Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Pantai


__ADS_3

Hampir satu jam perjalanan dan motor yang dikendarai Raka belum juga sampai tempat tujuan membuat Kaila berulang kali mengusap punggungnya yang mulai terasa pegal karena terlalu lama duduk. Mendekatkan tubuhnya pada Raka Kaila melayangkan pertanyaan.


"Ka masih jauh gak sih?" tanya Kaila.


Merasakan tubuh Kaila yang mengenai punggungnya Raka mulai gelagapan menjawab pertanyaan gadis itu bahkan otaknya tidak menangkap ucapan Kaila dengan jelas. "Lo ngomong apa Kai?" tanya Raka ulang.


Kaila berdecak kesal saat ia harus mengulangi ucapannya, mengikis jarak di antara mereka kini wajah Kaila berada tepat di samping telinga Raka. "Masih jauh gak sih!, punggung gue pegel!" teriak Kaila.


"Bentar lagi sampai" jawab Raka sedikit berteriak juga.


"Cepetan bisa gak?, gue udah gk betah" terbiasa naik mobil saat perjalanan jauh membuat tubuh Kaila merasa pegal semua apa lagi punggungnya yang tak mendapatkan sandaran.


"Gue gak berani"


"Kenapa?"


"Lo gak pegangan jadi gue takut lo jatuh"


Plak...


Raka meringis saat Kaila memukul punggungnya,walau bukan pukulan keras Raka sedikit dibuat kaget mendapatkan pukulan tersebut beruntung ia bisa menyeimbangkan motornya kalau tidak ia sudah jatuh dengan Kaila.


"Jangan modus!" ucap gadis itu galak.


"Modus apaan?" tanya Raka tak paham.


"Bilang aja lo mau gue peluk kan!,dasar modus laki-laki!" kesal Kaila dan langsung memundurkan tubuhnya.


"Gak gitu Kai, katanya lo mau cepat sampai jadi pegangan biar gue bisa ngebuat dikit"


Kaila memutar bola matanya malas ia tau itu hanya modus Raka saja yang ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan. "Ngebut tinggal ngebut aja kalik gak usah pakai peluk-peluk kan segala!"


"Ya udah" menambah sedikit gasnya membuat Kaila yang takut jatuh kebelakang langsung mencengram jaket kulit yang di kenakan Raka dan itu berhasil membuat senyumannya mengembang.


"Raka!!, lo mau gue jatuh!" omel gadis itu saat jantungnya berdetak kencang.


"Kan udah gue bilang pegangan, lo sih jadi cewek ngeyel banget di bilangin" kata Raka tanpa dosa.


Melakukan hal tersebut sekali lagi Kaila lagi-lagi di buat memekik kaget akan tingkah konyolnya. "Raka gue bunuh juga lo!"


"Marah terus Kai, gue lebih suka lo marah-marah kaya gini dari pada gue lihat lo nangis"


"Makannya pegangan biar cepat sampai dan lo bisa istirahat" perintah Raka.


Kaila hanya diam tak merespon ucapan laki-laki di hadapannya, merasa Raka hanya mencari kesempatan saja Kaila memilih mengabaikan ucapan tak berguna tersebut tapi tak bisa dibohongi punggungnya terasa sangat pegal sekarang dan ingin segara rebahan.


"Pegangan Kai, gue jamin lima menit lagi kita bakal sampai" ucap Raka yang dapat melihat ekspresi wajah lelah Kaila dari sepion motor.


Terpaksa Kaila mengikuti ucapan Raka, mengarahkan kedua tangannya Kaila mulai memeluk pinggang ramping Raka dengan kuat agar segera sampai ditempat tujuan. "Udah nih, cepet in motornya"


"Iyah" menambahkan gigi motornya, motor Raka melaju dengan kecepatan cepat menuju tempat tujuan.


Memarkirannya motornya di sebuah Vila yang berhadapan langsung dengan pantai yang sangat indah Kaila segara turun dari atas motor menatap pantai dengan air yang sangat jernih tersebut tanpa berkedip.


"Indah" guman nya memuji keindahan pantai walau hari yang sudah siang.


Merasa tak sabar ingin merasakan air pantai yang sejuk Kaila melangkahkan kakinya ke arah bibir pantai. Tapi semua itu terhalang oleh tangan Raka yang memegang pergelangan tangannya, sungguh apa pria itu tidak bisa satu jam saja tidak menganggu ekspetasi indahnya?.


"Ngapain sih Ka!" ucapnya menatap tajam wajah Raka.


"Lo kebiasaan banget gak lepas helem dulu kalo mau apa-apa, apa lo sesuka itu sama helem gue?" goda Raka melepas helem dari kepalanya.

__ADS_1


Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin perjalanan Kaila mencibir dalam hati. "Gue mau main air" ucapnya langsung melangkah pergi.


Meningat ucapan Kaila yang mengatakan punggungnya pegal, Raka menaruh sembarang helem di tangannya menyusul Kaila yang mulai berjalan mendekat ke arah bibir pantai. Raka yang tak ingin gadis itu sampai kelelahan dan akhirnya sakit cuma karena rasa tak sabarannya mengekspos tempat baru Raka kembali menarik tangan Kaila.


"Kai katanya capek" ucapnya to the poin.


"Sebentar aja" mengarahkan kakinya ke udara Kaila tak sabar merasakan air pantai tersebut mengenai permukaan kulitnya.


Menarik tubuh Kaila menjauh dari air Raka membawanya kembali ke dekat Vila.


"Ka!" teriak Kaila seperti anak kecil yang sedang marah pada sang ayah. "Gue mau main air!"


"Nanti aja ya, lo sekarang istirahat dulu gue gak mau lo sampai kecapean"


"Tapi-"


"Nanti ya cantik main airnya, kita baru aja melakukan perjalanan yang lumayan jauh dan gue gak mau lo kecapean ingat beberapa hari lagi ujian, lo mau sakit terus gak bisa ikut ujian?" ujar Raka menakut-nakuti saat ia mengetahui kelemahan Kaila.


Kaila menghela nafas kecewa menatap sekilas air pantai ia kembali menatap wajah Raka yang begitu menyebalkan. "Gak usah panggil cantik segala gue bakal istirahat" berjalan kerah pintu Vila Kaila memutar headline pintu tapi sial pintu Vila tersebut masih terkunci.


Melihat raut wajah Kaila yang merasa sangat kesal Raka mengelengkan kepalanya berjalan mendekat dan mengeluarkan kunci dari saku jaketnya. "Silahkan" ujar Raka saat pintu Vila terbuka.


Melihat Raka yang mempunyai kunci Vila semewah ini Kaila menatap penuh curiga wajah Raka yang masih tersenyum. "Dari mana lo dapat kunci ini!" tanyanya dengan nada mengintimidasi.


"Ini punya keluarga gue, udah buruan masuk terus istirahat"


"Terus lo?"


"Gue juga istirahat"


"Di sini?" tanya Kaila menunjuk pintu Vila.


Raka menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Gak boleh!" tolak Kaila.


"Kenapa?"


Raka yang sangat gemas dengan tingkah Kaila mengacak-acak rambut hitam tersebut. "Kita memang tinggal di satu Vila tapi masih dengan kamar yang berbeda" ucap Raka tanpa nada kesal sedikitpun.


Kaila memincingkan matanya menatap ragu wajah Raka. "Serius?"


"Iyah, udah buruan masuk terus istirahat" Raka mendorong tubuh Kaila pelan masuk kedalam Vila, kalo tidak seperti itu Kaila pasti akan berbicara tanpa henti.


Mengatakan bahwa nanti jam empat Raka akan mengajaknya untuk melihat matahari terbenam Kaila mengangguk antusias dan langsung masuk kedalam kamarnya yang sudah di beritahu Raka.


Melihat punggung Kaila yang sudah hilang dari balik pintu Raka masuk kedalam kamarnya lebih tepat kamar yang sering di gunakan kedua orang tuannya saat mereka berkunjung ke sini. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang Raka merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat pegal. "Ternyata segini nya ya ngurus ibu hamil" guman Raka perlahan memejamkan matanya mengembalikan energi yang hilang.


***


Berjalan di bibir pantai tanpa mengenakan alasan apapun kaki jenjang Kaila di terpa ombak membuat gadis itu terkekeh riang, sudah sangat lama dirinya tak pergi ke pantai membuatnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, walau dirinya ingin sekali main air tapi pria di sampingnya sungguh sangat menyebalkan tak memperbolehkan dirinya main sehingga ia hanya bisa merasakan melalui kakinya saja.


Raka yang berjalan di samping Kaila terus menatap wajah cantik itu dari samping, rambut lurus Kaila yang dibiarkan terurai begitu saja menerpa wajahnya tak ada niatan menyingkirkan rambut tersebut Raka malah memejamkan matanya menikmati aroma yang selalu wangi dari rambut hitam tersebut.


"Lo sering ke sini?" memalingkan wajahnya Kaila menatap wajah Raka yang tengah terpejam. "Raka!" panggil Kaila lumayan keras.


Mendengar Kaila berteriak Raka langsung membuka matanya menatap wajah Raka yang nampak kesal. "I-iyah"


"Lo kenapa?"


"Gu-gue, gue...emm"


"Lo kenapa!" ulang Kaila saat laki-laki itu malah gelagapan menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Gue capek, kita duduk di sana yuk" ajaknya menunjuk tempat yang agak jauh dari bibir pantai.


Mengekori kemana laki-laki itu pergi Kaila duduk di samping Raka menatap hamparan pantai yang mulai berwarna oranye. Keduanya saling diam menatap lurus kedepan suasana yang mulai ramai akan pengunjung membuat keduanya tak terusik sama sekali memandangi sang surya yang akan kembali kepereduannya.


"Kai lo mau gue foto?" tanya Raka memecah keheningan diantara keduanya.


"Gak!" tolaknya tanpa menatap wajah Raka.


"Sekali aja ya, plis"


"Gue males Ka"


"Lo gak usah kemana-mana cukup duduk disini aja, biar gue foto dari belakang" tanpa menunggu persetujuan dari Kaila laki-laki itu langsung bangun dari duduknya berjalan beberapa langkah kebelakang untuk memfoto gadis itu dari beberapa sisi.


"Kalo kaya gitu kenapa harus minta izin dulu!" ucap Kaila pada dirinya sendiri, membiarkan apa yang Raka lakukan Kaila lebih asik mengerakan jarinya asal pada pasir putih.


Melihat beberapa foto yang berfokus pada cahaya berwarna oranye membuat foto tersebut terlihat aesthetic, dengan perasaan senang Raka menunjukan beberapa hasil fotonya pada Kaila.


"Lihat deh" ujarnya menyodorkan benda pipih itu pada Kaila.



Melihat layar ponsel Raka tanpa menyentuhnya Kaila menatap gambar sang sangat indah walau gambar itu hanya sederhana. "Lo pakai kamera apa?"


"Kamera biasa"


"Serius?" Raka mengangguk sebagai jawabannya.


"Kirim gue Ka" pinta Kaila tak sabar ingin meng-upload foto tersebut.


"Ok" berniat mengirim foto tersebut Raka kembali menatap wajah Kaila dengan tatapan polos. "Gue gak punya nomer lo" ucap pria itu cengar-cengir.


Kaila memutar bola matanya malas. "Sini hp lo!" Raka memberikan ponselnya pada Kaila membiarkan gadis itu memasukan nomer ponselnya. "Nomer gue aja lo gak punya dasar kudet"


"Gue gak suka nyimpen nomor cewek" ucap Raka menerima kembali ponselnya.


"Laki-laki kaya lo gak punya nomor cewek?, sangat mustahil" cibir Kaila melihat beberapa foto yang di kirim Raka.


"Kalo lo gak percaya cek aja" Raka kembali menyodorkan hpnya saat gadis itu susah sekali untuk percaya dengan ucapnya.


Kaila mendorong kembali ponsel milik Raka tak berminat mencari tahu apa yang bukan haknya. "Gak perlu, biar lo sama tuhan aja yang tau"


"Ka gue boleh tanya?" mematikan layar ponselnya Kaila menatap wajah Raka.


"Boleh"


"Alasan lo nikahin gue apa?" Raka yang tadi sudah membuka mulut bersiap untuk menjawab ucapan Kaila kembali menutup mulutnya dengan rapat saat pertanyaan itulah yang dilayangkan kepadanya.


***


Tes...tes...tes...


...HARAP DIBACA!...


Langsung pada intinya saja, beberapa kali aku baca komentar kalian mengenai cerita aku ini yang katanya mirip dengan sebuah film yang di perankan Natasha Wilona pasti kalian tau lah itu filem apa tanpa aku harus menyebut judulnya.


Jujur di sini aku merasa gak nyaman banget saat kalian menyamakan cerita aku sama filem tersebut kaya kesannya aku copy paste cerita orang.


Aku bilang seperti ini karena aku gak mau cerita yang aku bikin dengan usaha aku sendiri, sama kaya cerita" lain yang di laporkan sama platform NovelToon yang plagiat lah, ini lah, itu lah, dan segala macam sampai novel itu di hapus secara permanen sama NovelToon dan pasti itu bakal bikin mental down banget, kalian boleh kok komen dan kritik cerita aku tanpa harus membandingkan dengan cerita lain.


Salam Perdamaian.

__ADS_1


DELLINA♥️.


__ADS_2