Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Kalian Udah Nikah?


__ADS_3

"Raka,Raka,Raka berhenti" Kaila menepuk pundak laki-laki itu beberapa kali membuat Raka menepikan motonya di pinggir jalan.


"Kenapa Kai?" membuka kaca helemnya Raka bertanya pada gadis itu.


"Itu ada sate ayam, kita makan di situ aja yuk" ajak Kaila menunjuk salah satu tenda kuning sate Madura yang ada di pinggir jalan.


"Boleh" mengabulkan permintaan Kaila Raka memutar motornya menuju warung sate yang kebetulan sepi.


Turun dari atas motor Kaila melepas helem yang ia gunakan, berjalan lebih dahulu ia meninggalkan Raka yang masih memarkirkan motor miliknya. "Bang satenya dua porsi ya"


"Pedes neng?"


Menoleh ke arah Raka yang sudah masuk ke dalam tenda Kaila bertanya. "Pedes Ka satenya?"


"Boleh" jawab Raka mendudukan tubuhnya di salah satu kursi.


"Satenya dua pedas semua bang"


"Siap neng"


Menyusul Raka yang sudah duduk lebih dahulu gadis itu memilih duduk di hadapan Raka dengan memainkan ponselnya. Raka yang jarang memainkan ponselnya lebih tertarik dengan Kaila yang duduk di hadapannya. Wajah yang di terpa angin malam membuat beberapa helai rambut berterbangan kebelakang, tanpa dirinya sadari senyuman terbit dari kedua ujung bibirnya.


"Silahkan neng" suara tukang sate membuyarkan lamunan Raka menetralkan kembali ekspresi wajahnya.


"Makasih bang" menarik piringnya agar mendekat Kaila mulai memakan sate miliknya.


"Enak?" tanya Raka saat melihat Kaila mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Enak" jawab gadis itu dengan mulut penuh.


Mendapat jawaban itu Raka juga mulai memakan sate miliknya, hening menyapa keduanya yang terdengar hanyalah suara lalu lalang kendaraan dari arah jalan. Raka yang baru saja meneguk minumannya tidak sengaja melihat pipi Kaila yang belepotan seperti anak kecil.


"Kai" panggil Raka.


"Hmm" menaikan pandangannya Kaila menatap wajah Raka.


"Itu..."


"Apa?" Kaila yang tidak tau maksud laki-laki itu mengerutkan keningnya.


"Ma-maaf" mengucapkan kata maaf terlebih dahulu tangan Raka terulur membersihkan pipi Kaila yang terkena bumbu sate. Tubuh Kaila seketika mematung di tempat ia tidak bisa mengatakan apa-apa saat Raka memegang pipinya dan tangan kekar itu terasa sangat lembut mengenai permukaan kulitnya.


Keduanya saling tatap sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan seseorang yang tidak sengaja juga masuk ke dalam tenda sate Madura tersebut.


"Bang satenya satu" pesan orang tersebut saat ingin berbalik matanya tidak sengaja menangkap wajah Raka dengan seorang gadis yang memunggunginya.


Berjalan menghampiri Raka, laki-laki itu ingin melihat wajah gadis yang ada di hadapan temannya tersebut.


"Kaila?" Suara itu membuat Raka menarik tangannya dengan cepat menjauh dari pipi Kaila.


Keduanya menoleh ke arah sumber suara di mana Yuda yang tengah berdiri di ujung meja. "Yuda?, ngapain lo di sini?" ketus Kaila.


"Kenapa kamu bisa sama dia malam-malam begini?" tanya Yuda menunjuk wajah Raka.


"Penting buat lo?"

__ADS_1


"Ternyata selera lo rendah juga ya Kai setelah putus sama gue." menatap sinis wajah wanita itu sedangkan Raka memilih diam. "Gue pikir setelah lo putus sama gue lo bakal cari pasangan yang lebih dari gue, tapi..." menjeda ucapannya Yuda terkekeh dengan mengelengkan kepalanya.


"Kenapa gue harus cari yang lebih tampan dari lo kalo saja gue bisa cari yang lebih baik dari lo?!" ucapan penuh sindiran itu ia layangkan pada laki-laki itu.


"Apa?, lo ngatain dia baik?" tanya Yuda sebelum tawanya terdengar memenuhi tenda sate tersebut. "Baik dari mana?, gue pikir lo udah tau bagaimana sifatnya di sekolah tanpa gue kasih tau"


Rasanya laki-laki itu tiada bosannya membuat kesabarannya terus di uji, bangun dari duduknya Kaila mensejajarkan tubuhnya dengan Yuda. Melihat Kaila berdiri dengan sigap Raka memutari meja berjaga-jaga agar gadis itu tidak di sakiti oleh laki-laki yang ada di hadapannya.


"Lo tau seseorang pernah bilang sama gue" menjeda ucapannya Kaila menatap tajam kedua bola mata Yuda.


"Tidak semua orang yang di luarnya terlihat baik dalamnya akan baik juga dan jangan melihat orang dari sisi baiknya saja, karena orang baik sekalipun bisa menjadi pendosa!!" ucap gadis itu dengan lantang. Raka yang berdiri di sisi Kaila tertegun akan kata-kata itu ia tidak menyangka gadis itu masih mengingat kata-kata yang ia ucapkan beberapa saat lalu di kantin sekolah.


"Dan lo itu gak lebih dari barang kw! luarnya memang terlihat bagus dan sama kaya aslinya tapi dalamnya sangat tidak mencerminkan pada barang aslinya!"


"Jadi jangan pernah lo nilai Raka dengan sebelah mata lo!, kalo lo saja gak bisa ngaca dengan sifat bajingan lo dulu yang lebih buruk dari Raka!"


"Lo bela dia?!-"


"Iyah kenapa?!!" teriak Kaila memotong ucapan Yuda.


"Kalo lo ngatain gue bajingan, terus lo apa?. *****?"


PLAK....


Tangan Kaila mendarat sempurna di wajah Yuda dengan keras. "Jaga ucapan lo!"


Yuda memang pipinya yang terasa panas akibat pukulan yang di layangkan oleh Kaila ke pipinya. "Kenapa?, lo gak suka gue bilang kaya gitu?" Mendorong bahu gadis itu kebelakang membuat Kaila tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Melihat tubuh Kaila yang terdorong kebelakang membuat Yuda dengan sigap menangkap tubuh itu.


"Kai lo gak papa?" tanyanya khawatir.


Membantu Kaila berdiri seperti semula, Raka berdiri diantara keduanya. "Apa peringatan gue tadi di taman kurang jelas buat lo!" suara penuh amarah itu di layangkan oleh Raka untuk Yuda yang menatapnya remeh.


"Gue kasih tau sama lo!, mending lo gak usah ikut campur urusan gue sama Kaila karena lo itu cuma orang asing yang gak tau apa-apa!!"


"Apa yang gak gue tau dari lo hah?, bahkan gue tau semua kebusukan dari diri lo selama ini!"


"Tau apa lo!"


"Lo itu seorang laki-laki pengecut yang bisanya cuma nyakitin hati cawek, dan buat mereka jadi bahan permainan lo doang!!" satu kartu as milik Yuda di ucapkan dengan sangat jelas oleh Raka. Kaila yang mendengar itu merasa bingung dan tidak paham akan apa yang di ucapkan Raka.


Sedangkan Yuda mengepalkan tangannya dengan kuat saat Raka benar-benar tahu salah satu rahasia miliknya.


"Lo masih mau denger yang lainnya?" tantang Raka yang melihat Yuda hanya diam saja.


"Brengsek lo!!"


"Yuda Stop!!!" teriak Kaila menahan tangan Yuda yang sebentar lagi mendarat di wajah Raka. "Lo gak bisa se enaknya gitu aja!, memang dulu lo bisa ngelakuin apapun sama gue karena gue terlalu bodoh buat lihat kebusukan lo!, tapi sekarang jangan harap gue bakal diam aja lihat lo nyakitin gue apa lagi Raka!"


"Lo bela segitunya pria yang bukan siapa-siapa lo?. otak lo udah di cuci sama tuh laki-laki" Yuda tertawa dengan sangat keras membuat Kaila semakin mencengkram pergelangan tangan laki-laki itu.


Yuda yang merasa pergelangan tangannya di cengkraman semakin kuat oleh gadis itu menatap pergelangan tangannya tanpa sengaja matanya menatap jari manis Kaila yang tersemat seperti cincin pernikahan. Kaila yang melihat Yuda terdiam mengikuti arah pandang laki-laki itu mengarahkan pangannya ke jari tangannya Kaila dengan cepat melepaskan pergelangan tangan Yuda.


"Lo udah nikah?"


"Bukan urusan lo!, ayo Ka kita pergi" menarik tangan laki-laki itu Kaila berniat meninggalkan Yuda.

__ADS_1


Yuda yang melihat tangan Kaila meraih tangan Raka di buat semakin membulatkan matanya saat cincin yang sama juga tersemat di jari manis milik Raka. "Stop!" Yuda menghentikan langkah Kaila dan Raka.


Meraih masing-masing tangan Kaila dan Raka Yuda menajamkan penglihatannya memastikan apa yang ia lihat tidak salah. Kaila dan Raka hanya diam saja mengelak pun sudah tidak bisa saat Yuda sudah melihat cincin pernikahannya.


"Ka-kalian sudah menikah?"


"Udah gue bilang kalo ini bukan urusan lo!"


"Jawab Kai!"


"Iyah Raka suami sah gue!, puas lo!" jawab gadis itu dengan suara lantangnya.


Duar...


Ucapan Kaila membuat dua orang laki-laki itu tertegun dengan pikiran mereka masing-masing. Yuda yang tidak percaya akan itu mengelengkan kepalanya sedangkan Raka laki-laki itu membulatkan matanya karena kaget akan keberanian Kaila yang mengatakan hall tersebut.


"Dia? suami lo?" tanya Yuda yang masih tidak percaya.


"Iyah!, laki-laki yang ada di samping gue sekarang adalah suami sah gue! dan ayah dari anak yang ada di dalam perut gue!"


"Lo udah gila?, lo mau nikah sama cowok brengsek kaya dia?"


"Yang berengsek itu disini lo Yuda!, lo!"


"Mana ada ayah yang mau menghilangkan nyawa anaknya sendiri!, mana ada ayah yang egois hanya karena kepentingannya sendiri!"


"Tapi kenapa harus dia?!" ucapan penuh nada kecewa itu di ucapkan Yuda.


"Terus siapa yang mau tanggung jawab?, lo mau tanggung jawab anak yang ada di perut gue? gak kan!. Padahal jelas-jelas nih anak darah daging lo sendiri!"


Yuda langsung menutup mulutnya dengan rapat ia tidak menyangka Raka teman satu kelasnya mau menikahi Kaila yang jelas-jelas bukan mengandung darah dagingnya. "Gue bakal sebarin berita ini ke satu sekolah!"


Mendengar itu tubuh Kaila seketika terasa lemas tapi sekuat tenaga ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di hadapan Yuda yang ada laki-laki ini akan semakin semana-mena dengan dirinya. "Biar aib lo di ketahui sama satu sekolah dan itu membuat lo berdua di tendang dari sekolah!"


Kaila sudah tidak bisa berkata-kata seketika lidahnya terasa sangat kaku untuk mengucapkan satu kalimat saja, ingin rasanya ia menangis, berteriak, menghajar pria di hadapannya ini secara membabi buta tapi tubuhnya tidak sejalan dengan otaknya.


Mendengar itu Raka menarik kerah baju Yuda. "Kalo lo berani nyebarin berita ini, lo berurusan sama gue!"


"Memangnya lo siapa?. lo itu gak lebih dari anak ingusan Raka!"


"Gue gak main-main dengan ucapan gue Yuda!, gue bakal hancurin lo kalo lo berani nyebarin tuh berita!"


Yuda tertawa geli mendengar ancaman anak sd yang di layangkan Raka olehnya. "Tenang aja, gue gak bakal nyebarin nih berita sekarang tapi setidaknya suatu saat nanti kalian berdua harus siap menerima berita ini menjadi trending topik di sekolah" melepaskan cengkraman tangan Raka dari kerah bajunya Yuda membenarkan bajunya.


"Dan lo Kai, lo masih bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi gue gak yakin suatu saat nanti lo masih bisa tidur dengan nyenyak atau tidak" ucap Yuda penuh kemenangan. Karena jelas di sini Yuda menjadi pemenangnya karena ia sudah mengetahui hall ini dan tinggal cari bukti saja, tapi dengan Kaila? gadis itu tidak memiliki bukti apapun atas kebusukan laki-laki itu.


Setelah kepergian Yuda, Raka menatap wajah Kaila yang masih kaget. membawa gadis itu ke dalam pelukannya Raka meyakinkan dengan pelukan hangatnya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Jangan di dengerin Kai, tutup telinga dan hati lo untuk ucapan tadi"


"Bagaimana bisa Ka gue gak denger kata-kata itu kalo saja gue sudah di buat takut oleh ancaman itu"


Melepaskan pelukannya Raka menatap wajah Kaila. "Sekarang kita pulang ya, gak baik angin malam buat lo" Kaila hanya menganggukkan kepalanya lemah, mengikuti ucapan Raka gadis itu memilih pulang ke rumah.


****

__ADS_1


Jangan lupa untuk Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah ♥️🤗


__ADS_2