
"Benarkah?"
"Iya, dia itu sebenarnya cengeng."
"Hahaha... Anjeli tahu sekarang, pasti Dewa berpura-pura sok kejam. Padahal dia sangat cengeng hahaha..." Anjeli tertawa mendengar cerita dari ayah Dewa, pria yang memakai kursi roda itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Anjeli tertawa senang.
"Bapak tahu, Anjeli tadi membuat Dewa nangis hahaha." kata Anjeli di sela tawanya.
"Kamu membuatnya menangis?" tanya ayah Dewa tak percaya.
"Iya, Anjeli pukul burungnya dan dia langsung menjerit dan menangis hahaha..."
Ayah Dewa menelan ludah mendengar itu, ia tak menyangka gadis imut di depannya berani menyentuh barang laki-laki. Bukan hanya menyentuh tapi juga memukul, ia melirik punyanya sebentar.
"Oh iya.. umur Dewa berapa, Bapak?" tanya Anjeli setelah mengingat jika Dewa masih tampak muda.
"Dia baru 24 tahun, tapi kelakuannya sudah seperti orang dewasa yang sudah menikah."
"Oh... pantesan saja wajahnya Anjeli lihat masih muda, kalau Anjeli baru 20 tahun."
"Kamu masih sangat muda, kenapa kamu bisa sampai kesini? Biasanya Dewa selalu membawa wanita dewasa, tumben dia membawa seorang gadis ke rumah ini." kata ayah Dewa.
"Anjeli hanya ikut Kak Rosan, sebenarnya Anjeli juga punya kembaran. Anjeli sangat sedih tidak bisa bertemu Anjela, Anjeli sangat rindu Anjela." ucap Anjeli dengan nada sedih.
"Kalian di sini rupanya, ayo Anjeli kita makan!" kata Dewa menghampiri mereka yang sedang duduk-duduk di depan ruang tv.
"Benarkah? Anjeli sangat lapar, kalau gitu ayo kita makan." seru Anjeli dengan semangat.
"Kalau begitu kau pergi dulu ke ruang makan, di sana!" Dewa menunjuk di mana letak ruang makan.
"Baiklah." jawab Anjeli riang.
Melihat Anjeli pergi, Dewa melihat ayahnya dengan wajah dingin. Ayahnya itu menghela nafas melihat anaknya yang menatapnya dengan angkuh, ia tak habis pikir dengan kelakuan anaknya sekarang.
__ADS_1
"Ayah bicara apa saja dengan Anjeli?" tanya Dewa datar.
"Tidak apa-apa, hanya bercanda saja." jawab Ayahnya.
"Sebaiknya jangan ganggu urusan kami!"
"Dewa, Anjeli adalah gadis yang baik. Sebaiknya kamu jangan menyakitinya, dia juga tidak pernah sekolah jadi jangan memarahinya kalau dia melakukan kesalahan." jelas Ayah Dewa dengan lembut.
"Sudah ku bilang jangan ganggu urusan kami!"
Dewa langsung pergi meninggalkan ayahnya yang sedang sedih, ayahnya begitu sedih karena sikap anaknya masih tidak berubah.
"Anjeli, saya harap kamu bisa merubah kerasnya Dewa. Anjeli saya sangat berharap kamu juga bisa menjadi malaikat yang bisa merubah Dewa menjadi lebih baik lagi"
Ayahnya begitu berharap jika Dewa berubah, ia ingat betul dua tahun yang lalu lah yang membuat Dewa berubah. Dewa merasa kecewa karena ayahnya tidak menjaga ibunya dengan baik, ibunya mengidap kanker dan itu yang membuatnya meradang. Mereka semua tidak tahu kalau ibunya mengidap penyakit tersebut, dan Dewa melampiaskan kemarahannya dengan ayahnya.
Di ruang makan, tepatnya di meja makan Anjeli tampak sangat senang. Lauk pauk yang tersusun indah di atas meja membuat matanya berbinar-binar, air liurnya hendak keluar melihat dan mencium aroma yang keluar dari makanan dan memasuki indera penciumannya.
"Ayo duduk, jangan berdiri saja!" ucap Dewa yang melihat Anjeli berdiri sambil menatap ria makanan tersebut.
Anjeli yang mendengar suruhan itu langsung duduk, ia begitu bersemangat jika sudah di depan makanan.
"Ini kelihatannya sangat enak, mana Bapak? apa Bapak tidak ikut makan?" tanya Anjeli mengingat ayah Dewa.
"Dia sudah makan."
"Oh... apa Anjeli boleh makan semuanya?"
"Tidak, nanti kau gendut."
"Anjeli kan kurus. Waktu di rumah Abang Rahul, Anjeli makan banyak dan Anjeli tidak gendut pun!"
"Gendut itu tidak langsung, tapi perlahan. Kalau kau terbiasa terus makan banyak, maka berat badan kau akan naik nanti. Di bilang ngeyel, sudah nanti gendut baru nyesal."
__ADS_1
"Iya! tapi hari ini Anjeli akan makan banyak, kasihan kan kalau makanannya tidak di makan."
"Terserah kau saja, jangan sampai kekenyangan nanti kau susah gerak."
"Baiklah, selamat makan."
Anjeli makan dengan lahap, Dewa tidak jadi makan karena melihat Anjeli makan seperti orang kelaparan. Dia melihat Anjeli makan membuatnya mual. Dewa tidak pernah melihat orang yang makan seperti Anjeli, lebih lagi Anjeli makan tanpa sendok.
"Apa memang begitu caramu makan?" tanya Dewa memandang jijik Anjeli.
"Jika tidak suka jangan di lihat." Anjeli menjelingkan matanya saat melihat wajah Dewa yang memandangnya jijik.
"Kenapa kau melihatku begitu? ingat! kau hanya numpang di sini"
"Numpang apanya?! Anjeli tidak merasa menumpang. Anjeli di bawa ke sini, kalau tidak suka sama Anjeli kau tinggal antar pulang saja. Gitu aja susah!" balas Anjeli dengan ketus, ia tidak tahu kenapa ia seperti itu. Jika melihat Dewa membuat ia ingin menghajar pria itu.
"Kau! kau itu hanya pembayar hutang, jadi kau itu hanya budak ku di sini!"
"Aku tidak peduli!"
"Kau!"
"Diamlah! kau ini selalu membuatku marah, wajahmu sangat menyebalkan. Kenapa aku benci melihatmu? Kenapa aku ingin menghajar burung mu terus? Kenapa aku jadi jahat bila melihatmu? Kenapa wajahmu selalu melihatku begitu? Kenapa? Kenapa? Kenapa?!" Anjeli bertanya berturut-turut, para pelayan cekikikan mendengarnya.
"Kenapa kau begitu berisik?!" hanya itu yang bisa Dewa katakan.
"Kenapa kau terus memancingku?!" balas Anjeli lagi.
"Kenapa kau jo..."
"Diam kau, nanti burung mu aku pukul!"
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1