
"Lo beneran gak mau pulang?" tanya Rara dengan membantu Kaila turun dari atas brankar.
Kaila mengelengkan kepalanya menolak tawaran Rara. "Gue masih kuat kok kalo cuma duduk di kelas" ujar Kaila dengan menyelipkan sedikit candaan.
Rara berdecak kesal sahabatnya itu memang selalu seperti itu dari dulu selalu mementingkan pelajaran dari pada kesehatannya sendiri.
"Lo pulang aja ya, gue enter deh sampai ke dalam kamar kalo perlu" kata Rara yang masih ingin Kaila pulang karena wajah Kaila yang masih terlihat pucat dan itu membuatnya khawatir.
"Gue gak papa Ra...mending lo bantu gue deh kaki gue masih lemes" pinta Kaila merasa kakinya belum sepenuhnya bisa menopang tubuhnya.
"Ngeyel banget jadi anak!" desis Rara kesal, menaruh satu tangan Kaila di pundaknya menuntun Kaila berjalan keluar dari dalam UKS.
Keduanya berjalan di lorong sekolah yang masih sepi dengan Rara yang membantu Kaila berjalan ke arah kelas, sebenarnya Rara sudah mencegah dirinya untuk istirahat lebih lama di sana agar tubuhnya benar benar pulih tapi Kaila yang beralasan tidak ingin ketinggalan pelajaran untuk ujian kelulusan tahun depan.
Bagi Rara anak yang pintar selalu mementingkan prestasinya tanpa memikirkan kesehatannya maka dari itu dirinya memilih menjadi anak yang pemalas agar kesehatannya tetap terjaga meski begitu dirinya kadang di buat bingung saat pembagian hasil raport saat namanya masuk ke dalam daftar lima besar ini temannya yang terlalu bodoh apa gurunya yang menilai hasil ulangan nya dengan merem? entahlah hanya tuhan yang tau akan semua itu.
Hening menyapa keduanya saat berjalan di lorong sekolah, Rara yang fokus ke depan memincingkan matanya memastikan kali ini ia tidak salah liat untuk ketiga kalinya. Rara menepuk punggung tangan Kaila yang berada di pundaknya dengan cepat, Kaila yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena masih terasa pusing perlahan menatap wajah Rara dari samping yang tengah menatap lurus kedepan.
"Kenapa berhenti?" tanya Kaila.
"Lihat itu!" ucap Rara yang langsung mengarahkan wajah Kaila kearah depan.
Kaila juga ikut memincing kan matanya sebelum akhirnya kedua bola mata itu melebar dengan sempurna, jantungnya berdetak dengan begitu cepat, seketika tubuhnya mematung di tempat saat menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya terasa sangat sakit.
"Yuda?"
Mata Kaila melihat dengan jelas laki laki itu tengah berjalan dengan Suci adik kelas Kaila dengan sangat akrab, Kaila menurunkan pandannya kebawah melihat dua tautan tangan itu saling menggenggam. Kaila melepaskan tangannya dari pundak Rara dan berjalan sempoyongan ke arah keduanya yang tengah asik bercengkrama bahkan tawa lepas dapat di dengar jelas oleh telinga Kaila dan itu membuat hatinya semakin sakit.
"Yuda!" tegur Kaila yang sudah berdiri di hadapan Yuda dan Suci.
Yuda yang merasa namanya di panggil menoleh ke arah depan di ikuti Suci juga, wajah keduanya langsung berubah menjadi pucat saat melihat Kaila sudah ada di hadapannya.
"Ka-kaila?" ucap Yuda terbata bata.
"Kalian ngapain?!" tanya Kaila penuh selidik padangan Kaila turun menatap genggaman tangan yang masih saling bertautan itu.
Yuda yang tau arah pandang Kaila segera melepaskan genggaman tangannya dan Suci. "Aa-aku gak ngapa-ngapain" jawab Yuda yang berusaha menutupi kegugupannya, sedangkan suci gadis itu langsung menundukan kepalanya karena takut.
"Kamu selingkuh sama dia?" tunjuk Kaila pada Suci yang menundukan wajahnya.
"Enggak, aku gak selingkuh" ucap Yuda gelagapan.
"Jangan bohong Yuda!" tegas Kaila.
"Aku gak bohong Kaila aku beneran gak selingkuh" ucap Yuda berusaha meyakinkan wanitanya dengan tangan yang ingin meraih jari jari Kaila tapi dengan cepat Kaila menjauhkan tangannya dari tangan Yuda.
"Kalo kamu gak selingkuh sama dia kenapa kamu bisa seakrab itu dengan dia!" lanjut Kaila dengan menatap wajah Yuda dengan tatapan tajam.
"Aku akrab sama dia cuma sebatas kakak dan adek kelas dan gak lebih dari itu!" kini suara Yuda sudah naik satu oktaf saat Kaila tidak bisa menerima jawaban yang ia kasih.
Kaila tersenyum sinis menatap wajah laki laki yang ada di hadapannya ini, Kenapa dia bisa semarah itu mendengar ucapannya kalo benar dia tidak selingkuh bukankah dia tidak perlu sampai semarah itu? untuk membela perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Apa perlu harus pegangan tangan segala?!" lanjut Kaila yang tidak ingin kalah begitu saja.
"Ii-ini bukan salah kak Yuda kak" bela suci dan kali ini gadis itu berani mendongak wajahnya menatap wajah Kaila yang masih di kuasai amarah.
Kaila berjalan ke depan gadis itu di tunjuknya wajah penuh ketakutan itu dengan jari telunjuknya. "Diam kamu! ini urusan aku sama pacar aku dan kamu! urusan kita setelah ini!" tekan Kaila pada setiap ucapannya memeringatkan gadis itu untuk tidak ikut campur dengan urusannya.
Yuda segera menepis tangan Kaila dari wajah Suci dengan pelan. "Kai...lo apa apaan sih hah? cupu banget beraninya lawan adek kelas!"
"Kamu bela wanita sampah kaya dia?!" kata Kaila melirik sekilas Suci dan beralih menatap wajah Yuda.
"Dia bukan sampah Kaila! dia punya nama dan namanya itu SUCI!" ucap Yuda menekan kalimat terakhirnya.
Prok...prok...prok...
Kaila menepuk tangannya dengan sangat kencang memenuhi koridor sekolah dengan di iringi tawa sinisnya. "Waow...hebat sekali kamu sudah tau siapa nama sampah ini!"
"Bahkan aku saja belum tau siapa nama limbah sampai itu, sepertinya kalian sudah sangat kenal satu sama lain dan kalo aku boleh tau sudah berapa lama kalian menjalin hubungan ini tanpa sepengetahuan aku?" tanyanya menatap wajah keduanya secara bergantian.
"Kenapa kalian diam saja? dan kamu limbah sampah sekarang aku tanya sama kamu sudah berapa lama kalian selingkuh di belakang aku?!" ucap Kaila dengan menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kuat.
"Jawab BODOH!" teriak Kaila saat gadis itu hanya diam saja dan tanpa sadar Kaila semakin mencengkram pergelangan tangan itu dengan sangat kuat.
Bukannya menjawab gadis itu malah merintih kesakitan pada pergelangan tangannya Yuda yang melihat itu langsung melepaskan cengkraman tangan Kaila tapi tidak semudah itu karena cengkraman itu begitu kuat.
__ADS_1
"Jangan nangis anjing! ayo ngomong!" lanjut Kaila saat Suci malah terisak tangisannya tanpa memperdulikan Yuda yang berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Kaila Cukup!"
Yuda mendorong tubuh Kaila pelan kebelakang memberikan jarak antara Kaila dan Suci yang masih menangis, tubuh kaila mematung di tempat saat melihat betapa lembutnya Yuda memperlakukan Suci di hadapannya. Perempuan mana yang kuat melihat hall itu? dan hati perempuan mana yang tidak sakit melihat pria yang ia cintai lebih membela orang lain dari pada dirinya?.
"Kamu bentak aku Yud?" ucap Kaila pada hatinya dengan memperhatikan Yuda yang mengusap pergelangan tangan Suci begitu sangat lembut.
"Bahkan selama ini saat aku sakit kamu gak pernah selembut itu sama aku" ingin rasanya Kaila berteriak dan menumpahkan apa yang dirasakannya saat ini tapi tidak sekarang karena ia tidak mau terlihat lemah dimata semua orang terutama Yuda.
"Lemah banget jadi pelakor!" sinis Kaila dan mendapatkan tawa renyah dari Rara membuat Yuda menatap keduanya dengan tajam.
"Udah aku bilang sama kamu kalo Suci itu bukan pelakor!" tegas Yuda.
"Iyah dia memang bukan pelakor tapi bibit pelakor! namanya doang Suci tapi kelakuannya sangat tidak se-Suci namanya" ucap Rara melangkah kedepan dengan mendorong bahu suci kebelakang membuat gadis itu melangkah beberapa langkah kebelakang karena dorongan Rara yang sangat kasar.
"Harus banget ya jadi pelakor di hubungan orang? apa gak malu sama nama sendiri?" lanjut Rara yang masih berdiri di hadapan gadis itu.
"Ra!" ucap Yuda yang langsung berdiri di tengah keduanya. "Jangan beraninya main kroyok!."
"Cih...lo nantangin gue? ok gue terima tantangan lo!, suruh tu bibit pelakor bawa grombolannya ke sini gue habisin satu satu sekarang juga!" Kata Rara yang tidak mau kalah baginya menghempas hama seperti Suci adalah hall yang sangat sepele.
"Apa orang tua lo sekolahin lo di sini buat belajar bagaimana caranya jadi pelakor?" sindiran, kata kata kasar terus di lontarkan Rara kepada Suci dan Yuda tanpa henti.
Rara tidak suka siapun berani menyakiti sahabatnya kalo sampai hall itu terjadi Rara lah orang pertama kali yang akan maju ke barisan terdepan untuk membela dan melindungi Kaila baginya Kaila bukan sekedar teman ataupun sahabat tapi baginya Kaila sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Saat Yuda dan Rara masih terlibat cekcok yang sangat sengit tanpa keduanya sadari Kaila sudah melangkah mundur menjauh dari keduanya saat kepalanya kembali terasa pusing dan tubuhnya yang kembali lemas, semua benda yang ia lihat seperti berputar dengan begitu sangat cepat membuat kepalanya berdenyut dengan sangat hebat tangan Kaila terulur untuk mencari pegangan yang bisa menopang tubuhnya semuanya terlambat saat tubuh Kaila lebih dulu oleng kesamping beruntung dengan sigap seseorang menerima tubuh Kaila sebelum mengenai keramik sekolah.
Kaila yang merasa tubuhnya tidak merasakan sakit menajamkan penglihatannya mencoba mengenali sosok yang sudah menolongnya sampai akhirnya ia bisa melihat siapa yang baru saja menolongnya.
"Raka?" lirih Kaila dan langsung tidak sadarkan diri.
***
Setelah kejadian yang membuat hati dan pikirannya tertekan kini Kaila sudah berada di rumah karena Raka yang langsung membawanya pulang terlebih dahulu menggunakan taksi online yang ia pesan meninggalkan dua orang yang masih berdebat itu.
Sedangkan Yuda laki laki itu sampai sekarang belum menemuinya info terakhir yang ia dengar dari Rara bahwa laki laki itu lebih memilih membawa Suci yang nangis nangis tidak jelas seperti dirinyalah yang paling tersakiti sungguh sangat menjijikan bagi Kaila.
Kaila bangun dari tidurnya dengan bantuan Rara yang malam ini memilih untuk tidur di rumah Kaila selama satu malam. Rara duduk di samping Kaila mengarahkan satu sendok bubur ke mulut Kaila tapi dengan cepat Kaila mengalihkan wajahnya ke arah lain enggan memakan bubur itu.
"Gue gak mau Ra" tolak Kaila menjauhkan sendok itu dari mulutnya.
"Lemah banget sih lo jadi cewek!" emosi Rara yang mulai timbul.
Kaila yang mendapatkan ucapan seperti itu menatap wajah Rara yang tengah menatapnya dengan sinis. "Maksud lo apa bilang kaya gitu?"
"Lo lemah!" tekan Rara pada kedua katanya itu.
"Gue gak lemah ya!" tegas Kaila tidak suka dengan ucapan Rara yang mengatainya lemah.
"Lo lemah anjir!, kalo lo gak lemah lo gak seharusnya lo gak kaya gini, masak cuma perkara tadi siang doang lo bisa langsung lotoy ini sih? iyuh banget..." mulut pedas itu bagikan hantaman yang keras untuk Kaila.
"Heh! gue ingetin sama lo kalo gue gak pernah lemah atau takut sama siapapun!"
"Oh ya...?" pancing Rara sebenarnya ia tidak mau melakukan hall ini tapi baginya ia lebih tidak suka lagi melihat Kaila yang selemah ini.
"Gue bakal bukti in sama lo kalo gue gak selemah ucapan lo itu!" tegas Kaila yang langsung mengambil ahli mangkok bubur itu dari tangan Rara dan langsung memakannya dengan sangat lahap.
Rara tersenyum saat melihat Kaila yang sudah mau makan dengan lahap walau harus berdebat terlebih dahulu, karena Rina juga sudah berulang kali membujuk anaknya itu untuk makan tapi Kaila yang masih tidak ingin makan sampai satu mangkok bubur itu habis.
Tok...tok...tok...
"Sayang" panggil Rina lembut dari luar sana.
"Masuk Bun" jawab Kaila dari dalam kamar.
Rina masuk ke dalam kamar anaknya itu senyumannya terukir saat melihat mangkok bubur yang ia buatkan tadi sudah habis tanpa sisa.
"Ada apa bun?" tanya Kaila saat Rina hanya diam saja.
"Di bawah ada Yuda, katanya mau ketemu kamu"
Kaila dan Rara saling tatap saat mendengar Yuda ada di rumahnya dan ingin bertemu dengannya, apa yang pria itu lakukan malam malam seperti ini bertamu di rumah orang, apa pria itu juga belum puas setelah membuat hatinya sakit tadi siang?.
"Kaila gak mau ketemu sama Yuda bunda"
__ADS_1
Rina mengerutkan keningnya saat mendapat jawaban dari Kaila baru pertama kali ini Rina melihat putrinya tidak bersemangat saat melihat kekasihnya datang ke rumah.
"Tapi kata Yuda dia tidak akan mau pulang kalo kamu tidak menemuinya"
Kaila meremas selimutnya dengan kuat, laki laki itu sukanya bikin repot dengan mengangguk lemah Kaila mau bertemu dengan Yuda. "Suruh dia masuk ke sini bun, kaki Kaila masih lemes buat jalan"
"Ya sudah Bunda keluar dulu" Rina mengusap rambut panjang kaila dan mendaratkan satu kecupan kecil di sana baru ia keluar dari dalam kamar membawa nampan yang berisi mangkok kosong.
"Lo beneran mau ketemu sama tu bajingan?" ucap Rara saat pintu kamar Kaila sudah tertutup.
"Lo denger sendiri bukan tadi bunda bilang apa? kalo tu bajingan gak akan pulang kalo gak ketemu sama gue!" Kaila sebenarnya juga sangat malas apa lagi melihat wajah Yuda yang akan membuatnya mengingat kejadian tadi siang di koridor sekolah.
"Ya tapi setidaknya lo punya alasan gitu kek"
"Gak keburu"
Ceklek....
Suara pintu terbuka membuat Kaila dan Rara melihat ke arah pintu di mana Rina datang dengan Yuda yang mengekor di belakangnya sungguh muka laki laki itu ingin rasanya Kaila cakar cakar habis saat Yuda tersenyum ke arahnya.
"Kalo begitu Bunda keluar dulu ya"
"Makasih Bun" ucap Yuda dan mendapatkan balasan senyuman dari Rina yang langsung keluar dari dalam kamar meninggalkan tiga anak muda itu.
"Ra lo boleh keluar sebentar" pinta Kaila saat bundanya sudah keluar.
Rara yang mendengar itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rara membisikan sesuatu yang hanya keduanya saja yang dengar. "Kalo gue keluar terus kalo dia nyakitin lo gimana?"
"Gue jamin gue bakalan aman" jawan Kaila penuh keyakinan.
Rara bangun dari duduknya melangkah ke arah pintu kamar Kaila langkah Rara terhenti saat tubuhnya berpapasan dengan tubuh Yuda. "Gue bakal habisin lo malam ini juga kalo lo brani macem macem sama sahabat gue!, ingat itu!" bisik Rara tepat di telinga Yuda baru dirinya keluar dari dalam kamar Kaila.
Yuda yang mendengar ancaman itu hanya mendengus geli, melangkah ke arah ranjang Kaila Yuda mendudukan tubuhnya di samping tubuh Kaila membuat gadis itu menggeser tubuhnya ke samping.
"Mau apa lo kesini?" ucap Kaila tanpa melihat wajah Yuda sedikitpun.
"Gue bawa in lo makanan" Yuda menyodorkan paper bag berwarna coklat ke arah Kaila.
"Gue udah makan, jadi lo bisa bawa makanan itu pulang, lagi pula keluarga gue masih sanggup ngasih gue makan!"
Yuda menghela nafas pelan saat mendapat penolakan dari Kaila, di raihnya tangan kaila yang ada di atas selimut Kaila yang merasakan hall itu menatap sebentar tangannya yang di pegang Yuda dan langsung menyingkirkannya.
"Gue gak mau tangan gue di pegang sama barang bekas!" sindir Kaila saat ingatannya kembali ke jadian tadi siang.
"****!" umpat Kaila saat dirinya tidak bisa melupakan kejadian itu.
"Gue minta maaf Kai" kata Yuda lirih.
Kaila mendengus geli mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut pria itu. "Maaf? kenapa baru sekarang bego!"
"Gue tau gue salah, tapi gue gak selingkuh sama Suci gue bisa jelas in..."
"Stop!" potong Kaila saat Yuda menyebutkan nama perempuan sampah itu.
"Gue gak butuh maaf ataupun penjelasan dari lo! yang sekarang gue butuhin sekarang lo keluar dari kamar gue! dan jangan pernah ketemu sama gue lagi!" ucap Kaila dengan tangan menunjuk pintu kamarnya.
"Apa yang lo lihat gak seperti yang lo bayangin Kai" Yuda masih berusaha menjelaskan tapi Kaila yang langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
"Stop Yuda!!, gue gak perlu tau apa yang lo lakuin di belakang gue! gue gak butuh lo capek capek jelas in sama gue apa yang sebenarnya terjadi!" perlahan tangan Kaila turun dan wajahnya menatap wajah Yuda yang duduk di sampingnya. "Karena yang gue tau lo udah ngehianatin gue selama ini tanpa perlu lo jelas in panjang lebar!"
"Dan sekarang gue mau kita putus!" lanjut Kaila menekan kalimat terakhirnya.
Yuda mengelengkan kepalanya ia tidak suka dengan ucapan yang baru saja Kaila lontarkan. "Gue gak mau kita putus Kaila! kita masih bisa memperbaiki semua ini!"
"Apa ada jaminan setelah ini kalo lo gak bakal selingkuh lagi hah! gue gak tau bagaimana caranya lo bisa deket sama tu wanita sampah tapi yang jelas sekalinya lo udah bikin kesalahan selamanya lo pasti akan lakukan hall itu lagi Yuda!"
Yuda langsung meraih tangan Kaila di genggamnya erat kedua tangannya itu tidak membiarkan Kaila melepasnya. "Jangan putus Kai lo bebas hukum gue apapun itu tapi jangan putus gue mohon"
Kaila langsung membuang pangannya ke arah lain saat air matanya jatuh di kondisi yang tidak tepat seperti saat ini. "Semua hall bakal gue maaf in tapi tidak dengan namanya perselingkuhan! karena tidak ada satupun orang yang rela dan ikhlas di duakan di dunia ini!"
"Pergi Yud! dan jangan pernah ketemu sama gue lagi anggap aja gue cuma mimpi penganggu di hubungan lo sama sampah lo itu!"
***
Novel ini bakal Author review kalo author punya waktu luang, jadi mohon di maklumin kalo ada kata kata yang akan sedikit berubah.
__ADS_1