Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Masa Depan Yang Seketika Hancur


__ADS_3

Di dalam kamar hampir lima kali Kaila menghela nafas panjang entah apa yang sedang di pikirkan gadis itu tapi kini perasannya mulai tidak karuan sejak tadi malam hatinya juga mulai gelisah tapi Kaila juga tidak tau apa yang membuat dirinya sampai bisa merasakan kegelisahan yang luar biasa seperti ini.


Saat Kaila ingin mengenakan sepatunya mata gadis itu menatap lemari untuk waktu yang lumayan lama sesaat kemudian Kaila melangkahkan kakinya mendekat ke arah lemari.


Membuka salah satu pintu lemari tangan Kaila menaikan sedikit pakaian yang ada di bawah sendiri dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. di tatapnya benda itu lumayan lama apa ia harus mencobanya? tapi apa ia siap menerima apapun hasilnya nanti?.


Setalah berdebat dengan pikiran dan hatinya yang tidak akan ada ujungnya Kaila menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang mulai semakin gelisah. Akhirnya Kaila memantapkan diri untuk masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah ragunya.


Di dalam kamar mandi Kaila menatap tempat yang berisi air maninya, membuka perlahan bungkus tespek yang sempat ia beli beberapa waktu lalu dengan menggunakan alasan Bunda yang menyuruhnya. Kaila menatap dua bungkus tespek dengan merek yang berbeda itu sebentar sebelum akhirnya ia masukan ke dalam gelas yang berisi air maninya.


Kaila memilih duduk di atas kloset untuk menunggu hasilnya. Jantung Kaila berdetak tidak karuan berulang kali gadis itu mencoba menenangkan dirinya agar tidak panik sendiri tapi hati dan pikirannya tepat berfikiran kemana-mana.


Tok...tok...tok...


"Kai lo berangkat sekolah gak sih?" tanya Riko mengetuk pintu kamar mandi saat tidak mendapati adiknya itu berada di dalam kamar.


Kaila yang tadinya tengah menunggu hasil dari tespek tersebut di buat kaget dengan suara Riko yang sudah berada di depan pintu kamar mandinya Kaila kalut apa yang harus ia lakukan sampai matanya menatap kran air, dengan gerakan cepat Kaila membuka kran air tersebut dan mengisi bathub baru ia menjawab pertanyaan sang kakak.


"Bentar kak, perut Kaila tiba-tiba mules" ucap Kaila sedikit berteriak.


"Pakai acara mules lagi, ya udah cepet lima menit gue tunggu lo di bawah kalo lo gak turun gue tinggal!" Setelah mengatakan hall itu Riko langsung melangkah keluar dari kamar Kaila. Tadinya ia menunggu Kaila di meja makan tapi gadis itu tidak kunjung turun dan membuatnya memutuskan untuk mengecek apa yang sedang adiknya itu lakukan.


Kaila bernafas lega dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi saat Riko sudah pergi dari kamarnya. "hampir saja" guman Kaila.


Sesaat kemudian Kaila berjalan mendekat ke arah wastafel untuk memastikan benda kecil itu.


Tangan Kaila meraih salah satu tespek tersebut untuk melihat hasilnya senyuman penuh kelegaan tergambar jelas di wajahnya saat satu garis yang muncul di dalam tespek tersebut.


"Tuh kan udah gue duga kalo gue gak mungkin hamil" ucap Kaila menatap pantulan wajahnya di dalam cermin.


Kaila kembali menundukan wajahnya untuk membuang tespek tersebut ke dalam tong sampah tapi matanya membulat sempurna saat tespek itu menimbulkan satu garis lagi.


"Gak! ini gak mungkin!" dengan cepat Kaila meraih tespek yang satunya lagi memastikan bahwa tespek yang ada di tangannya salah menunjukan hasil.


Tangan Kaila menjatuhkan kedua tespek itu ke atas lantai saat melihat kedua tespek itu menunjukan hasil yang sama, dua garis merah yang mengartikan kalo dirinya tengah hamil. Dunia Kaila seketika hancur dalam hitungan detik saat mendapati dirinya tengah mengandung dan sekarang dirinya harus apa? gak mungkin ia hamil saat ia saja masih berstatus sebagai seorang pelajar.

__ADS_1


"Gu-gue hamil?" lirih Kaila langsung mendudukan tubuhnya di lantai kamar mandi saat lututnya sudah terasa sangat lemas.


"Gue hamil anak Yuda?" Kaila mengelengkan kepalanya ia tidak pernah meminta sama tuhan untuk menghadirkan janin ini di dalam perutnya tapi kenapa sekarang tuhan melakukan ini padanya?.


Kaila menyandarkan kepala di pintu kamar mandi dengan mengelengkan kepalanya lemah gadis itu tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati kedua orang tuanya, dan kakaknya nanti saat mereka mengetahui kalo dirinya hamil. "Ayah,Bunda maafin Kaila udah buat Kalian kecewa"


Kaila menangis di dalam kamar mandi dengan tangan meremas rok miliknya, ia tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang dan masa depannya kini sudah hancur dengan adanya janin di dalam perutnya, apa dirinya jahat saat tidak mensyukuri anugerah besar ini?, tapi kenapa harus di saat-saat seperti ini tuhan memberikannya seorang anak?, di saat dirinya masih berstatus menjadi seorang pelajar dan belum menikah bahkan hubungannya dengan Yuda baru saja berakhir.


Kaila menaikan pandannya saat satu nama terlintas di dalam otaknya saat ini membuatnya mengingat perbuatan kotor yang sempat ia lakukan dengan laki-laki itu beberapa kali. Dengan menghapus air matanya yang tersisa tangan Kaila mengambil benda yang sempat ia jatuhkan tadi ke lantai dan membawanya keluar kamar.


Di dalam mobil Kaila tidak menghiraukan omelan Kakaknya yang saat ini ia inginkan adalah segara sampai di sekolah dan menemui pria itu untuk meminta pertanggung jawaban.


Riko manatap sekilas wajah Kaila yang terlihat menahan amarahnya entah apa yang membuat adiknya seperti itu Riko tidak tau toh bukan urusannya juga selagi Kaila tidak menceritakan apapun kepadanya.


***


Sampainya di sekolah Kaila langsung melangkahkan kakinya dengan cepat mencari sosok Yuda dan menjelaskan semuanya pada laki-laki itu apa yang sudah terjadi, tapi baru saja dirinya akan berbelok ke kelas Yuda tangannya sudah di tarik oleh seseorang membuat Kaila membalikan badannya menatap wajah siapa yang sudah berani menghentikan langkahnya.


"Lo mau kemana?" tanya Rara yang baru datang dan melihat Kaila yang malah berbelok.


"Gue mau ke perpus bentar" jawab Kaila bohong.


Kaila menghela nafasnya ia tidak bisa bertemu dengan Yuda sekarang dan tidak mungkin saat jam istirahat pasti laki-laki itu akan bersama Suci. Dengan menganggukkan kepalanya Kaila menjawab ucapan Rara dan pergi dari sana ke arah kelasnya.


Di dalam kelas Kaila mengirimkan pesan kepada Yuda sebelum dirinya keluar dari kelas untuk melakukan apel pagi.



Setelah mengirimkan pesan itu Kaila melangkah keluar dari dalam kelas menyusul Rara yang sudah berada di lapangan terlebih dahulu.


Apel pagi berjalan dengan hitmat saat kepala sekolah baru memperkenalkan diri dan menyampaikan Visi dan misinya, hanya Rara saja yang tidak menghiraukan suara itu karena baginya mau kepala sekolah baru atau tidak, tidak akan ada yang berpengaruh pada dirinya sedikitpun.


"Masih lama gak sih?" bisik Rara pada sahabatnya.


Kaila sebenarnya juga sudah mulai merasakan lemas pada badannya tapi sekuat tenaga ia tahan ia tidak ingin membuat murit-murit lain menaruh curiga padanya yang sering pingsan belakang ini. "Gak tau" ucap Kaila dengan suara kecilnya.

__ADS_1


"Lo mau ikut gue gak?" pertanyaan Rara membuat Kaila menatap sahabat itu.


Kaila sudah paham apa yang akan di lakukan sahabatnya itu apa lagi kalo bukan pergi dari lapangan yang mulai panas karena sinar matahari. "Boleh deh sekali-kali" ucap Kaila yang mulai tidak tahan dan mungkin sebentar lagi ia akan pingsan kalo dirinya tidak segera pergi dari sana.


Dengan menarik tangan Kaila pelan Rara meminta izin pada guru yang ada di belakang untuk ke kamar mandi sebentar walau sempat ada perdebatan kecil akhirnya Rara dan Kaila di persilahkan untuk ke kamar mandi dengan catatan lima menit lagi harus kembali.


Rara tertawa sangat puas saat guru itu bisa di kelabui dengan mudahnya. "Bego banget jadi guru" ucap Rara yang malah membawa Kaila ke kantin sekolah.


Kaila tidak menjawab pertanyaan Rara dirinya langsung mendudukan tubuhnya di salah satu bangku kantin dengan tangan yang memegang perutnya yang mulai terasa mual. "Huek..." Kaila langsung menutup mulutnya dengan cepat.


"Lo kenapa?" tanya Rara menatap wajah Kaila dengan tatapan bingungnya.


Kaila mengelengkan kepalanya dengan meraih Aqua yang terpajang di meja kantin. "Gue gak papa" jawab Kaila setelah meneguk minuman di tangannya.


Rara menatap penuh curiga wajah Kaila. "Gue perhatiin lo belakang ini banyak mual sama lemes"


"Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?"


"Ga-gak gue gak nyembunyiin apa-apa" jawab Kaila dengan suara terbata-bata.


"La-lagian gue mual sama lemes cuma karena masuk angin aja" lanjut Kaila dengan mengusap tengkuk lehernya.


"Gue gak yakin kalo lo mual-maul belakang ini karena masuk angin" Ucap Rara yang masih tidak percaya dengan ucapan Kaila yang tidak masuk akal.


"Apa jangan-jangan lo hamil?" lanjut Rara dengan menunjuk wajah Kaila yang kaget karena ucapannya.


"Gue gak suka ya Ra lo nuduh gue kaya gitu!" ucap Kaila tersurut emosi.


"Gue kan cuma nanya siapa tau aja bener kan lo hamil"


"Gue gak hamil!" tegas Kaila.


"Kalo lo gak hamil kenapa lo harus marah?" kini pertanyaan itu membungkam mulut Kaila dengan rapat saat dirinya kehabisan kata-kata.


"Bodoh!"

__ADS_1


"Lagian gue bilang kaya gitu gak serius kali Kai, gue cuma bercanda masa lo anggep serius omong gue?"


Rara meraih tangan Kaila yang ada di atas meja saat Kaila hanya diam saja. Rara takut sahabatnya itu beneran marah karena ucapannya tadi. "Maaf in gue ya" Kaila hanya bisa menganggukan kepalanya menjawab permintaan maaf sahabatnya.


__ADS_2