Dua Istri Polosku

Dua Istri Polosku
Nikah


__ADS_3

SAH


"Alhamdulillah ..."


"Yeess ..."


Dewa bersorak senang, ayahnya sampai geleng-geleng kepala melihat anak laki-lakinya menikah. Sangking senangnya Dewa langsung memeluk Anjeli. Penghulu dan para saksi di sana hanya saling pandang saja.


"Lepaskan Dewa! Malu di lihat orang!" kata Anjeli berusaha lepas dari pelukan dahsyat Dewa yang kini menjadi suaminya.


Saat Anjeli menerimanya tadi, Dewa langsung heboh. Penghuni di rumah mewah itu sampai panik karena Tuan Mudanya bertingkah aneh. Namun mereka tercengang saat Dewa berteriak jika dia akan menikah hari ini. Burhan selaku ayahnya sangat kaget, dia hendak pergi ke pernikahan Rahul langsung tidak jadi karena anaknya juga yang akan menikah.


Seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Dewa segera menyuruh orang-orangnya mengurus pernikahan. Tepat jam 14:00 siang mereka menjadi pasangan suami istri, dengan uang semuanya menjadi lancar, tak peduli berapa biayanya Dewa akan membayar.


Tanpa menunggu waktu yang lama Dewa segera membawa Anjeli ke kamar pengantin, kamar dia yang kini di hias menjadi kamar pengantin. Anjeli hanya mengikut karena tangannya tak dilepas dari genggaman tangan Dewa.


"Kamu duduk dulu di sini!"


Anjeli hanya menurut, dia di dudukkan di tepi ranjang. Ia melihat Dewa yang bertingkah terlalu semangat bahkan berlebihan. Dewa berjalan menuju lemari, kemudian ia mengambil sesuatu. Dengan cepat ia kembali lagi setelah membawa kotak berwarna hitam.


"Apa itu?" tanya Anjeli bingung melihatnya.


"Hadiah untukmu!"


"Hadiah?"


Dengan senyum lebar setelah Dewa membuka kotak itu, terlihat sepaket perhiasan di sana. Dari anting-anting, gelang, kalung dan perhiasan yang lain yang tidak di ketahui Anjeli terlihat berkilau di sana.


"Kamu tidak suka?" tanya Dewa lembut, ia takut jika Anjeli tidak menyukai hadiah yang ia beri.


Anjeli melihat Dewa, kemudian dia menaikkan kedua bahunya. Wajah Dewa kini sendu, ia ingin memberi suprise, tetapi yang di terima olehnya adalah kekecewaan.


"Jangan bersedih, aku tidak pernah memakai itu sebelumnya. Tapi karena kau memberinya, maka aku akan mencoba pakai."


Mendengar itu Dewa langsung mengambil tangan Anjeli, ia mengelus punggung tangan Anjeli dan di kecupnya lembut.


"Terimakasih, sekarang kamu sudah menjadi Nyonya di rumah ini. Anjeli, aku mencintaimu."


Anjeli hanya diam, ia hanya melihat apa yang di lakukan Dewa kepadanya. Dengan telaten Dewa memakaikan apa yang di berikannya tadi kepada istrinya.


"Kamu suka?" tanya Dewa setelah memakaikan apa yang di berikannya tadi.


"Aku suka!"


Dewa tersenyum kemudian ia mengecup kembali punggung tangan Anjeli.


"Terimakasih sudah mau menikah denganku!" ucap Dewa dengan senyum tulusnya.

__ADS_1


"Sama-sama."


"Kita akan mau bulan madu di mana nanti? Kamu maunya di mana?"


"Bulan Madu? Pelangi?"


"Kok pelangi sih?"


"Bulan madu di atas pelangi, hanya kita berdua."


"Hahaha ..."


Dewa langsung tertawa, dia tak habis pikir dengan istrinya. Bisa-bisanya Anjeli ingat dengan lagu itu.


"Anjeli rindu Anjela!"


Dewa langsung diam, ia melihat Anjeli yang tiba-tiba memasang wajah sedih.


"Di mana rumahnya?" tanya Dewa sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Aku tidak tahu rumahnya di mana, tapi itu rumah Abang Rahul. Mereka sudah berangkat ke Batam. Anjeli di tinggal!"


"Kamu mau bertemu dengan dia?"


"Tentu saja!"


"Terus memikirkan apa?"


"Tentu saja malam pertama kita, apalagi kalau bukan itu, Anjeli."


"Kitakan baru sudah menikah, terus kita jangan memikirkan yang lain dulu. Sebaiknya kita memikirkan masa depan kita nanti, misalnya punya anak dan lain-lain. Apa kamu tidak mau punya anak? kamu tidak mau melakukan agar mempunyai anak?"


"Hmm... Mau, tapi..."


"Jangan terlalu berfikir keras. Cukup aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Kita akan bahagia nanti."


"Baiklah!"


"Kalau begitu kapan kita melakukannya?" tanya Dewa dengan semangat.


"Melakukan apa?"


"Itu ... buat anak,"


"Sekarang!"


"Ayooo."

__ADS_1


Dewa begitu semangat, dia melepaskan jas yang di pakainya dengan cepat.


"Pokoknya kita tidak memanggil aku kau lagi, sekarang kita panggil Beby dan ... dan apa ya?"


Dewa berbicara sambil melepaskan jasnya, Anjeli hanya melihat saja. Mendengar apa yang di katakan Dewa tadi membuat ia menyerngitkan keningnya.


"Dan apa?" tanya Anjeli.


"Saya panggil kamu Beby, terus kamu mau manggil saya apa ya?"


Anjeli berfikir sejenak, ia melihat Dewa dari atas ke bawah. Melihat dengan teliti pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Kamu memanggil ku, Beby?"


Dewa mengangguk semangat, "kamu panggil saya siapa?"


"Beby cocok dengan Bab* jadi tidak susah menyebutnya."


"Astaghfirullah."


"Beby dan Bab* kan cocok, jadi cuma Beb dan Bab. Ada yang salah?" tanya Anjeli tanpa berdosa.


"Kenapa harus Bab*, banyak binatang di dunia ini dan kenapa harus itu?" tanya Dewa sedikit geram dengan tingkah istrinya.


"Entahlah, terlihat mirip!"


"Anjeli." panggil Dewa dengan nada suara yang berbeda, Dewa hendak mulai marah. Anjeli hanya cuek melihat itu.


"Ada apa, Suamiku tersayang?"


Hilang sudah amarah yang hendak tumbuh di dalam diri Dewa, hatinya sejuk mendengar apa yang di katakan istrinya tadi.


"Ka... mu panggil saya siapa tadi?" tanya Dewa tergagap karena begitu senangnya.


"Bab*!"


"Bukan yang itu, yang ada kata sayang."


"Suamiku tersayang."


"Aku sudah tidak sabar lagi, Beby. Come on to make a Baby."


"Hah!"


"Kita akan pelan-pelan, Beb."


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2