
Warning! Yang di bawah umur jangan baca. Ada adegan dewasa πΉ
πΉLanjut Membaca πΉ
Anjela berjalan makin mundur sampai mentok ke dinding. Rahul bagai singa yang lapar melihat wanita yang hampir menjadi istrinya.
Badan gadis itu sampai bergetar karena melihat perubahan dari Rahul, tatapan itu benar-benar ingin menjelajahi setiap inci tubuhnya.
Rahul membelai pipi Anjela yang bergetar ketakutan, ia mengelus di sana begitu lembut sampai membuat Anjela merinding.
"Inikan yang kau inginkan? Aku menjelajahi tubuhmu dengan sentuhan yang lembut. Berbisik kata cinta sambil mengalirkan hasrat. Aku pria dewasa dan kau gadis cantik yang masih perawan. Bagaimana mungkin aku tidak tergoda, kau sepertinya yang mendambakan aku sampai kembaran mu sendiri kau buang. Bukankah berarti kau sangat menginginkan aku, maka hari ini akan aku beri. Nona Anjela!"
Anjela menggelengkan kepalanya kuat, ia menolak Rahul melakukan itu terhadapnya. Rahul hanya tersenyum melihat Anjela menolak, tapi ia tetap ingin melaksanakannya.
Rahul memegang rahang Anjela kuat sampai bibir itu monyong, dengan cepat ia melahapnya. Mengambil dan menghisapnya dengan kuat, seakan benda itu hendak di telannya.
Anjela memberontak, ia memukul dan mendorong dada Rahul kuat, namun tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Rahul.
Merasa kurang puas bermain berdiri, Rahul langsung menggendong Anjela dan mencampakkan gadis itu ke atas tempat tidur. Merasa ada kesempatan, Anjela dengan cepat merangkak ingin kabur dari sana. Dengan cepat pula Rahul menarik kakinya.
"Abang, Anjela mohon jangan!" kata Anjela saat ia di telentangkan oleh Rahul.
"Nikmati saja! Kau akan terbiasa nanti!"
Rahul menindih tubuh Anjela, gadis itu memalingkan wajahnya tapi Rahul memaksa untuk melihatnya. Rahul kembali melum*t bibir Anjela, gadis itu mencoba menutup bibirnya kuat tapi Rahul selalu menggigitnya agar lidahnya dengan mudah menerobos di sana.
__ADS_1
Tangan Rahul tak hanya diam, ia meremas dada gadis itu. Membuka pengait bra dan memainkan ujung dada yang berwarna merah muda itu.
Anjela yang memberontak kini sudah melemah, ia seakan terbawa suasana akibat permainan Rahul. Merasa menang Rahul berhenti melakukan aksinya dan melihat Anjela yang sedang terengah-engah.
Rahul mencium bibir itu sekilas, kemudian lidahnya menyusuri leher Anjela dan memberi tanda kepemilikan di sana. Anjela bergetar saat Rahul menghisap ujung dadanya dengan kuat, gadis itu sampai meremas rambut Rahul kuat.
"Ahh..." Anjela melenguh saat kedua dadanya menjadi santapan mulut Rahul bergantian.
Merasa puas di sana, Rahul turun ke perut Anjela yang datar. Lidahnya bermain di pusar gadis itu, tangannya pun berusaha membuka celana dalam Anjela. Gadis itu benar-benar telanjang bulat, Rahul tersenyum karena merasakan tidak ada sehelai rambut pun di kepemilikan gadis itu.
"Abang, jangan Bang."
Anjela menggelengkan kepalanya kuat saat Rahul membukakan kedua kakinya, Rahul seolah tak mendengar karena ia sudah terlalu bernafsu karena di suguhi pemandangan yang indah.
Bagai orang yang kesetanan Rahul melahap kepemilikan gadis itu, lidahnya bermain di tempat sensitif bagi wanita. Anjela meliukkan badannya karena bagian sensitifnya di hisap Rahul dengan kuat.
"Aggghh... Ampun Bang, Anjela mau pipis!" pekik gadis itu kuat.
Rahul tak peduli, makin mendengar itu makin kuat pula ia menghisapnya.
Badan Anjela mengejang, badannya bergetar hebat dan cairan di kepemilikannya keluar. Dengan sigap Rahul melahapnya sampai habis, sedangkan Anjela tampak begitu kelelahan.
Rahul tersenyum devil, ia merasa menang telah membuat Anjela terlentang pasrah dengan membuka kedua kaki.
Rahul membuka pakaian yang melekat di tubuhnya, terakhir celana dalam di tanggalnya. Pusaka yang selama ini bersarang di sana kini tegak dengan gagahnya.
__ADS_1
Mata Anjela melotot melihat itu, dengan cepat ia menutup kedua kakinya rapat. Anjela berusaha menjauh dari Rahul namun ia menarik kembali Anjela dan mengangkang kan kaki gadis itu lebar-lebar.
"Bang, Anjela mohon jangan Bang!" kata Anjela memohon.
"Jangan munafik, kau menikmatinya tadi. Sekarang terimalah surga dunia, kau sangat menginginkannya bukan?"
Kaki gadis itu di buka lebar-lebar dan di tahan Rahul agar tidak tertutup, sedangkan Anjela sudah menangis saat benda ini menempel di kepemilikannya.
Rahul ingin bermain di sana, ia ingin Anjela yang bermohon meminta untuk mengambil keperawanannya.
Rahul tersenyum melihat wajah Anjela sudah memanas, terlihat sekali wajah itu meminta lebih atas perbuatannya. Benda itu menggesek milik Anjela turun naik, Rahul hendak tertawa saat ia ingin memasukkan miliknya ke gua yang belum di tembus apapun. Wajah Anjela kelihatan penuh harap, Rahul bertambah semangat bermain di sana.
"Ahh... gatal Abang."
Mendengar itu Rahul perlahan memasukkan miliknya, Anjela menjerit merasakan ada yang robek di sana.
"Aaww... sakit..." pekik Anjela.
Rahul mencium bibir Anjela untuk meredakan sakitnya, perlahan juga miliknya terbenam di sana. Rahul membiarkannya sejenak agar terbiasa, kemudian ia memompa dengan perlahan kemudian dengan tempo yang cepat pula.
Pencarian Anjeli tidak jadi karena Rahul tak bisa menahan nafsunya, ia membalas penolakan pernikahannya dengan mengambil keperawanan Anjela. Makin mendengar suara Anjela mendesah kuat, makin cepat pula Rahul melakukan aksinya sampai gadis itu beberapa kali mencapai puncak.
πΉπΉπΉ
Bersambung
__ADS_1