
Mobil Yuda terparkir tepat di sebuah halaman rumah yang lumayan luas, Yuda keluar terlebih dahulu dari dalam mobil dengan payung lipat yang ada di dalam mobilnya, melangkah memutari mobilnya ia membukakan pintu mobil untuk Kaila dan berlari kecil ke teras rumah.
Kaila mengibas ngibaskan bajunya yang sedikit kena air hujan, menunggu Yuda yang tengah membuka pintu rumahnya, Kaila melangkahkan masuk ke dalam rumah Yuda yang sudah tidak ia datangi semenjak kedua orang tua Yuda memutuskan untuk keluar negeri, dan Kaila juga tidak punya waktu akhir akhir ini karena tugas sekolah yang tidak ada habisnya.
Kaila melangkahkan kakinya sampai di ruang tengah, tidak ada yang berubah bagi saat melangkahkan kakinya semua barang, dan letak sofa pun masih sama saat terakhir kali ia datang ke sini.
"Sebentar aku bikinin minuman kesukaan kamu dulu" ucap Yuda mengusap pucuk kepala Kaila dan melangkah menuju dapur rumahnya.
Setelah kepergian Yuda, Kaila tertarik dengan beberapa bingkai foto yang tersusun di atas nakas yang tidak jauh dari ruang keluarga, beberapa foto terpajang di sana dari foto Yuda bersama kedua orang tuanya sampai foto Yuda yang masih kecil yang di belakangnya ada patung singa yang mengeluarkan air dari dalam mulutnya.
Mata kaila melihat satu bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto yang sudah usang, di raihnya bingkai foto tersebut dan ternyata itu foto Yuda yang masih bayi, terlihat sangat menggemaskan yang tengah di gendong dengan wanita paruh baya yang dapat Kaila tebak pasti itu nenek Yuda.
"Kecilnya aja udah lucu kaya gini, pantas saja besarnya ganteng banget" Ucap kaila pada dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang mengusap wajah Yuda yang masih kecil. "Apa nanti anak kita akan selucu kamu?" Kaila terkekeh pikirannya terlalu jauh untuk membayangkan punya anak dengan Yuda, padahal dirinya dan Yuda saja belum lulus bangku SMA.
"Kai" suara itu membuat kaila menaruh bingkai foto yang ada di tangannya kembali ke tempatnya, membalikan badannya dan terlihat Yuda dengan dua cangkir coklat panas di tangannya. "Aku cari in ternyata kamu di sini"
"Coklat panas" Yuda menyodorkan segelas coklat panas yang baru saja ia bikin ke pada kaila.
"Makasih" Kaila menerima secangkir coklat panas itu dari tangan Yuda, meniup ujung cairan berwarna coklat itu sebelum ia menyeruputnya.
"Kamu di rumah sendiri an?" tanya Kaila setelah menyeruput coklat panas miliknya, dan melihat keadaan rumah Yuda yang terlihat seperti seperti tidak ada orang di rumah itu selain mereka berdua.
"Iyah, bibik izin pulang untuk tiga hari kedepan karena anaknya di kampung sedang sakit" Jawan Yuda melangkahkan kakinya menuju sofa ruang tengah yang di ekori Kaila di belakangnya.
"Kamu gak takut di rumah sendiri?" tanya kaila saat keduanya sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Ngapain harus takut? aku udah terbiasanya dari kecil di tinggal sendirian" jawab Yuda, karena itu kenyataannya sejak ia duduk di bangku SMP kls tuju ia sudah sering di tinggal kedua orang tuanya untuk bolak balik dalam dan luar negeri.
Kaila mengangguk paham, walau kaila sering di tinggal oleh Ayah dan Bundanya setidaknya masih ada kakak Riko yang super nyebelin untuk menemani dirinya kalo Ayah dan Bunda ada seminar di luar kota.
__ADS_1
"Mau nonton?" Yuda memecahkan keheningan yang terjadi di keduanya, menaruh secangkir coklat panas miliknya di atas meja di depannya.
"Nonton apa?" tanya Kaila penasaran dan ikut menaruh secangkir coklat panas miliknya di atas meja seperti yang Yuda lakukan.
"Gimana kalo kita lanjutin filem yang kita tonton saat di taman belakang sekolah?" tawaran filem yang Yuda tawarkan kepadanya membuat mendapatkan cubitan dari kaila yang mendarat sempurna di pinggang kekasihnya itu membuat Yuda meringis kesakitan.
"Gak usah aneh aneh deh Yud!, kalo ada yang lihat gimana?"
"Siapa yang mau lihat? kita di rumah hanya berdua tidak akan ada yang tau" ucap Yuda menyalakan televisi di hadapannya dan menyambungkan ponselnya dengan televisi menggunakan Charger hp miliknya.
Mata Kaila membulat saat Video dari hp Yuda berputar di layar televisi di hadapannya. "Yuda, jangan aneh aneh deh, mati in" Kaila ingin mematikan layar televisi di hadapannya tapi dengan cepat Yuda membawa Kaila ke dalam pelukannya.
"Satu kali aja Kai, lagian gak ada yang bakal lihat" ujar Yuda memeluk Kaila dari samping, mengunci tubuh kekasihnya itu.
Tubuh mungil Kaila yang di kunci oleh kekasihnya membuatnya tidak bisa bergerak apa lagi untuk mematikan layar televisi di hadapannya yang mulai memutar video itu.
Kaila yang tidak ingin melihat filem itu membuang pandangannya ke arah lain, berbeda dengan Yuda yang melihat setiap adegannya dengan sangat tenang sambil memeluk kaila yang berada di dalam pelukannya. Yuda yang tau kalo Kaila membuang pandannya membiarkan kekasihnya itu sambil mengusap rambut Kaila yang di kucir kuda.
Satu ******* yang cukup keras dari arah televisi membuat rasa penasaran Kaila meronta ronta pasalnya dari tadi ia sudah mendengar suara desah ******* itu dan berusaha untuk tidak menghiraukannya, tapi kali ini suara ******* yang di ciptakan pemeran wanita lumayan keras membuat Kaila melirik sekilas apa yang tengah terjadi.
Kaila yang melihat adegan hot tengah berlangsung tanpa sadar meremas baju yang Yuda kenakan, Yuda yang bisa merasakan itu membiarkan Kaila melakukan apa yang ia inginkan dengan posisi Yuda yang masih sama seakan akan ia tidak mengetahuinya.
Perlahan tapi pasti tubuh kaila yang tadi tegang karena filem yang baru di putar, perlahan sudah bisa beradaptasi dengan filem yang ia tonton.
Yuda yang melihat kalo Kaila sudah bisa menerima setiap adegannya, perlahan m menundukkan wajahnya mendekatkannya dengan bibir basah merah merekah milik kaila mengikis jarak yang ada di antara keduanya, Kaila yang melihat wajah Yuda yang semakin mendekat ke arahnya hanya diam tanpa ingin menghindar.
Deru nafas Yuda menghembus di wajahnya refleks Kaila memejamkan matanya Yuda yang melihat Kaila memejamkan matanya menyunggingkan senyumannya saat Kaila menerima dirinya, Yuda yang tidak ingin kehilangan kesempatan emas mendaratkan bibirnya tepat di bibir merah milik Kaila.
Kaila yang merasakan bibir milik Yuda mendarat tepat di bibirnya membuat dirinya dengan refleks mengenggam jari jemari Yuda dengan begitu kuat saat bibir Yuda mulai mengecup, menghisap, dan lidahnya yang mulai menerobos masuk ke dalam bibirnya untuk menjelajahi isinya.
__ADS_1
Tubuh kaila yang tadinya masih terasa kaku perlahan tubuhnya sudah bisa menerima kehadiran tubuh Yuda, Yuda yang merasakan ciumannya tidak sekaku tadi dan Laila yang menikmatinya perlahan membuat tubuh Kaila tertidur di atas sofa dengan dirinya yang berada di atas tubuh Kaila dengan tautan bibir yang tidak terpelaskan. tangan Yuda yang tidak bisa diam mulai menjalar ke mana mana dari menyusuri leher mulus milik kaila sampai tangannya berhenti tepat di buah dada milik kaila.
Kaila yang merasakan itu dengan cepat melepaskan tautan bibir mereka. "Jangan Yud" pinta Kaila dengan tangan memegang tangan Yuda yang ingin meraba buah dadanya.
"Kenapa?" tanya Yuda meminta penjelasan.
"A-aku belum siap" jawab Kaila jujur. "La-lagian kita juga belum nikah"
"Kita udah jalin hubungan hampir dua tahun lamanya, apa kamu masih tidak percaya dengan aku?" manik mata Yuda yang begitu indah membuat otak Kaila yang tadinya masih bisa berfikir dengan jernih mulai buyar.
"Aku sayang sama kamu Kai, dan aku ingin bukti in itu sama kamu" lanjut Yuda dengan tangan yang juga ingin melanjutkan penjelajahan tapi dengan cepat tangan kaila lagi lagi menahan tangannya.
"Kamu sayangkan sama aku?" pertanyaan itu di tujukan kepada Kaila saat gadis nya itu mencegah tangannya lagi.
"Aku sayang sama kamu" jawab kaila dengan yakin "tapi aku takut sampai aku hamil di luar nikah" ketakutan itu juga yang membuat keyakinannya bimbang.
Walau keluarganya mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan Yuda tapi keluarganya juga sudah mewanti wanti agar dirinya berpacaran dengan batas yang masih wajar, tapi sekarang dirinya terjebak dalam salah satu situasi yang amat sulit antara cinta dan nama baik keluarganya.
"Yud...aku takut" ucap kaila sekali lagi saat rasa takut yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Yuda membelai wajah kaila yang berada di bawahnya dengan tersenyum sangat manis seperti yang sering ia tunjukan kepada Kaila. "Tenang sayang tidak akan sampai jadi, percaya sama aku" ucap Yuda dengan yakinnya, toh kalo berhubungan sekali gak mungkin sampai jadi pikirnya.
"Tapi Yud, kalo sampai aku hamil gimana?" tanya Kaila yang masih merasakan keraguan dari ucapan kekasihnya.
"Aku bakal tanggung jawab" kata Yuda meyakinkan Kaila yang berada di bawah kungkungannya kalo dia akan tanggung jawab sampai Kaila beneran hamil. "Dan saat itu juga aku akan datang ke rumah kamu sama orang tua ku untuk menikahi mu"
"Kamu janji?" kaila menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Yuda.
"Janji sayang" Yuda menautkan kelingkingnya di kelingking Kaila dengan mengecup kening Kaila lumayan lama.
__ADS_1
Jeritan kaila yang terdengar begitu melengking di ruang tengah saat Yuda memaksa dirinya untuk menerobos selaput selaput tipis milik Kaila, beruntung suasana yang tegang hujan lebat di luar sana membuat suara kaila hanya terdengar di rumah Yuda.
Ucapan Yuda yang meyakinkan dirinya akan tanggung jawab kalo sampai dirinya hamil membuat Kaila malam itu dengan yakin memberikan apa yang berharga di dirinya untuk laki laki yang berseratus kekasihnya, dengan harapan Yuda akan menepati janji yang ucapkan kepadanya.