Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Khawatir


__ADS_3

Jam menunjukan pukul sepuluh malam dan hujan lebat masih turun dari langit membuat kaila terpaksa malam ini menginap di rumah Yuda, Riko yang menghubungi dirinya berulang kali tapi tidak ada satupun panggilan yang di angkat oleh Kaila karena hp nya yang ia taruh di dalam tas membuatnya tidak mendengar nada ponselnya.



Kaila yang membaca semua pesan yang di kirimkan Riko kepadanya menghela nafas pelan, ia sudah membuat kakak dan Bundanya khawatir dengan keadaannya tapi apa yang ia lakukan sekarang? jauh dari apa yang mereka lakukan kepada dirinya.


Kaila memiringkan tubuhnya ke samping untuk membalas pesan yang Riko kirimkan kepada-nya.



Saat tiga pesan itu terkirim Riko dengan cepat membaca pesan dari kaila tapi saat kaila melihat Riko tengah mengetik, kaila dengan cepat juga mengetik pesan terakhir ke Riko



Setelah mengirimkan pesan itu kaila dengan cepat mematikan data seluler hpnya, kaila meremas benda pipih yang ada di tangannya dengan kuat, bulir bening yang membendung di pelupuk matanya perlahan mulai jatuh.


Ia terpaksa berbohong kepada kakak dan Bundanya, ia tidak ingin kakak dan Bundanya sampai tau apa lagi


"Bagaimana kalo sampai mereka tahu?"


"Tidak, tidak ada yang boleh tau soal ini selain gue dan Yuda"


Setalah kejadian tadi Kaila mempunyai tekat tidak ada satupun orang yang boleh tau kejadian ini selain ia dan Yuda yang akan menyimpan rahasia ini dengan sangat rapat sampai tidak ada yang tau selain mereka dan tuhan.


"Kai" panggil Yuda yang tidur di sampingnya, setelah kejadian di ruang tengah tadi semilirnya angin semakin dingin membuat Yuda mengangkat tubuh kaila ke kamarnya, dan sekarang tubuh keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun hanya tertutup dengan selimut biru tua milik Yuda.


"Sayang" panggil Yuda sekali lagi kali ini tumbuhnya ia dekatkan dengan tubuh Kaila yang membelakanginya.


"Aku ngantuk Yud" ucap Kaila membenarkan posisi selimutnya yang sedikit turun.


"Kamu nangis?" kini Yuda menopang tubuhnya dengan siku tangannya untuk melihat wajah Kaila tapi dengan cepat Kaila menyembunyikan wajahnya. "Maaf Kai" lirih Yuda memeluk Kaila dari belakang membuat kulit tubuh mereka bersentuhan.


"Aku janji bakal untuk selalu ada buat kamu"

__ADS_1


"Aku ngantuk Yud, jangan ganggu aku" pinta Kaila sambil menyingkirkan tangan Yuda yang melingkar di pinggangnya.


Yuda hanya menghela nafas pelan saat Kaila menyingkirkan tangannya, Yuda mengusap rambut panjang kaila dan mengecup kepalanya sebelum ia tidur di samping Kaila.


"Malam Kai" ucap Yuda sebelum memejamkan matanya.


Sedangkan Kaila yang belum menutup matanya memilih menatap tirai putih yang menunjukan kaca kamar Yuda yang di basahi air hujan, sorot mata Kaila menatap tirai itu dengan harapan dirinya tidak akan sampai hamil.


****


"Kak Riko buka gerbangnya" Teriak kaila dari luar pagar dan mendapati pagar rumahnya masih di gembok dari dalam.


Kaila pulang dari rumah Yuda jam enam pagi dengan di antar Yuda, Yuda yang ingin mengantar Kaila sampai di depan rumahnya mendapat penolakan dari Kaila, awalnya Yuda masih keras kepala ingin mengantar Kaila sampai depan rumah tapi Kaila mengancam akan pulang naik ojek kalo sampai Yuda benar benar ingin mengantarkannya sampai depan rumah.


Akhirnya Yuda mengalah dan memilih mengantarkan Kaila sampai di pertigaan gang rumahnya, membuat kaila berjalan kaki untuk masuk ke dalam kompleks rumahnya dengan sedikit pincang.


"Bunda....bibik....buka gerbangnya" teriak kaila sekali lagi karena hawa hujan yang masih sangat dingin menusuk lembut kulit kulit tubuhnya.


"Berisik!" suara menyebalkan itu menyapa kaila dari arah pintu rumah, siapa lagi kalo bukan Riko, Riko berjalan ke arah gerbang dengan kaos dan celana kolor di atas lutut menampakan bulu bulu tebal di kakinya.


Kaila berdecak kesal "Ck... Kaila udah bilang tadi malam kalo Kai di rumah Rara"


"Terus lo pulang sama siapa?" tanya riko dengan tangan yang membuka gembok gerbang rumahnya membuat kaila langsung melangkah masuk saat pintu gerbang terbuka.


"Di antar Rara,tapi anak nya udah pulang" jawab Kaila bohong.


Riko menatap penuh curiga ke bola mata adik perempuannya itu, "Lo lagi gak bohong kan?" suara mengintrogasi itu membuat detak jantung kaila tidak karuan apa lagi tatapan Riko yang penuh selidik.


"Ng-ngapain Kaila bohong, orang itu kenyataannya" detak jantungnya mulai tidak karuan membuat ia berkata terbata bata, tapi sebisa mungkin ia tahan itu dengan meremas ujung bajunya.


"Buruan masuk siap siap bentar lagi kita jemput ayah di bandara" perintah Riko dengan mengerakan kepalanya mengarah ke pintu rumah, meminta Kaila agar segera masuk.


"Iyah" jawab kaila dengan malas.

__ADS_1


Riko yang ingin menutup pintu gerbang rumahnya mengurungkan niatnya saat melihat Kaila berjalan seperti orang pincang saat berjalan masuk ke dalam rumah, membuat Riko mengerutkan keningnya dalam.


Apa yang terjadi dengan adek nya?


Kenapa jalannya pincang gitu?


Matanya sembab lagi.


Pertanyaan itu berputar di otak Riko saat tubuh Kaila sudah masuk ke dalam rumah.


"Gak biasanya tu anak pulang dari rumah Rara kaya gitu" ucap Riko penuh curiga.


"Kakak..." Panggil Bunda dari dalam rumah yang tengah mencarinya.


"Iyah bunda" jawab Riko yang langsung menutup gerbangnya dan melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Bunda yang tengah mencari dirinya.


Sedangkan kaila melempar tas yang ia gunakan ke sembarang arah, merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur empuk miliknya dengan menatap langit langit kamar nya, entah apa yang sedang ia pikirkan, tidak ada satupun orang yang tau apa arti tatapan kosong itu.


Ceklek....


Suara pintu terbuka tapi Kaila tidak menyadari hall itu, masih di posisi yang sama ia masih menatap langit langit kamar seperti orang linglung.


Riko yang ingin memastikan bawah kaila sudah bersiap membuka pintu kamarnya dan terlihat adik perempuannya itu yang malah rebahan di atas kasur bukannya mandi.


Riko yang melihat Kaila tidak menyadari keberadaannya berjalan ke arah kamar mandi milik kaila, mengambil satu gayung air dan membawanya ke tempat di mana kaila tengah merebahkan tubuhnya.


"Kakak!" pekik Kaila saat Riko menyemburkan air di wajahnya. "Kak Riko usil banget sih jadi orang!" Kaila langsung bangun dari tidurnya menatap kesal wajah jelek kakaknya.


"Kakak tadi suruh kamu buat mandi bukan buat rebahan" Riko masih dengan keusilannya mencipratkan air yang ada di tangannya ke arah wajah Kaila.


"Iyah Iyah Kaila mandi!" Kaila meraih handuknya yang ada di pintu lemarinya.


"Awas aja habis ini kaila aduin sama Ayah" kaila langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi tidak lupa mengambil gayung yang ada di tangan usil Riko.

__ADS_1


"Tu anak beneran pincang?" ucap Riko pada dirinya sendiri menatap pintu kamar mandi.


__ADS_2