Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Jangan Pernah Salahkan Cinta


__ADS_3

"Ka gue boleh tanya?" mematikan layar ponselnya Kaila menatap wajah Raka.


"Boleh"


"Alasan lo nikahin gue apa?" Raka yang tadi sudah membuka mulut bersiap untuk menjawab ucapan Kaila, kembali menutup mulutnya dengan rapat saat pertanyaan itulah yang dilayangkan kepadanya.


"Ka-"


"Udah mau malam, hawanya juga mulai dingin kita harus kembali ke Vila sekarang juga, gue gak mau lo masuk angin nanti" potong Raka, bangkit dari duduknya terlebih dahulu ia menyodorkan tangannya berniat membantu Kaila berdiri tapi Malah di tarik oleh gadis itu agar dirinya kembali duduk disampingnya.


"Gue gak suka sama cowok pengecut yang cuma di tanya gitu doang langsung pergi!" sindir Kaila menatap tajam kedua bola mata Raka.


Menghela nafas panjang Raka akhirnya kembali ke posisi duduknya seperti tadi tapi kini pandannya lurus kedepan menatap hamparan pantai yang luas.


"Jawab pertanyaan gue Ka!, apa alasan lo nikahin gue!" ulang Kaila dengan pertanyaan yang masih sama.


"Gue cuma gak mau anak lo jadi korbannya" jawab nya cepat.


Kaila yang merasa jawaban Raka masih ada yang menganjal membuatnya tidak semudah itu mempercayai alasan tersebut. "Bohong!, gue yakin lo punya alasan lain selain hal itu!"


"Gue istri lo Ka! gue juga berhak tau apa alasan utama lo nikah in gue selain nih anak!" lanjut Kaila.


"Lo mau tau yang sebenarnya?" tanya Raka dengan suara lirih, melihat Kaila menganggukan kepalanya laki-laki tersebut mendekatkan wajahnya beberapa centi ke wajah Kaila, keduanya yang bisa merasakan hembusan nafas mereka masing-masing hanya terdiam kaku sebelum Raka membuka suara. "Gue cinta sama lo!" ucap Raka pelan tapi terdengar begitu jelas di telinga Kaila


"Lo bohong kan!"


Raka mengelengkan kepalanya semakin menatap dalam bola mata indah tersebut, suasana yang begitu romantis di pinggir pantai membuat suasana sangat mendukung untuk Raka mengungkapkan isi hatinya selama ini. "Gue gak pernah main-main saja yang namanya perasaan Kai, dan gue jatuh cinta sama lo jauh sebelum lo jadi pacar Yuda"


Merasa ucapan laki-laki dihadapannya mulai nglantur kemana-mana Kaila membuang pandangannya kearah lain. "Kita aja ketemu baru akhir-akhir ini gaimana bisa lo bilang suka sama gue!"


"Gue suka sama lo secara diam Kai karena gue gak punya keberanian buat nyata in perasaan gue selama ini"


"Lo masih ingat dengan kado-kado misterius yang sering lo dapat di kelas satu?" tanya Raka.


Seketika kaila terdiam mencari masa-masa yang di maksud Raka, sampai dirinya menemukan suatu masa yang menurutnya sangat aneh saat itu bagaimana tidak saat dia baru saja menjadi siswi baru di SMA ia setiap harinya memadatkan kado di atas mejanya tanpa ada nama pengirimnya.


"Jangan bilang lo-" Raka mengangguk dengan tersenyum, sedangkan kaila menutup mulutnya dengan cepat.

__ADS_1


"Iyah itu gue, gue yang naruh hadiah-hadiah kecil itu di meja lo setiap hari, sampai saat gue tau lo udah jadi milik Yuda gue gak lagi ngasih kado-kado kecil itu kemeja lo"


"Tapi itu udah lama banget Ka, gak mungkin kan sampai sekarang lo masih suka sama gue?"


"Tapi itu kenyataannya Kai gue suka sama lo sampai detik ini" jawab Raka tanpa ragu sedikitpun. Memang kadang begitulah cinta jika kita tidak bisa memilikinya, mencintai secara diam adalah hal yang paling baik tanpa harus menyatikiti perasaan orang lain hanya karena perasaan kita sendiri.


"Tapi gue gak cinta sama lo! dan paling ini cuma akal-akal lo doang kan!"


"Jangan pernah salahkan cinta kapan ia mau singgah dan kapan ia mau pergi karena itu tidak bisa kita atur. Tapi nyatanya cinta gue gak pernah pergi selama ini Kai"


"Cinta mengajarkan kita tentang kesabaran, kesabaran akan cinta itu terbalaskan pada diri kita sendiri. Gue gak pernah minta buat lo balas cinta gue karena cinta gue aja udah cukup buat kita" lanjut Raka menatap tulus bola mata Kaila.


Merasa Kaila yang hanya diam dan mulai merasa kaku akan keadaan sekarang Raka mengacak-acak rambut lurus Kaila memecah ketegangan yang ia ciptakan. "Udah gak usah dipikirin kalo itu buat lo gak nyaman, sekarang lo udah tau kan alasan utama gue nikah in lo apa, sekarang biarkan semuanya berjalan seperti mestinya aja"


"Tapi-"


"Mau main air?" tawar Raka menatap ombak pantai.


"Boleh?" Raka terkekeh kecil saat Kaila bener-bener seperti anak kecil gampang sekali tergoda dengan hal-hal seperti itu.


"Boleh kalo lo ngajak gue main juga" Raka mengedipkan sebelah matanya sebagai kode.


Melihat wajah Kaila yang mulai kedinginan karena terlalu lama bermain air Raka membawa tubuh Kaila kembali ke dalam Vila. Mendudukan tubuh gadis itu di atas sofa Raka berlalu masuk ke dalam kamarnya mencari pakaian sang mama yang bisa di gunakan oleh Kaila. mengambil salah satu baju dari lemari Raka memberikannya pada Kaila.


"Sementara pakai ini aja dulu, nanti kita ke toko depan buat beli pakaian ganti" menerima uluran baju dari tangan Raka dengan gemetar Kaila masuk ke dalam kamarnya.


Setelah membersihkan diri Kaila berjalan keluar kamar mencari keberadaan Raka karena perutnya yang sudah minta di isi. Mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru Vila Kaila tak menemukan keberadaan laki-laki itu, berjalan ke kamar Raka tangan Kaila sudah terayun untuk mengetuk pintu tapi pintu tersebut di buka terlebih dahulu oleh Raka.


"Kaila?" kata Raka saat melihat Kaila yang sudah berdiri dihadapannya. "Ngapain?"


"Gu-gue lapar" melirik jam di pergelangan tangannya Raka menepuk njidat karena hampir melewati jam makan malam.


"Mau makan apa?"


"Terserah" satu kata andalan para wanita yang di layangkan Kaila membuat Raka mengaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Mau makan seafood?" tanya Raka.

__ADS_1


"Boleh"


"Bentar gue suruh pihak restoran buat antar makanannya kesini" mengangguk setuju Kaila menunggu Raka di sofa dengan menamatkan dekorasi Vila milik keluarga Raka.


"Tahan sebentar lagi ya Kai" ucap Raka duduk di samping Kaila setelah menelfon pihak restoran.


Kaila hanya mengangguk patuh dan masih sibuk mengamati setiap sudut Vila tersebut. "Ka lo belum jawab pertanyaan gue"


"Pertanyaan apa?"


"Lo sering kesini?"


"Dulu" jawan Raka singkat.


"Sama orang tua lo?" Raka mengangguk, menegapkan badannya Raka menghela nafas berat sebelum bercerita.


"Ayah sama Mama dulu sering banget ngajak gue kesini dan lo tau mereka ngomong apa?" Raka menatap Kaila yang mengelengkan kepalanya.


"Katanya mumpung gue belum punya adek gue harus nikmatin masa-masa jadi anak tunggal" Raka terkekeh saat mendengar ucapan sang ayah yang selalu berkata seperti itu. "Gue nyesel gak minta adek sama mereka kalo tau gue bakal sendiri kaya gini" lirih Raka.


Tangan Kaila memegang pundak Raka saat laki-laki itu menundukan wajahnya. Raka tersenyum mendapati tangan Kaila yang menyentuh pundaknya. "Tapi sekarang gue gak sendirian lagi karena tuhan udah menakdirkan lo jadi istri gue"


Kaila hanya tersenyum canggung saat Raka menyebutnya sebagai seorang istri. "Kai bisa gue minta sesuatu sama lo?" tanya Raka hati-hati.


"Apa?" tanya Kaila penasaran akan apa yang diminta laki-laki itu.


"Jangan tinggalin gue ya Kai gue capek sendirian terus" ucapnya penuh harap, seketika ucapan Riko hari itu berputar di kepalanya.


"Nikahin adek gue besok!, dan setelah anak itu lahir cerai in adek gue!, karena gue gak rela adek gue hidup seumur hidup dengan pria bajingan kaya lo!"


Raka meremas rambutnya frustasi, ia tak mau kehilangan Kaila, ia tau mau sendirian lagi, ia tak mau menjalani hidup tanpa ada orang terdekat di sampingnya sungguh kehidupan ini sangat tidak adil buatnya.


Melihat Raka yang tiba-tiba seperti orang frustasi Kaila menangkup wajah lelah Raka. "Gue gak bisa janji Ka, tapi gue bakal usaha"


Mengulas senyumannya Raka mengangguk senang. "Lo mau usaha aja udah bikin gue bahagia banget Kai"


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2