
Huek...
Huek....
Kaila yang tadinya duduk dengan tenang di meja makan langsung berlari terbirit-birit ke dalam kamar mandi dekat dapur untuk memuntahkan isi perutnya. Entah kenapa perut Kaila tiba-tiba merasa mual setelah memakan satu lembar roti dengan selai kacang yang di sodorkan Rina padanya.
Rina,Deon dan Raka saling pandang saat melihat Kaila pergi begitu saja. Rina langsung berdiri dari kursinya menghampiri Kaila yang masih ada di dalam kamar mandi, Rina mendekat ke arah Kaila di pijatnya pelan tengkuk leher putri satu-satunya itu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rina saat Kaila membersihkan mulutnya dengan air yang mengalir.
Kaila membalikan badannya menatap wajah khawatir sang Bunda. "Kaila gak tau Bun" jawan Kaila dengan mengelengkan kepalanya pelan.
"Kamu sakit?" Rina langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Kaila mengecek suhu badan putrinya itu tapi Rina merasa badan Kaila tidak panas dan tidak juga hangat.
"Mungkin cuma masuk angin aja Bun gara-gara tadi malam Kaila begadang" Jawab Kaila.
Rina menghela nafas pelan mengelengkan kepalanya saat jawaban itu keluar dari mulut kaila. "Makanya kalo jam istirahat itu istirahat sayang, Bunda gk minta kamu tetap jadi juara kelas kalo kamu saja gak ingget waktu kalo belajar" Rina mengusap punggung Kaila lembut memberikan nasihat kepada putrinya.
"Iyah bunda, lain kali kaila bakal tepat waktu untuk istirahat" jawab Kaila tersenyum ke arah Rina yang juga membalas senyumannya.
Mobil yang Riko Kendari berhenti tepat di depan gerbang sekolah Kaila. Kaila menatap keluar jendela mobil melihat Rara yang sudah menunggunya di depan pintu lobi. Kaila melepaskan Seat belt dari tubuhnya diraihnya tangan kokoh milik Riko yang masih memegang stir mobil.
"Assalamualaikum" salam Kaila sebelum keluar dari dalam mobil.
"Tunggu!" Riko memahan tangan adiknya itu untuk tidak langsung turun.
Kaila menatap kesal Riko yang menahannya.
"Nih" Riko menyodorkan sejumlah uang pada Kaila.
Kening gadis itu mengerut melihat uang yang ada di tangan kakaknya itu.
"Buat apa?" tanya Kaila bingung
"Lo kan gak bawa bekel jadi gue kasih lo uang jajan lebih supaya lo bisa jajan makanan yang sehat jangan makan asal-asalan gue gak mau lihat lo muntah-muntah lagi kaya tadi pagi" ucap Riko membuat senyuman di wajah Kaila mengembang sempurna.
Kaila mengambil uang itu dari tangan Riko. "Makasih kak"
Cup...
Kaila mendaratkan satu kecupan ringan di pipi sebelah kiri milik Riko sebelum dirinya turun. Riko yang mendapatkan hadiah dadakan itu mengelengkan kepalanya dengan terkekeh.
"Belajar yang benar"perintah Riko
Kaila langsung hormat ke arah Kakaknya itu. "Siap komandan!"
***
"Kaila wajah lo pucet banget" kata Dinda yang duduk di depan Kaila, Dinda yang tadinya- ingin memasukan buku ke dalam tas tanpa sengaja ia melihat Kaila yang tengah memijat dahinya.
"Lo sakit?" imbuh Dini yang duduk di samping Dinda.
Kaila mengelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Gue gak papa cuma masuk angin biasa" jawab Kaila dengan mengusap tengkuk lehernya.
"Kalo badan lo gak enak mending lo ke UKS aja dari pada pingsan kaya hari itu" saran Dini dan mendapatkan gelengan dari Kaila.
"Siapa yang sakit?" Tanya Rara yang baru saja datang dengan makanan di tangannya.
Dinda dan Dini beralih menatap Rara yang baru saja datang.
"Sahabat lo yang sakit dan lo main pergi gitu aja" ucap Dinda memutar bola matanya malas.
Mendengar itu Rara langsung beralih menatap wajah Kaila dan benar saja kata duo D itu dengan gerakan cepat Rara langsung duduk di kursi samping Kaila memegang wajah Kaila.
"Lo sakit?!,udah gue bilang in kalo sakit gak usah masuk dulu bandel banget jadi orang kalo di kasih tau!"
Kaila menjauhkan kedua tangan Rara dari wajahnya saat temannya itu dengan asal mengarahkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. "Gue gak sakit!, gue pucet kaya gini cuma laper aja karena belum makan apapun dari tadi"
"Ya udah yuk ke kantin gue traktir makan bakso" Rara langsung menarik tangan Kaila begitu saja tanpa pikir panjang.
"Kasian ya Kaila" ucap Dini.
"Iyah sepertinya Kaila tertekan deh lama-lama karena sifat Rara" imbuh Dinda saat melihat Kaila dengan wajah parahnya di tarik keluar oleh Rara.
Sampainya di kantin Rara mendudukan tubuh Kaila di tempat yang biasa mereka tempati. "Lo tunggu sini gue beli in makanan dulu!" kata Rara penuh penekanan dan langsung pergi begitu saja.
Kaila memijat keningnya kembali saat Rara sudah hilang dari hadapannya entah kenapa Kaila merasa aneh dengan dirinya belakang ini yang sering merasakan pusing dan mual pada perutnya Kaila pikir itu hanya masuk angin biasa saja karena efek terlalu banyak begadang tapi lama kelamaan mual dan pusing itu bukannya hilang malah semakin menjadi.
Saat Kaila tengah duduk sendirian di sudut ruangan tiga pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh kesempatan ketiga orang itu berjalan ke arah Kaila yang masih sibuk memijat keningnya.
"Kok pusing banget ya" lirih Kaila menundukan kepalanya.
__ADS_1
Byur...
Satu gelas minuman jatuh tepat mengenai baju Kaila membuat Kaila langsung bangun dari duduknya mengibas-ngibaskan baju yang ia gunakan.
Kaila menaikan pandangannya melihat siapa yang sudah berani melakukan ini padanya. Tangan Kaila terkepal dengan kuat di sisi tubuhnya saat melihat sampah Yuda yang tak lain dan tak bukan adalah Suci dengan kedua temannya.
"Ups..." ucap mereka bertiga kompak.
"Lo udah gila?!, Apa mata lo udah buta?!"
"Maaf gue sengaja" ucap Suci dengan senyuman sinisnya yang berdiri di barisan terdepan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Kaila metap gadis di hadapannya itu dengan tajam entah sejak kapan gadis itu sudah mulai berani dengannya padahal terakhir kali dirinya bertemu dengan Suci gadis itu masih nangis-nangis tidak jelas seperti orang ketakutan.
"Lo punya masalah sama gue hah!" ucap Kaila sedikit keras dan langsung mendorong tubuh gadis itu dengan lumayan keras membuatnya berjalan beberapa langkah kebelakang beruntung ada temannya yang sigap menerima tubuhnya dan hall itu sukses menjadi tontonan se-isi kantin.
Suci yang tidak suka dengan sikap Kaila kepadanya kembali mendorong bahu Kaila dengan kencang.
Kaila yang belum siap akan hall itu menutup matanya menyiapkan diri untuk merasakan ujung meja yang lancip mengenai tubuhnya.
Tapi sesaat kemudian dirinya tidak merasakan ujung meja itu mengenai tubuhnya karena tangan kekar yang sudah lebih dahulu memegang tubuhnya dengan sigap. Kaila perlahan membuka matanya melihat siapa yang sudah menolongnya, mata Kaila bertemu dengan kedua bola mata milik Raka yang ternyata sudah menolongnya.
"Lo gak papa?" tanya Raka.
Jarak keduanya yang lumayan dekat membuat kaila langsung bangun dari pelukan Raka. Dengan mengelengkan kepalanya Kaila menjawab pertanyaan Raka.
"Lemah!" desis Suci.
Kaila yang menangkap jelas ucapan itu kembali berjalan satu langkah berdiri tepat di hadapan Suci.
"Apa lo bilang?!" tanya Kaila sekali lagi.
"Lo itu L-E-M-A-H!." ucap Suci sekali lagi.
"Iyah gue memang lemah tapi setidaknya gue gak jadi PELAKOR di hubungan orang!"
Ucapan kaila sukses membuat se-isi kantin mulai kasuk-kasuk tidak jelas membahas ucapan Kaila barusan.
"Dan perlu kalian semua tau! kalo wanita yang bernama SUCI ini udah jadi pelakor di hubungan gue sama Yuda!" lanjut Kaila sengaja membesarkan volume suaranya agar semua orang tau betapa busuknya perempuan di hadapannya ini.
"Lo serius Kai?"
"Mana namanya suci tapi perbuatannya gak ada suci-sucinya"
"Iyah gue gak nyangka wajah pas-pas an kaya dia bisa jadi pelakor mana pacarnya lebih cantik dari pelakornya lagi"
"Gak ngaca dulu apa ya sebelum jadi pelakor?"
Kini gantian Kaila yang tersenyum puas saat melihat wajah malu wanita di hadapannya ini, siapa suruh cari gara-gara dengan seorang Kaila maka itulah akibatnya.
Sedangkan Raka yang berdiri di belakang Kaila hanya menatap apa yang di lakukan wanita itu, ia tidak menyangka Kaila akan menceploskan hall itu di depan umum apa lagi suasana kantin yang semakin ramai membuat hampir satu sekolah mengetahui akan hall itu.
Sedangkan suci yang tidak mau kalah begitu saja melayangkan tangannya ke udara bersiap mendaratkan satu pukulan keras di wajah kaila.
Melihat itu dari jauh Rara menjatuhkan makanan yang ada di tangannya dan langsung berlari ke arah keduanya beruntung Rara bisa menahan tangan kotor Suci sebelum mendarat sempurna di pipi kanan milik Kaila.
"Lo mau cari mati!" Rara meremas pergelangan tangan itu dengan sangat kuat membuat Suci meringis kesakitan.
"Lo pikir lo siapa berani-beraninya main tampar anak orang hah?!, apa lo pikir lo itu princess?"
"Aau...lepas sakit!" pinta Suci saat merasakan tangannya sudah mulai mati rasa.
Sedangkan kedua teman Suci yang berdiri di belakang tubuhnya tidak bisa membantunya kalo Rara yang menjadi lawannya karena siapapun yang berani berurusan dengan cewek tomboy itu harus siap salah satu anggota badannya merasakan sakit dan mereka tidak siap untuk itu.
"Sakit lo bilang? ini belum ada apa apanya bego!" Rara semakin menggila tangan satunya lagi menarik rambut panjang milik Suci membuat gadis itu merasakan sakit di kedua bagian tubuhnya.
"Hiks...hiks..."
Kaila yang melihat gadis itu mulai menangis karena Rara tida melonggarkan sedikitpun cengkraman tangannya memegang salah satu pergelangan tangan sahabatnya.
"Ra, udah cukup kasian" ucap Kaila berusaha melepaskan cengkraman tangan Rara dari pergelangan tangan suci.
"Hajar terus Ra jangan kasih ampun"
"Pelakor kaya gitu harus di kasih efek jera!, kalo gak pasti nanti dia bertingkah lagi!"
"Udah sikat aja Ra, air mata buaya itu"
Kaila mengelengkan kepalanya saat mendengar hall itu keluar dari mulut para siswi, bukannya memisahkan mereka malah menyemangati Rara dan itu membuat Kaila semakin sulit memisahkan sahabatnya dengan sampah itu.
"Bantu in bego! jangan diem doang!" Kata Kaila kesal saat melihat Raka yang berdiri tidak jauh dari dirinya hanya diam saja.
__ADS_1
Sebenarnya Raka sangat malas untuk memisahkan kedua orang yang sedang bertengkar itu tapi melihat keadaan kantin yang sudah mulai tidak kondusif pasti sebentar lagi guru bk akan datang membuatnya mau tidak mau membantu Kaila memisahkan kedua wanita itu.
Setalah lumayan susah di pisahkan akhirnya tangan Rara lepas juga dari tubuh Suci, dengan bantuan Raka Kaila membawa tubuh suci pergi dari kantin dirinya sudah tidak memperdulikan Suci yang sangat berantakan di sana yang terpenting sekarang adalah sahabatnya itu pergi dari sana sebelum di seret keruangan bk karena telah menolongnya.
"Lepas!" Rara melepaskan kedua tangannya dari tangan Raka dan Kaila yang memegangnya seperti tersangka.
"Ngapain sih lo biar tu lo*te gitu aja? kalo lo gak bisa balas biar gue yang balas kai!" ucap Rara dengan dada yang naik turun.
"Gue gak mau lo kena masalah baru lagi Ra" ucap Kaila berusaha menenangkan temannya itu.
"Lo lihat sendiri kan gue gak kenapa-kenapa? karena lo datang tepat waktu" lanjut Kaila dan langsung memeluk tubuh Rara yang masih di kuasai amarah.
"Gue beruntung punya sahabat kaya lo Ra"
"Gue gak suka lo di sakitin orang Kai, gue bener-bener gak suka!"
"Iyah Ra gue tau"
Kaila melepaskan pelukannya mengusap kedua lengan sahabatnya itu lembut. "Udah ya jangan marah-marah lagi"
Rara mengehala nafas berat sebelum menganggukan kepalanya. Pandangan Rara beralih pada Raka yang masih berdiri di sampingnya.
"Ngapain lo masih di sini?!" tanya Rara dengan nada galaknya.
"Gue cuma masti in maklampir gak bikin ulah lagi" ucap Raka dan langsung pergi begitu saja.
"Sialan!"
"Udah Ra...jangan mulai lagi" Kaila menahan tangan Rara yang ingin mengejar Raka yang sudah pergi.
"Gue harus kasih pelajaran sama tu orang!" tunjuk Rara pada punggung Raka.
"Iyah kapan-kapan masih bisa sekarang kita ke kelas lima menit lagi jam pelajaran" Kaila menarik tangan Rara dengan lembut menuju kelas dan kali ini tidak ada berontakkan lagi dari sahabatnya itu.
***
Suasana sekolah yang ramai karena bell pulang sekolah yang sudah terdengar membuat siswa dan siswi keluar dari dalam sekolah. Kaila melangkahkan kakinya masuk ke dalam toilet perempuan yang tidak jauh dari kelasnya untuk membersihkan noda minuman di pakaiannya yang belum sempat ia bersihkan karena waktunya yang tidak sampai. Sedangkan Rara sahabatnya itu harus segera pulang karena ada urusan mendadak.
Kaila berdecak kesal karena ternyata noda minuman yang di tumpahkan Suci pada bajunya susah sekali untuk hilang membuat Kaila harus ekstra sabar membersihkan noda itu. beruntung Riko tidak bisa menjemputnya karena ada jam mata kuliah tambahan kalo tidak kakaknya itu harus menunggu di depan sekolah untuk waktu yang lumayan lama.
"Ck...kenapa gak hilang-hilang sih" Kaila terus berusaha membersihkan noda itu menggunakan sapu tangan miliknya.
Sampai tangan kekar menghentikan pergerakan tangannya, Kaila tau siapa pemilik tangan itu dan besar saja saat ia menaikan pandangannya ia melihat Yuda yang sudah berdiri di hadapannya dan apa ia tidak salah liat?, Suci? mau apa gadis itu berdiri di belakang Yuda?. Ah...Kaila baru sadar pasti sampah itu sudah mengadu yang tidak-tidak dengan laki-laki yang berdiri di hadapannya ini.
"Lo apa in suci?" benar seperti dugaan Kaila kalo Yuda datang ke sini hanya untuk membahas sampah yang berdiri di belakangnya yang hanya akan membuang-buang waktunya saja.
Kaila hanya memutar bola matanya malas dan kembali membersihkan bajunya agar dirinya bisa segara keluar dari dalam toilet dengan cepat.
"Kai!" bentak Yuda saat kaila tidak menghiraukan ucapannya.
"Apa!"
"Lo apain suci!" tanya Yuda sekali lagi.
"Lo tanya gue? kalo orang yang lo omongin aja ada di belakang lo!" Kaila melangkahkan pergi tadi dengan cepat Yuda menahan tangannya dan menyandarkan tubuh itu ke dinding kamar mandi.
"Lo udah bikin suci nangis Kai! lo tau suci itu adek kelas lo tapi kenapa selera lo rendah banget untuk cari musuh?"
Kaila menatap kesal wajah di hadapannya itu ingin rasanya Kaila membuat wajah tampan itu menjadi jelek sekarang juga. "Gue di sekolah bukan untuk cari musuh kalo saja sampah lo itu gak cari gara-gara sama gue!"
"Gak kak, kak Kaila bohong Suci gak cari gara-gara sama kak Kaila tapi kak Kaila langsung datang ke Suci dan bilang kalo suci pelakor di hubungan kalian"
Mata kaila membulat tidak percaya saat gadis itu dengan pintarnya membolak-balikan fakta dan bodohnya laki-laki di hadapannya ini percaya gitu saja tanpa mencari tahu kebenarannya.
Kaila beralih menatap wajah Yuda yang semakin emosi dan itu membuat Kaila tidak habis fikir apa yang sudah di lakukan sampah itu sampai Yuda dengan mudahnya percaya sama semua omongannya.
"Udah gue bilang sama lo kalo Suci itu bukan pelakor Kai!"
"Lo percaya sama ucapan dari sampah lo itu?!" tunjuk Kaila ke wajah Suci yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Iyah gue percaya!" jawab Yuda cepat.
Kaila terkekeh sungguh bodoh laki-laki di hadapannya ini langsung percaya begitu saja. "Apa lo udah tanya sama murit yang lainnya?" tanya Kaila membuat Suci yang ada di belakang Yuda melupakan akan hall itu.
"Lo tau Yuda? satu sekolah udah tau apa yang sebenarnya dan semuanya juga sudah tau siapa dulu yang cari masalah gue? atau sampah lo itu!"
Kaila menepuk pelan pipi Yuda sebelum dirinya keluar dari sana. "Mulai sekarang lo harus pintar-pintar untuk berhadapan sama sampah lo itu karena kalo gak?, lo yang akan di perbudak!"
Setelah mengatakan hall itu Kaila berjalan keluar dari dalam toilet dan tidak lupa dirinya menyenggol bahu Suci dengan lumayan keras.
Setelah Kaila berlalu dari sana, Yuda kembali terlibat cekcok dengan Suci lumayan keras membuat telinga Kaila bisa mendengar sedikit sedikit suara mereka, tapi Kaila tidak ingin mengambil pusing hall itu toh sekarang Yuda bukan siapa-siapanya lagi.
__ADS_1