
Satu bulan berlalu, sejak pertemuan pertama mereka di depan SD. Anjela dan Anjeli beserta suami mereka tinggal di rumah Iskandar dan Aina. Walaupun orangtua Rahul dan Ayah Dewa tidak menyetujui, namun karena di bujuk akhirnya mereka menerima juga.
Saat ini mereka sedang makan malam, lauk pauk banyak terhidang di sana. Anjeli dan Anjela tak mau terlewat, mereka makan dengan lahap seperti orang yang tidak ingin lauk itu di habiskan oleh orang lain. Setiap hari begitu, walaupun suami-suami mereka menyuruh agar tidak berlebihan, tapi mereka tak peduli. Mereka sangat suka dengan makanan yang ada di rumah orangtua mereka.
Iskandar dan Aina tak peduli, mereka malah menyuruh Anjela dan Anjeli makan yang banyak. Mereka ingin melihat anak-anak mereka bahagia.
"Beby, biar Ayang saja yang suapi ya?" Dewa mengusulkan diri karena agak jijik melihat cara Anjeli makan.
"Dewa, kau ini apa-apaan sih? Biar saja Anjeli makan seperti itu. Lihat nih Anjela, aku membiarkan kan dia makan banyak agar dia sehat selalu." balas Rahul menatap tak suka ke arah Dewa.
"Jangan ikut campur! Ayo Beby, kita cuci tangan kamu dulu. Nanti Ayang suapi, nggak baik makan seperti itu."
"Nanti nggak kenyang kalau Ayang suapi!"
"Siapa bilang? Cuci tangan dulu, ntar kita coba. Satu piring berdua, oke!"
"Tapi kalau masih kenyang boleh nambah kan?"
"Tentu boleh dong, Beby."
Anjeli hanya mengangguk saja, Dewa tersenyum melihat itu. Mereka pergi mencuci tangan, meninggalkan Anjela dan Rahul, serta Iskandar dan Aina.
Iskandar melihat Anjela dan Rahul, kemudian ia melihat istrinya.
"Rahul." panggil Iskandar.
"Ya, Papi."
"Ajak Anjela cuci tangan, terus suapi dia makan seperti Dewa dan Anjeli!"
Rahul hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo Sayang, kita cuci tangan dulu!"
Anjela yang tengah mengunyah hanya mengangguk saja, mereka pun pergi dari meja makan. Sekarang tinggallah Iskandar dan Aina, mereka hanya saling pandang sebentar. Kemudian akhirnya Iskandar yang buka suara.
"Mi, sini biar Papi suapi Mami."
"Nggak ah, Mami sudah kenyang."
"Mami nggak asik nih, masa nggak mau romantisan juga seperi anak kita."
"Besok aja, Mami sudah kenyang nih!"
"Beneran Mami sudah kenyang?"
"Iya."
Iskandar menghela nafas, kemudian ia berkata lagi. "Ya baguslah kalau sudah kenyang, itu artinya malam ini kita bisa dong gituan."
"Gituan apanya?"
__ADS_1
"Ih, Mami kok pura-pura lupa sih. Malam ini malam apa coba?"
"Malam Jum'at."
"Terus?"
"Terus apanya? Nggak jelas nih Papi."
"Ya enak-enakkan lah!"
"Mami nggak mau lah, Mami mau istirahat malam ini."
Iskandar hanya menelan ludahnya pahit, ia langsung berdiri dan meninggalkan istrinya sednirian. Iskandar pergi menuju dapur, saat ia sampai anak dan mantunya baru selesai mencuci tangan.
"Rahul, Dewa. Ada yang ingin saya bicarakan sama kalian, untuk Anjela dan Anjeli kalian duluan ya ke meja makan, siapkan makanan untuk kalian makan nanti."
"Oke, Papi."
Iskandar melihat kedua menantunya dari atas sampai bawah, ia memperhatikan setiap anggota tubuh Rahul dan Dewa.
"Ehem, mana bukti yang kalian katakan?"
Rahul dan Dewa tidak mengerti apa yang di katakan oleh mertuanya.
"Apanya, Pi?" tanya mereka kompak.
"Katanya mau menghamili Anjela dan Anjeli segera, mana buktinya? Jangan-jangan punya kalian loyo!"
Iskandar dan Rahul langsung melihat Dewa.
"Maksudnya?" tanya mereka kompak.
"Eh, menjerit keenakan maksudnya."
"Oh."
Iskandar langsung mengangguk paham, ia berjalan menuju kulkas dan memgambil dua botol jamu untuk Rahul dan Dewa.
"Nih untuk kalian!" kata Iskandar sambil memberi jamu itu untuk Rahul dan Dewa satu persatu.
"Apa ini?" tanya Rahul dan Dewa kuat.
"Itu jamu untuk menguatkan junior kalian agar tahan lama. Itu untuk meningkatkan kejantanan kalian, malam ini cobalah. Saya jamin jika kalian akan melakukannya sampai pagi."
"Wah benarkah?" tanya Rahul dengan antusias.
"Kalau sampai pagi, nanti istriku tidak bisa jalan dong." kata Dewa memikirkan nasib Anjeli.
"Pikirkan kenikmatannya dulu, besok kita buat istri kita tak bisa jalan. Bagaimana?" kata Iskandar.
"Setuju!" jawab Rahul dengan cepat.
__ADS_1
"Aku juga setuju deh." lanjut Dewa.
"Bagus, sekarang kalian beri makan istri kalian banyak-banyak. Setelah itu kalian harus beraksi, oke."
"Siap, Papi."
Mereka kembali lagi ke meja makan, di sana terlihat Aina, Anjeli dan Anjela sedang berbicara sambil tertawa senang.
"Ehem, anak-anak Papi sini dulu, Papi ingin bicara sebentar sama kalian."
Iskandar memanggil Anjeli dan Anjela, sedangkan Rahul dan Dewa kembali ke meja makan. Mereka tak sabar ingin melakukan aksi mereka malam ini, mencapai kenikmatan yang tak terbayangkan.
"Ada apa, Papi?" tanya Anjela.
Iskandar tak menjawab, ia langsung menarik tangan anak-anaknya mengikutinya berjalan ke dapur.
"Anak Papi yang cantik-cantik ini, dengerin Papi ya?"
Anjeli dan Anjela hanya menangguk.
"Abis makan nanti, kalian kunci pintu kamar kalian. Oke."
"Untuk apa Papi?" tanya Anjeli bingung.
"Kunci saja, jangan biarkan siapun masuk termasuk suami kalian!"
"Loh kok gitu?" tanya Anjela.
"Malam ini, Papi dan suami-suami kalian akan menangkap ular. Ular itu ada di halaman belakang rumah kita, jadi Papi takut jika ular itu masuk ke dalam kamar kalian dan mematuk kalian."
"Ih.... Anjeli takut!"
"Anjela juga takut."
"Makanya itu, kalian harus menguncinya. Kalian tidak boleh membuka pintu untuk siapapun, termasuk suami kalian. Soalnya jika sudah menangkap ular, orang tidak boleh berdekatan nanti badan kita ikut jadi seperti ular. Apa kalian mau?"
"TIDAK" jawab mereka kompak.
"Bagus, kalau begitu jangan bukakan pintu untuk siapapun malam ini."
"Baiklah."
"Jika aku tidak dapat jatah malam ini, berarti kalian juga. Hahaha ... menantuku yang malang." kata Iskandar dalam hati.
Mereka kembali ke meja makan, sebelum kembali duduk Iskandar berbisik dulu ke telinga Rahul dan Dewa bergantian.
"Jangan masuk kamar dulu nanti, kita ngobrol sebentar. Kalian harus minum jamu itu di depan saya, oke!"
Rahul dan Dewa hanya mengangguk, mereka melihat istri mereka dengan tatapan lapar.
🐙🐙🐙🐙
__ADS_1