
Jam sembilan pagi Rahul dan Anjela menjalankan pernikahan, awalnya Sinta dan keluarga yang lain tidak terima karena malu, namun belum berunding tiba-tiba saja penghulu sudah datang duluan. Yang awalnya tidak setuju akhirnya mereka setuju juga, apalagi saat Rahul mengakui kesalahannya telah menodai Anjela.
Sebelum penghulu datang, Rahul menjadi bulan-bulanan di pukul oleh Sinta dan Khairul. Mereka memukul Rahul menggunakan rotan seperti anak kecil. Melihat wajah sendu Anjela membuat mereka naik pitam, tapi itu tak berlangsung lama karena Anjela meredakan mereka.
Bulat hanya melihat saja, dia senang Abang iparnya mau bertanggung jawab. Sedangkan Khani, dia acuh dalam segala hal. Yang ia inginkan hanya menonton drama yang tak bermutu yang selalu di katakannya.
Sama seperti Anjeli, kata-kata SAH membuat hubungan antara Rahul dan Anjela terikat. Hubungan suami istri. Anjela menunduk terharu, Rahul pun ikut terharu karena jadi menikah. Ia begitu menyesal telah mengambil keperawanan Anjela sebelum ini, tapi tak di pungkiri jika ia begitu bahagia saat ini.
"Maafkan saya sebelum ini! Terimakasih sudah menjadi istri saya." kata Rahul setelah ijab qobul mereka.
Anjela mengangguk, ia merasa senang akan itu. Walaupun ada pertengkaran kecil tadi, tapi akhirnya mereka menikah juga.
Sinta antara senang dan sedih, ia senang akhirnya pernikahan itu jadi, namun ia sedih melihat Anjela. Walau bagaimanapun ia juga seorang wanita, jadi ia tahu betul bagaimana rasanya jika di nodai sebelum pernikahan. Begitu juga dengan Khairul, walau tanpa tamu undangan, jika sudah sah membuat ia amat bersyukur.
"Kami ke kamar dulu!" kata Rahul dengan mudahnya saat semua orang tengah berkumpul, bahkan penghulu pun belum beranjak dari sana.
Sinta dan Khairul menatap Rahul meradang, mereka tak habis pikir dengan anak sulungnya itu. Mereka berfikir jika Rahul hendak melaksanakan hubungan suami istri lagi.
"Rahul!!!" kata Sinta dengan penuh penekanan.
"Kamu mau berganti pakaian, setelah itu kami akan pergi keluar!" balas Rahul dengan cepat, ia tahu apa yang di pikiran ibunya itu.
"Keluar? Kemane?" tanya Khairul.
"Mencari Anjeli, aku sudah berjanji semalam dengan Anjela jika sudah menikah kami akan mencari Anjeli." jawab Rahul.
"Tapi kalian baru saja menikah." sanggah Sinta.
"Kami tetap akan mencari Anjeli, kami pamit pergi dulu. Ayo Sayang!"
__ADS_1
Rahul beranjak dari sana sambil memegang tangan Anjela, istrinya itu hanya menurut. Mereka pergi meninggalkan semua orang yang masih terbengong kecuali Bulat dan Khani.
"Mas, ayo kita pergi juga. Adek bosan di sini!" kata Khani berbisik kepada suaminya.
Bulat yang kasihan melihat Khani langsung mengangguk setuju, ia tak tega melihat istrinya yang sedang hamil dan pastinya itu membuatnya cepat lelah.
"Ma, Pa. Kami izin kembali ke kamar dulu, Khani sedang kelelahan!" kata Bulat meminta izin.
Sinta dan Khairul langsung kompak melihat ke arah Kami yang sedang memegang perut, dengan cepat pula mereka menganggukkan kepala. Mendapatkan persetujuan akhirnya Bulat dan Khani pun pergi dari sana.
"Kamu capek ya?" kata Bulat saat mereka berjalan menuju kamar.
"Iya nih Mas, akhir-akhir ini aneh sekali rasanya."
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Jangan suka ngurusin hidup orang, nanti susah sendiri!"
"Mas hanya memberitahukan kepada istri Mas yang cantik ini." kata Bulat dengan cepat, ia takut jika istrinya itu tiba-tiba marah.
"Benarkah aku cantik?" tanya Khani sambil senyum-senyum sendiri memegang pipinya.
"Sangat cantik, makin hari kamu itu makin cantik. Dari dulu kamu itu emang cantik deh, apalagi saat hamil begini. Makin sempurna!"
"Benarkah?"
"Iya."
"Terimakasih, Mas."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Memujiku cantik."
"Kalau tidak di puji kamu akan jadi singa, untunglah sekarang ini kamu gampang di puji. Semoga akan selalu seperti ini, menjadi istri yang cantik dan akan menjadi ibu yang baik." ucap Bulat dalam hati.
"Sekarang istirahat ya!"
"Iya Mas."
Sedangkan di kamar Rahul dan Anjela sedang bersiap-siap. Rahul membantu Anjela membersihkan make up di wajah cantik istrinya itu.
CUP
"Ih... Abang." kata Anjela risih saat Rahul tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Maaf!" kata Rahul memasang wajah menggoda.
"Kita jangan terlalu banyak bercanda, kita harus mencari Anjeli segera!"
Rahul langsung memasang wajah datar, ia hanya mengangguk menyetujui.
"Ayo segera bersiap. Setelah ini kini berpetualang mencari Anjeli!" kata Rahul dengan semangat.
"Ayo!!" jawab Anjela dengan semangat pula.
"Maafkan saya Anjela, kita hanya jalan-jalan mengelilingi kota hari ini. Anjeli akan menjadi urusan Bulat dan anak-anak buah ku yang lainnya, tapi saya berjanji jika Anjeli akan segera bertemu nantinya." kata Rahul dalam hati.
🦀🦀🦀🦀
Eps selanjutnya Anjeli dan Anjela bertemu, begitu pun Rahul dan Dewa 😁😁❤️❤️
__ADS_1