
Anjeli dan Anjela berpelukan erat, sedangkan Rahul dan Dewa saling melihat dengan tatapan tajam, penjual sosis itu sampai terheran-heran melihat mereka berdua.
"Anjela apa kabar?" tanya Anjeli dengan senangnya.
Mereka saling melepaskan pelukan, Anjela sampai menangis melihat Anjeli. Ia menganggukkan kepala tanda baik-baik saja.
"Kamu apa kabar?" tanya Anjela balik.
"Anjeli baik,"
"Baguslah, aku minta maaf!" ucap Anjela dengan rasa bersalah.
"Untuk apa? Sudahlah, Anjeli senang bertemu Anjela. Adakah sesuatu yang terjadi."
Anjela menganggukkan kepalanya lagi, kemudian ia berkata "Maaf Anjeli, Anjela sudah menikah dengan Abang Rahul."
"Wah ... benarkah? Anjeli juga sudah menikah dengan Ayang."
Anjela menyerngitkan keningnya.
"Anjeli menikah dengan Ayang? Ayang siapa?"
"Eh, namanya Dewa. Dia baik sekali sama Anjeli!"
"Benarkah?"
"Iya, ayo kita duduk! Di situ." Anjeli menunjuk ke arah halte yang di duduki dengan dua orang perempuan anak SD.
"Ayo!"
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, melupakan kisah para suami mereka.
"Adek, kami bolehkan duduk di sini?" tanya Anjela melihat adik kecil itu, mereka hanya mengangguk saja.
Melihat itu Anjeli dan Anjela langsung duduk, tangan mereka tak lepas satu sama lain.
"Jadi bagaimana dengan Abang Rahul?" tanya Anjeli dengan antusias.
"Tidak ada apa-apa!"
"Anjela sudah malam pertama dengan Abang Rahul?" tanya Anjeli dengan suara agak keras.
Dua anak kecil tadi hanya mendengar saja, mereka melihat satu sama lain.
"Sudah!" jawab Anjela malu-malu, sedangkan Anjeli mendapat jawaban itu makin tambah antusias.
"Benarkah? Apakah punya Abang Rahul besar?"
"Hah?"
Anak kecil di dekat mereka hanya saling pandang.
"Anjela tau, punya Ayang besar. Uhhh... enaknya!" ucap Anjeli sambil membayangkan saat mereka berhubungan badan.
__ADS_1
Anak kecil di dekat mereka langsung pergi, mereka merinding mendengar itu.
"Benarkah? Punya Abang Rahul juga besar!"
"Benarkah? Berapa lama kalian begituan?"
"Ehem... Anjeli, apakah itu boleh di bicarakan?"
"Apakah tidak boleh?"
"Entahlah,"
"Kita bicarakan saja, bagaimana Abang Rahul melakukannya pertama kali?"
"Hehehe, itu ..."
Anjela menceritakan semua kejadian saat mereka melakukan hubungan badan, Anjeli menyimak dengan baik. Kemudian Anjeli menceritakan perihal malam pertama mereka juga.
Berbeda di seberang jalan, banyak orang berkerumunan sambil merekam aksi Rahul dan Dewa. Mereka sedang beradu mulut.
"Kau pria gila!"
"Kau yang gila!"
Rahul menyunggingkan senyumnya, ia memandang remeh Dewa.
"Hah, dasar calon adik ipar yang tidak jadi. Kau memang tak pantas untuk Khani."
"Aku memang tak pantas untuknya, karena aku terlalu sempurna. Asal kau tau, istriku jauh lebih cantik dari adikmu!"
"Jangan banyak bicara kau, istriku sangat sempurna. Daripada kau, duda tak laku-laku!"
Rahul meradang mendengar itu, ia menatap Dewa makin dengan tatapan marah.
"Aku sudah tidak duda lagi, istriku jauh lebih cantik dari istrimu!"
"Hahaha... kau sudah menikah? Dengan siapa? Orang gila?"
"Beraninya mulutmu!"
"Mau apa kau?!"
Gara-gara kelakuan mereka membuat jalanan macet karena banyak yang memvideokan mereka, sedangkan Anjela dan Anjeli masih sibuk menceritakan perihal malam pertama.
Para pengendara yang berhenti di jalan itu bingung melihat keramaian, terutama pasangan suami istri yang sudah paruh baya. Mereka baru hendak ke KUA, tapi terhalang oleh macetnya jalan akibat Rahul dan Dewa.
"Pi, ada apa sih sebenarnya?" tanya istri pria paruh baya itu.
"Entahlah, Mi. Papi tidak tahu!"
"Pi, Mami kepo nih, ayo kita lihat!"
"Apaan sih, nanti kalau pembunuhan bagaimana?"
__ADS_1
"Pembunuhan apanya?! Lihat yang nonton semuanya tertawa."
Suaminya melihat orang-orang tertawa, sebenarnya ia juga penasaran ingin melihat.
"Ya sudah, Papi juga penasaran! Ayo kita lihat!"
Mereka sama-sama keluar dari mobil, supir mereka pun juga ikut penasaran, tapi dia hanya bisa melihat dari dalam mobil.
Pria paruh baya dan istrinya itu bernama Iskandar dan Aina, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Aina benar-benar penasaran, apalagi mendengar orang yang sedang adu mulut. Begitupun dengan Iskandar, mereka masuk di dalam kerumunan itu sampai baris terdepan.
"Istriku jago di atas ranjang." kata Dewa dengan bangganya.
"Heh! Istriku lebih jago lagi!" balas Rahul.
Iskandar dan Aina melihat satu sama lain.
"Pi, apa Mami jago di atas ranjang?"
"Tentu saja, untung tidak patah punya Papi!"
"Ck.. Ck.."
Mereka melihat kembali ke arah Rahul dan Dewa, bukannya terjadi baku hantam, tapi hanya adu mulut yang membuat orang makin asik memvideokan mereka dan menguploadnya ke media sosial.
Sedangkan Anjela dan Anjeli di sebrang sana saling tertawa bersama, merasa perut mereka berbunyi membuat mereka ingat akan sosis. Mereka melihat ke arah penjual sosis tadi, mereka tercengang melihat ramai orang di sana. Mereka sampai berdiri karena terhindar dari mobil yang berhenti.
"Banyak sekali yang membeli sosis, pasti itu benar-benar enak!" kata Anjeli.
"Benar, ayo kita kesana. Mereka lama sekali!"
Anjeli dan Anjela berpegangan tangan sambil berjalan ke tempat keramaian, melewati orang-orang yang sedang sibuk memvideokan aksi para suami mereka. Anjeli dan Anjela sudah sampai di tengah kerumunan, mereka tercengang melihat suami mereka sedang adu mulut.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Anjeli bergumam.
Pasangan suami istri itu menoleh ke arah suara yang di sampingnya, mereka melihat dua wanita kembar yang sibuk memperhatikan suami mereka.
"Pi, wajah mereka!"
"Mi, mirip sama Mami saat masih muda."
"Pi, mereka anak kita!"
"Mi, mereka anak kita!"
"Aaaaaa... Anakkuuuu!!"
Mereka langsung memeluk anak kembar mereka. Mendengar orang teriak dengan keras membuat Rahul dan Dewa menoleh ke arah suara.
"ANJELI!"
"ANJELA!"
"JANGAN GANGGU ISTRIKU!!"
__ADS_1
🦀🦀🦀🦀🦀