Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Kakek dan Nenek


__ADS_3

Pagi-pagi sekitar pukul delapan, tiba-tiba ada suara ibu-ibu yang berteriak heboh. Siapa lagi kalau bukan Ibunya Rahul, ia berjalan berlenggak-lenggok agak cepat saat memasuki rumah itu. Ayah Rahul tak kalah semangat, hanya saja ia masih bisa mengontrol diri.


"Wahai penghuni rumah ini, di mana kalian beraadaaaaa?" teriak Sinta melengking memekakkan telinga Khairul.


"Iss.. awak nih, buat biseng lah. Pagi-pagi cam nih buat orang tekejut je!" kata Khairul sambil menggosok-gosok telinganya.


"Eleh.. Sudah berpuluh tahun kita menikah, macam gak tau aja tabiat Mama. Emangnya Papa gak sayang sama Mama lagi?" tanya Sinta ketus.


"Lah mulai lah nih, cam nih lah Papa tak suke. Mama tuh menjerit tak jelas, kalau tibe-tibe ade orang yang sakit jantung kat rumah nih dan die langsung jantungan lah buat pulak besibok bawa ke hospital."


"Mulai lah nak merepet, di rumah ini tidak ada yang sakit jantung. Papa aja yang terlampau lebay."


"Eh.. lebay ape pulak? Mama tuh yang tak betol, masuk rumah orang bukannye salam tapi melasah je."


"Pandai cakap orang die pon same." balas Sinta sambil menjelingkan matanya ke suaminya.


"Tuh, telek-telek orang kenape, tak suke ke dengan Papa lagi?"


"Malas layan?"


Prok... Prok... Prok...


Anjela dan Anjeli bertepuk tangan, mereka sedari tadi menonton di lantai dua perdebatan antara Sinta dan Khairul. Mereka langsung turun dan tersenyum mengembang melihat wajah orangtua Rahul.


"Wah.. wah.. Kakek sama Nenek keren sekali!" puji Anjeli, ia melihat wajah Sinta dan Khairul bergantian.


"Kakek bisa berbahasa lain, hebatnya!" Anjela mengacungkan jempol kepada Khairul.


Sinta dan Khairul saling pandang, mereka saling mengangkatkan bahu.


"Hai, Kakek dan Nenek. Perkenalkan saya Anjela dan ini kembaran saya Anjeli, kami sayang Bapak Rahul." kata Anjela dengan senang, Anjeli mengikuti Anjela.


"Mereka yang di maksud Khani itu, Pa. Calon mantu kita!" bisik Sinta ke telinga Khairul, suaminya itu terpaksa menunduk agar menyamakan tinggi mereka.

__ADS_1


"Tapi, Ma. Kenape budak bedue nih macam laen je." bisik Khairul kembali.


Melihat Sinta dan Khairul berbisik Anjela dan Anjeli ikutan berbisik, mereka tidak tahu mau berbisik tentang apa jadi mereka asal bisik saja.


"Shawshawshawshawsss.." bisik Anjela, Anjeli cekikikan mendengar itu.


"Cetcetcetcetcetpreettt.." bisik Anjeli, kemudian mereka tertawa keras bersama.


Sinta dan Khairul termangu melihat kelakuan Anjela dan Anjeli.


"Mbek mbek mbek mbek mbek..." balas Anjela lagi sambil tertawa.


"Aing aing aing aing aing eeeoookk..." mereka berdua tertawa lagi sampai terbahak-bahak, mereka tidak peduli jika Sinta dan Khairul melihat mereka.


"Hai, kok Anjela dan Anjeli keliatan girang sekali, ada apa ini?" tanya Rahul yang baru turun dari tangga.


"Mama sama Papa sudah datang, udah kenalan sama mereka?" tanya Rahul lagi saat ia sudah dekat dan menyalami orangtuanya.


"Bapak, Anjeli suka sama Kakek dan Nenek."


Rahul mendengar kata kakek dan nenek langsung tersenyum getir melihat kedua orangtuanya.


"Astaga, kenapa aku bod*h sekali. Kenapa aku tidak mengajarkan mereka cara memanggil orang, dan sampai sekarangpun mereka memanggilku, Bapak!" ucap Rahul dalam hati.


"Ehemmmm.... Rahul." panggil Sinta.


"Iya, Mama." jawab Rahul dengan suara lembut.


"Mama?" kata Anjela dan Anjeli kompak.


"Ini orangtua, Bapak?" tanya Anjela melihat wajah Sinta dan Khairul bergantian.


"Iya, mereka orangtua saya."

__ADS_1


"Huaaa.... apa Anjeli boleh memeluk mereka?" tanya Anjeli langsung mengeluarkan air mata.


Rahul kaget melihat Anjeli menangis, ia tidak tega melihat air mata yang keluar dari mata indah Anjeli.


"Huaaa.... Anjela dan Anjeli tidak punya orangtua, apa mereka boleh jadi orangtua kami?"


Sinta dan Khairul sedih mendengar itu, walaupun mereka belum mengenal siapa Anjela dan Anjeli tapi saat tahu jika dua gadis kembar itu tidak memiliki orangtua membuat mereka ikutan bersedih.


"Sini peluk kami!" ucap Sinta merentangkan tangannya agar dua gadis itu memeluknya, tetapi hanya Anjela yang memeluk Sinta, sedangkan Anjeli memeluk Khairul.


"Sabar ya, Nak. Anggap saja sekarang kami orangtua kalian." Sinta mengelus rambut halus Anjela, Khairul juga begitu.


"Uhh... anak manis, sini cium dulu." kata Sinta hendak mencium kening Anjela, Khairul juga ingin mencium kening Anjeli tapi mereka kaget karena dua gadis kembar itu tiba-tiba hendak menyosor ke bibir mereka untunglah dengan cepat mereka tahan.


"Eh... kenapa dengan kalian?" tanya Sinta kaget, Khairul melangkah mundur kebelakang menghindar gadis itu.


"Katanya, cium." jawab Anjeli polos.


"Iya, tapi cium di kening bukan di sini." kata Sinta menunjukkan bibirnya.


"Tapi, Bapak Rahul mengaja.... emmphh."


Mulut Anjeli di tutup oleh tangan Rahul, laki-laki itu cengengesan melihat orangtuanya. Dengan cepat Rahul membawa Anjeli menjauh dari mereka, untunglah Anjela juga ikut jadi Rahul bisa mengatakan apa yang tidak boleh di lakukan oleh dua gadis itu.


"Ma, agaknye Rahul dah ajarkan tak betol nih ke budak bedue tuh." tuduh Khairul, padahal kenyataannya memang benar.


"Iye Pa, dua gadis itu begitu polos. Mama rasa Rahul sudah memanfaatkan mereka berdua nih."


"Papa rase juge macam tuh."


🌹🌹🌹


Khairul : "Gesss ***tengkyu atas supportnye, makaseh dah nak like, Coment and kasih Vote. Rajen-rajen kasih dukungan bia Rahul cepat khawin, dah lame die tuh mendude. Hah apelagi jom lah hehehe."

__ADS_1


❤️❤️❤️***


__ADS_2