
๐น Harap Bijak Dalam Membaca ๐น
Rahul membawa Anjeli ke dapur ia tidak ingin orangtuanya mendengar pembicaraan mereka, Anjela ikut-ikutan karena ia suka melihat Rahul memeluk Anjeli sambil mendekap mulut kembarannya itu.
Setelah sampai di dapur Rahul melepaskan bekapan mulut Anjeli dari tangannya, gadis itu hampir kehabisan nafas di buat Rahul.
"Kalian dengar sekarang juga!" ucap Rahul kepada Anjela yang sedang memperhatikannya berbicara sambil tersenyum, sedangkan Anjeli sedang mengatur nafas.
"Huuhhh... Dengar apa?! Bapak jahat, mulut Anjeli jadi sakit nih." rengek Anjeli karena ia merasakan sakit di bibirnya.
Rahul melihat Anjeli dengan rasa bersalah, ia melihat kiri kanan. Merasa dapur sepi dan tak ada satupun yang melihat ia langsung mengambil tengkuk Anjeli dan melum*tnya dalam. Awalnya Anjeli kaget karena mendapat serangan tiba-tiba, tetapi ia mulai terbiasa akhirnya.
Anjela cemberut melihat Rahul tiba-tiba mencium kembarannya, ia langsung bersedekap dada dan memanyunkan bibirnya.
Cukup lama Rahul melum*t bibir Anjeli, ia melepaskannya saat merasa Anjeli mulai kehabisan nafas. Rahul menatap dalam ke mata Anjeli yang sedang ngos-ngosan, dengan sayang ia mengelap bibir Anjeli yang basah.
"Bapaaakk..." rengek Anjela, ia makin memanyunkan bibirnya.
Rahul menyunggingkan senyumnya, "Bibir Anjela kan nggak sakit." kata Rahul.
"Tapi Anjela juga mau!"
"Mau apa?" goda Rahul.
"Mau di cium."
"Nakal sekali." gumam Rahul
Rahul melihat Anjela dengan tatapan yang tak bisa di artikan sampai membuat gadis itu gugup, Rahul berjalan mendekati Anjela. Bukannya senang Anjela malah berjalan mundur kebelakang, ia bagaikan melihat singa yang lapar.
Rahul tetap melangkah maju sampai Anjela mentok di dinding, gadis itu agak gemetaran melihat Rahul yang tidak seperti biasanya.
"Ba...pak.." panggil Anjela tergagap.
Rahul menyunggingkan senyumnya melihat Anjela sudah terpojok dan gugup. Rahul mengambil kedua tangan Anjela dan menaikannya ke atas dan menempel ke dinding, wajah Anjela memerah ia tak pernah berada dalam keadaan seperti ini.
Rahul meniup mata Anjela pelan sampai mata Anjela sayu, ia tersenyum melihat Anjela yang sudah terbakar api asmara.
"Masih mau ingin di cium?" tanya Rahul berbisik di telinga Anjela, lidahnya sejenak menyentuh daun telinga Anjela.
"Ba... pak.." gumam Anjela, ia sudah melemah.
"Hmm.."
__ADS_1
"Anjela tak kuat."
"Tak kuat kenapa?" tanya Rahul pura-pura bodoh, tangan kanannya masih setia menahan kedua tangan Anjela ke atas.
Rahul tak tahan melihat bibir Anjela yang terbuka, ia sangat tidak sabar ingin melahap bibir itu. Melihat wajah Anjela memerah dan pasrah ia langsung mendekatkan kepalanya, ia tak sabar ingin mencicipi benda itu lagi.
"Terimalah, gadis nakal!"
"Raaaahhhuuuulll."
Rahul langsung menjauhkan kepalanya dari Anjela, ia juga melepaskan tangannya yang menahan tangan Anjela. Ia kaget bukan main saat mendengar suara teriakan ibunya, ia berdeham keras agar memecahkan suasana.
Anjela segera mendekati Anjeli, ia juga kaget mendengar teriakan yang melengking itu. Awalnya mereka sudah termakan oleh nafsu kini langsung lenyap sudah.
Rahul berdeham sekali lagi, ia malu sekaligus merasa bersalah akan sikap yang tak tercelanya itu. Tapi, Rahul hanya pria dewasa yang belum merasakan surga dunia, ia sangat menginginkan itu.
Rahul melihat Anjela dan Anjeli saling berpegangan tangan, melihat dua gadis polos itu membuatnya menghela nafas sejenak.
"Maaf soal tadi, saya khilaf." ucap Rahul merasa bersalah.
"Oh iya, sekarang kalian panggil saya, Abang. Kalian juga harus memanggil orangtua saya, Mama dan Papa. Kalian juga tetap memanggil Khani dengan panggilan Kakak, tetapi kalau untuk Bulat kalian bisa memanggil dia Kakak juga. Jadi apa kalian paham?"
Anjela dan Anjeli saling lihat, kemudian mereka menganggukkan kepala bersamaan.
Rahul sengaja mengatakan itu agar Anjela dan Anjeli tidak gugup.
"Oleh-oleh itu apa?" tanya Anjeli dengan suara yang pelan.
"Oleh-oleh itu hadiah, kalian mau kan hadiah?"
"Hadiah apa?" kali ini Anjela yang bertanya.
"Mungkin mereka membawa cokelat, kalian ingatkan yang kalian makan sampai celemotan itu. Hah, kemungkinan orangtuaku membawakan cokelat dari Malaysia, enak-enak loh."
"Kami mau!" ucap Anjeli pelan.
"Tapi, apa Abang marah sama Anjela?" tanya Anjela takut-takut.
Rahul paham akan perasaan gadis itu, ia mendekat ke Anjela dan memegang kedua pundak Anjela.
"Saya tidak marah sama kamu dan Anjeli, tapi saya mohon jangan pancing saya. Saya takut jika saya benar-benar khilaf nanti." kata Rahul dengan lembut, ia mengelus rambut Anjela dengan sayang.
"Pancing? tapi Anjela pancing apa, Abang? di sini tidak ada ikan." Anjeli bertanya seperti itu karena ia merasa tidak ada yang memancing dari tadi.
__ADS_1
Rahul memejamkan matanya sejenak, berbicara dengan mereka berdua bagaikan berbicara dengan balita.
"Dengar ya, saya mengatakan jangan pancing saya tadi itu masalah nafsu. Kalian tahukan nafsu itu?" Anjela dan Anjeli hanya mengangguk, "nah, jika kalian memancing nafsu dengan cara Anjela seperti tadi maka saya akan terpancing dan akan melakukan hal yang tidak baik untuk kalian, pokoknya jangan memancing siapapun. Apa kalian paham?" jelas Rahul.
"Tapi, apakah kami boleh memancing ikan? di desa kami suka memancing ikan."
Rahul geram melihat wajah Anjeli, baginya menghadapi Anjeli seperti menghadapi dirinya sendiri. Harus bersabar!
"Di sini tidak ada ikan, jadi kalian tidak perlu memancing. Jika kalian mau makan ikan, pelayan di rumah ini yang akan memasakkan untuk kalian. Jadi yang saya inginkan itu jangan pancing masalah ini," Rahul menunjukkan bibir Anjeli, kemudian turun ke dada dan selanjutnya ke pemilikan gadis itu. "Ini berlaku juga untuk Anjela, apa kalian paham sekarang?"
Anjela dan Anjeli saling lihat lagi, kemudian mereka kembali mengangguk.
"Tapi, bagaimana kalau Anjela mau minta cium?"
"Semua gara-gara kau Rahul, lihat mereka jadi ketagihan sekarang." kesal Rahul dalam hati.
"Itu saya akan pikirkan nanti. Oh iya, saya mohon sama kalian berdua, tolong pakai dalam kalian. Apa Nisa sudah memberitahu kalian?" Anjela dan Anjeli menggelengkan kepala.
"Ck.. pantesan, waduh kacau nih kalau Papa merasakan punya Anjeli tadi. Dasar nih anak berdua, kalau sudah di luar dah habis jadi bulan-bulanan orang." Batin Rahul.
"Setelah ini kalian naik dulu ke kamar kalian, saya akan menyuruh Nisa menunjukkan cara penggunaannya. Dua bukit kembar ini harus di tutup, kalau tidak habis di lum*t pria hidung belang." kata Rahul sambil menunjuk kedua gundukan itu.
"Pria hidung belang?"
"Iya.
"Apakah Abang pria hidung belang?" tanya Anjeli.
"Tidak, mana mungkin saya pria hidung belang." jawab Rahul berbangga diri.
"Tapikan, Abang kemarin pegang ini." tunjuk Anjela ke dadanya.
"I..tu khilaf."
"Raaaahhhuuuulll.."
"Hah, kalian dengarkan. Sekarang ayo kita temui mereka!" ucap Rahul.
"Ayo...." Anjela dan Anjeli berseru semangat.
**Bersambung
๐น๐น๐น๐น๐นโค๏ธ**
__ADS_1