Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Balapan


__ADS_3

"Kalo gue menang nih balapan, gue minta lo jauh in Kaila dan serahin tuh Video!" ucap Raka yang ia inginkan.


Mendengar pria dihapannya begitu serakah Yuda tersenyum meremehkan. "Gue cuma minta sama lo buat izinin Kaila nemenin gue ketemu sama bokap nyokap gue, tapi kenapa lo minta dua permintaan?!"


"Karena semua yang menyangkut tentang Kaila itu juga urusan gue sekarang!" tegas Raka.


"Ok kalo itu yang lo mau, tapi kita balapan dua kali putaran!, di putaran pertama jika lo menang gue bakal serahin nih Video, dan di putaran yang kedua kalo lo masih tetap menang juga gue gk akan bawa Kaila ketemu sama bokap, nyokap gue!"


"Tapi kalo gue yang menang sama seperti tadi kalo lo gak berhak larang Kaila buat kencan sama gue!" lanjut Yuda menyodorkan tangan kanannya kearah Raka. "Deal?"


"Gue sebenernya gak mau buat Kaila jadi bahan taruhan kaya gini, gue gak mau bikin dia sakit hati saat tau gue nerima nih tantangan. Tapi gue juga gak mau Kaila di DO dari sekolah akibat kecerobohan yang gue lakuin"


"Deal?!" ucap Yuda sekali lagi saat Raka hanya diam saja.


"Gue minta maaf kai tapi gue bakal usaha menangin nih lomba buat lo"


Menerima uluran tangan Yuda, Raka menjabat tangan itu kuat. "Deal!"


Tersenyum misterius Yuda berjalan kearah motornya yang sudah siapkan di area balapan. Di saksikan oleh polisi yang menjadi saksi balapan tersebut di lakukan keduanya bersiap di posisi mereka masing-masing, Yuda dan Raka saling melayangkan tatapan tajam satu sama lain sebagai kode kalo keduanya harus menang.


"Lo harus siap kalah Raka!" ucap Yuda dengan bangga.


"Jangan mimpi terlalu tinggi untuk menang!" balas Raka tak kalah sinis.


Kembali fokus kedepan seorang wanita dengan paikan minim memegang kain di tangannya.


"Are you ready?!" tanya gadis itu dengan sedikit berteriak menatap kedua pembalap mereka yang mengangguk mantap. Menaikan kain ditangannya gadis tersebut mulai menghitung mundur.


"Tiga!"


"Dua!"


"Satu!"


Kedua motor tersebut melesat dengan sangat cepat setelah mendapatkan hitungan terakhir. Suara riuh sangat terasa dari teman Yuda dan Raka yang menyemangati teman mereka masing-masing.

__ADS_1


Keduanya saling salip menyalip mengejar satu sama lain untuk siapa cepat sampai di garis finis lebih dahulu, Raka yang melihat Yuda sangat lihai mengendarai motornya dengan begitu cepat menambah gas motornya Raka menyalip Yuda lebih awal.


Melihat Raka yang semakin menambah kecepatan motornya Yuda tak tinggal diam begitu saja membiarkan laki-laki itu menang, mensejajarkan motornya dengan badan motor Raka Yuda memepetkan motor tersebut ke pembatas jalan.


Merasa Yuda mulai melakukan kecurangan dengan ingin mencelakainya membuat Raka hampir kehilangan keseimbangan motornya.


"Lo bakalan kalah Raka!" teriak Yuda menambah kecepatan motornya saat garis finis sudah berada didepan mata.


"Gue gak boleh kalah!" menyusul Yuda yang hampir mendekati garis finis untuk putaran pertama Raka harus menerima kenyataan kalo Yuda menjadi pemenang nya.


"Huuuuuuu" teriak teman-teman Yuda begitu kencang melihat Yuda yang berhasil memenangkan balapan putaran pertama. "Hebat lo Yud!" ucap mereka secara bersamaan.


"Thanks bro!"


Beralih menatap wajah Raka yang merasa kecewa tak bisa memenangkan balapan pertama Yuda berteriak dengan nada sinis. "Udah gue bilang sama lo Raka, kalo gue yang bakal jadi pemenangnya!,jadi jangan mimpi kalo bisa menang lagi setelah ini!"


Mendengar hal tersebut Raka mengepalkan tangannya kuat, ia menang juga itu karena kecurangan pria brengsek tersebut dan tidak tau malunya Yuda merasa bangga akan kemenangan yang ia peroleh dengan cara hampir mencelakai nyawa orang lain.


"Lo-"


Meraih ponselnya Raka melihat nama Davit tertera pada layar ponselnya, segara mengangkat sambungan telfon Raka mendengar suara Davit yang gelisah dari sebrang sana.


"Tuan badan nona Kaila semakin panas, dan dia selalu memanggil nama anda"


"Bukannya tadi baik-baik saja?"


"Tidak berselang lama saat anda pergi tubuh nona Kaila mengelurkan keringat dingin, dan sampai sekarang nona Kaila tidak ingin membuka matanya"


"Aku ke sana sekarang"


Tak ingin Kaila sampai kenapa-kenapa Raka menatap wajah Yuda yang nampak masih terselimuti kebahagiaan. "Nih balapan di lanjut besok, gue ada urusan!" ucap Raka.


Melihat Raka bersiap untuk pergi Yuda turun dari atas motor menghampiri Raka yang masih berada di atas motornya. "Lo takut kalah?" dengan nada merendahkan Yuda menatap wajah Raka sinis.


"Gue gak bakal takut kalah sama siapapun termasuk lo!"

__ADS_1


"Bilang aja lo takut, kalo lo takut tinggal bilang aja di depan semua orang kalo lo mengakui kekalahan lo malam ini juga!"


Rahang Raka mengeras saat laki-laki itu selalu meremehkannya, "Ok, gue bakal selesain nih balapan sekarang juga!!"


***


Masuk kedalam rumah sakit dengan langkah lebar Raka menuju ruang inap Kaila, membuka pintu dengan gerakan cepat Raka dapat melihat wajah gadis itu yang semakin pucat.


Berjalan mendekat Raka meraih tangan Kaila mengenggam tangan yang terasa panas tersebut dengan lembut.


"Ka" panggil Kaila lirih dengan mata terpejam.


"Iyah Kai ini gue, gue udah di sini" jawab Raka lembut.


"Tolong gue Ka, disini dingin" ngigo Kaila yang merasa hawa ruangan tersebut begitu sangat dingin.


Menaikan selimut yang di gunakan Kaila sampai batas leher Raka terus mengusap rambut Kaila tanpa henti. "Udah gak dingin kan cantik?, sekarang bobok yang nyenyak ya, gue bakal disini jaga in lo dua puluh empat jam" kata Raka tercekit, dadanya terasa perih mendengar gadis itu terus berkata kedinginan pada tubuhnya.


Duduk di samping brankar mata pria itu tak lepas dari wajah pucat kaila, Raka merasa semakin kesini Kaila semakin tertekan dengan keadaan yang ia jalani, menyembuhkan orang yang memiliki rasa takut yang mulai tertanam pada diri mereka tidak mudah membalikan telapak tangan tapi siapa yang tega melihat orang yang mereka cintai mengalami trauma yang begitu besar.


"Anda sudah datang tuan" suara seseorang membuat tatapan mata Raka beralih menatap Davit yang baru datang.


"Anda dari mana saja?"


"Saya habis dari ruangan dokter tuan"


"Apa yang dia ucapkan mengenai keadaan Kaila?" tanya Raka belarih menatap Kaila yang mulai tidur tanpa mengingau seperti tadi.


"Dokter bilang sejauh ini keadaan nona Kaila baik-baik saja hanya panasnya yang tak kunjung turun, dan kalo sampai suhu badan nona Kaila tidak mengalami perubahan nona Kaila harus rawat inap lebih lama.


Raka bernafas lega, setidaknya panas pada tubuh gadis itu hanya panas biasa. Mengizinkan Davit pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya Raka berpesan untuk menjemputnya besok. Mengangguk paham Davit berjalan keluar dari ruang rawat inap.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2