Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Hinaan


__ADS_3

Bulan ke enam Kaila mengandung.


Perutnya yang mulai kelihatan mengharuskan Kaila menggunakan seragam yang sedikit lebih besar dari seragamnya dulu. Beberapa kali Kaila menghela nafas panjang melihat pantulan tubuhnya yang terlihat gemuk akan seragam yang melekat ditubuhnya.


"Kenapa?" tanya Raka membawa segelas susu saat Kaila tak kunjung keluar kamar.


Sekarang keduanya tak lagi tidur secara terpisah, karena saat kandungan Kaila menginjak usia empat bulan Kaila lebih bersikap manja pada Raka dan tak bisa tidur jika tak mendapatkan usapan lembut pada kepalanya. Meski begitu Raka juga tak akan melampaui batas agar Kaila tak merasa risih.


"Gemuk banget ya Ka?" tanya Kaila tanpa mengalihkan pandangan dari cermin kaca.


Raka berjalan mendekat mengusap rambut Kaila lembut. "Enggak kok, cuma bajunya aja yang kebesaran dikit"


Lagi-lagi Kaila menghela nafas panjang. Rasanya begitu tak nyaman harus mengenakan baju lebih besar seperti ini apa lagi pandangan setiap siswi kepadanya nampak sangat sinis dan Rara-sahabatnya selalu bertanya kenapa tubuhnya bisa melar seperti sekarang ini.


"Kalo gak nyaman jangan di paksain" ucap Raka. Berulang kali laki-laki itu menyarankan agar Kaila home schooling agar merasa lebih nyaman dan tak tertekan dengan keadaan luar. Belum lagi Yuda dan Suci sepasang kekasih kasih itu selalu melek Kaila dengan kata-kata yang sangat tajam.


"Aku nyaman kok, lagian tinggal satu bulan lagi kita lulus" ucap Kaila memaksakan senyumnya.


Kata-kata itu yang terus digunakan Kaila agar Raka tak memakannya untuk home schooling yang pasti akan sangat membosankan.


"Yasudah, minum dulu susunya habis itu kita berangkat" menyerahkan segelas susu ditangannya, Kaila meneguk tanpa sisa minuman berwarna coklat tersebut.


Berjalan keluar rumah bersama, keduanya masuk kedalam mobil. Raka yang sudah tak menggunakan motor lagi sejak perut Kaila mulai membuncit memilih mengenakan mobil agar Kaila merasa lebih nyaman saat diperjalanan.


"Ka, kamu akan melanjutkan kuliah dimana?" tanya Kaila.


Selama ini Kaila sudah salah paham akan kehidupan Raka. Dulu dimatanya Raka adalah seorang anak nakal yang suka berbaur dengan anak-anak yang tak memiliki pendidikan sehingga selalu terus bolos dan tak pernah mengerjakan tugas.


Dibalik semua itu ternyata Raka merupakan anak yang pintar, terbukti akan beberapa piala, medali bahkan sertifikat penghargaan terjejer rapi di kamar kedua orang tuanya yang sampai kini masih dalam keadaan kosong. Dan alasan Raka tetap bolos dan tak mengerjakan tugas Kaila juga tak tahu kenapa karena setiap ditanya Raka akan mengalihkan topik pembicaraan.


Tapi sekarang Raka memanfaatkan waktu sebaik mungkin memperbaiki semua nilainya atas permintaan Kaila yang ingin lulus bersama Raka dengan nilai terbaik.


"Belum tahu, kamu sendiri sudah memiliki kampus impian?" tanya Raka menoleh pada Kaila sesaat dan kembali fokus pada jalan.


"Sudah tapi..." Kaila tak berani melanjutkan ucapannya takut jika Raka tak mengizinkannya menjadi mahasiswi di kampus tersebut.


"Tapi apa?"


"Kamu jangan marah ya"

__ADS_1


"Enggak, lagian kamu mau kuliah dimana?" tanya Raka sekali lagi.


Kaila menarik nafas panjang, ini harus ia katakan pada Raka bagaimanapun Raka yang akan membiayai pendidikannya nanti dan harus tahu kampus mana yang ia inginkan, meski nanti mendapat penolakan Kaila tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Aku ingin melanjutkan pendidikan di universitas swasta dengan jurusan desainer, tapi harganya untuk setiap semester bisa mencapai belasan juta. Itu juga kalo kamu memperbolehkannya, kalo tidak aku akan mencari universitas negeri"


Memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah disediakan pihak sekolah, Raka melepas setbel ditubuhnya agar bisa menatap Kaila. "Kamu serius ingin kuliah di situ?"


Kaila mengangguk pelan. "Tapi kalo kamu gak izinin aku gak papa"


Raka mengambil tangan Kaila, digenggamnya lembut kedua tangan tersebut. "Kamu boleh kuliah disitu, jangan memikirkan biayanya karena saat kamu mau kuliah saja itu membuat ku senang"


Meyakinkan Kaila bahwa impian itu adalah tujuan utama hidup tidak mudah, banyak hall yang harus Raka lakukan termasuk memiliki kesabaran yang ekstra.


"Jadi aku boleh kuliah disana?" tanya Kaila kegirangan.


Raka mengangguk mengiyakan ucapannya. "Masuk gih, bentar lagi bel" suruh Raka.


"Makasih Raka"


"Sama-sama" Raka mengacak-acak rambut Kaila kecil.


Keluar dari dalam mobil Kaila berjalan dengan riang menuju kelasnya. Ucapan Raka yang memperbolehkan nya kuliah di kampus impian membuat hatinya terasa bahagia, tak menghiraukan tatapan murid-murid lain yang selalu menatapnya sinis.


Langkah Kaila terhenti sejenak saat mendapatkan sindiran dari Suci. Memilih acuh agar tak merusak suasana hatinya Kaila melanjutkan langkah menuju kelas.


"Mau kemana Kaila?" tegur Yuda menghentikan langkah Kaila.


Menatap kedua wajah itu secara bergantian sudah bisa ditabak jika kedua manusia itu akan menghinanya seperti hari-hari kemarin.


"Minggir!"


"Tuan putri mau lewat?" ledek Suci berdecak pinggang.


"Gue gak punya urusan ya sama kalian berdua!"


"Kalo mau lewat kasih tau dulu dong resep jadi ondel-ondel sekolahnya" imbuh Yuda.


Kaila melayangkan tatapan tajam pada Yuda. Entah bagaimana kerja otak laki-laki itu, jika di sekolah ia akan membantu suci membulinya tapi saat di luar sekolah Yuda dengan keras masih ingin mengakui janin diperutnya adalah darah dagingnya.

__ADS_1


"Tidak akan ada ayah yang tega menghina anaknya sejak didalam kandungan seperti ini!"


"Gue curiga sama lo, jangan-jangan selama ini lo hamil?" suci memutari tubuh Kaila menatap penampilannya dari atas hingga bawah dengan intens.


Murid-murid yang lain mendengar hall tersebut mulai kasuk-kasuk membicarakan ucapan suci.


"Gue-"


"Kai" panggil seseorang dari arah belakang.


Semua mata menatap Raka yang berjalan dengan cepat kerahnya. "Mereka apain lo?" tanya Raka menatap bergantian wajah sepasang kekasih dihadapannya.


"Atau jangan-jangan lo hamil anak Raka?, ups!"


"Tutup mulut busuk lo atau gue sobek tuh mulut sekarang juga!"


"Memangnya lo siapa?" tantang Yuda.


"Ajarin cewek lo etika!, jangan modal cantik doang tapi hati busuk!" Raka mendorong kuat pundak Yuda menatap dinding sekolah.


"Dan buat kalian semua!, apa kalian percaya dengan ucapan pelakor kaya dia?!, bisa saja nih pelakor iri dengan hubungan orang?!" tunjuk Raka tepat di depan wajah suci.


"Iyah ya, kenapa kita sampai lupa suci itu dulunya pelakor?"


"Apa stok malunya udah habis kali ya?, dulu jadi pelakor dihubungan Kaila sama Yuda ehh sekarang juga mau jadi pelakor di hubungan Kaila sama Raka"


"Namanya pelakor pasti gak bakal suka lah sama hubungan orang lain"


"Ya secara kita kan tau Raka sangat perhatian sama Kaila. Mungkin aja Suci udah di buat jadi sampah sama Yuda"


"Hahahaha" tawa murid-murid mengema dilorong sekolah yang mulai ramai.


Tanpa banyak bekerja cukup kasih bumbu sedikit saja murid-murid itu langsung dengan mudah memandang sebelah mata Suci.


Sedangkan Yuda laki-laki itu seperti tak berminat menolong suci kalo saja pemandangan dihadapannya membuat suasana menjadi panas.


Beralih menatap wajah Kaila, Raka mengusap pundaknya pelan. "Gue anter ke kelas ya?"


Kaila mengangguk. Raka benar-benar mengantar Kaila sampai didalam kelas memastikan Kaila aman dari gangguan siapapun.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️.


__ADS_2