
"Kaila!!" panggil seseorang dengan sangat kencang.
"Heh!!" Suci yang tiba-tiba datang langsung mendorong pundaknya kebelakang. "Lo sebenarnya mau apa sih hah?!, kalo lo ada masalah sama gue selesain sekarang!"
Kaila yang baru saja datang ke sekolah lebih awal karena harus meminjam buku terlebih dahulu di perpustakaan langsung mendapatkan serangan secara mendadak oleh gadis dihadapannya. "Lo ngomong apa sih?" tanya Kaila tak paham.
"Gak usah sok polos deh lo!, Lo kan yang udah bikin Yuda masuk rumah sakit!" ucap Suci kembali mendorong pundak Kaila membentur dinding sekolah.
"Yuda masuk rumah sakit?" tanya Kaila. Perasaan kemarin laki-laki itu masih baik-baik saja dan kenapa mendadak bisa masuk rumah sakit seperti ini?. "Gue bener-bener gak tau Yuda masuk rumah sakit."
"Dasar wanita bermuka dua!, Lo harus gue kasih pelajaran karena lo Yuda sekarang ada dirumah sakit!" tangan Suci yang akan menarik rambut panjang Kaila ditahan seseorang dengan kuat.
"Jangan pernah sakitin Kaila!" ucapnya penuh peringatan.
Suasana yang sepi dan belum terlalu ramai, Raka memilih mengikuti langkah Kaila dari masuk perpustakaan sampai menunggu gadis itu berjalan kearah kelas, dan entah dari mana Suci datang gadis itu tiba-tiba saja menyerang Kaila dan berusaha menyakitinya.
"Gue gak punya urusan sama lo!" menghempaskan tangan Raka, Suci beralih menatap Kaila tajam. "Tapi sama dia!" tunjuk suci tepat di depan wajah Kaila.
"Gue gak tau apa yang lo bicarakan, dan masalah Yuda masuk rumah sakit gue sama sekali gak tau!"
"Kalo bukan lo terus siapa hah?!"
"Mungkin aja karena selingkuhan Yuda" jawab Kaila enteng.
Terbakar akan ucapan Kaila Suci mengepal tangannya kuat. "Jaga ucapan lo!" dorong Suci untuk kesekian kalinya.
Dengan sigap Raka menahan punggung Kaila agar tak bersentuhan dengan dinding sekolah. "Lo udah gila!" murka Raka.
Melihat Raka menatapnya dengan tajam Suci menelan salivanya dengan susah payah.
"Mending lo pergi dari sini!" usir Raka.
"Urusan kita belum selesai!" ucap Suci menatap Kaila sebentar sebelum melangkah pergi.
"Lo gak papa Kai?" tanya Raka berniat mengusap perut Kaila dan dicegah oleh gadis itu.
"Jangan lakuin itu di depan umum Ka, gue gak mau semua orang tau yang sebenarnya hanya karena kekhawatiran lo!"
Raka menghela nafas pelan, beralih mengusap rambut Kaila Raka mengangguk paham. "Masuk gih"
"Apa Yuda beneran masuk rumah sakit?" tanya Kaila yang masih merasa bingung dengan ucapan suci beberapa saat lalu.
"Iyah" jawab Raka jujur. "Malam itu dia dihajar habis-habisan sama teman-teman gue"
__ADS_1
"Kenapa lo lakuin itu?"
"Gue udah peringatin dia untuk gak buat lo nangis, dan saat lo nangis karena sikapnya gue bakal ngasih pelajaran!"
"Terus buat lo sendiri yang udah jadiin gue bahan taruhan apa lo gk pantas buat dapat peringatan?" tanya Kaila. Kaila ingin tau apa sebab Raka membuatnya menjadi bahan taruhan seperti kemarin.
Raka terdiam membuang pandangannya kearah lain. "Gue-"
"Kaila!" panggil Rara baru datang diantara keduanya. "Kalian ngapain disini?, dan lo Ka ngapain deket-deket Kaila?"
"Gue balik dulu" ucap Raka berlalu pergi meninggalkan Keduanya tanpa menjawab pertanyaan Rara.
"Raka gak ngapa-ngapain lo kan?" selidik Rara menatap penampilan Kaila dari atas hinggap bawah.
"Enggak, masuk yuk" ajak Kaila mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa yang sebarnya Raka sembunyikan?" melangkah masuk Kaila masih memikirkan apa yang akan diucapkan Raka tadi.
Tak berselang lama wali kelas mereka masuk, memberikan informasi mengenai hasil ujian beberapa minggu lalu.
"Ibu akan membagikan hasil ujian kalian minggu lalu, buat nilai yang masih di bawah rata-rata harap habis ini menghubungi guru mapel untuk meminta soal ataupun tugas" membagikan satu demi satu selembar kertas pada anak muridnya kini giliran nama Kaila yang dipanggil kedepan.
"Terus dipertahankan prestasinya Kaila"
Setelah semuanya menerima hasil raport mereka masing-masing pelajaran dimulai seperti biasa.
***
Pulang sekolah Kaila mengajak Raka untuk datang kerumah orang tuannya terlebih dahulu menunjukan hasil raport nya sama seperti yang seringkali ia lakukan dulu.
"Gue duluan" ucap Kaila menyerahkan helemnya pada Raka, berlalu masuk kedalam rumah.
"Bunda ini Kaila" panggil Kaila mencari keberadaan Rina. "Bun..." panggil Kaila sekali lagi.
"Kaila?" gadis itu tersenyum melihat Rina berjalan menuruni anak tangga. "Bunda kangen sayang" ucap Rina memeluk tubuh putrinya.
"Kaila juga kangen sama Bunda,ayah dan kak Riko" jawab Kaila menyebut semua anggota keluarganya.
"Kenapa ponsel kamu gak aktif?" tanya Rina yang dibuat khawatir saat ponsel putrinya tak aktif beberapa hari belakang.
Kaila yang baru sadar ponselnya mati saat kejadian hari itu mencari alasan yang masuk akal. "Hp Kaila jatuh Bun, jadi mati"
"Kalo mati kenapa gak ngasih kabar bunda?"
__ADS_1
"Lupa" jawab Kaila tersenyum kuda.
Rina mengleng melihat tingkah putrinya beralih menatap Raka yang berdiri dibelakang sana. "Raka?" panggil Rina.
"Iyah tante"
Rina terkekeh mendengar panggilan Raka untuk dirinya. "Jangan panggil tante, panggil Bunda biar sama kaya Kaila"
Raka mengangguk canggung, sudah lama ia tak memanggil sebutan untuk ibu seperti itu dan kali ini Rina memintanya. "Bunda" panggil Raka, tubuhnya bergetar hebat air matanya mulai mengenang dipeluk mata.
Melihat sorot mata Raka yang menandakan kerinduan teramat pada seseorang Rina berjalan mendekat kearah menantunya. "Kamu kenapa?" tanya Rina mengusap lengan Raka.
"Boleh saya peluk Bunda?" tenggorakan nya terasa sakit saat bertanya hal seperti itu.
Rina tersenyum, mengangguk memperbolehkan.
Raka memeluk tubuh Rina lumayan lama, ia rindu dipeluk mama seperti ini apa lagi mendapatkan usapan lembut yang mungkin ia sendiri lupa bagaimana rasanya.
Kalo saja sang mama masih ada pasti Raka akan menikmati setiap detiknya dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Rina menatap Raka yang menghapus jejek air matanya.
"Biasa Raka cengeng Bun, dirumah juga gitu" ejek Kaila berjalan mendekat keduanya.
"Benarkah?"
"Iyah, mukanya aja yang kelihatan cuek tapi aslinya cengeng banget"
Raka menggeleng mendengar ejekan Kaila. "Enggak Bun, itu semua gak benar"
"Halah bo'ong kan lo, jujur aja"
"Gue gak cengeng Kai"
Keduanya terus berdebat, Kaila yang terus mengejek Raka dan Raka yang terus membenarkan bahwa dirinya bukan laki-laki yang mudah nangis.
Rina mengajak keduanya duduk di sofa ruang tengah. Dion dan Riko yang masih di kantor baru pulang nanti malam jam tujuh. Sedangkan Kaila dan Raka tidak bisa menginap mengingat besok mereka masih sekolah dan baru akan menginap saat weekend besok.
Hampir lupa dengan niat awal Kaila menunjukan hasil ujiannya pada Rina, dan menceritakan apa saja kegiatan nya dirumah Raka selama ini.
Rina senang Kaila masih bisa mempertahankan prestasinya meski tengah hamil seperti ini. Dan yang membuatnya semakin senang Raka menjaga putrinya dengan sangat baik, dengan begitu ia bisa bernafas lega.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️