
"JANGAN GANGGU ISTRIKU!"
Rahul dan Dewa berteriak saat Iskandar memeluk Anjeli dan Aaina memeluk Anjela. Setelah berteriak mereka melihat satu sama lain.
"Apa maksudmu istrimu?!" tanya Rahul tak suka.
"Apa maksudmu istrimu?!" tanya Dewa balik.
"Apa maksudmu? Dia itu istriku!" lanjut Rahul.
"Kenapa kau? Dia itu istriku!" balas Dewa.
"Anjela adalah istriku!"
"Anjeli adalah istriku!"
"Hah!"
"Apa kau?!"
Mendengar itu Rahul langsung melihat kearah Anjeli dan Anjela.
"Anjeli." gumam Rahul.
Rahul tersenyum melihat Anjeli yang sedang di pelukan cium oleh kedua orang tuanya begitu pun dengan Anjela.
"Hey! Kenapa kau menyebut nama istriku?!" tanya Dewa tak suka jika nama istrinya keluar dari mulut Rahul.
"Kau menikahi Anjeli?" tanya Rahul tak menyangka.
"Jelas, aku tampan dan aku sangat cocok dengan Anjeli!" Dewa menjawab dengan sombong.
"Ta ..."
"Aku tidak sepertimu, aku jawab berkelas!"
"Tunggu dulu, kapan kalian menikah?"
"Kau ini banyak tanya sekali, kami ini pengantin baru!"
Rahul dan Dewa sibuk berdebat masalah para istrinya sedangkan Anjeli, Anjela dan kedua orang tuanya sedang bersukaria, walaupun si kembar masih bingung dengan keadaan, tetapi mereka sangat senang karena bertemu orang tuanya.
"Saya ini Mami kalian dan ini Papi kalian, mulai sekarang kalian memanggil kami Mami dan Papi!" kata Aina menjelaskan, Anjeli dan Anjela hanya saling melirik saja.
"Papi dan Mami." gumam Anjela dan Anjeli serempak.
"Iya, Sayang. Saya ini Papi kalian dan ini Mami kalian." jelas Iskandar.
"Kenapa Papi dan Mami? Kenapa bukan Papa dan Mama?" tanya Anjela.
"Iya, orang-orang memanggil Papa dan Mama, kenapa kami memanggil Papi dan Mami?" lanjut Anjeli bertanya.
__ADS_1
Aina langsung menyibak rambutnya, ia langsung mendongakkan sedikit kepalanya pertanda menyombongkan diri.
"Sayang, kita ini orang kaya. Jadi, nggak keren dong kalau panggil Mama Papa. Enaknya tuh, Mami Papi!" jelas Aina sambil bergaya ala ala ibu-ibu komplek.
"Benarkah kita orang kaya? Tapi kenapa Anjeli dan Anjela dibuang ke panti asuhan? Katanya orang kaya, tapi kenapa Mami dan Papi tidak merawat kami?" tanya Anjeli sambil memegang tangan Anjela, dia benar-benar sayang dengan kembarannya itu.
Iskandar dan Aina melihat satu sama lain mereka bersedih akan pertanyaan itu, mereka tahu mereka salah, tapi mereka bingung harus menjelaskannya bagaimana. Iskandar meraih tangan Anjeli dan Aina meraih tangan Anjela, mereka menggenggam tangan anak mereka kemudian membawa Anjeli dan Anjela menuju mobil mereka.
Baru hendak berjalan tiba-tiba ada yang menghentikan mereka, siapa lagi kalau bukan para suami Anjeli dan Anjela. Rahul menarik tangan Anjela dan Dewa menarik tangan Anjeli. Iskandar dan Aina berhenti menoleh kebelakang mereka melihat Rahul dan Dewa dengan tak suka.
"Hey! jangan pegang-pegang tangan anakku!! Dasar tidak ada akhlak!" kata Iskandar dengan suara besar sampai orang-orang di sekitar melihat kearah mereka.
"Kalian ini siapa?! Tadi membuat keributan dan sekarang mau menculik anakku! Apa kalian tidak ada kerjaan lain?" Aina tak kalah mengeluarkan suara yang besar.
"KALIAN ITU YANG SIAPA?!" Rahul dan Dewa berteriak, Iskandar dan Aina sampai terperanjat mendengar itu.
"BERISIK!!" teriak Anjela dan Anjeli tak kalah heboh, mereka dengan kompak melepaskan genggaman tangan kedua orangtuanya dan suami mereka.
"Beby, ayo kita pulang!" kata Dewa menarik Anjeli ke pelukannya, ia melihat kedua orangtua si kembar dengan tatapan marah.
"Anjela, ayo kita pulang!" kata Rahul yang tak kalah menatap kedua orang tua si kembar dengan tajam, ia mengikuti Dewa menarik tangan Anjela sampai ke pelukannya.
Iskandar dan Aina tidak terima, mereka juga melihat Rahul dan Dewa dengan tatapan tajam.
"Kalian ini siapa? Mereka itu anak kami!"
"Mertua." gumam Rahul dan Dewa kompak.
Rahul dan Dewa melihat satu sama lain, kemudian melihat istri mereka masing-masing.
"Ehem... mana buktinya? Aku membawa mereka dari panti asuhan." kata Rahul membela diri.
"Desa Tanpa Nama." sambung Iskandar.
Rahul menelan ludahnya, ia melihat Dewa menganggukkan kepala menandakan mereka benar-benar orangtua Anjela dan Anjeli.
"Hehehe ... Bapak dan Mamak Mertua, saya min ..."
Belum Rahul selesai bicara Aina sudah memotongnya.
"Bapak Mamak kepalamu, kami ini bukan orang kampung!" kata Aina dengan ketus.
Dewa melihat Rahul kena marah hanya terkekeh kecil, ia merasa sangat lucu melihat Rahul yang terdiam.
"Kau juga! Jangan dekat-dekat dengan anakku!" kata Aina kepada Dewa.
"Tidak semudah itu, Anjeli sudah menjadi istri saya. Sumpah setia saya ucapkan saat menikah dengannya, tidak ada cerai-ceraian karena Anjeli akan segera hamil." kata Dewa dengan percaya dirinya.
"Tidak semudah itu juga, Anjela juga sebentar lagi akan hamil. Kami tidak bisa berpisah," sambung Rahul lagi.
"Hahaha ... punya apa kalian bisa menghidupi anak dan cucuku?" tanya Iskandar dengan sombongnya.
__ADS_1
"HAHAHA ..."
Rahul dan Dewa tertawa bersama, mengukur kekayaan mereka membuat mereka tertawa keras.
"Oh. Mertua," panggil Rahul. "Dari Mambang seribu Mambang, hartaku tujuh turunan tak habis!" kata Rahul dengan tegasnya.
Mereka masih di pinggir jalan, masih banyak orang-orang yang merekam aksi mereka, tapi mereka tidak peduli sedikitpun.
"Kalau kau?" tanya Aina melihat Dewa.
"Namaku Dewa, Mertua. Aku Tuan Muda yang di cintai putrimu Anjeli. Harta, Tahta dan Kenikmatan aku beri untuk Anjeli. Wajah rupawan aku wariskan untuk cucu kalian, harta yang bergelimpangan tak akan pernah habis untuk keturunanku!" jelas Dewa tak kalah membanggakan diri.
"Kami masih tidak percaya dengan kalian!"
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya Rahul Atmaja. Membawa Anjela dan Anjeli dari panti asuhan, mereka hidup dengan susah dan tak layak makan. Syukur sekarang mereka jauh berubah, setidaknya saya ada berguna untuk Anjela dan Anjeli. Tidak pantas sekiranya jika kalian menolak saya. Saya Rahul Atmaja meminta restu!"
Rahul melihat Dewa sambil menyunggingkan senyumnya, ia merasa menang dari Dewa.
"Mertuaku yang tampan dan cantik, yang kaya dan raya. Anjeli bagaikan bantal guling, tanpanya tidur tak lena. Anjeli bagaikan sabun, saat aku mandi tanpanya membuatku tak bersih. Oh, Mertua. Kami saling menyayangi dan mencintai, tolong berilah restu untuk kami."
"Ayang." panggil Anjeli setelah mendengar apa yang Dewa katakan.
"Iya, Beby."
"Beby sayang Ayang."
"Ayang juga sayang Beby."
Mereka berdua berpelukan, karena tak terima melihat Anjeli dan Dewa berpelukan. Rahul langsung memeluk Anjela, mereka berpelukan di depan keramaian. Tak lupa mereka yang menonton mengabadikan itu dengan memvideokan dan menguploadnya di media sosial.
"RESTUI ..."
"RESTUI ..."
"RESTUI ..."
Para penonton yang melihatnya bersorak agar Iskandar dan Aina merestui mereka.
"Pi, Bagaimana ini? Kelihatannya anak-anak kita menyayangi mereka berdua."
"Ya mau bagaimana lagi. Resiko punya anak gadis ya di tinggal nikah."
"Hem ... Tapi mereka tinggal di rumah kita, tidak boleh jauh dari kita!"
"Bisa di atur."
🦀🦀🦀🦀🦀🦀
**Thanks for support-nya 😊
Please add and follow my FB : Maha Ata and IG : mahasilsi 🤗🤗🤗**
__ADS_1
GOMAWO ❤️❤️❤️❤️