
"Lo beneran mau sekolah?" tanya Raka melihat Kaila sudah rapi mengenakan seragam sekolah miliknya.
Kaila yang sudah diperbolehkan pulang kemarin tak di izinkan Raka untuk berangkat sekolah mengingat tubuh gadis itu yang masih hangat dan lemas membuatnya baru bisa masuk hari ini.
Kaila mengangguk mantap. "Gue kemarin udah libur masa hari ini libur lagi" ucap Kaila memoleskan lipblam pada bibirnya agar tak terlihat terlalu pucat.
Berjalan mendekat kearah Kaila yang tengah berdiri didepan cermin Raka menempelkan punggung tangannya pada kening gadis itu.
Meliha Raka yang terlalu khawatir padanya Kaila menjauhkan tangan Raka dari keningnya. "Gue baik-baik aja Ka, gak usah lebay kaya gitu deh gue cuma panas biasa bukan demam berdarah" meraih ransel miliknya di atas ranjang Kaila bersiap keluar kamar.
"Lo gak keluar?" tanya Kaila saat Raka masih berdiri ditempatnya.
Raka yang tadi berniat memastikan Kaila sedang apa mendapati gadis itu yang sudah rapi dan membuatnya tetap berada di dalam sana memastikan Kaila tidak mengalami kesulitan.
"I-iyah" berjalan keluar lebih dulu keduanya turun ke lantai satu.
Kaila yang diminta Raka agar menunggunya di halaman rumah mengiyakan saja ucapan laki-laki itu tanpa bertanya apa yang ingin ia lakukan. Menunggu Raka yang masih di dalam rumah Kaila membaca buku mapel ujiannya hari ini karena setelah dirinya pulang dari rumah sakit hari itu Raka benar-benar mengawasinya dari jam makan pagi sampai malam yang tak boleh telat, minum obat tepat waktu, dan tidur tak terlalu larut membuat Kaila sedikit kesal tapi bagaimana bagaimana pun Raka melakukan hal tersebut juga untuk kebaikannya yang mau tidak mau ia lakukan.
"Maaf lama" ucap Raka keluar rumah tergesa-gesa.
Mata Kaila lebih tertuju pada kedua benda di tangan Raka membuat gadis itu menatap bingung. "Kamu bawa bekal?"
Raka mengeleng cepat, menyodorkan tumbler dan kotak bekal kearah Kaila. "Buat lo"
"Buat gue?" menerima kedua benda itu Kaila menatap wajah Raka meminta penjelasan.
"Seingat gue lo dulu suka sekali bawa bekal ke sekolah, dan setelah lo tinggal sama gue lo udah jarang banget bawa bekal bahkan lo lupa dengan jam makan yang udah tiba, dan ini gue buat in bekal komplit sama air minimnya" jelas Raka panjang lebar.
Paham maksud laki-laki itu Kaila menatap benda ditangannya. "Tapi ini kenapa tumbler nya warna hitam?, gue gak suka warna hitam" mengembalikan tumbler di tangannya pada Raka, Kaila hanya memasukan kotak bekal berwarna biru kedalam tasnya.
__ADS_1
"Tapi di rumah gue hanya ada warna hitam" ucap Raka menatap tumbler yang di kembalikan Kaila.
"Ya udah gue gak usah bawa minum, lagian gue juga gak tau bawa minum kesekolah" jawab Kaila.
"Ya setidaknya di bawa aja dulu siapa tau lo butuh" kata Raka mengarahkan kembali tumbler kehadapan nya.
"Gue gak suka Ka-" ucapan Kaila terputus kala Raka yang langsung memasukan tumbler tersebut kedalam tasnya.
"Udah sekarang kita berangkat" meraih kunci mobil dari dalam saku bajunya Raka membukakan pintu untuk Kaila. Memutuskan untuk menggunakan mobil beberapa hari kedepan agar Kaila tak kena angin jalan yang membuatnya kembali sakit seperti kemarin.
Tak banyak berbicara Kaila langsung masuk kedalam mobil. Melajukan mobilnya memecah kemacetan jalan ibu kota yang tercipta di dalam mobil hanya keheningan saat Raka yang fokus pada jalan dan Kaila yang fokus pada buku ditangannya.
"Berhenti di tempat biasa" ucap Kaila tanpa mengalihkan pandangannya.
"Gak sampai sekolah aja?" tanya Raka menatap sekilas Kaila.
"Tapi-"
"Ka!" potong Kaila menatap tajam wajah Raka yang keras kepala.
"Iyah Kai ditempat biasa" jawab Raka nurut.
Selama ini Kaila meminta Raka agar menurunkannya agak jauh dari gerbang sekolah agar orang-orang tak menaruh curiga saat dirinya berangkat dengan Raka, sedangkan saat pulang nanti Kaila dan Raka harus menunggu sekolah sepi dulu baru keduanya bisa pulang bersama dan itu terus berlaku sampai sekarang.
Melihat mobil Raka berhenti di tempat biasa Kaila menutup bukunya bersiap untuk turun.
"Jangan lupa bekalnya dimakan" ucap Raka mengingatkan.
"Iyah" jawab Raka singkat berlalu turun dari dalam mobil berjalan kearah gerbang sekolah.
__ADS_1
Masuk kedalam kelas Kaila membuka kembali buku ditangannya, belum sempat ia membaca lembar pertama Kaila lebih dulu merasa penasaran dengan isi bekal yang laki-laki itu berikan padanya tadi. Merogoh isi tasnya Kaila membuka kotak bekal berwarna biru tersebut, seketika senyumannya mengembang saat isinya ternyata dua lembar roti sandwich tapi kali ini roti sandwich tersebut tak terdapat gambar emoji seperti hari lalu.
Melihat ada secarik kertas di tutup bekalnya Kaila membuka kertas kecil tersebut membaca tiga kata yang bisa membuatnya senyam-senyum sendiri.
...Semangat ujiannya cantik....
"Ternyata Raka bisa romantis juga orangnya" batin Kaila merasa begitu bahagia meski hanya perhatian kecil yang diberikan Raka padanya.
"Hayo lo!, lagi senyumin apa" ucap Rara yang baru saja datang.
Terperanjat kaget mendengar suara yang begitu keras Kaila buru-buru memasukkan kotak bekal kedalam laci meja. "Bisa gak ngomong nya pelan dikit!" marah Kaila, beralih meriah kembali bukunya.
"Lo bawa bekal?" bukannya menjawab ucapan Kaila Rara malah fokus pada kotak makan Kaila yang sempat ia lihat. "Minta ya" ucap Rara seperti biasanya.
"Maaf tapi kali ini gue lagi gak mau berbagi" kata Kaila fokus pada buku bacaannya.
"Dikit doang, yayayaya plis"
"Gak Ra!, gue gak mau bagi bekal gue kali ini sama lo karena gue mau habisin sendiri nih bekal"
"Pelit banget sih, biasanya juga kalo bunda lo masak, lo nawarin gue!" ucap Rara kesal berjalan kearah mejanya.
"Tapi kali ini bukan bunda yang masak Ra, tapi Raka" jawab Kaila dalam hati.
Tak berselang lama guru pengawas masuk kedalam ruangan mereka, membagikan soal ulangan semua murid mengerjakannya dengan sungguh-sungguh tak termasuk Rara yang bingung dengan soal fisika miliknya.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.
__ADS_1