Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Toko Buku


__ADS_3

Disebuah perpustakaan yang tidak jauh dari sekolah Kaila menyusuri satu demi satu lorong yang di penuhi buku-buku itu, menarik satu demi satu buku yang tersusun rapi di atas rak hanya sekedar membaca tulisan yang ada pada sampulnya.


Kaila merupakan seorang yang hobi membaca bahkan Kaila mempunyai satu rak buku yang full dengan semua isi buku miliknya dari buku tentang pelajaran sampai novel dan komik tersedia di kamar Kaila tapi uniknya Kaila hanya akan membaca satu kali buku-buku itu kalo sudah ia baca sampai belakang Kaila tidak berminat lagi untuk membacanya.


"Kok bukunya susah banget sih" Kaila merasa buku yang ia pegang seperti di tarik oleh seseorang dari lorong sampingnya alhasil buku itu menjadi tarikan kedua orang.


Orang yang berada di lorong sebelah Kaila melepaskan buku yang ia tarik begitu saja hanya untuk melihat wajah siapa yang sedang berebut buku dengannya.


"Dia?"


"Raka?" manik mata Kaila dan Raka saling bertemu saat buku yang Kaila pegang ia ambil dari rak membuat Kaila tau siapa orang yang tegah berada di sebrang sana.


"Ngapain lo disini?" tanya Kaila saat pandangan keduanya masih bertemu.


Bukannya menjawab Raka langsung pergi begitu saja dari hadapan Kaila. Kaila yang masih penasaran dengan apa yang dilakukan Raka di toko buku itu mengikuti langkah kaki Raka bahkan Kaila harus setengah berlari keluar dari toko buku untuk mengejar Raka yang sudah lebih dulu keluar.


"Raka tunggu!" Teriak Kaila saat laki-laki itu berjalan dengan sangat cepat.


Raka menghentikan langkahnya begitu saja saat namanya di panggil dengan keras, bukannya Raka ingin bertemu dengan Kaila hanya saja Raka tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang saat mendengar teriakan Kaila yang sangat kencang itu.


"Raka" panggil Kaila sekali lagi saat sudah berada di hadapan Raka dengan nafas yang terengah-engah.


Raka memutar bola matanya malas melihat Wajah Kaila. "Apa?" tanya Raka singkat.


"Ngapain lo ada di sini?" tanya Kaila saat nafasnya kembali teratur, ia masih bingung apa yang dilakukan Raka di toko buku itu karena yang Kaila tahu tentang laki-laki itu adalah seorang yang merupakan mempunyai nilai terjelek di kelasnya dan merupakan salah satu murit yang teladan keluar masuk ruangan BK karena kenakalannya.


"Penting buat lo tau apa yang gue lakuin?"


"Ya...gak sih tapi kan gue cuma nanya" jawab Kaila dengan pd nya.


"Mending lo pulang sebelum Mama lo cari in!" ucap Raka yang ingin beranjak pergi tapi di cegah oleh tangan Kaila yang menahan lengannya.


Raka menatap tangan Kaila yang berada di lengannya membuat sang pemilik sadar dan segera melepaskan tangannya membuat Raka langsung membuang pandangannya ke arah lain.


"Bukan Mama tapi Bunda! lo tau Bunda gak suka nama panggilannya di ganti-ganti nanti lo bisa kena marah lo sama Bunda gue!" ucap Kaila yang malah membahas tentang nama panggilan untuk Bundanya.


"Terserah lo!" kata Raka malas dan kembali ingin melangkah tapi di tahan cegah oleh Kaila dan kini gadis itu berdiri tepat di hadapan Raka itu membuat dirinya tidak bisa lewat.


"Apa lagi?!" tanya Raka dengan menatap wajah Kaila yang ada di hadapannya.


Dengan menunjukan wajah tanpa dosanya Kaila tersenyum ke arah Raka membuat hati laki-laki itu merasa sangat senang saat melihat senyuman indah milik gadis dihadapannya ini.


"Gue mau bilang makasih sama lo karena udah nolongin gue dua kali di sekolah" ucap Kaila yang baru bisa mengatakan terimakasih kepada laki-laki yang ada di hadapannya itu karena saat terakhir Raka membawanya pulang Kaila masih dalam keadaan lemah.


Raka tidak merespon ucapan Kaila laki-laki itu masih terpanah dengan senyuman indah milik Kaila yang membuat wajahnya semakin terlihat sangat cantik apa lagi suasana sore membuat Raka ingin sekali menghentikan waktu sebentar saja untuk melihat ciptaan tuhan yang sangat sempurna di hadapannya itu.


"Raka" panggil Kaila tapi tidak mendapatkan respon dari laki-laki itu.


"Raka!" teriak Kaila membuat Raka langsung sadar dari lamunan sesaatnya itu.


"Gak usah teriak bego!" kesal Raka dengan mengusap telinganya seperti orang yang langsung budek mendengar terikan Kaila padahal itu di lakukan Raka hanya sebagai penghilang grogi dari dirinya saja.


"Ya lo pake ngelamun segala, mikirin apa sih lo?"


"Oh...gue tau, lo pasti muji kecantikan gue kan?" tebak Kaila dengan menaik turunkan alisnya.


"Pede lo ketinggian!" bohong Raka dan tidak mungkin ia berbicara jujur yang ada gadis dihadapannya ini semakin besar kepala.

__ADS_1


"Minggir gue mau lewat!" Raka memingirkan pelan tubuh Kaila dari hadapannya saat gadis itu tidak ingin beranjak dari tempatnya.


"Raka tunggu!" cegah Kaila lagi.


Raka menghentikan langkahnya dengan sedikit kesal walau hatinya berkata lain. "Ck...apa lo ngefans sama gue sampai tiga kali lo cegah gue buat pergi?!"


Kaila mengelengkan kepalanya dengan cepat menolak ucapan Raka yang mengatakan kalo dirinya ngefans sama laki-laki itu.


"ngefens sama lo adalah hall yang tidak pernah masuk dalam daftar hidup gue!"


"Ya terus ngapain lo cegah gue pergi?"


Kaila mengangkat peper bag yang berada di tangannya menunjukannya pada laki-laki itu. "Ini buat lo" kata Kaila menyodorkan paper bag itu kearah Raka.


Raka mengerutkan keningnya saat Kaila menyodorkan paper bag itu ke hadapannya. "Apa ini?"


"Buku" jawab Kaila cepat. "Buruan ambil bego!, tangan gue pegel ini!" kesal Kaila karena Raka terlalu lama mengambil peper bag yang ada ditangannya.


Tangan Raka terulur mengambil paper bag tersebut walau dirinya masih di landa kebingungan.


"Tadi kan lo mau ambil buku ini jadi gue inisiatif buat beli in untuk lo sebagai tanda terima kasih gue buat lo"kata Kaila seperti tau apa yang sedang Raka pikirkan.


"Lo tenang aja gue gak tau kok judul buku ini lagian gue belinya buru-buru gitu aja" lanjutnya.


Raka menganggukan kepalanya paham. "Makasih" ucap Raka.


"Iyah sama sama"


Tin...tin...


Kaila memang sudah mengirimkan pesan kepada Riko untuk menjemputnya di toko buku yang sering ia kunjungi.


"Kakak gue udah jemput, kalo gitu gue pulang dulu ya" Kaila membalikkan badannya baru satu langkah Kaila berjalan ia sudah membalikan tubuhnya lagi dan menatap wajah Raka yang masih berdiri di tempat.


"Eh tunggu, jangan lupa baca buku itu sampai selesai, karena gue beli tu buku pake uang bukan pake daun" peringat Kaila membuat Raka hanya tersenyum membalas ucapan Kaila.


Setelah mengatakan hall itu Kaila langsung berjalan kearah dimana mobil Riko terparkir, baru saja Kaila mendudukan tubuhnya ia sudah di serang oleh pertanyaan dari sang kakak.


"Siapa? cowok baru?"


Kaila memutar bola matanya malas. "Kaila baru masuk kak udah nanya kaya gitu" Kaila langsung menaikan kaca mobil yang sempat Riko turunkan tadi.


"Gue cuma nanya" Riko melajukan mobilnya saat Kaila sudah berada di dalam mobil.


"Dari pada lo nanya hall yang gak bermutu mending ko belanja in gue es krim depan situ" ucap Kaila.


"Gue gak bawa uang" kata Riko dengan cepat.


"Oh...gak bawa uang" Kaila mengangguk-anggukan kepalanya.


"Atau gue bilang sama ayah aja kali ya kalo lo tadi malam makan mie diem-diem di dapur" ancam Kaila saat tadi malam ia melihat Riko memasak mie instan sambil celingak-celinguk.


Riko memang memiliki penyakit tipes dan di sarankan dokter untuk tidak makan mie instan terus menerus karena Riko memang sangat suka dengan makanan yang bernama mie itu. Dan itu membuat Deon melarang Riko untuk makan mie instan kalo sampai Deon melihatnya sudah dapat di pastikan kakak nya itu akan mendapatkan semburan kemarahan dari sang ayah.


Tawa kaila terdengar sangat kencang di dalam mobil saat menujukan video di ponselnya dimana Riko tengah memasak mie dengan celingak-celinguk seperti maling yang ketakutan.


"Wajah lo persis kaya maling gak sih?" masih dengan tawanya ia membahas wajah Riko yang sengaja Kaila paus.

__ADS_1


"Sialan! sini hp lo!" Riko ingin merampas hp adek laknatnya itu tapi Kaila dengan cepat memasukannya ke dalam tas karena pergerakan Riko sudah terbaca olehnya.


"Beli in gue es krim dua atau gue ngadu sama ayah" ucap Kaila memberikan tawaran kepada sang kakak.


"Dasar licik!"


"No,no,no bukan licik tapi cerdik" ralat Kaila dengan mengerakan jari telunjuknya.


"Iyah gue beli in tapi setalah itu tu video harus di hapus!"


"Deal!"


***


Raka yang baru saja selesai mandi mengosok-gosok kan handuk kecil ke rambutnya yang masih basah, berjalan kearah lemari Raka mengambil kaos berwarna hitam dan langsung mengenakannya membuang asal handuk yang ada di tangannya dan berjalan ke arah meja yang berada di dalam kamarnya.


Membuka satu demi satu lembar kertas yang ada di atas meja tersebut yang sudah menjadi kebiasaan Raka setiap harinya setelah pulang dari sekolah. Tangan Raka yang tadinya ingin membuka layar laptop di hadapannya terhenti saat melihat paper bag yang di berikan Kaila untuk dirinya beberapa saat lalu di parkiran toko buku.


Raka meraih paper bag tersebut melihatnya sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan isi yang ada di dalamnya karena memang Raka belum melihat apa yang di kasih Kaila tadi sore.


KALO JODOH TIDAK AKAN KEMANA


Dahi Raka menimbulkan garis harus setelah membaca judul buku yang Kaila kasih kepadanya tadi


"Apa dia tidak membaca judul buku ini dulu sebelum membelinya?" ucap Raka pada dirinya sendiri dengan membolak-balik buku yang ada ditangannya.


"Dasar gadis aneh" guman Raka mengelengkan kepalanya saat melihat buku yang masih berada di tangannya itu.


Saat Raka kembali ingin meletakan buku itu di atas meja hatinya bergetar untuk membuka isinya lebih dalam lagi sampai akhirnya Raka memutuskan untuk membaca buku itu dengan menyandarkan punggungnya ke badan kursi.


Senyuman Raka terukir saat membaca halaman demi halaman buku itu, Raka menaikan pandangannya dengan menatap langit malam dari kaca kamarnya malam yang cerah dengan bintang bintang bertebaran membuat Raka semakin mengembangkan senyumannya.


"Tolong persatuan kita tuhan" ucap Raka pada dirinya sendiri.


Tok...tok...tok...


"Masuk" perintah Raka langsung menutup buku yang ada ditangannya menaruhnya di bawah beberapa lembar kertas yang ada di atas mejanya.


"Om?" ucap Raka antusias saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dengan gerakan cepat menghampiri orang tersebut. "Om kapan pulang?" dengan memeluk tubuh kekar itu Raka melupakan rasa rindunya.


"Tadi siang dan om baru bisa mampir sekarang" ucap pria paruh baya itu dengan menepuk pundak ponakannya itu.


Ini namanya Andrian atau biasa di panggil om Drian oleh Raka, Andrian ini merupakan adik satu-satunya dari Almarhum ayah Raka yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu akibat sebuah kecelakaan yang juga membawa sang Mama ikut bersama sang ayah pergi untuk selama-lamanya beruntung Raka masih mempunyai om Drian yang sangat baik kepadanya. Apa lagi raut wajah itu sangat mirip dengan almarhum sang Ayah membuat Raka sedikit bisa mengobati rasa rindunya yang sudah lama terpendam.


"Om apa kabar?" tanya Raka setelah pelukan itu terlepas.


"Tentu saja om datang kesini dengan keadaan sehat untuk bertemu sama ponakan om satu ini" ucap Andrian mengacak-acak rambut lurus milik Raka.


Raka terkekeh saat mendapatkan perlakuan itu dari om nya.


"Om bawakan kamu oleh-oleh sangat banyak di bawah" ucap Andrian menarik tubuh Raka agar ikut dengannya ke bawah.


"Om tau Raka tidak perlu oleh-oleh atau apapun dari om, yang hanya Raka butuhkan cuna satu dari om" ucap Raka setelah sampai di lantai satu.


Raka dan Andrian mendudukan tubuhnya di sofa, dengan menatap lekat wajah ponakannya itu Andrian bertanya. "Apa?"


Raka tersenyum sendu menatap manik mata hitam pekat itu. "Raka ingin om tidak meninggalkan Raka seperti Ayah dan Mama yang meninggalkan Raka sendirian sampai saat ini"

__ADS_1


__ADS_2