
๐บLanjut Lagi๐บ
Kedua gadis kembar itu kini tertutup dengan busa, baru pertama kali seumur hidup mereka mandi dengan begitu riang. Aksi mereka terhenti saat ada yang mengetok pintu kamar mandi, Anjela langsung cepat membuka pintu.
"Awww... Astaga!"
Nisa salah satu pelayan di rumah itu kaget melihat Anjela yang di penuhi dengan busa sabun, Anjela tersenyum melihat Nisa.
"Ada apa, Ibu?" tanya Anjela sopan.
Anjeli yang mendengar itu langsung ikut berdiri di samping Anjeli, mereka sama-sama telanj*ng tapi hanya saja tubuh mereka di lindungi oleh bisa sabun.
"Umur saya baru 25 tahun, jadi panggil saya Nisa saja." Nisa berkata sambil menundukkan wajah, ia tahu jika kedua gadis itu adalah tamu dan tentunya harus di hormati.
"Nisa, ada apa kemari?" tanya Anjeli.
"Saya hanya mengantarkan pesanan yang di suruh Tuan Rahul saja, semuanya ada di atas tempat tidur termasuk handphone." Nisa menjawab dengan lemah lembut.
Mendengar kata handphone dengan cepat Anjela dan Anjeli berlari menuju tempat tidur, mereka tak menghiraukan Nisa yang melototkan mata melihat tubuh mereka karena busa-busa itu berjatuhan ke lantai.
__ADS_1
"Mana handphonenya?" tanya Anjeli bingung, begitupun juga dengan Anjela karena mereka tidak melihat benda pipih itu.
"Tunggu sebentar ya, biar saya yang ambilkan." Nisa berjalan menuju tempat tidur dengan langkah lemah, baru pertama kalinya ia melihat tubuh wanita yang sedang bugil selain dirinya.
"Ini handphonenya, sebaiknya nona-nona ma..."
"Kalian sudah si....aaappp."
Rahul langsung masuk kamar karena pintu kamar tidak terbuka seperempat, ia pikir jika Anjela dan Anjeli sudah siap sebab sudah setengah jam lewat. Demi menemui kedua gadis itu Rahul sengaja mandi tidak seperti biasanya, tapi setelah melihat Anjela dan Anjeli dalam keadaan begitu membuat Rahul terpaku menatap kedua gadis itu.
"Maaf, saya permisi." Nisa langsung cepat keluar kamar melewati Rahul yang terpaku di pintu.
Anjela mendekati Rahul, tapi Rahul langsung berlari keluar kamar dan langsung menutup pintu. Rahul mengatur nafas sampai dadanya kembang kempis, ia mengunci Anjela dan Anjeli dari luar agar kedua gadis itu tidak keluar kamar.
"Bapak, kenapa di tutup? Apa kami bersalah?"
Anjela berteriak sambil mengetuk pintu kamar, Anjeli tak menghiraukan Anjela yang berteriak karena ia fokus dengan kotak handphone di pegangnya.
"Wah.. ini handphonenya, Anjela sini!"
__ADS_1
Anjela langsung berbalik melihat Anjeli, ia melihat handphone di tangan Anjeli berwarna putih langsung berlari menuju Anjeli.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Anjela.
"Dalam kotak ini, coba aku buka yang satunya ya."
Anjeli memberi handphone itu ke Anjela, kemudian ia dengan cepat membuka kotak handphone satu lagi. Saat kotak itu terbuka terlihatlah benda pipi berwarna merah, Anjeli berteriak senang karena mendapatkan warna merah.
"Punyamu cantik sekali, Anjeli."
Anjela menyukai warna putih, tapi karena melihat handphone yang di pegang Anjeli berwarna merah jadi ia ingin juga.
"Punyamu juga cantik, kita sama-sama mempunyai handphone yang cantik!" seru Anjeli dengan senang, Anjela yang awalnya murung sekarang jadi ikutan senang juga.
"Hey, kalian berdua. Segera pakai baju, jika tidak maka semua barang-barang itu akan saya buang. Mengerti!!" Rahul berteriak dari depan pintu.
Anjela dan Anjeli dengan cepat langsung menuju kamar mandi, mereka ingin membilas badan dan kemudian berganti baju.
"Kenapa mereka begitu ceroboh, bagaimana jika para pelayan laki-laki yang lain yang melihat. Astaga Anjela, Anjeli..."
__ADS_1
Bersambung