Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Maaf In Gue Kai


__ADS_3

"Dok gimana keadaan Kaila?" tanya Raka melihat dokter yang keluar dari UGD.


"Anda siapanya pasien?"


Raka terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu, menatap dokter dihadapannya lumayan lama ia bisa menebak jika dokter itu baru dirumah sakit ini karena dari cara bertanya saja sudah beda.


"Saya suaminya" jawab Raka cepat.


"Anda suami dari pasien?" tanya dokter tersebut ragu, menatap penampilan Raka yang masih mengenakan seragam sekolah dokter tersebut yakin jika anak laki-laki dihadapannya ini masih pelajar. "Maaf ya dek, saya hanya akan memberikan info mengenai keadaan pasien hanya kepada keluarganya, apa keluarganya ada di sini?"


Baru Raka akan menjawab pertanyaan dokter tersebut seorang suster keluar dari dalam yang menyapanya. "Tuan muda anda disini?"


"Bagaimana keadaan Kaila?" tanya Raka belarih pada suster tersebut.


Merasa aneh akan pertanyaan Raka suster tersebut menatap wajah dokter yang berdiri si sampingnya dengan tatapan bingung. "Apa dokter Rizal belum memberitahukan keadaan nona Kaila?"


"Memang dia siapa?" tanya dokter Rizal menatap wajah datar Raka.


"Maaf tuan muda dokter Rizal disini baru jadi maklum kalo beliau belum kenal dengan anda"


"Itu tidak penting, sekarang bagaimana keadaan Kaila didalam sana?!"


"Keadaan nona Kaila saat ini sangat lemah tuan tubuhnya yang tengah demam tinggi diharuskan untuk rawat inap satu malam memastikan tidak ada hal buruk yang bisa terjadi pada ibu dan janinnya, dan mag nona Kaila kambuh dan itu yang membuatnya bisa sampai selemah ini" jelas suster tersebut dengan rinci mengenai keadaan kalian.


"Mag?" mendapat anggukan dari suster tersebut, Raka mengusap wajahnya kasar saat dirinya baru tahu Kaila memiliki mag. "Terus memar di dahinya apa itu akan menimbulkan cindera serius pada kepalanya?" tanya Raka yang tadi sempat memadati memar di dahi Kaila.


"Tidak tuan, itu hanya benturan kecil mungkin nona Kaila akan mengalamai sedikit pusing" Raka bernafas lega saat memar itu tidak mengakibatkan hall yang serius.


"Terus apa janinnya baik-baik saja?" tanya Raka yang khawatir akan janin Kaila yang masih sangat kecil.


"Untuk sekarang janinnya sangat lemah tuan, karena dalam masa kehamilan lima minggu ini nona Kaila harus mendapatkan asupan gizi yang sehat dan cukup. Karena nona Kaila yang belum sadarkan diri jadi pertama yang kita lakukan memasangkan selang infus agar cairan di tubuh nona Kaila kembali seperti sedia kala"


"Apa saya boleh menemui Kaila?" tanya Raka yang semakin khawatir akan keadaan gadis itu.


"Sebaiknya anda menemui nona Kaila di ruang rawat saja tuan karena nona Kaila akan kita pindahkan ketempat yang lebih nyaman" ucap suster tersebut lembut.


"Kenapa kamu memberitahukan semuanya sama orang yang bukan keluarga pasien!" marah dokter Rizal.

__ADS_1


Menatap dokter muda tersebut dengan tatapan tajam Raka berlari menatap suster yang dengan susah payah menelan salivanya sendiri. "Pastikan dia tau siapa saya sebelum kalian berdua keluar dari rumah sakit ini hari ini juga!" setelah mengeluarkan ancaman tersebut Raka berjalan pergi sebentar sebelum keruang rawat inap Kaila.


"Kenapa kamu membocorkan informasi pasien sama anak ingusan itu!" ucap dokter Rizal menunjuk punggung Raka.


"Dok jaga ucapan anda, anda disini baru jadi sebaiknya anda lebih hati-hati dalam berbicara apa lagi dengan tuan muda" peringat suster tersebut.


"Memang siapa dia? kenapa dia harus dipanggil tuan muda?" tanya dokter Rizal menatap wajah suster disampingnya sinis. "Paling kamu cuma memanggilnya dengan sebutan tuan muda karena dia tampan bukan?" lanjut dokter tersebut penuh sinis.


Mengelengkan kepalanya mendapati sifat dokter muda tersebut, suster yang berdiri di sampingnya banyak-banyak menghela nafas sabar. "Anak yang anda bilang ingusan tadi namanya Raka dan dia anak tunggal pemilik rumah sakit ini dan apa anda tau Almarhum nyonya Anita?"


Dokter Rizal yang sering mendengar nama tersebut dari para pegawai rumah sakit sebagai pemilik rumah sakit ini dan termasuk juga sebagai salah satu dokter spesialis yang terkenal akan kebaikannya hanya mengangguk pelan.


"Beliau itu mama dari tuan muda Raka yang akan mewarisi rumah sakit ini dan itu belum termasuk warisan dari almarhum tuan besar Rangga-Ayah tuan muda, jadi jika tuan muda mau memecat anda saat ini juga itu bukan hal yang susah untuk ia lakukan" ucap suster tersebut menakut-nakuti pria disampingnya walau ia sendiri yakin Raka tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu mengingat Raka yang memiliki sifat sangat lembut seperti almarhum mamanya.


"Apa? kenapa kamu tidak bilang dari tadi?!"


"Kenapa? apa anda takut dipecat dari rumah sakit ini?" kini suster tersebut yang berkata sinis. "Jadi saya harap setelah ini anda meminta maaf kepada tuan muda sebelum anda menyesal!" ucap suster tersebut kembali masuk dalam ruang UGD untuk membawa brankar Kaila keruang inap.


"Tapi apa hubungannya tuan muda dengan nona Kaila?" tanya dokter Rizal sedikit berteriak tapi tak mendapatkan sahutan dari suster tersebut.


***


Berusaha bangkit dari tidurnya Kaila merasa kepalanya begitu sangat berat untuk dibuat bangun.


"Kai jangan bangun" ucap Raka yang baru saja kembali keruang inap setelah menerima baju ganti Kaila dari seseorang yang mengantarnya kerumah sakit. "Jangan banyak gerak dulu"


"Gue mau pulang Ka" ucapnya Kaila lirih dan kembali merebahkan tubuhnya.


"Lo masih harus di rawat Kai, sampai keadaan lo baik-baik aja" ucap Raka mengusap rambut Kaila lembut.


Mendengar dirinya harus di rawat inap Kaila mengelengkan kepalanya pelan. "Gue gak mau dirawat Ka, gue mau pulang, gue harus belajar buat besok"


Menarik nafas dalam Raka memilih mengganti topik pembicaraan. "Lo belum makan dari tadi pagi, sekarang lo harus makan biar gue suapin" meraih satu piring bubur di atas nakas Raka mengarahkan satu sendok ke depan mulut Kaila.


"Gue bisa sendiri Ka"


"Buka mulut"perintah Raka tak ingin ditolak. Dengan terpaksa kaila menerima suapan dari tangan Raka.

__ADS_1


Menyuapi Kaila dengan begitu lembut sesekali Raka harus membawa Kaila masuk ke dalam kamar mandi karena gadis itu yang terus memuntahkan isi makanan yang baru saja ia suap kan. "Masih mual?" tanya Raka mengusap leher Kaila lembut.


Kaila mengelengkan kepalanya, mendapat jawaban itu Raka membantu Kaila kembali ke atas brankar dengan hati-hati.


"Ka udah gue capek muntah-muntah terus" tolak Kaila saat tangan itu kembali ingin menyuapinya.


"Sekali aja tapi kali ini jangan di muntahin lagi" dengan terpaksa Kaila memakan satu suap terakhir. Berusaha sekuat tenaga menahan gejolak diperutnya Raka menyodorkan satu gelas air mineral dan dua kapsul obat yang diberikan suster beberapa saat lalu.


"Ka kepala gue pusing" ucap Kaila memijat keningnya pelan.


"Bobok ya, biar cepat sembuh"


"Lo gak bakal ninggalin gue kan?" tanya Kaila yang tiba-tiba merasa takut.


Raka menggeleng kecil "Gue bakal disini nemenin lo"


Mengangguk senang mata Kaila perlahan mulai terpejam. "Ka gue mau dipeluk" ucapnya setengah sadar.


"A-apa Kai?" tanya Raka sekali lagi.


"Disini dingin Ka, gue mau dipeluk" ucapnya sekali lagi.


Melihat Kaila yang mengigil kedinginan dengan mata terpejam Raka menempelkan punggung tangannya pada dahi Kaila. Merasa suhu tubuh gadis itu belum juga turun dari tadi, Raka langsung naik ke atas brankar dengan hati-hati, menggunakan lengan tangannya sebagai bantal kepala Kaila, Raka menarik pelan tubuh mungil tersebut masuk kedalam pelukannya.


"Ka"


"Iyah Kai"


"Lo bohong sama gue" mendengar hal itu Raka terdiam dengan tangan yang mengusap rambut panjang Kaila lembut. "Katanya lo bakal lindungin gue dengan nyawa lo tapi lo malah biarin mereka nyiksa gue di sana sendirian" rancau Kaila dengan mata terpejam.


Dada Raka terasa sangat sesak mendengar perkataan yang dilayangkan Kaila meski gadis itu sudah terlelap ke alam mimpi. Mempererat pelukannya Raka mencium rambut Kaila dengan sangat lama.


"Maaf in gue Kai" ucap Raka yang hanya tersampaikan dari dalam hati.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2