
Dua Istri Polosku
Season 2
Malam itu hujan turun begitu lebat, seorang ibu muda sedang berdiri di ambang pintu kamar. Dia melihat dua buah hati kembarnya yang sedang tertidur pulas. Hari baru menunjukkan pukul sepuluh malam, dia juga hampir tertidur saat membaca dongeng tadi.
Hanya dengan memakai lampu tidur, ia meninggalkan anak kembarnya yang sebentar lagi menginjak umur tiga tahun.
Ibu muda itu tampak berisi, jauh sekali berbeda saat dia sebelum menikah. Dengan memegang gagap pintu, ia ingin menutup pintu kamar dan pergi ke kamar lain ke tempat suaminya. Namun, enggan rasanya meninggalkan dua gadis mungil yang seperti dirinya dan kembarannya dulu.
"Beby," ucap seorang pria dengan suara khasnya. Suara itu bermanja di telinga ibu muda tadi.
Tangan pria itu memegang pundak istrinya, menengok sedikit ke dalam kamar dan melihat dua buah hatinya sedang tertidur pulas.
"Iya, Ayang," jawabnya lembut. Ia menoleh ke belakang, melihat wajah suaminya yang sedikit menunduk sebab ia terlalu pendek.
"Anak kita sudah tidur, kamu dari tadi nemenin mereka. Kapan nemenin Ayang juga?" tanya Dewa sembari mendekati wajah ke wajah istrinya.
Ibu muda itu tadi tertawa kecil, dia Anjeli. Tahu dia apa yang dimaksud suaminya tadi. Beberapa hari ini memang mereka jarang melakukannya, anak mereka sakit karena perkembangan pertumbuhan anak.
__ADS_1
Siapa yang tahan jika tidak melampiaskannya, padahal istrinya bisa diajak bermain.
Dewa memegang dagu Anjeli yang sedikit berisi, tak tahan ia melihat bibir istrinya yang menggoda.
"Beby, ke kamar yu! Ayang pengen," ucapnya dengan manja.
Anjeli tertawa kecil mendengarnya, ia mencubit pelan perut Dewa yang masih kotak-kotak. Hanya saja badan Dewa makin berotot dan sedikit berisi.
"Jangan colek aja, ayo kita ke kamar," ucap Dewa lagi.
"Ayo kita ke kamar!" ajak Anjeli.
"Beby, biar Ayang gendong saja. Ayang akan Beby sampai di atas tempat menyalurkan asmara kita."
Anjeli geleng-geleng kepala. "Tidak, Beby ini gendut, Ayang. Nanti Ayang gak kuat, kalau Ayang gak kuat nanti Beby jatuh," jelas istrinya itu.
Mendengar penjelasan istrinya membuat Dewa makin tak sabar, istrinya sama seperti dulu.
__ADS_1
"Ayang ini kuat, tenang saja. Sini, biar Ayang gendong."
Memang Anjeli makin berisi, malah bisa dibilang gendut. Berbeda sekali dengan kembarannya yang sama seperti dulu badannya walaupun sudah melahirkan juga.
Sejak melahirkan si kembar, Anjeli makin kuat makan. Sama seperti dulu, tapi lebih kuat lagi. Walaupun begitu, Dewa sang suami tetap setia dan makin mencintai istrinya.
Dewa menggendong Anjeli, walaupun tubuh istrinya makin berisi, namun dia tetap ingin menggendong Anjeli. Dengan harus mengeluarkan kekuatan ekstra, dia berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar anaknya.
Untung saja pintu kamar tidak ditutup tadi, jadi Dewa tinggal masuk dan menutup pintu dengan kakinya. Tujuannya cuma satu, membawa istrinya ke atas tempat tidur dan memadu kasih di sana.
Dewa menatap mata Anjeli dalam saat ia membaringkan Anjeli di atas tempat tidur. Ia menelan ludahnya saat melihat tubuh istrinya yang makin memadat.
"Beby tega membiarkan Ayang kelaparan, malam ini Ayang mau kenyang," ucap Dewa sambil menatap mata istrinya, ia berada di atas Anjeli sambil bersanggah dengan tangannya.
"Kelaparan? Bukannya Ayang makan terus kan? Tadi Ayang makan, kan?"
"Kamu ini ya, Ayang mau makan kamu. Mau itu duluan," ucap Dewa sambil melihat dua gundukan istrinya yang makin membesar.
__ADS_1
Bersambung