Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Rumah Raka


__ADS_3

Kaila menarik koper miliknya keluar dari dalam rumah menghampiri Raka dan Andrian yang sudah lebih dulu berada di halaman rumah. Setalah ijab kabul beberapa saat lalu usai dan semua orang sudah pergi meninggalkan rumah Deon menyisakan Raka, Andrian dan keluarga Kaila yang ada di sana Raka mengutarakan niatnya yang ingin membawa Kaila tinggal di rumah orang tuanya. Awalnya Kaila menolak keras ajakan laki-laki itu, ia tidak ingin pergi dari rumah yang sudah ia tempati sedari kecil dan ia juga tidak mau jauh dari kedua orang tuannya. Tapi karena Deon dan Rina menyetujuinya ia memerintahkan Kaila agar ikut apa yang di ucapkan Raka yang sudah sah menjadi suaminya.


Kaila menghentikan langkahnya di samping mobil milik Andrian membiarkan Raka memasukan koper miliknya ke dalam bagasi. Kaila meraih tangan Rina yang berdiri tidak jauh darinya. "Bunda, Kaila gak mau pisah sama Bunda"


Rina tersenyum getir mendengar itu, di dalam lubuk hatinya ia juga tidak bisa jauh dari Kaila, putri yang sudah ia rawat sejak kecil dan sekarang harus hidup pisah dari dirinya. "Kamu masih bisa main ke sini kapan pun yang kamu mau, karena rumah ini masih rumah kamu sayang" Rina mengusap rambut Kaila lembut.


Air mata Kaila terus berjatuhan sedari tadi, di peluknya tubuh Rina dengan kuat. "Kaila minta maaf kalo udah mengecewain Bunda"


Rina hanya bisa mengusap punggung sang anak tanpa menjawab ucapan Kaila rasanya dadanya masih begitu sesak saat mengingat akan hall itu.


Melepaskan pelukannya Kaila beralih menatap Deon yang membuang pandangannya ke arah lain. Di raihnya tangan kekar sang Ayah, Kaila mencium pungung tangan itu dengan lumayan lama bahkan beberapa air mata jatuh di punggung tangan itu.


"Kaila minta maaf yah, udah bikin kepercayaan yang ayah kasih ke Kaila hancur dalam sekejap mata" melepaskan ciuman dari pungung tangan itu kaila menatap wajah Deon yang menahan kesedihan yang teramat. "Kaila pamit yah. Kaila sayang ayah sampai kapanpun itu" senyuman getir tersemat di bibir Kaila.


Beralih menatap wajah Riko pria itu mengacak-acak rambutnya membuat Kaila terkekeh kecil. "Jaga diri baik-baik di sana, jangan banyak begadang dan jangan telat makan ingat lo punya mag dan gue gak mau adek gue yang jelek ini sakit" Riko langsung memeluk tubuh Kaila, Kaila membalas pelukan sang kakak dan menganggukan kepalanya.


Melepaskan pelukan sang kakak Kaila berjalan ke arah mobil dimana Raka sudah membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Kaila. Kaila membalikan badannya menatap wajah Deon yang masih memandang arah lain, ingin rasanya Kaila memeluk sang Ayah saat ini sebagai ucapan perpisahan tapi ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan hall itu.


"Sayang" Kaila yang tadinya hendak melangkah masuk ke dalam mobil Andrian membalikan badannya menatap sang pemilik suara yang memanggilanya. Senyuman Kaila melebar saat melihat Deon melebarkan tangannya meminta Kaila agar masuk ke dalam pelukannya.


Dengan sedikit berlari Kaila berjalan ke arah Deon memeluk tubuh kekar itu kuat dengan isakan yang semakin jelas. Deon mengusap rambut sang putri dengan lembut, mengecupnya lumayan lama.


"Kaila sayang Ayah, hiks...hiks..."


Deon menganggukan kepalanya mendengar itu. "Ayah juga sayang sama Kaila, sayang banget" Deon melepaskan pelukannya menangkup wajah Kaila menggunakan kedua tangannya menghapus air mata yang bercucuran di kedua pipi putih Kaila. "Janji sama ayah setelah ini kamu tidak akan bikin kesalahan lagi"


"Kaila janji yah, Kaila janji bakal jadi anak yang baik"


"Dan patuh apa pun kata suami mu sayang, karena surgamu sekarang ada pada dirinya" lanjut Deon.


"Iyah yah"


"Sekarang ikut suami mu" melepaskan tangannya dari kedua pipi Kaila membiarkan putrinya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Kaila segara masuk ke dalam mobil, melambaikan tangannya ke arah semua orang. Setalah mobil Andrian sudah jauh dari rumahnya, Kaila menutup kaca mobil.


Di sepanjang perjalanan Kaila menatap keluar jendela tidak berminat membuka suara apa lagi menatap ke depan. Pikirannya menerawang jauh kedepan tentang apa yang akan terjadi setelah ini, apa ia akan putus sekolah?, apa impiannya menjadi seorang Disainer akan lenyap begitu saja?, di gantikan dengan profesi menjadi seorang istri dan seorang mama yang memiliki seribu satu profesi yang akan Kaila kerjakan nanti?.


Tanpa Kaila sadari mobil yang membawanya sudah berhenti di depan rumah yang lumayan besar dengan taman bunga yang ada di halamannya.


"Kaila" panggil Raka menyentuh punggung tangan Kaila membuatnya tadar dari lamunan sesaatnya. "Kita udah sampai" lanjut Raka yang lebih dulu turun untuk menurunkan barang bawaan Kaila yang ada di dalam bagasi.


Turun dari dalam mobil kaila menatap rumah milik Raka yang terlihat mewah dengan taman bunga yang sangat terawat dengan baik apa lagi di tengah taman ada kolam ikan hias yang menambah kecantikan rumah itu.


"Kalo gitu om langsung ke kantor dulu" Raka menganggukan kepalanya mencium punggung tangan Andrian di ikuti Kaila.


Mobil Andrian meninggalkan halaman rumah Raka. "Yuk masuk" ajak Raka dengan menarik kedua koper milik kaila di masing-masing tangannya. Mengikuti langkah kaki laki-laki yang ada di hadapannya Kaila masuk ke dalam rumah yang akan ia tempati.


Rumah yang sangat luas dengan arsitektur yang sangat elegan membuat rumah itu terlihat sangat mewah. Kaila menatap setiap sudut rumah yang tertata dengan sangat rapi tapi juga terlihat sangat sepi.


Raka melangkahkan kakinya ke lantai dua dengan membawa koper milik Kaila. Tanpa banyak bertanya Kaila juga mengikuti langkah kaki laki-laki itu yang mengarah ke lantai dua. Membuka salah satu pintu kamar ia membawa masuk barang bawaan Kaila.


"Ini kamar lo" ucap Raka saat Kaila masih menatap setiap sudut ruangan kamarnya.


Raka yang sudah menduga pertanyaan itu akan di layangkan Kaila menghela nafas pelan sebelum mengelengkan kepalanya. "Kita memang sudah menikah, tapi gue gak bakal maksa lo tinggal satu kamar sama gue karena gue gak mau lo gak nyaman tinggal di sini"


Kaila yang awalnya was-was akan hall itu bisa bernafas lega saat Raka paham apa yang ia mau.


"Kamar gue di samping kamar lo, kalo lo butuh apa-apa lo bisa panggil gue" lanjut Raka. Kaila menganggukan kepalanya paham.


Melangkah keluar kamar Raka meninggalkan Kaila yang masih berdiri di tempatnya. Saat Raka akan berbelok ke kamarnya kaila terlebih dahulu memanggilnya.


"Raka" laki-laki itu menoleh menatap wajah Kaila yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya.


"Iyah"


Kaila meremas ujung bajunya malu. "Gue laper, kalo boleh gue mau makan" pinta Kaila dan itu membuat Raka terkekeh ia pikir gadis itu memanggilnya karena ada hall yang penting.

__ADS_1


"Lo duluan ke dapur, gue mau ganti baju dulu nanti gue nyusul" kata Raka. Kaila menganggukkan kepalanya melangkah menuruni anak tangga dirinya memilih menunggu Raka yang tengah berganti pakaian dengan melihat-lihat isi rumah Raka.


Rumah yang sedikit menyeramkan bagi Kaila, tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali Kaila dan Raka membuat rumah itu terlihat sangat sunyi. Bahkan foto kedua orang tua Raka dan foto Raka sendiri tidak ada yang di pajang di lantai satu yang ada hanya gambar abstrak yang ada di beberapa didinding rumah Raka.


"Jadi Raka selama ini tinggal sendiri?"


"Terus biaya hidupnya dari mana?" guman Kaila saat banyak pertanyaan yang muncul dari benaknya mengenai laki-laki itu.


Kaila melangkah ke sebuah rak ingin memegang sebuah vas kaca yang terlihat unik baginya belum sampai tangannya meraih vas tersebut tiba-tiba saja sebuah tangan kekar memegang pundaknya membuat Kaila refleks membalikan badannya.


"Raka!" Kaila mengusap dadanya saat jantungnya berdetak tidak karuan karena di buat kaget oleh Raka.


"Lo ngapain bisa sampai di sini?"


"Em, em" Kaila bingung harus menjawab pertanyaan laki-laki yang baru saja memergoki dirinya.


Raka yang melihat Kaila gelagapan menjawab pertanyaannya memilih menganti topik pembicaraan. "Ayo, katanya lo lapar gak baik kalo di tahan" Raka berjalan terlebih dahulu meninggalkan Kaila yang masih mematung di tempat.


Sebelum Raka mulai memasak ia menyuruh Kaila menunggu saja di meja makan. Kaila menurut saja apa yang Raka suruh, duduk di kursi meja makan Kaila memijat keningnya yang terasa sangat sedikit pusing karena tadi malam ia tidak tidur dengan cukup dan alhasil kepalanya berdenyut, menaruh kepalanya di atas meja makan perlahan Kaila memejamkan matanya.


Raka berjalan ke arah meja makan dengan satu piring nasi goreng dengan satu gelas jus alpukat di tangannya. Raka sedikit di buat kaget saat mendapati Kaila malah tertidur, meletakan perlahan piring dan gelas di meja makan Raka mengamati wajah Kaila yang terlihat sangat lelah apa lagi lingkaran hitam tergambar dengan jelas di wajah cantik itu.


"Kaila" panggil Raka pelan dan menepuk lengan Kaila lembut.


"Emm"


"Kai, bangun dulu katanya lapar" lanjut Raka saat Kaila hanya bergumam dan tidak terusik sedikit pun.


Menghela nafas pelan Raka beralih merapikan anak rambut yang perlahan mulai berjatuhan di wajah Kaila, laki-laki itu sangat kasian dengan Kaila seorang gadis yang baik dan berprestasi di sekolah harus mendapatkan akibat buruk dari kekasihnya sendiri.


Raka yang menunggu beberapa saat di meja makan siapa tau gadis itu membuka matanya di buat mengelengkan kepalanya saat Kaila yang sudah benar-benar masuk ke alam mimpi membuat Raka perlahan mengendong tubuh Kaila agar gadis itu tidak terganggu. Membawanya ke lantai dua Raka menaruh tubuh Kaila di atas kasur dengan sangat hati-hati seakan-akan Kaila adalah benda yang sangat rawan dan harus ia jaga dengan baik agar tidak ada lecet sedikitpun. Menarik selimut, Raka menutupi tubuh Kaila sampai batas dada, mengusap pelan bahu gadis itu dan tersenyum baru Raka berjalan keluar dari kamar Kaila membiarkan gadis itu mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang pasti terasa sangat lelah.


***

__ADS_1


Jangan lupa like,komen,vote,beri hadiah untuk cerita ini🤗.


Pastikan kalian juga udah ninggalin jejak sejak episode pertama😘.


__ADS_2