan pindah kamar meski Ayah dan Bundanya sudah menyuruhnya berulang kali.


Ikut memiringkan tubuhnya Riko menyingkirkan anak rambut Kaila kebelakang telinga. "Cepat atau lambat lo pasti akan jadi seorang istri yang artinya akan ikut kemanapun suami lo pergi, jadi hilangin sifat manjanya"


"Andai ada sunahnya menikahi saudara sendiri, pasti Kaila memilih jadi istri kakak" jawab gadis itu ngawur dan mendapatkan jitakan dari Riko.


"Hehehe...canda Kak" bukannya meringis kesakitan Kaila malah tertawa melihat wajah kesal Riko. "Kaila ngantuk kak, mau peluk" lanjutnya.


Menarik tangan Kaila agar masuk kedalam pelukannya Riko mengusap rambut Kaila lembut, sampai adik perempuannya masuk ke alam mimpi.


Riko terdiam, ucapannya hari itu benar-benar jadi kenyataan, Kaila menikah dengan sangat cepat bahkan menikah dengan cara yang bisa dibilang sangat menjijikan.


"Kakak sudah ingat kan kata-kata itu?. Dan lihat sekarang Kaila sudah besar bahkan sebentar lagi akan jadi mama" ucap Kaila melihat Riko yang setengah melamun.


Sadar akan lamunannya Riko membalas ucapan Kaila dengan senyuman. Beralih menatap Raka yang berada di samping Kaila Riko mengajaknya untuk berbicara empat mata. "Gue mau bicara sama Raka dulu sebentar ditaman belakang"


Berpamitan kepada semua orang Raka menyusul Riko yang sudah terlebih dahulu pergi ke taman belakang rumah.


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.


__ADS_2