
Raka yang melihat Kaila ketakutan membawanya ke sudut sekolah menduduk tubuh gadis itu di kursi yang sudah tidak terpakai Raka memilih duduk di hadapan Kaila dengan lutut sebagai penopang tubuhnya. Tangan Kaila yang bergetar karena takut langsung di gengam oleh Raka di usapnya pungung tangan yang mulai terasa dingin itu.
"Jangan takut Kai lo sekarang aman" ucap laki-laki itu berharap gadis di hadapannya tidak lagi ketakutan. Bukannya tenang Kaila tiba-tiba saja terisak tangisannya.
"Hiks...hiks..."
Raka yang melihat Kaila tiba-tiba saja menangis berfikiran bahwa tubuh gadis itu pasti ada yang sakit akibat ulah Yuda. "Kai lo kenapa?" tidak ada jawaban dari Kaila yang tengah menundukan wajahnya.
"Kaila, jawab gue mana yang sakit?" gadis itu hanya diam dengan terus menangis membuat Raka semakin marah karena Yuda sudah bersikap kasar dengan gadis di hadapannya ini.
"Lo tunggu sini gue mau kasih pelajaran sama Yuda" bangkit dari duduknya Raka berniat menghampiri Yuda memberikan pelajaran pada laki-laki itu.
Meraih tangan Raka membuat laki-laki itu tidak jadi membalikan badannya. "Jangan Ka" Kaila mengelengkan kepalanya meminta agar laki-laki itu tidak pergi meninggalkannya sendirian.
"Lo kenapa?" tanya Raka sekali lagi dengan nada suara lembut.
"Gu-gue takut, hiks...hiks..."
Menangkup wajah Kaila dengan kedua telapak tangannya Raka menghapus air mata yang berjatuhan di kedua pelopak mata Kaila. "Jangan nangis Kai, air mata lo terlalu berharga untuk lo buang gitu aja"
Mengulas senyumannya Raka menatap kedua bola mata Kaila yang masih mengeluarkan cairan berwarna putih. "Udah gue bilang Kai kalo lo gak perlu takut karena ada gue yang bakal lindungin lo"
Kaila semakin terisak tangkisannya dengan tangan yang saling meremas satu sama lain. "Kenapa setiap gue mencoba menerima anak ini kenapa banyak orang yang meminta gue mengugurkan nih anak, dari ayah biologisnya sendiri sampai bokap gue yang pengen anak ini lenyap"
Mendengar itu Raka mengelengkan kepalanya. "Masih ada gue Kai, gue gak minta lo gugurin tuh anak malah gue udah ngangep tuh anak kaya anak gue sendiri, ya... walau gue bukan ayah kandungnya setidaknya gue pengen jadi ayah yang baik buat anak lo"
Kaila terdiam mendengar penuturan laki-laki yang selama ini ia anggap sebelah mata bisa mempunyai pikiran sedewasa ini. Menghapus air mata yang tersisa di pipi Kaila menggunakan ibu jarinya Raka menekan kedua pipi Kaila menggunakan telapak tangan membuat bibir Kaila maju beberapa centi dan itu membuatnya tertawa akan wajah lucu itu.
"Gak lucu Ka!" menepis tangan laki-laki itu dari pipinya Kaila menunjukan wajah jutek.
"Lo tambah lucu kalo wajah lo kaya gitu, kayak anak kucing habis di mandi in"
"Raka!" kesal Kaila saat dirinya di samakan dengan anak kucing.
"Wajah lo tu mirip buaya" kini gantian Kaila yang menyamakan wajah Raka dengan hewan predator.
"Buaya apa?"
"Buaya darat!"
"Ya gak papa buaya darat kalo lo jadi buaya betinanya"
__ADS_1
"Dih, ogah!"
"Kenapa gak mau?"
"Gue gak suka sama buaya yang biasanya nyakitin hati doang!" ucap Kaila kembali terdengar sedih.
Raka yang merasa topik pembicaraan itu menuju ke arah yang tidak baik Raka memilih mengalihkan topik pembicaraan. "Terus lo suka apa?"
"Kepo!"
"Gue serius Kai lo suka apa nanti gue beli in"
"Bohong!"
"Kalo gue bohong nanti malem gue tidur di depan rumah"
"Lo gak lagi permainkan gue kan?" tanya Kaila memastikan.
"Enggak Kaila demi tuhan deh biar lo percaya"
Mendengar itu Kaila Mmnatap wajah Raka nampak berfikir sejenak memikirkan hall apa yang mau ia sebutkan. "Gue mau boneka boleh?" tanya Kaila, pasalnya ia lupa membawa boneka miliknya alhasil tadi malam tidurnya kurang nyenyak kalo ia tidak memeluk boneka.
"Mau boneka apa?" tanya Raka lagi.
"Ya udah nanti habis pulang sekolah kita mampir ke toko boneka dulu"
"Lo serius Ka?" suara bahagia itu membuat hati Raka sedikit lega saat Kaila sudah tidak merasakan takut lagi tentang kejadian beberapa saat lalu.
"Iyah gue serius, asal jangan nangis lagi"
Seperti anak kecil yang mandapatkan hadiah Kaila menganggukan kepalanya cepat. "Gue gak bakal nangis lagi"
Mendengar itu Raka tersenyum senang. "Ya sudah lo sekarang masuk kelas belajar yang bener" Raka mengacak-acak pucuk rambut Kaila membuat Kaila memanyunkan bibirnya.
"Jangan di gitu in Ka, nanti berantakan!" kesal Kaila kembali membenarkan tatanan rambutnya
Setelah tatanan rambutnya seperti semula Kaila berjalan meninggalkan Raka yang masih memilih sendirian di sudut sekolah.
Seluruh siswa siswi yang tadinya sudah selesai berdoa dan sudah siap dengan tas ransel mereka yang berada di pundak harus menunggu beberapa saat lagi karena ada pengumuman yang mau di ucapkan oleh wali kelas mereka. Kaila yang sudah tidak sabar ingin segera membeli boneka merasa kesal karena wali kelasnya tidak kunjung datang setelah kepergian guru mapel jam terakhir.
"Assalamualaikum" suara nan merdu itu menyapa seluruh murit kelas yang tengah kasuk-kasuk sendiri.
__ADS_1
"Walaikumsalam bu...." jawab satu kelas kompak.
"Sebelum kalian pulang pihak sekolah punya info sedikit buat kalian semua, kalo selama dua hari kedepan kalian di liburkan"
"YEEEEEEEEEEE" teriak satu kelas kompak saat mendengar mereka mendapatkan cuti selama dua hari kedepan.
"Tenang dulu ibu belum selesai bicara" murit-murit kembali diam membiarkan wali kelas mereka melanjutkan ucapannya.
"Kalian memang di liburkan tapi kalian juga harus belajar secara mandiri di rumah untuk persiapan ujian kalian yang sebentar lagi tiba dan juga jaga kesehatan karena ibu maunya satu kelas ini hadir saat ujian nanti"
"Baik bu...." jawab satu kelas kompak.
"Kalian boleh pulang, hati-hati di jalan dan sampai dirumah dengan selamat"
"Amin...."
Satu kelas keluar dari dalam kelas terutama Kaila dan Rara yang berjalan beriringan di koridor sekolah. "Lo libur ini mau kemana?" tanya Rara.
"Di rumah belajar buat ujian"
"Gak bosen apa belajar mulu, sekali-kali main kek"
"Nanti aja mainnya habis lulus"
"Terserah lo Kai susah kalo ngajak orang kaya lo main" Rara yang berjalan ke arah parkiran meninggalkan Kaila yang berdiri di depan lobi dengan celingak-celinguk.
"Kakak lo belum jemput?" tanya Rara setelah mengambil motor matic miliknya.
Melirik jam tangannya Kaila mengelengkan kepalanya. "Mungkin sebentar lagi" ucap Kaila yang terpaksa bohong karena ia belum berani berkata sejujurnya tentang apa yang sudah terjadi pada sahabatnya.
"Mau gue antar pulang?" mendapatkan tawaran itu mengaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.
"En-enggak usah mungkin bentar lagi kok Riko jemput, lo bisa pulang duluan kok"
"Yakin lo gak mau gue anter pulang? mumpung gue free" ujar Rara sekali lagi saat suasana sekolah mulai sepi.
"Iyah, lo pulang duluan aja gue gak papa kok di sini" ucap Kaila meyakinkan sahabatnya.
"Ya udah kalo gitu gue pulang dulu" menyalakan mesin motornya Rara melajukannya keluar dari halaman depan sekolah meninggalkan Kaila yang masih berdiri di tempat.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen,Vote dan beri hadiah untuk karya Author satu iniππ.