
Anjeli di bawa menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya, pelayan itu dengan sopan mengantar Anjeli karena gadis itu menebus hutang-hutang Rosan dengan harga yang sangat tinggi. Anjeli sangat senang melihat-lihat isi rumah besar itu, wajahnya sedikitpun tidak menampakkan ketakutan. Saat mereka sudah sampai di lantai dua, Anjeli melihat ke lantai bawah lagi. Ia melihat pria paruh baya yang sedang di dorong dengan kursi roda.
"Maaf Ibu, siapa itu?" tanya Anjeli menunjukkan pria yang di dorong menuju pintu luar.
"Itu Tuan Besar, dia penguasa di sini." jawab pelayan tadi.
"Tapi kenapa dia duduk di kursi itu, kenapa kursi itu bisa berjalan?" tanya Anjeli yang merasa aneh dengan apa yang di lihatnya.
"Tuan Besar sedang sakit, ia sedang duduk di kursi roda, Nona."
"Oh... namanya kursi roda. Apa Anjeli boleh mencobanya?" tanya Anjeli sambil memikirkan sensasi saat ia duduk di kursi roda itu.
"Itu hanya untuk orang yang sakit, Nona."
"Ah... tidak seru!" Anjeli memasang wajah cemberut.
"Nona, sebaiknya Anda masuk ke dalam kamar dulu. Sebelum Tuan Muda pulang, sebaiknya Anda membersihkan diri dulu."
"Anjeli kan sudah wangi dan cantik, kenapa harus membersihkan diri lagi?"
"Itu perintah Nona, sebaiknya Anda kerjakan daripada Anda menjadi korban keganasan Tuan Muda."
"Ganas?"
"Iya, Tuan Muda tidak suka ada yang membantah perintahnya."
"Apa Ibu takut dengan Tuan Muda?"
"Semua orang di rumah ini takut Nona, kecuali Tuan Besar."
"Kalau Tuan Besar tidak takut, berarti Anjeli juga harus tidak takut dong. Anjeli ini hebat loh, Bu. Anjeli bisa membuat burung Abang Rahul kesakitan, Anjeli tinggal tendang aja dan dia akan kesakitan di lantai."
__ADS_1
"Nona, jangan main-main dengan ucapan Anda! Kalau Tuan Muda sampai mendengarnya, maka dia akan menyiksa Nona nantinya."
"Anjeli tidak takut, Anjeli akan hajar Tuan Muda. Sini Bu, Anjeli mau bisik!" ucap Anjeli sambil menyuruh pelayan itu mendekat kepadanya untuk berbisik, pelayan itu hanya mengikuti apa yang di suruh Anjeli.
"Bu dengar ya! Anjeli ini sudah kuat. Anjeli sudah jadi ultramen, Ibu tahu nggak kalau Anjeli suka nonton ultramen. Di handphone Anjeli banyak video ultramen yang menyerang monster, dia sangat kuat sampai monster itu mati. Anjeli ini ultramen, tak akan terkalahkan!" bisik Anjeli, pelayan itu menyipitkan matanya mendengar apa yang di katakan Anjeli. Ia baru sadar jika gadis di depannya itu berbeda dengan gadis yang lain. Namun, ia suka dengan sikap Anjeli yang tidak takut apapun.
"Nona, jika Anda bisa menaklukkan Tuan Muda berarti Anda sangat hebat. Tuan Muda itu kejam, jadi buatlah Tuan Muda bertekuk lutut di hadapan Anda." ujar pelayan itu.
"Bertekuk lutut itu apa?"
"Buat Tuan Muda bersujud di depan Anda, saya yakin jika Anda bisa membuat Tuan Muda bertekuk lutut di hadapan Anda." jawab pelayan itu dengan penuh keyakinan.
"Hmm.. baiklah, tapi mana Tuan Mudanya?" tanya Anjeli sambil melihat sekeliling, ia hanya melihat orang-orang yang bekerja di rumah itu saja.
"Tuan Muda sedang keluar sebentar, Anda bisa menunggunya di kamar ini."
"Kalau Anjeli di kamar, nanti Anjeli bosan. Handphone Anjeli di pinjam Kak Rosan, terus Anjeli harus bagaimana?"
"Laptop, apa itu?"
"Ayo sini saya tunjukkan, tapi saya ingatkan jangan sampai merusaknya!"
"Baiklah."
Mereka masuk kedalam kamar itu, Anjeli berdecak kagum melihat isi dari kamar itu. Semuanya sangat berbeda jauh dengan yang di rumah Rahul. Seperti yang di katakan pelayan tadi, ia menunjukkan tv dan laptop. Ia juga mengajarkan cara penggunaannya.
"Baiklah, apa Anda mengerti apa yang saya jelaskan tadi, Nona?"
"Iya saya mengerti, terimakasih Ibu." ucap Anjeli berterimakasih.
"Sama-sama, saya akan membawakan cemilan untuk Anda sembari menonton tv. Jika ada yang ingin Anda perlukan, Anda bisa bertanya kepada saya. Saya akan berada di depan kamar ini sampai Tuan Muda pulang."
__ADS_1
"Kenapa di depan kamar? kenapa tidak di sini saja bersama Anjeli?"
"Tidak bisa Nona, ini adalah pekerjaan saya. Saya permisi dulu untuk mengambil cemilan."
"Baiklah."
Pelayan itu keluar kamar meninggalkan Anjeli sendirian dengan tv yang menyala, Anjeli tak menghiraukan tv ia sibuk memikirkan apa yang di katakan pelayan tadi. Karena ia tinggal di tempat yang baru, ia ingin mencerna semua yang terjadi. Anjeli banyak belajar setelah tinggal di rumah Rahul, ia tidak ingin lagi di tindas sama seperti ia ke rumah Rahul pertama kali. Anjeli ingat betul perbuatan Khani terhadap ia dan kembarannya, jadi ia tidak ingin itu terulang kembali.
"Ini bukan tempat Abang Rahul, siapa Tuan Muda? Kenapa Kak Rosan membawa Anjeli kesini? Apa Kak Rosan berbohong? Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Anjeli pada diri sendiri.
"Anjela, apa kamu baik-baik saja? Anjeli sendirian di sini, sepertinya Kak Rosan orang yang jahat. Anjeli harus bagaimana?" lanjut Anjeli lagi, tak di pungkiri ia sedang gelisah saat ini.
CEKLEK.
"Nona, ini cemilannya." kata pelayan itu sambil membawa beberapa toples yang berisi penuh makanan yang bermacam-macam.
"Terimakasih, Ibu."
"Saya juga ingin mengabarkan jika Tuan Muda sedang dalam perjalanan kemari dan sebentar lagi akan sampai sebaiknya Anda mempersiapkan diri. Itu saja yang ingin saya katakan, saya permisi dulu, Nona."
"Tunggu, apa Tuan Muda akan ke kamar ini?"
"Iya, Tuan Muda akan langsung ke sini. Saya akan menunggu di luar, selamat menikmati cemilannya."
"Terimakasih, Ibu."
Pelayan itu keluar, Anjeli langsung melihat tiga toples yang berisi makanan itu.
"Anjeli harus kuat, Tuan Muda itu hanya manusia. Anjeli yakin jika dia juga bisa merasakan kesakitan. Hai.. Tuan Muda yang kejam, selamat bersenang-senang dengan Anjeli."
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1