Dua Garis Merah Di SMA

Dua Garis Merah Di SMA
Ruang Lukis


__ADS_3

"Ka, lo mau bawa gue kemana sih!" omel Kaila saat Raka menutup matanya dengan telapak tangan.


Setelah makan malam Raka berkata akan menunjukan sesuatu kepadanya, entah apa yang akan Raka lakukan yang jelas Kaila merasa kesal dengan tangan Raka yang berada didepan wajahnya.


"Udah sampai" Baru Kaila akan menyingkirkan tangannya, Raka terlebih dahulu menegurnya. "Jangan di buka dulu"


"Kelamaan Ka!"


Melihat Kaila tak sabaran Raka menggeleng kecil. "Oke gue bakal buka, tapi sebelum itu gue harap lo suka sama apa yang gue kasih"


Kaila memilih mengangguk mengiyakan ucapan Raka karena dirinya tipe orang yang tidak sabaran menganai kejutan seperti ini.


Perlahan tangan Raka menjauh dari wajah Kaila. Membuka matanya secara perlahan, mata Kaila membelak sempurna melihat ruangan melukis lengkap beserta alat-alatnya.


"I-ini" ucap Kaila terbata-bata sangat sulit menjelaskan perasannya saat ini.


"Ini hadiah dari gue buat lo karena udah dapat peringkat pertama dikelas" ucap Raka. Satu minggu sebelumnya Raka tak senagaja melihat buku gambar Kaila tergeletak ditaman belakang, dengan rasa penasaran Raka membukanya dan terdapat berbagai gambaran baik hewan,kartun dan benda yang hampir mirip menyerupai aslinya dan itu membuat Raka berinisiatif membuat ruangan melukis secara diam-diam.


"Terus ini lo bikin untuk gue?" tebak Kaila dan Raka mengangguk. "Ini terlalu berlebihan Ka, gue gak butuh semua ini"


"Lo butuh Kai, dengan ini semua lo bebas menggambar apapun dan mengembangkan bakat lo"


"Tapi-"


Raka meraih tangan Kaila memotong ucapan gadis dihadapannya. "Gue mau lihat lo menjadi desainer yang terkenal Kai, jadi gue mohon terima ini semua walau terlalu berlebihan dimata lo"


"Kenapa lo terlalu berharap seperti itu sama gue Ka?, kalo gue gak bisa menggapai semua itu gimana?" tanya Kaila memeringati Raka agar tak terlalu menaruh harapan besar pada dirinya.


"Kenapa lo bilang kaya gitu?"


"Karena gue udah gak yakin untuk impian-impian itu" jawab Kaila membuang pandangannya kearah lain.


Melihat Kaila seperti orang yang patah semangat tiba-tiba perasaan kesal Raka muncul tanpa diminta. "Mana Kaila yang gue kenal dulu yang selalu semangat meraih apapun yang di inginkan?, mana Kaila yang gue kenal untuk tetap kuat? dan mana Kaila yang gue kenal selalu ceria?"


"Semua itu sudah hilang Ka, gak ada lagi Kaila yang dulu yang ada hanya Kaila yang pasrah akan takdirnya sekarang!"


Raka mengguyur rambutnya kebelakang melihat sifat Kaila yang benar-benar seperti orang frustasi. "Jangan jadi lemah kaya gini Kai!, gue gak suka lihat lo lemah kaya gini!"

__ADS_1


"Semakin lo lemah semakin banyak orang yang bakal mudah sakitin lo termasuk Yuda dengan Suci yang bakal semakin menjadi menindas lo!"


Raka menguncang tubuh Kaila beberapa kali, bukan karena ia marah tapi ia tak ingin Kaila menjadi wanita lemah. "Bangkit Kai!, bangkit!"


"Hiks...hiks..." tangis Kaila pecah saat Raka berteriak kepadanya untuk pertama kali.


Sadar dengan caranya yang salah saat menegur Kaila Raka membawa tubuh Kaila kedalam pelukan hangatnya. "Maaf" lirih Raka mengusap rambut panjang Kaila.


"Ja-jangan teriak Ka" pinta Kaila segukan.


Raka mengangguk, mencium rambut Kaila lama. Menjauhkan tubuh Kaila Raka menangkup wajahnya.


"Jangan jadi lemah Kai, karena diantara kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya."


Baru saja Kaila akan menjawab ucapannya jari telunjuk Raka terlebih dahulu berada didepan bibir merahnya.


"Jangan dilanjutkan, lebih baik sekarang lo ajarin gue ngelukis"


"Tapi gue gak terlalu pintar ngelukis"


Malam semakin larut satu lukisan sunset dipinggir pantai telah selesai keduanya buat. Terinspirasi dari gambar yang diambil Raka hari itu Kaila menambahkan seorang laki-laki disebelahnya dan tentunya laki-laki itu adalah Raka.


"Cantik" puji Raka saat lukisannya telah selesai. "Gue mau pajang lukisan ini" lanjut Raka menyapu setiap sudut ruangan melukis yang telah resmi menjadi milik Kaila


"Disitu aja gimana?" tunjuk Kaila pada dinding yang masih polos.


Raka mengangguk setuju, keluar sebentar untuk mengambil paku dan palu keduanya memasang foto pada tempat yang sudah


Kaila tentukan.


"Ka" panggil Kaila, dengan pandangan Keduanya yang tak lepas dari lukisan dihadapannya.


"Iyah" sahut Raka.


Kaila menaikan wajahnya sedikit untuk menatap wajah Raka secara keseluruhan. "Ka ajarin gue buat cinta sama lo" ucap Kaila.


Mendengar ucapan Kaila Raka sedikit terkejut dengan cepat digantikan dengan kekehan kecil keluar dari mulutnya. "Bukannya selama ini gue udah ngajarin Lo buat cinta sama gue?, Dari cara gue selama ini?" ucap Raka terselip candaan didalamnya. Ia harap apa yang ia dengar hanyalah angin lalu agar tak memberikan harapan lebih pada hatinya.

__ADS_1


"Gue serius ka!"


Raka terdiam mendengar suara Kaila yang nampak serius.


"Ajarin gue jatuh cinta dengan laki-laki yang tepat, yaitu lo"


"Lo serius mau belajar mencintai gue?" Kaila mengangguk cepat.


"Lo lagi gak demam kan?" menempelkan punggung tangannya Raka tak merasa suhu badan Kaila panas.


Menyingkirkan tangan Raka Kaila menunjukan wajah kesalnya. "Gue serius Ka, jangan di jadikan bahan candaan kaya gini dong!"


"Lo serius?" tanya Raka sekali lagi.


"Iyah Raka Agbraham!" jawab Kaila dengan jelas.


Raka mengangguk cepat, ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Gue bakal ajarin lo, mulai detik ini!"


Senyum Kaila mengembang seketika mendengar ucapan Raka yang akan mengajarinya mencintainya meski terbilang sangat terlambat.


"Jadi apa lo bakal ngakuin hubungan kita?" tanya Raka hati-hati. "Kalo gak juga gak papa" lanjut Raka tak ingin memaksakan kehendaknya sendiri.


"Kalo sebagai suami istri saat ini gue gak mau, tapi kalo pura-pura menjadi sepasang kekasih dengan senang hati gue mau"


Hati Raka begitu bahagia mendengar hall yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan sedikit saja. "Boleh gue peluk lo?"


"Peluk gue sesuka lo Ka" ucap Kaila merentangkan kedua tangannya.


Tanpa aba-aba Raka memeluk tubuh Kaila dengan sangat kuat. Tuhan memang adil tidak mungkin ada cinta yang tidak terbalaskan sedikitpun, kita hanya perlu menunggu waktunya saja dengan begitu semuanya akan menjadi lebih sempurna pada waktu yang telah ditentukan.


Melepas pelukannya kedua mata itu saling bertemu. "Tapi gue belum bisa buat jadi istri yang seutuhnya untuk lo"


Raka tersenyum tak mempermasalahkan hal tersebut, untuk bisa dicintai Kaila saja itu sudah lebih dari cukup untuknya. "Gak masalah buat gue untuk hal itu, Karena bagi gue cinta lo udah cukup untuk membayar semuanya"


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️.

__ADS_1


__ADS_2