
Bersamaan keluar dari dalam kamar Raka melihat Kaila menundukkan kepalanya dalam, merasa tak biasa akan sifat seperti itu Raka menahan pergelangan tangan Kaila lembut yang hendak menuruni anak tangga.
Menangkup wajahnya mata Raka menatap lekat wajah Kaila yang hampir semuanya bengkak apa lagi di bagian lingkaran mata yang nampak sangat jelas bengkaknya.
"Lo habis nangis Kai?" tanya Raka.
"Gue gak papa Ka" jawab Kaila memaksakan senyumnya.
Melihat senyuman palsu pada bibir gadis itu Raka menarik tubuh mungil Kaila masuk kedalam pelukannya, mengusap lembut punggung nya Raka mencium rambut Kaila lama.
Keduanya saling diam sibuk akan perasannya masing-masing dan tak ada yang berniat merubah posisi mereka saat ini.
"Gimana sih jadi orang yang kuat?" suara Kaila terdengar memecah keheningan diantara keduanya.
"Gimana sih?"
"Kenapa aku gak bisa?, hiks...hiks..." isak Kaila dalam pelukan Raka.
Raka menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu, melepas pelukannya Raka tersenyum manis. "Siapa yang bilang Kaila lemah?, Kaila di hadapan gue ini wanita yang paling kuat dari yang lainnya" jawab Raka meyakinkan.
"Itu dulu sebelum anak ini ada di rahim gue" sangkal Kaila merasa perubahan dirinya terletak saat ia menyadari kalo ia tengah hamil.
"Boleh gue pegang perut lo?" tanya Raka meminta izin. Kaila mengangguk pelan mengiyakan permintaan Raka.
Raka mengusap perut Kaila dengan lembut sesekali tangannya bergerak memutar seolah-olah tengah mencari sesuatu dari perut datar milik Kaila. "Kalo lo merasa lebih cengeng, dan lemah saat hamil itu wajar Kai, karena ibu hamil mempunyai sifat sensitif mereka masing-masing jadi jangan salahin bayi nya, karena gue yang bakal mahami perasaan lo"
Ucapan Raka seolah-olah dialah benar ayah kandung dari janin di dalam perutnya. Seketika ucapan Yuda yang mulai mengakui bayinya tadi malam mulai berputar diotak nya. "Hiks...hiks..., ta-tadi malam Yuda bilang sama gue kalo dia mulai ngakuin ini anaknya" jeda Kaila saat dadanya mulai terasa sesak. "Dan dia juga berusaha misah in kita dengan cara kotornya tadi malam"
Raka terdiam mendengar hal tersebut, Yuda benar-benar bukan manusia, pria itu yang tadinya menolak mati-matian janin yang ada di dalam perut Kaila sekarang dengan tidak tau malunya juga ingin mengambil apa yang sudah ia buang begitu saja.
"Apa lo bakal cerai in gue Ka?" tanya Kaila ketakutan.
"Kenapa lo nanya gitu Kai?, jelas jawabannya enggak!, Lo tetap milik gue sampai kapanpun itu!" tegas Raka menatap dalam bola mata Kaila.
"Gue takut pisah dari lo Ka, gue gak mau" ucap Kaila begitu saja, entah kenapa meski Raka sudah membuatnya menjadi bahan taruhan Kaila merasa itu sepenuhnya bukan salah Raka atau bisa saja pria itu menjadi korban kejahatan Yuda entahlah saat ini ia tak mau tahu akan hal tersebut.
"Hust..., udah jangan nangis lagi kasian matanya bengkak kaya gini" Menghapus jejak air matanya, satu buah ide terlintas di otaknya. "Ikut gue" ajak Raka menarik tangan Kaila masuk kedalam kamarnya.
Ini pertama kali Kaila masuk kedalam kamar Raka, ukuran kamar yang lebih luas dari kamarnya terdapat dua meja didalam sana yang satu sudah dapat di tebak meja tersebut adalah meja belajar dan satunya lagi hanya ada laptop dan beberapa kertas yang Kaila tak tahu fungsi meja itu.
__ADS_1
Mengikuti langkah Raka Kaila melihat piano dan gitar di sudut ruangan tersebut. "Lo suka musik?" tanya Kaila menatap Raka yang mengangguk. "Kenapa lo gak bilang kalo lo suka lagu?"
Raka terkekeh kecil menarik kursi dihadapannya menarik tangan Kaila lembut agar duduk di atas pangkuannya. "Lo aja gak pernah tanya soal itu" jawab Raka.
"Lo tau Kai?"
"Enggak" jawab Kaila singkat.
Raka lagi-lagi dibuat tertawa akan sifat polosnya. "Gue belum pernah nyanyi didepan wanita sebelumnya, dan sekarang gue mau nyanyi satu lagu buat lo"
"Awas aja kalo suaranya cempreng" ancam Kaila menatap wajah Raka yang tak hentinya tertawa.
Mulai memainkan piano dihadapannya Raka sesekali menatap Kaila yang fokus pada jari-jari nya.
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you
Mendengar Raka menyanyikan lagu tersebut Kaila menatap wajah Raka yang tengah menatapnya penuh dengan kelembutan. Membalas tatapan mata tersebut Kaila baru sadar Raka memiliki mata yang indah pantas saja pria itu tak pernah menatapnya tajam dari dulu sampai sekarang karena mata Raka terlalu indah untuk menciptakan masalah.
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
I'll never ask for more than your love
Di atas pangkuan Raka Kaila menyandarkan kepalanya pada dada bidang laki-laki tersebut menikmati setiap irama lagu yang dinyanyikan Raka dengan sangat sempurna.
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
"Suara gue gak buat telinga lo sakit kan?" gurau Raka menatap wajah Kaila yang ternyata tengah tertidur.
Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya Raka menatap lama wajah Kaila yang tengah tertidur nyenyak dalam pelukannya. Beralih menatap perut datar milik Kaila Raka tersenyum getir membayangkan ucapan Yuda yang mulai mengakui anaknya.
__ADS_1
"Papa mungkin bukan papa kandung kamu tapi papa sayang kamu seperti papa sayang mama" ucap Raka membelai lembut perut datar milik Kaila.
Tak ingin tubuh Kaila merasakan pegal-pegal saat bangun nanti perlahan Raka mengangkat tubuh Kaila menuju kasur miliknya. Menarik selimut sampai batas dada Raka berjalan keluar setelah memastikan Kaila tertidur nyenyak didalam sana.
Meraih kunci mobilnya Raka berjalan keluar rumah mendatangi suatu tempat.
Tak membutuhkan waktu lama mobil Raka berhenti disebuah rumah yang tidak terlalu besar dan selalu ramai.
"Lo ninggalin Kaila lagi?" tanya Rizky yang kebetulan tengah membuang sampah dan melihat Raka turun dari dalam mobil.
"Kaila lagi tidur, gimana tadi malam?" tanya Raka mengenai kabar Yuda.
Mengajak Raka masuk lebih dulu agar bergabung dengan anak-anak yang lainnya Rizky mulai bercerita.
"Muka Yuda babak belur habis di gebukin anak-anak tadi malam"
"Terus?"
"Untungnya tuh anak gak kenapa-kenapa cuma bonyok doang" timpal Rafly.
"Iyah dan sekarang dia lagi dirumah sakit"
"Kenapa lo gak gunain harta lo buat nglenyap in Yuda?, jelas-jelas tuh anak udah cari gara-gara sama lo"
"Betul Ka, kelakukan Yuda udah kelewat batas, kalo gue jadi lo Yuda pasti udah habis kemarin-kemarin sama gue!"
"Lagian apa yang perlu Lo takut in?, Lo kaya ka bahkan semuanya bisa lo selesain pakai uang termasuk nendang Yuda keluar dari sekolah"
Raka menghela nafas kasar mendengar ucapan teman-temannya. "Gue udah di didik sama orang tua gue dari dulu, selagi gue bisa nyelesain masalah gue sendiri orang lain tidak perlu tahu siapa gue yang sebenarnya dengan harta gue"
"Sebenarnya Lo, Kaila dan Yuda ada masalah apa sih?, bukannya dulu Kaila pacar Yuda? tapi kenapa sekarang bisa jadi bini Lo?" tanya Rizky yang belum mendapatkan jawaban itu sampai sekarang. Sama dengan Rizky semua teman-teman Raka menatap laki-laki itu penuh tanda tanya.
"Kalian hanya perlu tahu satu hal kalo gue sayang sama Kaila!"
Semua orang saling pandang mendengar jawaban Raka. Apa temannya itu sudah menjadi pembinor dihubungkan orang?, apa Raka benar-benar ayah biologis dari janin Kaila?, dan masih banyak lagi pertanyaan dibenak mereka yang tak berani mereka utarakan saat melihat sorot mata Raka yang penuh sekali dengan beban.
***
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1