Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Dunia Ini Indah Kaila


__ADS_3

Hiks...hiks...hiks...


Kaila yang baru saja bangun dari tidurnya tiba-tiba langsung menangis dengan meremas selimut yang masih menutup tubuhnya. Kaila yang tadinya hendak turun dari atas kasur harus menerima kenyataan saat memori otaknya mengingatkan dirinya akan ijab Kabul kemarin yang membuatnya pasti tidak di perbolehkan sekolah lagi.


Dan pasti setelah ini ia akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang, apa lagi kalo teman-temannya tau akan hall ini pasti ia akan menjadi bahan bulian di sosial media bahkan mungkin saja secara langsung.


"Aaaaaa" teriak Kaila histeris meremas rambutnya yang terurai begitu saja dengan kuat, saat dirinya tidak bisa membayangkan kalo hall itu akan benar-benar terjadi nantinya.


Ceklek...


Pintu kamar Kaila terbuka terlihat di mana Raka yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah khawatir saat mendengar suara teriakan Kaila dari luar kamar membuat Raka yang tadinya baru saja menyelesaikan acara masaknya di lantai satu langsung melangkah ke pintu kamar gadis itu. Melangkah mendekat ke ranjang milik Kaila laki-laki itu mendudukan tubuhnya di depan Kaila yang masih menundukan kepalanya dengan tangan yang meremas kedua sisi rambutnya.


"Kai" panggil Raka menepuk tangan Kaila pelan.


Kaila menaikan pandangannya menatap wajah Raka yang sudah duduk di hadapannya. "Ngapain lo kesini hah!"


"Lo kenapa kai?" bukan menjawab pertanyaan Kaila laki-laki itu kembali melayangkan pertanyaan.


"Lo masih nanya gue kenapa? setelah apa yang terjadi kemarin?"


"Lo tau gara-gara pernikahan itu sekarang masa depan gue benar-benar hancur!, hancur Raka!. Dan sekarang gue pasti gak di boleh in sekolah lagi, impian gue semuanya lenyap!" teriak Kaila tepat di depan wajah Raka.

__ADS_1


"Kai dengar gue" Raka mencoba berbicara dengan gadis itu tapi sepertinya Kaila yang masih sangat terpukul dengan kejadian kemarin membuat emsoinya masih belum stabil.


"Dengar apa hah? apa yang harus gue dengerin dari lo?!"


"Lo masih bisa sekolah Kai" ucap Raka to the poin yang tidak ingin berlama-lama an yang ada akan membuat keadaan semakin buruk. "Lo masih bisa sekolah, perut lo belum terlaku kelihatan seperti orang hamil pada umumnya dan itu membuat lo masih bisa sekolah dua sampai empat bulan kedepan" lanjut Raka.


Kaila yang mendengar itu langsung menutup mulutnya rapat, rasa takut yang ada di dirinya membuat ia tidak bisa berfikir sampai situ.


Raka yang melihat Kaila hanya diam saja ingin rasanya membawa gadis itu ke dalam pelukannya meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Tapi itu hanya sesaat Raka gak bakal bertahan lama" lirih Kaila.


"Gue pengen ikut ujian, gue pengen wisuda kaya orang-orang, gue pengen kumpul bareng yang lain ngrayain kelulusan, bukannya diam di rumah dengan keadaan gue kaya gini" lanjut gadis itu menatap lekat bola mata Raka sebelum wajahnya kembali tertunduk.


"Sekarang lo mandi gih, jangan sampai telat gue gak mau lo di hukum" kata Raka beranjak dari duduknya berjalan keluar kamar Kaila meninggalkan gadis itu sendirian.


Tangis Kaila semakin memilukan saat pintu kamarnya sudah tertutup. "Lo gak bakal bisa Ka, gk bisa!" ucap Kaila menatap pintu kamarnya.


Raka yang berdiri di belakang pintu mendengar ucapan gadis itu membuat matanya terpejam untuk sesaat. "Gue bakal ngasih dunia gue buat lo Kaila" ucap Raka lirih, menatap sejanak pintu kamar Kaila laki-laki itu memutuskan untuk menunggu Kaila di lantai bawah.


Kaila yang sudah duduk di meja makan tidak berminat menyentuh makannya sedikit pun, Raka yang tadinya fokus pada makannya melirik ke arah Kaila saat makanan di piringnya masih utuh. Berpindah duduk di samping gadis itu Raka menarik piring Kaila.

__ADS_1


"Lo harus makan Kai, kalo lo gak makan nanti tubuh lo gampang lemas" Raka menyodorkan satu sendok nasi ke depan mulut Kaila. "Buka mulutnya" perintah Raka.


"Gue gak nafsu Ka" Kaila memalingkan wajahnya ke arah lain enggan menatap wajah laki-laki yang duduk si sampingnya.


"Kenapa?" tanya Raka yang tidak mendapatkan respon dari Kaila.


"Lo tau Kai banyak lo di luar sana yang pengen banget hidup kaya kita, tapi mereka bisa makan tiga kali sehari aja itu udah bikin mereka bahagia banget" ucapan laki-laki membuat Kaila menatap wajah Raka. "Terus ya kalo lo angep masalah yang menimpa lo sekarang sangat sulit lo salah Kai, banyak kok orang di luar sana punya masalah yang lebih berat dari lo tapi mereka bisa ngelewatin semua semua rintangannya"


"Jadi intinya gini, jalanin aja dulu, nikmati setiap prosesnya dan yakin dengan apa yang lo inginkan"


Kaila mengelengkan kepalanya pelan mendengar penuturan laki-laki itu. "Gue gak yakin bakal bisa ngelewatin semua ini, dunia ini terlalu kejam buat gue"


"Gak Kai dunia ini gak kejam, malah dunia ini indah kalo lo melihatnya dari sisi lain, tapi sayang yang lo lihat malah dunia yang gelap tanpa ada sinar matahari di dalamnya" ralat Raka.


"Denger ucapan gue Kai kalo lo pasti bisa" lanjut Raka.


"Tapi gue takut Ka" mata Kaila kembali bergenang air mata di kedua pelupuk matanya.


Raka mengambil tangan Kaila yang ada di atas paha dan menggenggamnya telapak tangan gadis itu erat. "Ada gue, gue bakal lindungin lo dengan nyawa gue Kai jadi jangan takut" Raka mengulas senyumannya.


Raka menatap lekat manik mata hitam itu yang tengah menatapnya, keyakinan dari kedua sorot mata itu membuat hati Kaila perlahan juga merasa yakin. Menganggukan kepalanya gadis itu menjawab ucapan Raka.

__ADS_1


"Sekarang makan ya, biar gue suapin" Kaila menganggukan kepalanya membiarkan laki-laki itu menyuapinya.


__ADS_2