
Plak...
Pukulan yang sangat karas mendarat di wajah Kaila membuat gadis itu tersungkur di atas lantai, Kaila memegangi pipinya yang terasa panas setelah mendapatkan tamparan yang di layangkan Deon padanya. Rina dan Riko hanya diam saja saat melihat Kaila mendapatkan pukulan dari Deon bukan tanpa alasan mereka hanya diam saja seperti itu.
Tadi pagi setelah memastikan suami dan anaknya berangkat Rina berjalan ke lantai dua ingin mengganti seprai di kamar Kaila di buat kaget saat mendapatkan tespek dengan garis dua tergeletak di lantai kamar putrinya awalnya Rina masih menyangkal bahwa itu bukan tespek milik putrinya tapi semua sangkalan itu tidak seperti yang ia inginkan saat Kaila mengaku jujur kalo dirinya tengah mengandung membuat hati Rina semakin hancur di buatnya saat putri yang selalu di jaganya dengan sangat baik telah hamil di luar nikah.
"Ayah sekolah kan kamu dari SD sampai SMA di sekolah favorit biar kamu pintar Kaila! biar kamu tau mana yang salah dan mana yang benar!"
"Bukan seperti ini! mau di taruh mana muka keluarga kita kalo orang di luar sana tau kamu hamil di luar nikah?!" Teriak Deon. Awalnya Deon kira tespek itu milik Rina tapi saat mendengar kalo sang istri mendapatkannya di kamar Kaila membuatnya juga berfikir negatif.
Kaila hanya diam tidak menjawab pertanyaan sang Ayah, gadis itu hanya menundukkan wajahnya dengan tangan yang masih memegang pipi yang masih terasa panas. Ia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini karena ini juga salahnya, salah terlalu menaruh harapan besar pada makhluk yang bernama manusia.
"Ma-maaf in Kaila yah" lirih Kaila di sertai isakan tangisnya.
"Apa kamu pikir dengan kata maaf anak yang ada di perut kamu itu bisa hilang?, Apa dengan kata maaf hati Bunda dan Ayah tidak sakit Kaila?" Deon menunjuk-nunjuk kepala Kaila dengan jari telunjuknya kasar.
"Ayah,Bunda bahkan Kakak kamu!, selalu jaga kamu dengan sangat-sangat hati-hati tapi dengan mudahnya kamu merusak semua kepercayaan kita!"
Deon mengusap wajahnya kasar hatinya juga tidak kalah sakit seperti Rina sebagai seorang Ayah dan cinta pertama bagi putrinya Deon tidak pernah membayangkan sedikit pun kalo putrinya akan hamil dengan cara seperti ini. Deon mengusap air matanya yang jatuh dengan cepat, di tariknya paksa tangan Kaila agar gadis itu bangun dari duduknya.
"Sekarang bilang sama ayah siapa ayah dari anak itu!"
Lagi-lagi Kaila hanya diam tidak menjawab pertanyaan Deon, apa mungkin ia mengatakan kalo ayah anak yang ia kandung saja tidak mengakui keberadaannya?. Kaila mengelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Deon hanya ini yang bisa ia lakukan saat ini.
"Kamu tidak tau Ayah dari anak itu?" Tanya Deon dengan suara frustasinya.
Kaila menganggukkan kepalanya membuat Rina yang mendengar itu kembali merasakan sesak yang teramat di dadanya, Riko yang melihat Rina memegangi dadanya membawa Rina ke dalam pelukannya tangisan wanita itu semakin pecah di dalam pelukan Riko.
Plak...
Deon lagi-lagi mendaratkan pukulan di wajah Kaila membuat Kaila kembali merasakan sakit dan perih di pipinya. "Bagaimana bisa kamu hamil tapi kamu sendiri tidak tau siapa ayahnya?!"
"Kaila minta maaf yah" hanya kata maaf sekarang yang bisa di ucapkan gadis itu.
Deon menaikan pandangan Kaila dengan tangan satunya lagi menunjuk Rina yang menangis pilu di dalam pelukan Riko. "Kamu lihat Kaila? kamu lihat! karena perbuatan kotor kamu Bunda yang sudah melahirkan kamu harus menangis karena ulah kamu!"
Air mata Kaila semakin deras hatinya sakit saat melihat semua orang mendapatkan dampak dari perbuatannya sendiri, kini kebenciannya dengan Yuda semakin menjadi membuat tangan Kaila terkepal di sisi tubuhnya.
Deon yang melihat Kaila hanya diam saja, mengeluarkan suaranya. "Kamu tidak tau siapa ayah dari janin kamu itu bukan?!" Kaila menggukan lemah menjawab ucapan Deon.
"Sekarang juga ayah akan bawa kamu ke klinik aborsi untuk mengugurkan kandungan kamu!"
Deg...
Semua orang yang mendengar itu terperanjat kaget terutama Kaila gadis itu mengelengkan kepalanya saat sang Ayah akan mengugurkan kandungannya. Saat dirinya berusaha mempertahankan anaknya tapi kenapa orang lain lagi-lagi memintanya mengugurkan kandungannya?.
"Gak yah Kaila gak mau" isak Kaila memilukan.
"Kalo kamu tidak mengugurkan janin tanpa ada ayahnya mau di anggap apa kamu sama orang-orang?, pikir Kaila!, pikir pakai otak kamu ini!" Deon tidak habis pikir dengan jalan putrinya yang bisa-bisa masih mempertahankan anak itu.
__ADS_1
"Saya ayah dari anak yang ada di dalam perut Kaila" suara itu membuat semua orang menatap wajah Raka yang baru saja masuk.
Kaila membalikan badannya melihat laki-laki yang tadi ia suruh pulang sekarang malah ada di hadapannya. Raka memang tadinya ingin pulang seperti perintah gadis itu tapi baru sampai gang rumah Kaila pria itu kembali mendatangi rumahnya saat perasaannya terhadap Kaila mulai tidak enak dan benar saja saat dirinya mengintip di jendela gadis itu tengah di perlakukan kasar oleh pria paruh baya yang Raka yakini itu adalah Ayah Kaila bahkan Raka bisa mendengar dengan jelas kalo pria itu akan mengugurkan kandungan Kaila membuat Raka langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
Raka menatap wajah Kaila membuat tatapan keduanya bertemu. Pakaian yang sudah basah kuyup karena kehujanan, rambut yang sangat-sangat berantakan, mata yang mulai bengkak karena terlalu banyak menangis,dan pipi lebam karena tamparan Deon membuat Raka menatap nanar gadis itu.
"Siapa kamu?!, lancang sekali anak ingusan seperti kamu masuk ke rumah saya!" suara Deon membuat Raka beralih menatap dirinya.
Raka menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Deon. "Maaf om kalo saya tidak sopan sebelumnya, tapi saya ke sini mau mempertangung jawabkan kesalahan saya" ucap Raka tanpa ada nada keraguan sedikitpun dari suaranya.
"Raka!"
"Dan anak yang ada di dalam kandungan Kaila itu adalah anak saya om" lanjut Raka tidak menghiraukan Kaila yang tengah menegurnya.
Mendengar itu Deon berjalan ke arah Raka, berhenti tepat di depan laki-laki itu Deon melayangkan tamparan di wajah tampan milik Raka. Kaila menutup mulutnya saat Deon menampar laki-laki itu dengan keras membuat sudut bibir Raka mengeluarkan darah.
"Apa sebelum kamu melakukannya kamu tidak memikirkan bagaimana kedepannya?, apa kamu tidak memikirkan resikonya?!!" Deon yang tersurut amarah membuatnya kembali ingin melayangkan bogem mentah pada wajah Raka beruntung Riko mencegahnya.
"Ayah, tahan emosi Ayah Riko tidak mau penyakit jantung Ayah kambuh lagi" ucap Riko berusaha menangkan Deon yang masih memancarkan amarahnya dari kedua bola matanya.
Deon mengatur nafasnya saat dadanya juga mulai terasa sakit dan ia tidak ingin membuat Rina semakin merasakan sedih.
"Saya terima apapun konsekuensinya om, asal jangan gugurkan janin yang tidak bersalah itu karena dia berhak hidup di dunia ini" Kata Raka menatap wajah Deon yang masih menatapnya tajam.
Sesaat keheningan menyapa semua orang yang ada di dalam rumah itu menunggu keputusan apa yang akan di ambil Deon saat ini. "Kalian harus menikah!" suara Deon terdengar bagaikan sambaran petir di telinga Kaila.
"Saya setuju" ucap Raka.
"Kaila gak setuju yah!" ralat Kaila dengan cepat membuat semua mata beralih pada gadis itu.
"Kaila gak mau menikah sama dia yah, Kaila gak mau! hiks...hiks..."ucap Kaila frustasi dengan tangan menunjuk wajah Raka bersamaan dengan air mata yang kembali berjatuhan di kedua pipinya.
Deon yang geram dengan ucapan Kaila kembali ingin melayangkan tamparan di wajah putrinya itu kalo saja Raka tidak dengan cepat berdiri di hadapan keduanya membuat tangan Deon berhenti di udara.
"Saya mohon om jangan sakitin Kaila lagi" ucap Raka yang tak tega melihat Kaila kembali merasakan sakit di wajahnya.
Kaila yang tadinya menutup matanya saat tangan Deon kembali melayang, perlahan gadis itu membuka matanya menatap punggung kekar Raka yang sudah berdiri di hadapannya menjadikan dirinya benteng agar gadis di belakangnya tidak kembali tersakiti.
"Kalo om mau marah atau pun mau pukul, pukul saya saja om jangan Kaila" lanjut Raka dan itu membuat Kaila menatap tak percaya laki-laki yang berdiri di hadapannya. Laki-laki yang terkenal akan kenakalannya di sekolah sekarang malah dengan baik hati melindungi dirinya bahkan pria itu rela menjadi ayah dari janinnya yang jelas-jelas itu bukan darah dagingnya sendiri. Sekarang kaila baru percaya dengan ucapan laki-laki di hadapannya ini beberapa waktu lalu bahwa yang terlihat baik di luar belum tentu akan baik juga dalamnya.
Deon menurunkan tangannya marah-marah pun percuma sekarang yang tidak bisa merubah keadaan yang sudah terlanjur terjadi. "Suruh orang tua kamu ke sini besok untuk melakukan ijab kabul!" ucap Deon dan Raka hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekarang keluar dari rumah saya!" usir Deon menunjuk pintu rumahnya yang terbuka.
"Tapi jangan sakiti Kaila om" ucap Raka yang masih takut Kaila kembali akan merasakan sakit di tubuhnya setelah dirinya pergi dari sini.
"Keluar!!" Deon tak menjawab ucapan Raka dan menyuruh laki-laki itu agar segara keluar dari dalam rumahnya.
Raka menghela nafas pelan, membalikan badannya ia menatap wajah Kaila yang sudah sangat berantakan, di usapnya pelan wajah Kaila dengan menyingkir anak rambut di wajahnya Raka tersenyum kecut ke arah gadis itu. "Gue minta maaf Kai" lirih Raka dan itu membuat dada Kaila terasa sangat sesak.
__ADS_1
Raka perlahan berjalan keluar dari dalam rumah Deon seperti permintaan pria paruh baya itu. Di susul Riko yang juga berjalan keluar dari dalam rumah secara diam-diam.
"Masuk kamar!" perintah Deon dengan menunjuk anak tangga.
"Tapi yah Kaila gak mau menikah" masih dengan pendiriannya Kaila masih tidak ingin menikah secepat ini.
"Ayah bilang masuk Kaila! dan jangan keluar dari dalam kamar kalo ayah tidak menyuruh mu keluar!" bentak Deon membuat Kaila menundukan wajahnya.
Dengan berlari Kaila menaiki anak tangga masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu kamarnya dari dalam membuat gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas lantai menayandarkan tubuhnya di pintu kamar Kaila memukul-mukul pahanya dengan kuat.
"Kenapa harus aku tuhan?" isak Kaila.
***
Di taman pinggir kota yang terlihat sepi karena hujan yang baru saja reda membuat beberapa orang engan keluar rumah dan memilih tetap berada di dalam rumah saat hawa dingin masih menyelimuti.
Tapi tidak dengan seorang taki-laki yang tengah mendudukan tubuhnya di salah satu bangku taman menunggu kedatangan seseorang yang mengajaknya ketemuan beberapa saat lalu. Raka bangun dari duduknya dengan masukan tangan di kedua saku celananya baru saja Raka ingin melangkah seorang dari arah belakang menarik pundaknya membuat Raka membalikan badannya dan langsung mendapatkan pukulan oleh seseorang yang baru saja datang.
"Dasar bajingan! apa salah adek gue sampai lo hamil in dia?" raung Riko yang baru saja datang dan langsung mendaratkan bogem mentahnya tepat di wajah Raka.
Raka menegakan kembali badannya yang sempat oleng ke samping, di usapnya sudut bibir yang mengeluarkan cairan berwarna merah itu.
Riko menarik baju yang di gunakan Raka dengan kuat. "Adek gue masih kecil dan lo udah bikin dia hamil? apa gak ada wanita lain di luar sana yang bisa lo pilih, hah?, kenapa harus Kaila?, kenapa harus adek gue satu-satunya?!"
"Kaila masih mempunyai masa depan yang panjang dan hanya karena nafsu sesaat lo!, lo udah buat semua yang dia inginkan dari kecil hancur berantakan!!" sambung Riko dan mendorong tubuh Raka kebelakang membuat laki-laki itu sebisa mungkin menahan tubuhnya agar tidak terjatuh di atas tanah.
Walau Riko sering bertengkar dengan Kaila tidak bisa di pungkiri hati Riko sebagi seorang kakak terasa sangat sakit saat mendapati dirinya sudah sangat gagal menjaga adek perempuan satu-satunya sehingga bisa di permainkan oleh laki-laki bajingan di hadapannya ini.
"Gue bakal pasti in kalo kaila masih bisa mencapai apapun yang ia inginkan nanti!" kata Raka dengan yakin dan itu membuat Riko tersenyuman meremehkan.
"Anak ingusan kaya lo bisa lakuin apa?"
"Gue bakal lakuin apapun untuk Kaila dan membuat gadis itu kembali ceria!" tegas Raka.
"Bacot lo!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Riko memukuli wajah Raka bertubi-tubi membuat Raka tersungkur di tanah taman. Bukannya tidak bisa melawan pukulan yang Riko berikan hanya saja Raka tidak ingin kalo sampai ia berontak maka Kaila lah yang akan mendapatkan imbasnya dan ia tidak ingin itu sampai terjadi.
Riko menghentikan pukulannya saat Raka sudah terlihat lemah di tariknya kuat baju itu, menatap wajah Raka tajam. "Nikahin adek gue besok!, dan setelah anak itu lahir cerai in adek gue!, karena gue gak rela adek gue hidup seumur hidup dengan pria bajingan kaya lo!"
Riko mendorong tubuh Raka ke belakang dan langsung berjalan meninggalkan Raka di taman itu seorang diri. Raka berusaha bangkit dari duduknya dengan memegang dadanya yang terasa sakit akibat pukulan yang Riko berikan.
"Walau lo gak cinta sama gue Kaila, gue janji bakal lakuin apapun untuk lo terutama bikin lo kembali bahagia seperti sebelumnya dengan cara gue sendiri!" janji Raka pada malam hari itu di saksikan langit yang kembali mendung.
__ADS_1