
Hubungannya kini dengan Yuda sudah benar benar berakhir dan mulai hari ini juga Kaila memantapkan diri untuk tidak kenal lagi dengan makhluk yang bernama laki laki yang hanya bisa memberikannya luka tanpa tau bagaimana cara menyembuhkannya. Dan inilah awal barunya memulai semua dari awal dan hanya fokus pada masa depan yang cerah yang akan membawanya pada salah satu orang yang benar benar mencintai nya nanti dan membuat Yuda menyesal untuk selama lamanya suatu saat nanti.
Kaila turun dari dalam mobil saat mobil yang Riko bawa sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Kaila melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah tapi baru saja dirinya memasuki lobi sekolah sudah di hadang oleh Yuda yang ternyata sudah menunggu dirinya sejak tadi.
Kaila yang malas melihat wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu berusaha menghindar tapi sepertinya Yuda itu tidak membiarkan dirinya lolos begitu saja Kaila yang sudah di buat kesal oleh Yuda kembali menatap wajah laki-laki dihapannya itu.
"Minggir!"
Bukannya menyingkir Yuda langsung menarik tangan Kaila meninggalkan lobi karena keadaan yang sudah mulai ramai dengan murit yang mulai berdatangan.
"Lepas anjing! gue gak suka lo pegang-pegang tangan gue" Kaila menghempaskan tangan Yuda dari pergelangan tangannya.
Ditaman belakang sekolah keduanya berdebat dengan Yuda yang selalu mencegah Kaila agar tidak pergi dari sana, Kaila yang tidak suka ditahan atau di paksa seperti itu mendorong tubuh Yuda membuat badan laki-laki itu berjalan beberapa langkah kebelakang.
"Mau lo apa sih hah! setelah kemarin lo nyakitin hati gue apa lo belum puas juga?!" tanya Kaila dengan nafas yang naik turun.
"Gue mau kasih lo satu kesempatan lagi Kai?"
Kaila yang mendengar itu menajamkan pendengarannya. "Apa? coba lo ulang satu kali lagi?" ucap Kaila dengan mengarahkan telinganya ke arah Yuda.
"Gue mau kasih lo satu kesempatan lagi Kaila" ucap Yuda mengulangi perkataannya tadi.
Kaila terkekeh kecil mendengar penuturan gila itu, bisa bisanya laki laki itu bilang hall seperti itu setalah dirinya sendiri yang menorehkan luka pada hatinya. "Lo ngasih gue kesempatan?, apa gue gak salah denger?, seharusnya yang bilang kaya gitu gue bego!"
"Gue tau lo masih cinta kan sama gue?"
"Omong kosong! lo tau?, setelah kejadian di lorong sekolah kemarin saat itu juga perasaan gue sama lo udah mati denger itu baik baik!" hardik Kaila dengan menunjuk dada bidang Yuda dengan jari telunjuknya.
Yuda kembali menahan tangan Kaila yang masih menusuk nusuk tangannya, Kaila yang merasa sangat jijik di pegang oleh laki-laki itu berusahalah melepaskan tangannya tapi kekuatan Kaila tidak sebanding dengan tangan kekar milik Yuda.
"Lo mau kan kita balikan?" tanya Yuda dengan nada penuh percaya diri.
"Najis!, jangan pernah lo mimpi kalo gue bakal balik lagi sama cowok brengsek kaya lo!"
"Tapi gue mau kita balikan Kai"
"Apa kata-kata gue terlalu susah untuk lo pahami? sampai sampai lo harus maksa gue kaya gini?!" tanya Kaila yang masih berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
Yuda yang selalu mendapatkan penolakan dari eanuta di hadapannya itu langsung menghempaskan tangan Kaila dengan kasa membuat Kaila meringis kesakitan menegang pergelangan tangannya yang mulai membiru.
__ADS_1
"Ok kalo itu yang lo mau!, tapi gue bakal pasti in suatu saat nanti lo bakal datang ke hadapan gue buat ngemis-ngemis untuk balikan!" ucap Yuda dengan menunjuk wajah Kaila.
"Tapi sayang bahkan mimpi pun gue gak bakal sudi untuk melakukan hall itu!" tegas Kaila menatap tajam pupil mata Yuda sebelum akhirnya Kaila pergi dari taman tersebut dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangan satunya lagi.
"Agh...."
***
"Satu Minggu lagi kalian sudah menghadapi ujian tengah semester, dan untuk mapel Matematika rencananya bapak akan ambil satu bab dengan jumlah soal sepuluh jadi kalian bisa mempelajari rumus rumus yang sudah bapak kasih" ucap pak Karno sebagai guru pengampu mapel Matematika setelah menyelesaikan membawa pertanyaan di papan tulis.
"Ngapain pak rumus di pelajari?" tanya Rara yang sibuk mencari harta kirun di dalam hidungnya.
Murit-murit yang lain menatap ke arah Rara dan langsung merasa jijik dengan apa yang di lakukan teman satu bangku Kaila itu dan hebatnya Kaila bisa betah berteman dengan Rara yang memiliki sifat sangat jorok.
"Ngapain lo semua lihat gue? mau gue colok tu mata!" kaila menunjukan dua jarinya terutama jari yang baru saja mencari harta kirun nya pada dua bola mata salah satu murit di dalam kelasnya.
Murit-murit yang lain bergidik ngeri saat melihat dua jari Rara itu dan memilih kembali fokus pada papan tulis dimana pak Karno masih berdiri disana.
"Kamu itu ya Rara bukannya fokus malah sibuk sendiri!, sekarang bapak tanya sama kamu untuk mencari peluang mata dadu berjumlah lima cara apa saja yang bisa kita lakukan?" tanya pak Karno memberikan soal yang sangat mudah terhadap Rara.
"Loh pak kan tadi saya duluan kasih pertanyaan sama bapak, kenapa bapak tanya balik sama saya?" ucap Rara dan itu sukses membuat pak Karno mengusap dadanya untuk memastikan stok kesabarannya masih ada.
Suara bel istirahat berbunyi dengan gerakan cepat Rara memasukan buku yang hanya sebagai pajangan itu ke dalam laci mejanya dan langsung melangkah ke arah pintu kelas.
"Kamu mau kemana?" tanya pak Karno membuat langkah Rara terhenti membalikan badannya menatap gurunya itu yang masih berdiri di depan kelas.
"Apa bapak tadi tidak dengar suara bel istirahat? atau bapak sudah tuli?" tanya Rara dan itu sukses membuat seisi kelas menahan tawanya saat melihat wajah pak Karno menahan amarahnya karena ucapan Rara.
"Udah ya pak saya mau ke kantin dulu udah laper banget" lanjut Rara dengan mengusap perutnya, tapi baru sampai di ambang pintu Rara kembali membalikan badannya menatap pak Karono yang masih menatapnya.
"Bapak juga setelah ini harus cepet-ceoet ke dokter THT dan semoga cepat sembuh ya pak" ucap Rara dan langsung melesat begitu saja sebelum menerima semburan amarah dari guru matematikanya itu.
"RARA" teriak pak Karno saat Rara sudah pergi begitu saja dengan tawa lepasnya.
"Kaila!" panggil pak Karno beralih menatap wajah Kaila yang malah menampilkan dua baris giginya.
"Maaf in Rara ya pak" ucap Kaila dengan tersenyum kikuk.
"Bapak jangan marah marah nanti cepat tua terus bu Dian gak mau lo sama bapak" ucap Kaila dan itu membuat pak Karno bisa menahan emosinya karena kelakuan nakal Rara.
__ADS_1
"Nah kalo kaya gitu kan tambah ganteng" puji Kaila.
"Masak sih?" tanya pak Karno memasukan dan langsung tersenyum karena mendapat pujian dari Kaila.
"Ta-tanya saja sama yang lain, ya kan?" tanya Kaila meminta persetujuan murit-murit lainnya.
Semuanya tersenyum canggung sebelum akhirnya mengiyakan ucapan Kaila dan itu membuat pak Karno keluar dari dalam kelas MIPA tiga dengan terus tersenyum.
***
Seperti biasanya bekal yang dibawa Kaila akan di bagi dengan sahabatnya Rara baru saja dua sendok nasi yang masuk ke dalam mulutnya membuat perut Kaila ingin mengeluarkan kembali makannya. Kaila membungkam mulut dengan cepat dan langsung keluar dari dalam kelas dengan memegangi perutnya yang terasa sangat mual.
Rara yang melihat Kaila keluar dari dalam kelas dengan menutup mulutnya mengerutkan kening bingung sebelum akhirnya gadis itu langsung keluar kelas mengikuti kemana sahabatnya itu pergi.
Di dalam kamar mandi cewek Kaila mengeluarkan semua makanannya di dalam wastafel beruntung keadaan kamar mandi yang masih sepi membuat Kaila lebih leluasa karena tidak ada yang memperhatikannya.
"Kenapa gue tiba-tiba muntah-muntah gini?" ucap Kaila pada dirinya sendiri dan kembali memuntahkan isi perutnya tapi kali ini yang keluar hanyalah cairan berwarna putih.
"Kaila?" panggil Rara khawatir saat Kaila masih memintakan isi perutnya, di pijatnya lembut tengkuk leher Kaila dari belakang berharap itu bisa meredakan mual sahabatnya.
"Lo kenapa kai? kok bisa muntah-muntah gini sih?" tanya Rara saat Kaila sudah berhenti mengeluarkan isi perutnya.
Kaila mengelengkan kepalanya dengan punggung tangan yang menutup mulutnya.
"Lo masih sakit?" cek Rara yang langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Kaila.
"Gue gak papa" jawab Kaila dan langsung menyingkirkan tangan Rara yang ada di dahinya.
"Kalo lo masih sakit atau gak enak badan mendingan lo pulang aja deh ya...gue takut lo pingsan lagi" saran Rara mengikuti langkah kaki Kaila yang berjalan keluar dari toilet.
"Udah gue bilang Ra kalo gue gak papa, mungkin gue cuma masuk angin doang kok tar juga sembuh"
"Tapi badan lo sampai lemes kata gitu lo" Rara dapat melihat bagaimana cara sahabatnya itu berjalan bahkan saat dirinya ingin membantu Kaila berjalan ke arah kelas ditolak olehnya.
Kaila yang merasa tubuhnya kembali lemas menolak niat baik Rara yang ingin memapahnya sampai kedalaman kelas karena ia tidak mau sampai Yuda melihatnya selemah itu setelah putus darinnya yang ada laki-laki itu akan tertawa bangga di atas penderitaannya saat ini.
Dan benar saja baru sampai di ambang pintu Yuda dan teman-temannya lewat di depan kelasnya, pandangan keduanya saling bertemu dengan bibir Yuda yang tertarik ke samping saat melihat wajah pucat milik Kaila.
Kaila mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya sangat kuat, ia tidak suka dengan pandangan Yuda yang seperti meremehkannya itu setelah pria itu hilang dari pandangannya Kaila bertekad akan menunjukan kebahagiannya setelah ini dan akan membuat kehidupan Yuda yang akan tersiksa nantinya! itu janji Kaila pada dirinya sendiri.
__ADS_1