Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Melahirkan


__ADS_3

...***...


Author kembali lagi nih buat kalian yang penasaran dengan kelanjutan cerita Raka dan Kaila. Selain author datang untuk up kelanjutan cerita nya author juga mau ngadain GA bagi satu orang yang beruntung.


Siapa sih yang gak mau dpt GA dari author yang udah gratis ongkir?.


Nah buat GA nya sendiri author bakal ambil di sini bukan dari lapak sebelah karena aku merasa kalian berhak mendapatkan itu.


Jadi buat kalian pembaca setia Raka dan Kaila yuk langsung kunjungi Ig author buat tahu informasi selanjutnya, jangan sampai nama kalian kelewat bisa-bisa hadiahnya hangus🤧


...***...


Sembilan bulan Kaila mengandung.


Di bantu Raka dirinya selalu menyempatkan waktu untuk olahraga di pagi hari, karena perkiraan nya Kaila akan melahirkan minggu ini bahkan kontraksi palsu juga sudah mulai ia alami selama beberapa hari kemarin.


Jika kemarin ia masih merasakan kontraksi palsu, beda hal nya dengan pagi ini saat Kaila merasa perutnya terasa mulas. Dengan menggunakan tembok sebagai alat bantu jalan nya Kaila berjalan ke arah kamar mandi berniat membersihkan tubuhnya.


"Kenapa sakit sekali" keluhnya masih berusaha menuju pintu kamar mandi.


"Kaila" panggil Raka yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawakan segelas susu hangat, mendapati Kaila berjalan ke arah kamar mandi dengan sangat susah. "Kamu kenapa?"


"Raka perut ku sakit"


"Sabar ya, nanti kontraksinya juga hilang" ucap Raka menenangkan mengusap punggung Kaila dengan lembut.


"Se-sepertinya ini bukan kontraksi palsu" ucap Kaila yang tahu pasti Raka mengira kontraksi yang ia rasakan adalah kontraksi palsu sama seperti hari kemarin.


"Maksud kamu?"


Kaila meraih tangan Raka yang mengusap punggungnya, meremas tangan laki-laki itu kuat. "Raka ini sangat sakit" ucap Kaila benar-benar merasa sakit pada perutnya.


"Kamu mau lahiran?" Kaila mengangguk lemah menjawab ucapan Raka. "Kita kerumah sakit sekarang?" tanya Raka sekali lagi dan mendapat anggukan dari Kaila.


Baru Raka akan menuntun Kaila keluar dari dalam kamar suara lirih dari gadis itu membuat Raka menghentikan langkahnya.


"Ka, aku gak kuat jalan" ucapnya menatap dalam bola mata Raka.


"Biar aku gendong" jawab Raka cepat, langsung mengendong tubuh Kaila keluar dari dalam kamar menuju mobilnya di halaman rumah. Sedangkan art yang tahu Kaila akan melahirkan menyiapkan kebutuhkan Kaila dan akan berangkat belakangan.


Di sepanjang perjalanan Kaila berusaha menahan rasa sakit pada bagian perut dan punggung yang mulai terasa sangat pegal. Mengikuti arahan Raka yang memintanya mengatur nafas Kaila dengan patuh menuruti ucapan Raka.


Sampai di depan lobi rumah sakit Raka meminta seorang perawat membawakan brankar, baru dirinya menaruh Kaila dengan sangat hati-hati di atas brankar. Tangan Kaila yang semakin memperkuat cengraman nya Raka mengusap kening Kaila yang penuh akan keringat.


"Tarik nafas, buang pelan-pelan"


"Raka sakit" lirihnya.


"Iyah Kai, kita udah di rumah sakit sebentar lagi kamu akan dapat penanganan"


Sampai di depan ruang bersalin brankar Kaila tidak langsung di bawa masuk membuat Kaila menatap dua suster dihadapannya dengan bingung. "Kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Maaf sebaiknya anda tunggu di luar saja"


"Kenapa saya harus di luar?, saya ingin masuk menemani Kaila"


"Sudah ada tim dokter yang akan menangani nona ini, jadi anda bisa serahkan semua ini pada tim medis"


Raka menggeleng cepat saat dirinya tak di perbolehkan masuk oleh dua orang suster dihadapannya. "Tapi dia istri saya!, jadi saya berhak menemani nya sampai anak kita lahir!"


Dua orang suster tersebut saling pandang saat mendengar Raka menyebutnya suami dari Kaila.


"Terserah kalian mau berfikiran bagaimana tentang kami, Yang penting sekarang tolong Kaila apa kalian tidak bisa melihat dia menahan sakit!" marah Raka saat kedua suster tersebut saling diam.


"Baiklah, tapi anda harus tetap di sini!"


Raka mengusap wajahnya dengan kasar saat dirinya benar-benar tak di perbolehkan masuk saat hati dan otak nya lagi dalam ke adaan panik.


"Di-dia harus ikut masuk!" ucap Kaila menahan rasa sakit pada perutnya. "Dia benar-benar suami saya jadi tolong izinkan dia masuk" lanjut Kaila memohon.


"Baiklah kamu boleh masuk" ucapnya memperbolehkan.


"Terimakasih"


Ikut masuk ke dalam ruang bersalin Kaila langsung mendapatkan penanganan dengan memasangkan infus dan mengecek tekanan darah. Tak berselang lama seorang dokter datang langsung mengecek kondisi detak jantung janin Kaila, baru melebarkan paha Kaila sedikit untuk mengecek seberapa lebar jalan persalinan.


"Masih pembukaan lima" ucap nya.


"Maksud dari pembukaan ke empat?" tanya Raka tak paham dengan ucapan dokter kandungan yang menangani Kaila.


"Dia suami dari nona Kaila" jelas seorang suster saat tatapan dokter tersebut nampak bingung melihat keberadaan Raka.


"Apa itu masih lama?"


"Sekitar delapan sampai sembilan jam lagi" jawab nya.


"Apa anda serius?, itu masih sangat lama sekali"


"Itu waktu yang bisa dibilang cepat tuan karena banyak wanita di luar sana yang bisa mengalaminya lebih dari sembilan jam. Dan untuk pembukaan ke lima sendiri itu sudah sangat cepat mengingat usia nona Kaila yang masih sangat muda"


Raka beralih menatap wajah Kaila yang nampak pucat. Ia merasa sangat tak tega melihat Kaila merasakan sakit selama itu seorang diri, jika saja dirinya bisa mengalihkan rasa itu pada tubuhnya maka Raka akan dengan senang hati menerima rasa sakit itu dan berjuang untuk anak nya.


"Kamu pasti kuat" ucap Raka tercekit.


Kaila tersenyum hambar tapi sebisa mungkin ia menunjukan senyum di wajahnya untuk laki-laki yang sangat ia cintai dan mencintainya. "Aku tidak apa-apa tenang lah"


Raka hanya mengangguk lemah. Di sini Kaila yang sedang kesakitan tapi kenapa wanita itu juga yang memberikannya kekuatan?.


Dokter yang menangani Kaila menyuruh wanita itu untuk jalan agar memperlancar jalannya persalinan. Satu tangan memegangi dinding ruangan, satunya lagi ia menggenggam tangan Raka tanpa berniat melonggarkan nya sedikit pun.


"Apa kamu sudah menghubungi bunda kalo aku akan melahirkan?" tanya Kaila.


"Astaga aku sampai lupa akan hal itu" Raka membawa Kaila ke arah brankar, meraih ponsel untuk menghubungi Rina dan Deon kalo Kaila sebentar lagi akan melahirkan. "Aku sudah menghubungi nya" Kaila mengangguk lemah.

__ADS_1


Tak ingin diam saja Raka mengusap punggung Kaila dengan lembut memberikan sensasi pijatan untuk mengurangi rasa pegal nya.


Delapan jam telah berlalu dengan sangat lama bagi Raka. Kontraksi yang di rasakan kaya juga semakin menjadi membuat suruh tubuhnya terasa mau patah apa lagi dirinya sudah tak sanggup untuk berjalan.


"Raka" panggil Kaila lirih.


"Iyah Kai, mau makan?" tanya Raka, karena memang Kaila belum makan sejak tadi, berulang kali juga Raka menyuruh Kaila makan tapi ditolak oleh gadis itu.


"Seperti nya air ketubannya keluar"


Tanpa banyak bertanya lagi Raka berjalan ke luar rungan memanggil dokter dan suster yang tadi menangani Kaila. Mendapat teriakan dari Raka tiga orang tadi kembali ke ruang bersalin.


Melebarkan paha Kaila sedikit dokter mengecek seberapa lebar pembukaannya sekarang. "Pembukaan sepuluh" ucapnya dan langsung memerintahkan seorang suster untuk memasang selang oksigen pada Kaila.


"Nona jangan tegang ataupun panik. Dengarkan aba-aba saya dengan baik" Kaila mengangguk lemah. "Sekarang tarik nafas, buang secara perlahan"


Melihat kailamendapat arahan tersebut membuat Raka juga melakukan apa yang Kaila lakukan se akan-akan dirinya juga akan melahirkan.


"Dorong!"


"Uhhh...." Kaila meremas tangan Raka dengan sangat kuat menyalurkan rasa sakit yang luar biasa itu pada Raka.


"Berhenti"


"Agh, sakit"


"Tarik nafas nona, buang perlahan, yah bagus seperti itu. Dorong!"


"Uhhh...."


"Raka sakit" panggil Kaila di sela-sela ia mengejan.


"Kamu pasti bisa Kai sedikit lagi"


"Terus nona"


"Uhhhh...."


Oek...Oek...Oek...


Suara tangis bayi perempuan yang sangat melengking membuat semua orang yang mendengarnya bernafas lega. Bayi perempuan dengan kulit putih pucat dan hidung mancung membuat nya sangat terlihat cantik.


Kaila mengambil oksigen sebanyak mungkin mengisi paru-parunya yang hampir kosong.


"Lihat Kai anak kita sudah lahir, dia sangat cantik" ucap Raka tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya apa lagi matanya tak bisa lepas dari bayi mungil yang masih berlumuran darah tersebut.


"Apa hanya dia yang cantik?" tanya Kaila masih dengan nafas naik turun.


Raka beralih menatap wajah Kaila yang nampak lelah. "Kamu juga tak kalah cantik dari dirinya dan aku beruntung memiliki mu dan dia dalam hidup ku"


"Aku juga beruntung memiliki mu"

__ADS_1


Raka menyatukan keningnya dengan kening Kaila yang masih penuh dengan keringat. "Terimakasih telah berjuang sampai di titik ini"


"Kamu yang membuat ku kuat" jawab Kaila dan Raka tersenyum.


__ADS_2